Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 13
Operasi kecil penghancur batu ginjal pak Basri berjalan lancar dan sukses. Setelah diperbolehkan keluar dari ruang pemulihan baru akan dipindahkan ke kamar rawat.
Ayunda berpelukan dengan ibunya, sama-sama tersenyum lega. Orang yang mereka cintai berhasil melewati saat-saat mendebarkan.
Bersamaan kedua wanita beda usia itu berjalan ke kamar VIP, menunggu pak Basri di sana.
Betapa leganya perasaan Ayunda, senyum tak luntur dari bibir idaman para kaum Adam, katanya tipe pas untuk dikecup.
***
Dua jam kemudian, pak Basri sudah kembali ke kamar rawat, dan sedang tertidur pulas.
“Bu, aku tak keluar sebentar ya … mau ngabari mba Yusniar, terus laporan, ada kerjaan dikit,” izinnya sambil mendekap notebook.
Bu Inggit mengangguk, dia juga rebahan di ranjang sebelah tempat suaminya. Kepalanya sedikit pusing, semalam kurang tidur – selain melepas rindu dengan putrinya, kepikiran tentang operasi sang suami.
Ayunda duduk di taman belakang bagian rumah sakit, tidak peduli sinar matahari menjelang siang menerpa kulit lembutnya.
Panggilan video melalui notebook sudah tersambung, sebelumnya Ayunda lebih dulu bertanya lewat chat, Yusniar sibuk atau senggang.
“Gimana operasi bapakmu, Yunda? Lancar kan?”
“Berhasil, Mbak,” ia tidak menutupi raut bahagianya.
“Syukurlah. Dari tadi aku kepikiran, mau nanya kamu takut ganggu. Kata dokter kapan boleh pulangnya?” Yusniar mengobrol seraya memeriksa sebuah map.
“Kalau kondisi bapak tetap stabil, paling lama empat hari lagi. Oh iya, aku udah nentuin pilihan dekorasi yang diminta tuan Daksa, coba mbak lihat, baru aja tak kirim,” katanya seraya sibuk mengetik sesuatu pada ponsel.
Yusniar terlihat mengklik mouse bluetooth, lalu membuka file yang baru saja masuk.
“Mbak kok kelihatan nyantai banget, tuan Daksa belum kelar juga rapatnya?”
“Belum keluar, biasalah meeting menuju akhir bulan bersama jajaran petinggi. Ada untungnya aku gak ikut, daripada terkena imbas nahan napas sampai dada terasa sesak,” ia terkekeh, fokusnya tetap ke layar komputer.
Ayunda pun tertawa pelan, tentu tak asing, dia juga pernah berada diantara belasan petinggi perusahaan dari mulai jabatan terbawah sampai direktur utama. Hampir semua orang sering menarik napas panjang, lalu menghembuskan secara sembunyi-sembunyi.
“Pak Iyan juga ikut?” Ayunda meletakkan ponsel di samping tempat duduknya.
“Jelas ikut. Dia sama tuan Daksa ibarat perangko sama lem nya, sepaket.”
“Aku kok kangen ya sama pak Iyan, Mbak? Rasanya ada yang kurang gak diganggu dia,” senyumnya mengembang.
“Eh, eh … gimana, gimana, Yun?” Yusniar langsung menoleh ke ponsel terhubung dengan panggilan video. Begitu melihat rona merah pada pipi mulus Ayunda, dia terbelalak. “Kamu suka sama pak Iyan? Hati-hati loh, dia mirip sejenis Anjing laut yang suka poligami di musim kawin.”
“Ya ampun mbak, aku bercanda,” kulit wajah Ayunda terasa mengencang.
“Bercanda yang sampai menancap ke hati ya, Yun? Ekspresi mu gak bisa bohongi aku loh. Mana rona pipi mirip orang kebanyakan pakai blush-on pink,” goda Yusniar.
“Mbak jangan gitu,” rengeknya malu-malu.
“Pantesan kalau abis ketemu pak Iyan kamu suka senyum-senyum gak jelas. Ngaku gak, apa yang kamu sukai dari dia?” Yusniar mengabaikan layar komputer, sepenuhnya fokus pada Ayunda.
Wanita yang hari ini mengenakan pakaian santai – kaos dan rok lebar selutut, menggigit bibir, matanya tidak bisa fokus, bergerak liar. “Suka selera humornya. Dia juga ramah, hangat, terlihat mudah digapai, terus pintar mencairkan suasana.”
“Rasanya aku pengen ngerekam obrolan ini, terus tak jadiin senjata malak kamu, Yunda _”
“Mbak!” Ayunda memekik kecil, lalu tertawa kala mendengar Yusniar melakukan hal sama.
“Eh, aku sampai lupa mau nanya. Gimana pagi ini, pas kan rasa teh tuan Daksa? Dia ada komplen gak, Mbak?” Ayunda mengalihkan pembicaraan.
“Ada yang mau kabur ni ceritanya.” Yusniar memainkan alisnya. “Semalaman aku hapalin buku resep darimu, takut kalau sampai salah racikan … ternyata tuan Daksa cuma minta teh tawar. Sesuatu banget kan?”
“Masa? Jarang banget loh dia minta teh tanpa rasa lain selain kelat di lidah dan tenggorokan? Apa lagi gak enak badan beliau, Mbak?” Ayunda sedikit terkejut sekaligus penasaran.
“Kelihatan biasa aja tu.” Bahunya terangkat.
“Aneh.” Ayunda pun ikutan mengedikkan bahu, lalu dia dan Yusniar terlibat obrolan ringan sampai setengah jam kemudian baru diakhiri.
“Kenapa ponselku panas ya? Perasaan tadi gak ada tak ganggu. Apa mungkin karena terpapar sinar matahari?” tanyanya pada diri sendiri, enggan memeriksa.
Ayunda memasukkan notebook nya ke dalam tas khusus, lalu pergi dari sana, kembali masuk kamar rawat inap ayahnya.
***
Dua hari kemudian.
“Nduk, bapak udah sembuh, tinggal pemulihan saja. Ndak apa-apa kamu tinggal. Lusa juga sudah boleh pulang,” pak Basri memberi pengertian agar Ayunda tidak merasa berat kembali ke ibu kota negara.
Hati Ayunda terasa berat, dia masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan kedua orang tuanya. Namun masa cuti sudah habis, dan teror keluarga Guntara sangat mengganggu.
Vinira terus mengirim pesan beruntun, mengharuskan Ayunda segera tiba agar bisa menggantikan peran beresiko.
Belum lagi Sarda Guntara, mendesak menginginkan pertemuan.
“Bapak, ibu, hati-hati selalu, nggeh? Kalau ada apa-apa, atau perlu sesuatu langsung kasih tahu aku,” pintanya sedikit memaksa.
“Nggeh, Nduk. Udah buruan sana, nanti ketinggalan pesawat loh,” meskipun berat, rindu belum sepenuhnya terpuaskan, bu Inggit terpaksa merelakan kepulangan putrinya.
Ayunda mencium takzim punggung tangan kedua orang tuanya, lalu mengecup pipi, baru setelahnya memeluk sayang.
Tiga hari ini benar-benar dia habiskan melepas rindu menggebu-gebu, sama sekali tidak ada keluar dari rumah sakit. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, beli di kantin.
Wanita berpenampilan layaknya gadis remaja mengenakan celana jeans bagian bawah lebar, dipadukan dengan sweater rajut – mulai menarik pegangan koper.
Bu Inggit mengantarkan Ayunda sampai depan pintu kamar rawat inap, sebisa mungkin tersenyum hangat, padahal hatinya meratap pilu.
‘Dalam doa ibu, selalu meminta – suatu hari nanti, keluarga kandungmu menyesal telah berbuat zalim kepadamu Ayunda.’
Kepulangan Ayunda sama seperti kepergiannya. Mendapatkan perlakuan khusus, memudahkan dia dalam perjalanan.
.
.
Belum juga istirahat, dan baru saja sampai apartemennya. Ayunda bergegas turun lagi dan masuk ke dalam mobil, berkendara di sore hari menuju hunian Guntara.
Tepat sebelum menjelang malam, ia sudah menjejakkan kaki di teras berlantai marmer, setelahnya melangkah menuju ruang tengah.
“Bagaimana kabar mantan keset kami, Benalu?” Serlina duduk di sofa kebanggaannya.
Tanpa disuruh, Ayunda tahu diri, langsung melangkah ke sela sofa panjang, meluruhkan bokong di bangku yang seolah mengejek statusnya. “Cukup baik.”
Sarda Guntara menjatuhkan amplop coklat tipis ke atas meja. “Pelajari! Dia termasuk orang sulit didekati! Kami gak mau tahu, apapun kendalanya, kamu harus bisa membuatnya menandatangani perpanjangan kontrak kerja.”
.
.
Bersambung.
jangan sampai kepulangan orang tua daksa untuk memaksa pernikahan sapi sama daksa. awas aja kalau kontrak belum selesai dah nikah lagi aku potong itu burung mu😤