Febian memiliki tetangga baru seorang wanita, awalnya Febian tidak tertarik sedikitpun kepada wanita itu hingga akhirnya semuanya pun berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Suara ponsel milik Fabian berdering dengan keras, dengan setengah sadar ia meraih ponselnya diatas meja.
Namun gerakannya terbatas, Nadila masih tertidur pulas sambil memeluk dirinya.
Begitu Fabian berhasil meraih ponselnya, ia pun melihat siapa yang menghubungi dirinya sepagi ini.
" Ya Hallo " ucap Fabian dengan pelan
" Malem ini ada yang ngajak balap, gimana mau ambil ga ? "
" Siapa ? "
" Katanya sih lo juga kenal sama orang ini, cuma taruhannya aneh banget bos "
" Aneh ? Aneh gimana ? "
" Ya katanya kalau lo kalah, lo harus jauhin Nadila dan biarin Nadila balikan sama mantannya "
Fabian menatap wajah Nadila yang masih tertidur pulas.
" Ambil aja gue ga takut "
" Ohh oke oke bos, jam 11 ya "
" Oke "
Fabian tau jika itu adalah ulah dari Ernest , Fabian tak takut ia yakin bisa menang malam ini.
Fabian pun kembali memeluk Nadila, beberapa kali ia juga mencium kening kekasihnya itu.
" Siapa Bian ? "
" Hmm, kamu udah bangun ? "
" Siapa yang telpon? Kamu mau kemana ? "
" Oh ini ada yang ngajak balapan biasa "
" Balapan? aku boleh ikut ? "
" Engga boleh, kamu cukup tunggu aku aja disini. "
" Emang hadiahnya apa Bian ? "
" Hadiahnya, engga tau aku juga Dil "
" Hmm "
Nadila pun mencoba bangun, ia pun lebih dulu turun dari ranjangnya.
" Mau kemana sayang ? " tanya Fabian
" Mau mandi lah Bian "
" Ikut "
" Bian, ga ya engga mau "
Dengan cepat Nadila pergi meninggalkan Fabian, Fabian pun hanya tersenyum melihat Nadila.
....
Malam hari tepatnya pukul 11 malam, Fabian sudah datang di lokasi yang di tentukan.
Disana sudah ada Ernest dan beberapa kawannya, Fabian pun menghampiri Ernest dengan wajah dinginnya.
" Gue pikir lo takut " ucap Ernest
" Takut ? Gue bukan banci kayak lo, yang masih cari cara buat dapetin perempuan "
" Oke kita buktiin malam ini, kalau gue menang Lo siap-siap buat jauhin Nadila "
" Gue ga akan kalah "
Segera keduanya pun bersiap-siap untuk melakukan perlombaan, Fabian sudah menaiki kuda hitam kesayangannya.
Begitu juga dengan Ernest yang sudah siap untuk melawan Fabian
Tak butuh waktu lama, hingga akhirnya keduanya pun mulai bersaing.
Tanpa sepengetahuan Fabian, Nadila mengikuti Fabian diam diam.
Nadila yang penasaran pun mencoba untuk melewati barisan, ia ingin berada paling depan untuk melihat kekasihnya itu.
" Gila si bos, ga main main taruhannya cewek " ucap salah satu teman Fabian
" Iyah, Nadila itu siapa sih ? " ucap salah satunya
" Gue juga ga tau "
Nadila yang mendengar namanya disebut pun akhirnya penasaran dan mulai bertanya.
" Permisi kak, mau tanya. Ini kalau menang emang hadiahnya apa ya ? "
" Kalau menang sih katanya dapetin cewek, kalau kalah si Fabian ini harus jauhin cewe itu. Ehh tunggu lo siapa dah ? Kayaknya gue baru liat "
" Gue..gue Nadila "
Kedua orang itu saling bertatapan, namun keduanya memasang wajah terkejut.
" Jangan bilang lo orang yang di jadiin taruhan itu "
Nadila tak percaya jika dirinya dijadikan bahan taruhan oleh Fabian, namun ia tetap menunggu hingga pertandingan selesai.
Fabian sang raja jalanan memimpin cukup jauh, namun bukan Ernest jika tidak memiliki hal licik untuk mengalahkan Fabian.
Tanpa diketahui Ernest sudah meletakkan beberapa paku agar ban motor itu bocor.
Namun Fabian tak sebodoh itu, ditambah pengalamannya seperti ini membuat Fabian lebih hati-hati.
Butuh beberapa jarak lagi agar Fabian bisa segera sampai garis finish, namun sayangnya ia mulai merasa aneh pada motornya.
Fabian mencoba mengabaikan dan terus melaju kencang agar segera sampai di garis finish, Ernest tak ingin kalah ia pun mencoba mengejar Fabian secepat mungkin.
Dan akhirnya Fabian pun sampai lebih dulu di garis finish, dan Ernest pun akhirnya kalah dalam pertandingan malam ini.
Seluruh teman Fabian menyambut kemenangan Fabian, Fabian pun ikut merasa bahagia atas kemenangannya.
Disaat Fabian asik merayakan kebahagiaan, Fabian merasakan sebuah tamparan pada wajahnya yang cukup kencang.
Fabian menoleh, ia melihat Nadila yang berdiri mematung menatap dirinya.
" Nadila.. "
" Jadi kamu jadiin aku taruhan Bian ? "
" Nadila, dengerin aku dulu Dil "
" Dengerin apa Bian ? Aku udah tau Bian, kamu itu jadiin aku taruhan kan ? "
" Aku ga nyangka Bian sama kamu "
Nadila pun pergi meninggalkan Fabian, namun dengan cepat Fabian menahan Nadila.
" Nadila, dengerin aku dulu Dil. Aku lakuin ini semua buat kamu, dengan cara ini Ernest janji ga akan ganggu kamu lagi Dil "
" Udah berapa kali sih aku bilang Bian, aku udah ga perduli dengan Ernest "
" Ya tapi aku perduli sama kamu Nadila, aku ga mau dia terus ganggu kamu. Karena aku ga mau dia jadi orang ketiga di hubungan kita Nadila, aku lakuin ini itu buat kamu "
" Kamu kenapa sih ga bisa sekali aja Dil liat pengorbanan aku, kenapa aku tuh selalu salah Dimata kamu sih Dil ? Kenapa yang aku lakuin selalu ga ada artinya ? "
" Kalau tadi kamu kalah gimana Bian ? Kamu rela aku balikan sama Ernest ? kamu mikir ga kesana ? "
" Aku ga akan kalah Nadila, buktinya sekarang aku menang kan ? "
Nadila tak menjawab, ia pun lebih memilih untuk membuang wajahnya.
" Kita pulang, kita bicara baik baik ya. Kamu tunggu sini "
Fabian pun kembali menghampiri teman-temannya, ia menitipkan motor kesayangan kepada temannya.
Setelah selesai Fabian kembali menghampiri Nadila, segera dengan mobil milik Nadila mereka pun pergi dari sana.
Sepanjang jalan Nadila memilih untuk diam, sedangkan Fabian ia tau semakin banyak ia berbicara akan semakin memperburuk keadaan.
Begitu sampai di apartemen Nadila langsung masuk kedalam unitnya, Fabian pun mengikuti kekasihnya itu.
" Mau sampai kapan kamu diem kayak gini Dil ? "
" Kalau emang kamu butuh waktu untuk sendiri ga masalah nanti kalau kamu butuh aku, kamu telpon aku aja ya. Istirahat sudah malam Dil "
Fabian pun akhirnya pergi meninggalkan Nadila sendirian, Nadila pun menangis didalam kamarnya.
.....
Keesokan pagi Fabian yang masih merasa bersalah kepada Nadila, Fabian pergi menemui Nadila sambil membawa sarapan untuk mereka berdua.
Saat Fabian masuk terdengar suara musik dari ponsel milik Nadila, namun Fabian belum menemukan kekasihnya itu.
" Nadila.. Dil.. " panggil Fabian
" Bian tolong, disini "
Suara itu bersumber dari dalam toilet, segera Nadila pun berjalan menuju sana.
Fabian meneguk salivanya, melihat Nadila yang hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuhnya.
Saat itu Nadila tengah disibukkan dengan keran air yang bocor, dengan segera ia pun menghampiri Nadila.
" Kamu tahan dulu ya " ucap Fabian dan Nadila mengangguk
Dengan alat seadanya Fabian pun mulai membenarkan keran itu.
" Akhirnya bisa juga " ucap Nadila
" Ko bisa sih Dil ? "
" Aku juga gatau Bian, untung aja aku punya alat walaupun ga banyak. Yah baju kamu juga basah ya
" Hmm " Fabian mengangguk
Fabian mengusap lembut lengan Nadila yang basah, Nadila pun menatap kearah Fabian.
" Pakai baju sana, nanti masuk angin "
" Hmm " Nadila mengangguk
Nadila segera pergi ke kamar untuk memakai pakaiannya, sedangkan Fabian ia sendiri juga pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang basah
lanjut ya thor👍😄