Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 16.
Aurora sedang membantu ibunya memasak karna ada syukuran di rumahnya, di saat sedang fokus mengiris mentimun ibunya tiba-tiba celetuk.
"Nak Gama suruh ke sini dong Ra."
Aurora protes."Buat apa sih bu."
"Loh kenapa emangnya kan mumpung hari minggu ajak aja ke sini."
"Dia mungkin nggak akan mau." Aurora masih keukeuh tidak ingin mengajak Gama ke rumahnya.
"Ya tanya dulu lah, kalau cuman kamu menduga doang bekum tentu bener." Ibu Larasati masih keukeuh.
Arkan dan ayah Damar masih diam memperhatikan perdebatan antara ibu dan putri sulungnya.
"Di bilangin lagi berantem, mana mau kak Ara ngajak kak Gama ke sini." Ucap Arkan tanpa dosa.
Aurora mendelik kesal melemparkan mangkuk besi ke arah Arkan sampai terdengar bunyi nyaring.
"Bener Ra? kalian lagi berantem?." Tanya ayah Damar.
"Enggak yah." Aurora menggeleng menyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia dan Gama tidak berantem.
"Bohong tuh yah, kalau nggak berantem kenapa nolak tawaran ibu buat ajak kak Gama ke sini." Ujar Arkan provokasi
Aurora yang terlalu kesal dengan tingkah laku adiknya yang kurang ajar terpaksa ia menghubungi Gama setelau satu minggu Aurora tidak pernah tegur sapa kembali.
Aurora :
maaf ganggu
lagi sibuk hari ini?
Tidak lama kemudian balasan dari Gama muncul.
Gama :
enggak kenapa?
Aurora :
maaf ganggu waktu santai kakak
ibu mau ngundang kakak buat syukuran ulang tahun adik aku Arkan
kalau kakak ngerasa ke ganggu gapapa nggak usah datang juga nggak papa
Aurora ingin Gama menolak undangan ibunya. Akan tetapi, seperti takdir tidak memihak dirinya kali ini.
Gama :
jam berapa?
Aurora :
jam 4 sore
Gama :
okay gue berangkat sekarang
Aurora :
loh jam 4 aja di sini belum siap siapin apa apa
masih pagi juga
Gama :
makanya itu gue mau bantu bantu
siapa tau ada yang bisa gue bantu kan
Aurora :
Duh jadi nggak enak aku
padahal gapapa loh kak dateng jam 4 sore
Gama :
gapapa gue berangkat sekarang
Aurora :
yaudah deh terserah kakak
Entah kenapa jantungnya malah berdetak tidak wajar padahal hanya chatting biasa saja, kenapa rasanya se deg degan ini.
Aurora menggelengkan kepala menyadarkan diri.
"Gimana Ra?." Tanya ibunya.
"Dia ke sini sekarang, mungkin lagi otw." Terang Aurora melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Di saat semua anggota keluarga fokus dengan tugas masing-masing, terdengar ketukan pintu dari arah pintu depan. Mereka semua berpikir mungkin itu Gama.
"Biar ayah aja yang buka." Cegah ayah Damar. Aurora yang ingin bangkit berdiri untuk membuka pintu, di cegah oleh ayahnya akhirnya Aurora kembali duduk melanjutkan pekerjaannya.
"Ra ini ada temen mu." Ujar Ayah Damar.
Aurora pikir itu Gama yang datang jadi Aurora cuek saja dan fokus mengiris.
"Heh! ini ada temenmu kok malah cuek." Tegur Ayah Damar.
"Ya aku udah tau pasti kak Ga—" sebelum Aurora menyelesaikan ucapannya Aurora menatap kaget ke arah orang yang berdiri di samping ayahnya.
Kalian tahu siapa yang datang sekarang? bukan Gama melainkan ketos SMA Mandala. Elvano datang ke rumah Aurora entah ada keperluan apa
Dan tak lama ada ketukan pintu kembali entah kenapa Aurora menjadi gelisah Aurora tahu pasti yang datang sekarang adalah Gama, dan ternyata benar Gama yang datang.
Aurora bisa merasakan perubahan raut wajah Gama setelah melihat Elvano di sini.
"Eh, nak Gama sini." Panggil Ibu Larasati.
Gama tersenyum kecil menghampiri ibu Larasati dan menyaliminya, tanpa menatap ke arah Elvano.
"Padahal nanti aja sore datengnya sekarang belum beres persiapannya." Lanjut Ibu Larasati.
"Nggak apa apa bu mau bantuin juga."
"Eh, nggak usah kamu duduk aja sana nonton tv." Tolak ibu Larasati.
"Nggak apa apa bu bosen juga kalau nonton tv doang."
"Yaudah deh tolong ya nak Gama... eh, sama ni nak siapa ini satu lagi." Tanya ibu Larasati ke arah Elvano.
Elvano tersenyum kecil."Elvano tante."
"Oh, nak Elvano panggil aja ibu sama kayak nak Gama."
Elvano mengangguk kecil mengiyakan.
"Yaudah nggak apa apa kan kalian ngiris ini wortel jadi kecil kecil." Suruh Ibu Larasati.
Gama dan Elvano mengangguk kecil dan mulai mengiris wortel.
Suasana rumah itu jauh lebih ramai dari biasanya. Aroma masakan memenuhi udara sejak pagi, bercampur suara piring, tawa anak-anak kecil, dan langkah kaki yang mondar-mandir di halaman depan. Syukuran ulang tahun Arkan itu memang selalu sederhana, tapi cukup membuat satu rumah sibuk tanpa henti.
Ibunya berdiri di dapur sambil mengusap peluh di pelipis, sesekali memanggil orang untuk membantu memindahkan makanan ke meja panjang di ruang tamu. Belum sempat beliau mengambil baskom besar di sudut dapur, satu tangan lebih dulu mengangkatnya.
Elvano berjalan cepat membawa baskom itu keluar, wajahnya tenang seolah memang terbiasa membantu pekerjaan rumah. Baru beberapa langkah, Gama muncul dari arah belakang sambil membawa tumpukan piring yang jauh lebih banyak, bahkan hampir menutupi wajahnya sendiri.
Keduanya saling melirik tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Saat ibu Larasati meminta tolong untuk membawakan kursi tambahan yang berada di belakang rumah, Gama dan Elvano dengan gesit mengambilkan kursi tambahan.
Aurora menyaksikan tingkah Gama dan Elvano yang saling gesit seolah sedang berlomba untuk menang. Mendadak mereka menjadi rajin, bahkan setelah mereka membawa kursi tambahan mereka mengelap kursi itu dengan bersih.
Semakin siang bukannya mereka cape malah makin rajin
Gama yang sudah beres mengiris buah, langsung membantu ayah Damar yang sedang mendekor ruang tamu dengan balon, Elvano yang meniup balon manual sampai kehabisan napas, wajahnya sampai mereka.
Mereka semua hanya ingin satu mendapatkan pujian dari ibu Larasati.
Bahkan Arkan notabennya yang berulang tahun terlihat berleha leha tanpa membantu sama sekali.
Aurora memperhatikan tingkah mereka yang gesit sampai geleng geleng kepala dengan tingkah mereka.
Waktu sudah pulang hampir jam 4 tamu mulai berdatangan.
"Nak duduk sini." Suruh ibu Larasati kepada yang lain.
Suasana khidmat pak ustad yang di undang oleh ayah Damar sudah mulai membaca doa doa dan ayat ayat suci alquran, para tetangga yang di undang dengan khidmat mendengar pak ustad.
Selesai doa pak ustad menyuruh Arkan untuk memotong kue.
Arkan maju ke depan, pak ustad menyuruh Arkan jangan di tiup hanya di kipas oleh tangan supaya lilinnya mati.
Para bapak bapak pindah ke halaman untuk mengobrol sambil makan makanan yang di sediakan di halamab rumah.
Di ruang tamu sekarang di hadiri banyak anak anak yang antusias mengucapkan lagu ulang tahun.
Arkan menutup wajahnya dengan satu tangan malu di usianya yang sudah beranjak remaja masih di rayakan ulang tahun, karna sebenarnya Arkan sempat menolak untuk di rayakan ulang tahun. Tapi, kedua orang tuanya tetap keukeuh merayakan.