NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI SABTU BERSAMA

Hari Sabtu.

Eng Sok terbangun. Matanya terbuka—lalu perlahan-lahan ingatan dari memori Sioh Bu merembes masuk: Sabtu dan Minggu, bisa bangun siang. Kadang ada jadwal manggung main Jio, tapi tidak untuk Sabtu dan Minggu ini.

Ia tidur lagi.

Beberapa hari ini dia kerja keras. Syuting mendadak banyak order. Biasanya Sioh Bu sore sudah pulang. Sekarang? Sampai senja. Tidak senja, tidak pulang. Malamnya mengajari adik. Cepat sih—jam delapan malam selesai. Kalau Sioh Bu dulu, sampai setengah sepuluh. Tidak tahu belajar apa saja kok lama.

Tapi dia mesti update Instagram. Beberapa foto, kadang video. Belakangan mendadak ramai. Terlalu banyak catatan sampai tidak dibaca. Paling Eng Sok membaca dua atau tiga teratas.

Arwah Sioh Bu mau lihat semua. Tapi bagi Eng Sok, yang penting tidur. Bodo amat engagement dan lainnya kalau tidak cuan.

---

Tiba-tiba badannya bergoyang-goyang.

Ia membuka sedikit matanya. Seonggok tubuh kecil duduk di samping kasurnya, tangan mungil menggoyang-goyangkan bahunya.

"Koko…"

Bisikan. Pelan. Takut.

"Maafin Ah Ti marah sama Koko."

Eng Sok terduduk. Matanya menyipit—kakinya masih malas bergerak. Ah Ti langsung memeluknya. Erat. Seperti kemarin malam, tapi kali ini tidak ada air mata. Hanya pelukan yang lama.

"Gua boleh tetep panggil Koko Sioh Bu, kan?" tanya Ah Ti, wajahnya menempel di dada Eng Sok.

"Mestinya!"

Suara Eng Sok tegas. Tangannya—yang sedari tadi kaku—perlahan naik, menepuk-nepuk punggung kecil itu. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Lama sekali Ah Ti memeluknya.

---

Ah Me masuk.

Di tangannya, semangkuk mie instan matang. Asap mengepul. Wangi bawang dan kecap memenuhi ruangan.

"Koh Sioh Bu, makan?" tanyanya. Suaranya hati-hati—seperti bicara dengan tamu kehormatan, bukan dengan anaknya sendiri.

Eng Sok kontan melotot. Mulutnya terbuka. “Hah? Biasanya Ah Me selalu rebahan sudah 10 tahun ini”, batinnya ia mencubit pahanya sendiri. “Dihh!”, erangnya. Pahanya sakit.

"Loh, Ah Me?"

Perutnya menjawab lebih cepat dari otaknya. Bunyi kruyuk-kruyuk yang menggelikan. Ah Ti terkekeh. Ah Me tersenyum kecil.

Pangeran itu mengambil mangkuk. Mie instan—biasa, bukan hidangan istana. Tapi kali ini ditambah telur, lapchiong (sosis babi merah tradisional), dan sawi hijau. Sederhana. Tapi hangat.

Ia makan tanpa banyak tanya. Yang bikin Ah Me dan Ah Ti melongo adalah dia makan dengan tenang di atas meja. Tanpa bunyi,”sluurrrpp”. Kayak bangsawan jaman buyutnya buyut dia.

---

Ah Me duduk di kursi plastik di samping ranjang. Sambil menyaksikan Eng Sok melahap mie, ia bercerita.

"Sejak Koh Sioh Bu di sini... badan Ah Me pelan-pelan pulih."

Ia menunjukkan tangannya—dulu gemetar terus, sekarang lebih stabil. Eng Sok mengangguk sambil melihat tangan itu. “Iya waktu awal datang memang getar terus. Besoknya habis gua akupresur berkurang. Kemarin gak gua liat, puyeng.”, pikirnya sambil menerawang.

"Setiap Ah Ti sekolah dan Koh Sioh Bu syuting, Ah Me ikut kultivasi. Diam-diam. Di kamar."

Eng Sok berhenti mengunyah.

"Kultivasi?", teriak Ah Ti.

"Ah Me dengar Koh Sioh Bu ngajarin Ah Ti. Ah Me coba sendiri. Gerakan pernapasan itu... entah kenapa, badan terasa lebih segar."

Ia tersenyum malu.

"Ah Me juga olahraga kalistenik dari YouTube. Dikit-dikit. Tiga hari ini Ah Me merasa lebih hidup dari tiga bulan terakhir."

Eng Sok menatap Ah Me. Di matanya, perempuan ini tidak lagi pasien sekarat yang ia temui pertama kali. Ada cahaya kecil di sana. Samar, tapi nyata.

"Makanan yang Koh Sioh Bu beli juga berubah. Lebih sering rebus atau kukus. Mungkin itu yang membantu."

Ah Me tidak tahu bahwa Eng Sok sengaja memilih metode memasak istana—tanpa banyak minyak, tanpa banyak bumbu buatan. Hanya bahan segar dan rempah sederhana.

Thien mungkin mengatur, pikir Eng Sok. Atau mungkin... hanya kebetulan.

---

Setelah mie habis, Eng Sok mengambil ponsel. Ia membuka dompet digital—saldonya banyak. Jauh lebih banyak dari yang Sioh Bu biasa pegang.

“Koh, Ah Ti cucian mangkoknya ya”, kata Ah Ti manis. Ia mengangguk dan mengelus kepala anak itu. Anak kecil itu berlarian sambil membawa mangkok dan sumpit bekas kakaknya lalu mencucinya.

Syuting berbayar. Promosi Instagram dan Tiktok berbayar di lokasi syuting. Tawaran peran utama berbayar lebih. Ada lagi kontrak yang aneh, awalnya figuran kecil tiga hari yang lalu. Tiba-tiba kemarin lusa ditambah porsinya secara mendadak akibat aksi gilanya waktu memerankan musuhnya, Kok Leng Tiat benar-benar menjiwai— sampai ada komen “menjiwai ❌, emang jiwanya ✅”. Ya… waktu itu dia menuangkan semua dendam kesumatnya dalam suatu akting gila. Seolah-olah dia adalah Leng Tiat, sedangkan Leng Tiat lagi diikat dan dimasukkan ruang Hoe. Setelah itu dia memutuskan untuk tidak lagi mendendam. Ia ingin panjang umur atau seenggaknya lah dia pingin menikmati hidup keduanya sebaik-baiknya.

Ia membuka tas. Mengambil kartu ATM. Beberapa hari lalu, ia belajar dari YouTube cara mengambil uang di mesin itu. Langkah pertama: masukkan kartu. Langkah kedua: tekan PIN. Langkah ketiga: pilih jumlah. Sederhana. Tapi pertama kali ia coba, tangannya gemetar seperti hendak menembak meriam.

Sekarang, ia sudah agak lancar. Tadi pagi malah coba iseng ambil uang sedikit pakai cardless. Yang takut malah Sioh Bu.

Ia menghitung catatan di HP—pengeluaran untuk obat, untuk makan, untuk uang sekolah Ah Ti, untuk kemoterapi Ah Me. Lalu ia mengambil uang tunai dari amplop di tasnya. Dia nggak tau kalo ternyata alat tulis manual ternyata dijual, baru tahu kemarin. Ada di memori Sioh Bu tapi otaknya belum bisa nyambung.

"Ah Me," katanya sambil menyodorkan uang. "Ini. Buat pegangan."

Ah Me menerima. Matanya membulat.

"Ini... ini..."

"Udah gua itung semua kok, Ah Me. Jadi gak sampai kurang."

Wanita itu terdiam. Tangannya gemetar—bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang lain. Uang ini... bukan sekadar uang. Ini adalah penerimaan. Ini adalah tanggung jawab yang diemban orang asing untuk keluarganya.

"Nanti siang temani gua ke toko herbal dong, Ah Me. Stok obat di P3K habis."

Ah Me mengangguk. Ia tidak bisa berkata-kata.

Di udara, Sioh Bu melayang. Dadanya mengembang—meskipun tanpa udara.

"Tauke (bos)... bilang Ah Me kalo gua sayang. Titip cubit pipi Ah Ti!" bisik arwah itu.

Eng Sok menghela napas. Lalu, dengan gerakan canggung, ia meraih tangan Ah Me.

"Ah Me," katanya. Matanya menatap langsung ke mata perempuan tua itu. "Sioh Bu sayang Ah Me."

Wanita itu pecah.

Air matanya jatuh. Ia memeluk Eng Sok—bukan sebagai menantu, bukan sebagai pasien, tapi sebagai ibu yang kehilangan anak.

"Koko..." bisiknya.

Ah Ti, yang dari tadi diam, ikut memeluk dari samping.

Empat manusia—tiga hidup, satu arwah—meringkuk dalam pelukan yang lama.

Lalu Eng Sok mencubit pipi Ah Ti. Ceklek. Kerasnya pas, seperti mencubit anak Ah Cek dia di istana dulu.

"Aw!"

"Satu lagi," kata Eng Sok datar.

Ah Ti menyodorkan pipi satunya. Ceklek.

"Koko jahat!"

"Koko sayang, Koko Sioh Bu juga," balas Eng Sok.

Sioh Bu, melayang di atas, hanya bisa memejamkan mata. Ia mencoba mencubit adiknya. Gak bisa. Mencoba memegang tangan Ah Me, gak bisa juga. Air mata arwah tidak jatuh ke bumi. Tapi rasanya sama.

---

Matahari belum sepenggalah ketika Eng Sok akhirnya bangun dari tempat tidur. Ia buka HP—tidak ada panggilan syuting. Sabtu. Lega.

"Ko, mau mandi bareng!" rengek Ah Ti.

Arwah Sioh Bu menatap kosong. Matanya sayu.

Dulu, aku yang mandi bareng Ah Ti. Sekarang...

Ia hanya bisa memejamkan mata.

Eng Sok mengiyakan. Ia berjalan ke kamar mandi—tapi bukan dengan tangan kosong. Dari tasnya, ia mengeluarkan bungkusan cokelat dan sebuah kuali tanah liat kecil.

Ah Ti mengerjap. "Itu apa, Ko?"

"Rempah."

"Rempah? Buat mandi?"

Eng Sok tidak menjawab. Ia sudah masuk ke dapur, menyalakan kompor kecil, merebus air di kuali tanah liat. Nanti rebusan itu dituang ke air kamar mandi. Kebiasaan orang zaman kuno.

Ah Ti mengomel, "Koko, mbok ya pake bomb bath kek... sabun apa buat berendam. Kok pake… rempah direbus di kuali?"

Dari dapur, Eng Sok cuek dan menyahut. "Ah Me juga sudah dijatah. Koh Sioh Bu bilang nanti Ah Me bisa berendam juga."

Heran. Tapi Ah Me tidak protes. Sejak semalam, ia sudah memutuskan: ikut saja. Orang ini aneh. Tapi aneh yang baik.

"Koko ini dari zaman kapan sih?", gerutu Ah Ti yang kesal mandinya tertunda ritual rebus ramuan. Itu sebenarnya pertanyaan retoris.

"Gua? Terakhir gua dari Cia Agung. Kaisar Ong Ai Hong, dari sini juga.", jawab Eng Sok polos. Dia gak tau kalau itu pertanyaan retoris. Akhirnya Ah Ti dan Ah Me tersenyum pahit.

"Fosil!"

Ah Ti langsung menutup mulutnya sendiri—tapi sudah telat. Ah Me dari luar kamar sampai mengelus dada.

"Duh, bener Lao Ma... kunonya yang nguno buanget," keluh Ah Me dalam hati sambil melihat Eng Sok mencoba mengipasi kompor induksi karena apinya ga ada. Arwah Sioh Bu, Ah Me, dan Ah Ti mau menjelaskan tapi energi mental mereka habis. Emosi mereka ambles sampai titik paling rendah.

---

Di dalam kamar mandi, air rebusan rempah dituang ke bak. Wangi jahe, serai, dan beberapa daun yang tidak Ah Ti kenal menyebar. Hangat. Menenangkan.

Mereka berendam berdua.

Ah Ti cerita banyak. Tentang sekolah, tentang teman yang jahil, tentang cita-cita jadi dokter (tapi takut suntik). Lalu topiknya melompat ke sejarah.

"Cia Agung dulu dipimpin Wangsa Ong. Terus karena krisis anak laki-laki, akhirnya beralih ke Wangsa Li. Terus ke Wangsa Go. Terus balik lagi ke Wangsa Ong sampai sekarang."

Eng Sok mendengarkan dengan saksama. Wangsa Ong masih berkuasa. Setelah seribu lima ratus tahun, keluarga jauhnya masih duduk di singgasana.

Leng Tiat pasti sudah jadi debu, pikirnya. Tapi namanya mungkin masih tercatat sebagai pengkhianat.

"Fosil itu apa?" tanya Eng Sok tiba-tiba.

"Engkoh tau gak? Kadang hewan terkubur gak busuk, tapi jadi batu. Lamaaa. Setelah jadi batu, ketemu lagi. Itu deh!"

"Ooo... lu mau bilang gua kuno."

Ah Ti cengar-cengir.

Eng Sok menyipit. Senyum miring—senyum yang sama persis saat ia di atas tahta sebagai Leng Tiat. Tapi kali ini, senyum itu tidak dingin. Hanya nakal.

Ia menggelitik Ah Ti tanpa ampun.

"Koko! Hahahaha... AMPUN! AMPUN, KOKO!"

Air di bak mandi ciprat ke mana-mana. Ah Me di luar hanya menggeleng-geleng kepala. Tapi di sudut bibirnya, ada senyum.

---

Setelah mandi, Ah Ti dan Koko Eng Sok keluar dengan rambut basah kuyup. Mereka keramas dan sekarang sudah berpakaian.

Ah Me gantian masuk sambil menggelengkan kepala. Ia membawa ramuan mandi itu. Lao Ma berbisik,”Gua aja mandi rempah gini sebulan sekali. Sudah pake sabun kayak zaman sekarang!” Ah Me cuma melirik Lao Ma. Energi mentalnya habis dan tidak mampu menjawab.

Eng Sok duduk di kamar. Rambut panjangnya ia keringkan perlahan dengan handuk. Tadi Ah Ti mengeramasi dia dengan shampoo natural dan kondisioner modern. Sekarang dia mengelap rambutnya yang sepinggang itu. Lama. Saking lamanya sampai Ah Ti sudah selesai mengeringkan rambutnya sendiri pake hair dryer bahkan styling dikit pake catokan Koko Sioh Bu.

“Ko, ini Ah Ti blow pake hair dryer ya?”, kata adiknya. Eng Sok melotot, mulutnya terbuka. Tangannya menunjuk hair dryer dan Ah Ti bergantian. Awalnya Eng Sok mengira alat itu untuk styling saja tapi ternyata buat mengeringkan rambut. Pelan-pelan Ah Ti menyisir rambut Eng Sok yang panjang dan hitam kayak model wanita di TV. Dikeringkannya rambut Koko barunya itu sampai kering pakai suhu sedang sambil menyisir dari bawah ke atas. Kata tutorial YouTube kalo panas nanti jelek rambutnya. Anak kecil itu antara bingung campur takjub. Gak pernah dia lihat orang dengan rambut sepanjang itu, mana bagus gak bercabang juga gak berketombe.

Lalu Eng Sok mengambil botol minyak orang-aring Sam Hok Liong—hijau, wangi khas, dingin di kulit kepala. Lalu menguncir rambutnya ekor kuda dengan sanggul kecil di atas. Dia mengikat sanggul akhirnya pakai pita besar warna biru.

Bukan sanggul biasa. Bukan sanggul artis figuran. Ini sanggul pangeran—rapi di atas, terurai sedikit di belakang, membentuk ekor kuda yang anggun.

“Ko, mau minyak”, kata Ah Ti menunjuk minyak Sam Hok Liong. Eng Sok tidak bertanya kenapa rambut Ah Ti pendek. Ingatan dari Sioh Bu bikin dia sesak. Dia memijat kepala adiknya perlahan. Kulit kepalanya bersih tapi untung rambutnya bercabang. Ah Me rambutnya sebahu, gak berketombe gak bercabang tapi keras. Kata Ah Me dicat hitam jadi keras.

"Koh, engkoh kaya Pendekar Bun.", kata Ah Ti saat rambutnya diberi minyak.

Selesai diberi minyak, dia memutar badannya. Menirukan jurus silat dari serial favoritnya.

"Aku mau juga, Koh!" pintanya.

Eng Sok berhenti menyisir.

Wig.

Harga wig tidak murah. Rambut palsu kualitas bagus—yang tidak bikin iritasi, yang mudah dipasang, yang tidak terlihat palsu dari jarak dekat—harganya bisa setara dengan satu kali kontrol Ah Me ke klinik.

Ia sudah nanya-nanya ke Ah Oan. Sudah nanya ke beberapa MUA lain. Angkanya membuat ia diam-diam mengepalkan tangan.

Kalau beli wig, mungkin Ah Me tidak bisa beli herbal. Mungkin Senin nanti Ah Me tidak bisa kontrol. Mungkin Jumat depan, jika kondisinya stabil, tidak bisa kemoterapi—karena uang transportasi kurang.

Eng Sok bingung menyusun kalimat. Bibirnya terbuka. Tertutup. Terbuka lagi.

"Yang Mulia..." bisik Sioh Bu dari udara.

"Hmm..."

"Di lemari atas itu... aku minggu lalu beliin wig dan alat-alat pasang wig buat Ah Ti. Moga masih muat."

Sioh Bu melayang, menunjuk ke lemari tua di pojok ruangan.

Eng Sok mengambil kursi. Meraih kotak di laci atas. Debu tipis menempel di jari-jarinya. Ia turunkan kotak itu dengan hati-hati—seperti membawa piring porselen antik.

Dibuka.

Isinya: kostum Pendekar Bun. Lengkap. Jas hitam dengan bordir naga perak. Ikat pinggang lebar. Gelang tangan. Sepatu boot hitam kecil.

Dan di samping kostum, wig.

Rambut palsu hitam legam. Sanggul khas Pendekar Bun—tinggi di atas kepala, ekor kuda panjang di belakang.

Juga alat pasangnya. Jepit. Jaring rambut. Lem khusus.

Eng Sok menghela napas panjang.

Lalu ia mengeluarkan ponsel. Membuka YouTube.

Cara pasang wig untuk anak.

Tutorial kostum Pendekar Bun untuk pemula.

Tips merapikan rambut palsu.

Ia mendesah.

"Aku nyari elixir keabadian di YouTube dan internet gak ada," gumamnya pelan. "Tapi seenggaknya... ada tutorial pasang wig Pendekar Bun dan cara ambil duit."

Sioh Bu, di udara, nyengir.

"Ya, Pangeran. Itulah dunia modern."

Ah Ti kaget lihat kostum dan wig. Tapi Eng Sok memasukkan kembali kostum itu. Saat adiknya merengek, ia menatap dingin. Persis seperti saat dia memerankan Leng Tiat. Adiknya menggigil ketakutan.

---

BERSAMBUNG

---

Hari Sabtu yang aneh.

Mandi rempah. Sanggul pangeran. Dan wig Pendekar Bun untuk seorang anak kecil yang kehilangan kakaknya.

Tapi mungkin... di situlah keajaiban mulai.

🪷👩‍❤️‍👨💐

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!