Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Baru Hari Pertama
Maya masih berdiri diam di balik celah pintu loker. Tatapannya tajam menatap Pak Darto dan siswi yang ketakutan itu. Jari Maya perlahan mengetuk pintu pelan.
Tok. Tok.
Pak Darto langsung menoleh cepat. Wajahnya pucat seketika saat melihat Maya berdiri di sana.
“M-Maya?!”
Siswi di belakangnya langsung buru-buru merapikan rok sambil menangis tertahan.
Maya bersandar santai di pintu. “Wah…” katanya pelan. “Pak Darto ternyata sibuk ya.”
“JANGAN SALAH PAHAM!” bentak Pak Darto cepat.
Nada suaranya terlalu panik sampai malah terdengar mencurigakan.
Maya hanya menatap datar. Otaknya langsung bekerja cepat. Kalau dia nekat membongkar sekarang tanpa bukti, kemungkinan besar malah dirinya yang bakal diserang balik. Apalagi Pak Darto guru lama di sekolah ini. Sialnya lagi, dia tidak membawa ponsel. Tidak ada rekaman. Tidak ada bukti.
Kalau asal lapor, kemungkinan besar siswi tadi juga malah takut bicara. Maya mendecakkan lidah. Namun beberapa detik kemudian, senyum tipis perlahan muncul di bibirnya. Senyum miring yang membuat Pak Darto makin tidak nyaman.
“Tenang pak,” ujar Maya santai. “Saya nggak lihat apa-apa kok.”
Pak Darto tampak sedikit lega meski masih tegang.
“Tapi…” lanjut Maya pelan.
Pria itu langsung membeku lagi.
“Saya jadi penasaran.” Maya menyipitkan mata tipis. “Bapak kuat lari berapa putaran ya?”
“Hah?”
Maya tertawa kecil sendiri lalu berbalik pergi begitu saja. Pak Darto hanya bisa menatap bingung punggung gadis itu. Entah kenapa instingnya mengatakan Maya berbahaya.
...***...
Jam pelajaran berlalu cukup cepat setelah itu. Maya kembali ke kelas dengan ekspresi biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Namun pikirannya terus memutar sesuatu. Tentang apa yang terjadi hari ini. Baru pertama masuk sekolah, Maya sudah banyak menemukan kekacauan.
“Hmm…” gumam Maya sambil memutar pulpen.
Marsya yang duduk di sebelah langsung melirik penasaran. “Lo mikirin apa?”
“Kriminal.”
“Hah?!”
“Eh salah,” Maya langsung santai lagi. “Matematika.”
Marsya mengernyit curiga. “Lo sekarang serem tau nggak sih.”
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Suasana sekolah langsung ramai. Murid-murid mulai keluar kelas sambil bercanda dan berteriak. Maya justru berjalan santai menuju gedung olahraga.
Pak Darto sedang membereskan beberapa bola basket saat Maya masuk. Begitu melihat Maya, pria itu langsung tampak waspada sebentar.
“Kamu…”
Maya tersenyum tipis. “Pak.”
“Ada apa?”
Maya memasukkan tangan ke saku training. “Saya mau ikut ekskul olahraga.”
Pak Darto langsung terdiam beberapa detik. “Hah?”
“Kenapa? Nggak boleh?”
“T-tentu boleh!”
Tatapan pria itu perlahan berubah aneh. Dari tadi dia memang memperhatikan Maya. Sejak gadis itu muncul lagi di sekolah, auranya jauh berbeda. Jujur saja, Maya sekarang terlihat jauh lebih menarik dibanding dulu.
“Bagus kalau kamu tertarik olahraga,” ujar Pak Darto sambil tersenyum dibuat ramah.
Namun Maya menangkap jelas tatapan mata pria itu yang turun memperhatikan tubuhnya. Menjijikkan!
“Mulai minggu depan latihan rutin,” lanjut Pak Darto.
Maya mengangguk santai. “Siap, Pak!"
Dalam hati, Priska malah tersenyum dingin. Kalau mau menjebak tikus, ya harus masuk ke lubangnya dulu.
Sore mulai turun saat Maya berjalan menuju gerbang sekolah. Langit oranye kemerahan menyinari halaman sekolah yang mulai sepi.Namun baru beberapa langkah, tangannya tiba-tiba ditarik kasar.
Maya langsung menoleh tajam.
Ziva berdiri di sana dengan wajah kesal. “Lo ikut gue!” tegasnya.
Maya langsung menarik tangannya lepas kasar. “Lepasin!"
Ziva melotot. “Jangan bikin masalah lagi!”
“Masalah?” Maya tertawa kecil dingin. “Bukannya kalian yang suka mulai?”
“Lo sekarang kurang ajar banget!”
Maya mendekat sedikit. “Terus kenapa?”
PLAK!
Tamparan keras mendadak mendarat di pipi Maya. Suara itu cukup keras sampai beberapa murid dekat gerbang langsung menoleh.
Suasana langsung sunyi beberapa detik. Ziva bernapas kasar sambil menatap Maya marah. “Lo udah gila ya sekarang?!”
Maya perlahan menoleh kembali. Bekas merah mulai muncul di pipinya. Namun ekspresinya justru terlalu tenang. Itu membuat Ziva merinding.
“Lo pikir karena berubah dikit terus jadi hebat?!” bentak Ziva. “Kalau lo terus kayak gini, lo bakal nyesel sendiri!”
Maya menatap lurus ke matanya. Tatapan tanpa takut sedikit pun. “Udah selesai?” tanyanya datar.
Ziva langsung makin emosi. “LO—”
“Woy woy woy…”
Suara langkah ramai mendadak mendekat. Angel muncul bersama Geng Violet sambil tersenyum lebar penuh kemenangan.
“Jangan marah-marah dong,” ujarnya santai. Namun sorot matanya jelas jahat.
Maya langsung menyipitkan mata. Instingnya langsung mengatakan sesuatu buruk akan terjadi.
Benar saja, Angel perlahan mengangkat ponselnya sambil tersenyum miring.
“Nih…” katanya manis palsu. “Gue punya kenang-kenangan lama.”
Wajah Maya langsung berubah sedikit dingin saat layar ponsel itu diputar ke arahnya.
Video Maya asli. Di sebuah ruangan kosong. Seragamnya ditarik paksa. Tangisnya pecah sambil memohon berhenti.
Suara tawa Geng Violet terdengar jelas.
Ziva perlahan tersenyum puas lagi. “Masih berani sekarang?” bisiknya.
Maya terdiam. Tangannya perlahan mengepal. Ingatan Maya asli langsung menyerang deras. Ketakutan, malu, dan putus asa. Hari ketika dia merasa ingin menghilang dari dunia.
Angel tertawa kecil sambil mengangkat volume video. “Dulu lucu banget sumpah,” katanya puas.
Beberapa anggota geng ikut tertawa. “Dia nangis kayak bayi.”
“Mana nutupin badan pakai tas doang.”
Namun berbeda dari dugaan mereka, Maya tidak menangis. Tidak panik dan gemetar. Dia justru menatap mereka satu per satu dengan sangat pelan. Tatapan itu membuat tawa mereka perlahan menghilang sendiri.
Karena mata Maya sekarang, benar-benar penuh amarah. Bukan amarah biasa. Tapi amarah seseorang yang sudah berada di batas terakhir. Maya melangkah maju satu langkah.
Angel refleks mundur sedikit.
“Kalian puas?” timpal Maya.
Tak ada yang menjawab.
Maya tertawa kecil. Tapi tawanya dingin sekali.
“Hebat ya…” katanya lirih. “Ngeroyok orang lemah rame-rame.”
“Maya…” Ziva mulai merasa tidak nyaman.
Namun Maya terus melangkah. Satu langkah lagi.
“Dengerin gue baik-baik,” ucapnya pelan namun jelas.
Suasana gerbang sekolah mendadak sunyi total.
“Gue udah terlalu sabar sama kalian.”
Tatapannya berhenti di Angel. Lalu pindah ke Ziva.
“Mulai hari ini…” senyumnya perlahan muncul. “Kalau kalian nyentuh gue lagi…”
Nada suaranya turun semakin dingin. “…gue bakal balas kalian semuanya. Satu per satu.”
Deg.
Entah kenapa semua orang di sana langsung merinding mendengarnya. Karena Maya tidak terdengar seperti sedang menggertak. Dia terdengar seperti seseorang yang benar-benar akan melakukannya.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔