NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ravian penggoda

LANGKAH kaki Aelira menggema di koridor SMA Nusa Cendekia.

"Siang Kak Aelira!"

"Siang Kak!"

Aelira mengangguk dan tersenyum ramah. Dikenal sebagai Ketua OSIS dan murid paling pintar di sekolah—tak heran siswa siswi menjadikannya panutan.

Namun langkahnya terhenti saat Pak Maulana—wakil kepala sekolah—memanggil dari kejauhan.

"Aelira! Ke ruang tamu dulu, ada tamu penting mau ketemu kamu."

Aelira mengerjap. "Baik, Pak."

---

Ruang Tamu Sekolah

Seorang pria paruh baya berdiri di dekat jendela. Jas rapi, rambut disisir rapi, dan senyum yang hangat namun penuh wewenang.

"Selamat siang, Kakak," sapa Aelira sopan.

Maulana tersenyum. "Aelira, ini Pak Andrew. Beliau perwakilan dari konsorsium pendidikan Jepang."

Andrew mengulurkan tangan. "Senang bertemu denganmu, Aelira. Saya sudah dengar banyak tentang prestasimu."

"Terima kasih, Pak."

"Aelira adalah murid terbaik kami, Pak Andrew." Lanjut Maulana bangga. "Dia selalu jadi juara umum. Olimpiade sains, debat, bahkan essay hingga tingkat nasional. Aelira ini aset besar sekolah kita."

Andrew mengangguk kagum. Matanya menatap Aelira lama—seperti sedang mengingat sesuatu.

"Wajahmu mengingatkanku pada seseorang," gumam Andrew pelan.

Maulana menoleh. "Siapa, Pak?"

Andrew tersenyum tipis—mata veteran yang menyimpan banyak cerita. "Adik saya. Dia dulu juga cerdas seperti kamu. Suka banget sama debat dan olimpiade sains. Sayang... dia meninggal muda."

Suasana ruangan mendadak hening.

Aelira menunduk. "Turut berduka, Pak."

Andrew menghela napas. "Maaf, saya jadi nostalgia. Baiklah—jadi bagaimana soal tawaran beasiswa kuliah ke Jepang? Apa kamu setuju?"

Aelira menggigit bibir. "Soal itu, saya belum punya keputusan, Pak." Jawabnya pelan.

Andrew mengangguk. "Kenapa? Orang tua kamu tidak setuju kamu kuliah jauh atau—"

"Maaf, Pak! Aelira ini anak yatim piatu." Maulana memotong lebih dulu.

"Oh?" Andrew mengerjap. "Yatim piatu?"

Maulana segera membisikkan sesuatu membuat Andrew mengangguk kecil—paham.

"Tidak apa-apa, Aelira. Seleksinya juga masih lama." Andrew menatap gadis itu intens. "Tapi Bapak harap kamu setuju, ya? Bapak dengar kamu juga sempat menolak program pertukaran pelajar ke Korea enam bulan lalu?"

Aelira menunduk sambil meremas jemarinya. "Maaf, Pak..."

Andrew mengangguk pelan dengan senyuman kecil. "Tidak apa-apa. Bapak tidak akan memaksa."

"Oh ya, selain beasiswa, bapak juga mau bahas soal Olimpiade kamu." Maulana menambahi.

Beliau mulai menjelaskan penuh soal ajang Olimpiade Nasional yang akan berlangsung dua bulan lagi di Jakarta.

---

Namun penjelasan itu terputus oleh suara dari luar.

"RAZIA ATRIBUT DAN BARANG TERLARANG! SEMUA SISWA KUMPUL DI AULA!" teriak Danuel—Ketua PD—yang sedang berjalan cepat sambil menggenggam walkie talkie.

Di belakangnya, beberapa anggota OSIS menyisir kelas-kelas.

Para siswa tampak resah, saling menyembunyikan barang yang tak semestinya mereka bawa—seperti make up, majalah, sampai vape.

"Maaf, Pak. Saya harus memimpin razia," pamit Aelira.

Andrew mengangguk. "Silakan. Kita lanjut lain waktu."

Aelira berjalan cepat meninggalkan ruangan—namun sebelum keluar, Andrew memanggilnya lagi.

"Aelira!"

"Iya, Pak?"

Andrew tersenyum. "Adik saya dulu bernama Aelira juga. Nama yang sama persis."

Aelira terkejut. Matanya melebar.

"Itu sebabnya saya tertarik datang ke sini. Bukan hanya karena prestasimu... tapi karena namamu." Andrew menghela napas. "Mungkin ini takdir. Saya ingin membantumu meraih mimpimu, seperti yang dulu tidak sempat saya lakukan untuk adik saya."

Aelira terdiam. Dadanya terasa hangat—tapi juga sesak.

"Terima kasih, Pak," bisiknya.

---

Koridor Belakang Sekolah

Aelira berjalan menyisir area belakang yang sepi—sering dijadikan tempat nongkrong diam-diam oleh siswa-siswi bermasalah.

Dan benar saja.

Di sana, seorang cowok jangkung duduk bersandar santai di dinding dengan seragam berantakan dan satu kakinya naik ke meja.

Ravian menghembuskan asap tipis ke udara. Sorot matanya cuek, membuatnya terlihat semakin seperti troublemaker kelas atas.

"RAVIAN!!" seru Aelira lantang.

Cowok itu menoleh pelan—tidak tampak kaget sedikit pun.

"Kenapa?"

Aelira menarik napas dalam. "Kamu ngerokok lagi?"

Ravian mengangkat alis santai.

Aelira berjalan cepat, wajahnya memerah kesal. "Aku udah bilang berkali-kali, jangan ngerokok di sekolah!"

Ravian menyeringai nakal, lalu menjentikkan rokoknya ke tanah, menginjaknya dengan sepatu. "Udah, tuh. Puas?"

Aelira mendecak heran. "Kamu tuh nyari masalah banget. Kalau sampai ada yang lihat dan kamu nanti kena skandal, gimana?!"

"Hmm..." Ravian mengangguk. "Tapi ada yang lebih penting dari skandal itu." Tangannya tiba-tiba menarik pinggang Aelira—merapatkan gadis itu ke dadanya.

Aelira terkejut, wajahnya memerah. "Ravian—gila ya kamu?! Ini di sekolah!"

"Biarin." Bisiknya di telinga kiri Aelira. Suaranya dalam, berat, dan menggoda. "Soalnya gue lagi kesel. Cewek gue razia anak lain, giliran cowok sendiri malah ditinggal."

"Ravian, ini bukan waktunya buat—"

"Gue kangen." Matanya menatap tajam ke arah Aelira. "Gue pengen lo di sini. Jangan kemana-mana."

Aelira menahan napas. "Aku ketua OSIS! Aku bisa skors kamu kalau ketahuan ngerokok dan ganggu kerjaan aku."

Ravian menarik smirk samar—masih dengan tangannya melingkar di pinggang gadis itu.

"Skors sana. Gue malah seneng. Bisa libur, bisa main sama lo seharian di rumah."

"Lepas!" Aelira meronta.

Ravian menahan senyum. "Nggak mau."

"Ravian, lepas!! Atau aku lapor ke Kepala Sekolah?"

Ravian malah terkekeh melihat ekspresi gemas Aelira.

"Gemes banget. Sini cium!"

Dia memiringkan wajahnya dan mendekat—tapi Aelira lebih cepat membekap bibir cowok itu dengan tangannya.

"Kamu harus ngerti lah, kita nggak bisa kayak gini di sekolah."

"Pelit."

Aelira mendengus. "Jangan rokok lagi di sekolah! Aku bakal marah kalau kamu sampai gitu lagi."

"Iya, bawel." Ravian mencubit pipi Aelira.

Setelah pelukan singkat itu, Aelira mulai melepaskan diri. "Udah, aku mau balik dulu."

Namun Ravian masih belum melepaskan tangannya. Matanya menatap lembut—lalu tanpa aba-aba, ia menunduk dan mencium pipi Aelira cepat.

CUP!

"Mwah."

Aelira terdiam. Tubuhnya kaku. Matanya membulat syok.

"Ravian." Kesalnya.

"Kenapa?" Ravian menyeringai santai. "Lo imut banget barusan. Gemes gue."

Aelira langsung menepis tangannya geram. "Aku udah bilang, jangan macam-macam di sekolah!"

Dia mundur satu langkah, lalu memutar badan dan pergi dengan langkah cepat.

Ravian langsung terdiam dan menegak. "Aelira?"

Dia tidak menoleh. Pergi begitu saja melewati semak-semak dan pagar besi kecil.

Ravian seketika panik. "Eli, seriusan marah?" Ia langsung mengejar. "Eli, tunggu dulu dong! Lo ngambek? Apaan sih, dicium doang ngambek."

Aelira menepis tangannya dengan ekspresi keruh.

"Sayang!" Ravian mendecak. "Eli, gue becanda doang! Lagian di pipi. Gue tahan lho nggak nyium bibir lo sekalian!"

Aelira tetap berjalan cepat.

Ravian langsung berlari kecil, lalu berdiri di depan Aelira sambil membuka tangan—membuat gadis itu menghentikan langkahnya.

"Oke, gue minta maaf! Sumpah! Enggak bakal gue ulangin, oke?"

Aelira menatapnya penuh permusuhan. "Harusnya kamu bisa lebih jaga sikap. Kamu itu public figur. Aku Ketua OSIS. Nggak lucu kalau ada yang lihat tadi. Kalau aku dihukum gimana?"

"Eh, jangan nangis dong!" cemas Ravian memegang bahunya.

Aelira merenggut kecil sambil menatapnya kesal.

Ravian melihat kiri kanan. "Gue nggak bisa peluk lo di sini. Nggak usah nangis!"

Dia mengusap kepala Aelira lembut—membuat gadis itu mendengus pelan.

"Kamu yang suka bikin aku nangis," desak Aelira.

"Tau. Karena hidup gue sepi kalau nggak jahilin lo."

Aelira mendelik dan menonjok pelan dada Ravian—membuat cowok itu menahan tawa.

"Apa?" Ravian mengacak-acak puncak kepala Aelira.

"Jangan diberantakin!"

"Kenapa? Mau caper ke siapa lo rapi-rapi segala?"

Ravian malah semakin sengaja mengacak-acak rambut Aelira sampai berantakan.

"Ravian!" kesal Aelira.

"Sana balik! Jangan ngambek!"

"Terserah aku."

Ravian melotot. "Gue peluk, ya!" ancamnya hendak maju tapi Aelira lebih dulu kabur—membuat Ravian terkekeh.

"Lama-lama gue nikahin tuh cewek biar nggak bisa lari dari gue," gumamnya sambil tersenyum miring.

---

Sore harinya di kantin sekolah

Andrew duduk sendirian di ruangannya. Namun tidak lama kemudian—Ravian menyender santai di kursi, satu alisnya terangkat.

"Ravian? Ada perlu apa?" tanya Andrew.

Ravian mengangkat bahu. "Santai aja. Gue cuma duduk. Salah?"

Andrew mendesah. "Duduknya bisa di mana aja, bukan di depan saya."

"Masalahnya gue nggak punya temen."

---

Kantin Sekolah

Aelira mendesah, mengaduk nasinya dengan gelisah. Di depannya, Ziva melipat tangan.

"Lo kenapa sih, Eli? Muka lo kayak orang habis dimarahin."

"Pokoknya jangan tanya," jawab Aelira malas.

"Ravian, ya? Cowok lo lagi bikin ulah?"

"Bukan ulah. Dia..." Aelira menggigit bibir. "Troublemaker."

Ziva tertawa kecil.

Tiba-tiba Ravian muncul—duduk tepat di samping Aelira. "Ngobrolin gue, ya?"

Aelira menghela napas. "Enggak."

Ravian menoleh ke Ziva. "Lo Jipa, kan?"

"Ziva." Ziva memutar bola matanya.

"Oke. Pesenin gue makanan. Gue males ngantri." Ravian menyodorkan uang lembaran lima puluh ribuan ke Ziva.

Ziva mengangguk cepat. "Oke! Lo mau yang mana?"

"Yang sama kayak dia," katanya sambil menunjuk piring Aelira.

Aelira meruntuk dan menunduk dengan bibir mencuat.

Ravian menyeringai nakal. "Nunduk gitu, manis juga."

"Ravian."

"Apa?" katanya dengan nada tak bersalah. "Gue cuma pengen makan bareng cewek gue."

Aelira mencolek kakinya dari bawah meja. "Kamu udah janji."

Ravian menyender semakin santai—kakinya diluruskan hingga menyentuh sepatu Aelira, membuat gadis itu terkejut.

"Janji apa? Janji kangen lo diam-diam?"

Aelira memalingkan wajah—malas menanggapi.

"Li, beneran deh, aku males kena masalah. Lihat cewek-cewek itu lihatin aku kayak mau nerkam."

Ravian mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya diturunkan nyaris seperti bisikan.

"Lo tahu nggak, lo tuh makin cantik tiap ngomel pelan."

Aelira menoleh cepat, melotot kecil. "Kamu tuh—!"

"Gue apa?" Ravian menaikkan alis, senyumnya licik.

"Nyebelin!"

"Nyebelin tapi lo sayang, kan?" selanya cepat, matanya menyala penuh percaya diri.

Aelira mendecak pelan, lalu menunduk sambil menyendok nasinya. Tapi matanya jelas tidak bisa fokus.

Ravian masih belum berhenti. "Nanti pulang sekolah, temenin gue ke taman belakang dulu, ya! Baru gue berangkat syuting."

Aelira mendongak curiga. "Ngapain?"

"Peluk lo. Ngecas energi."

Aelira terdiam. Rasanya gatal ingin menimpuknya pakai gelas.

Ravian menahan senyum dan meraih gelas Aelira—lalu meneguknya.

"Itu punya aku. Aku belum minum," protes Aelira sambil mencubit lengan Ravian dan merebut minumannya.

"Bagi dikit. Pelit," cibir Ravian.

Aelira mendecak. Tapi sebelum sempat membalas—suara di sekeliling mereka mendadak mengecil.

Obrolan siswa-siswa mulai meredup.

Beberapa siswa berbalik.

Tatapan-tatapan terkejut dan penasaran muncul.

Seorang gadis tinggi dengan rambut hitam melangkah masuk ke kantin. Langkahnya tenang—percaya diri.

Lauren Shameera.

"Eh, itu Lauren kan?"

"Yang pertukaran pelajar ke Korea?"

"Dia kapan balik, ya?"

"Ya ampun, makin glowing aja."

Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.

Aelira ikut menoleh.

Lauren adalah siswa yang akhirnya menggantikannya untuk pertukaran pelajar ke Korea enam bulan lalu. Karena Aelira menolak pergi—waktu itu Ravian sakit dan tidak mau ditinggal, walau Aelira sangat menginginkannya.

Ravian sempat melirik sekilas, tapi tanpa minat. Cowok itu langsung kembali menoleh ke arah Aelira.

Dengan santainya, dia mengambil ponsel Aelira dari meja.

"Eh! Van, jangan—" Aelira mencoba merebut, tapi telat.

"Kenapa? Lo sembunyiin apa dari gue?" Matanya menelusuri daftar pesan seperti satpam pribadi + FBI hybrid. Dia mengecek semuanya—termasuk sosial media Aelira.

Ziva kembali dan melihat Lauren mendekat. "Eh, Lauren—"

"Hai, Aelira!" Lauren kini berdiri tepat di depan meja mereka.

Aelira mendongak, lalu tersenyum tipis. "Hai."

Lauren membalas senyumannya dan mengabaikan Ziva yang sempat menyapanya—membuat Ziva mendelik. Sombong banget.

"Gue kira lo nggak di sini. Gue udah nyari lo dari tadi," kata Lauren.

Beberapa siswa mulai berbisik pelan melihat interaksi dua cewek cerdas itu.

"Gimana? Korea seru?"

"Parah, sih." Lauren terkekeh. "Gue juga temenan akrab sama trainee idol di sekolah itu. Eh, besok kita nongki, yuk! Nanti gue mau cerita banyak soal Korea. Sekalian bagi-bagi ilmu ke lo."

Aelira mengangguk. "Oke."

Ravian dari samping menyilet—matanya tidak lepas dari layar ponsel Aelira.

"Wakil doang tapi chat sampai malem? Pakai ngasih stiker semangat pula. Kenapa nggak sekalian peluk lo dari chat tuh?" tanyanya mendumel.

Aelira menghela napas. "Dia cuma ngasih semangat karena kerjaan OSIS banyak banget."

"Caper banget sih nih cowok," kata Ravian menatap isi chat dengan ekspresi geli.

"Lo juga caper."

"Aku sama dia nggak aneh-aneh. Dia naksir Ziva." Aelira menunjuk Ziva yang sedang meminum es teh hingga tersedak.

Ziva terbatuk keras. "HAH?! SIAPA?!"

Ravian terkekeh. "Bagus. Dia cocok sama Ziva—sama-sama berisik."

Ziva melotot. "Gue nggak berisik! Lo aja yang!"

"Ck." Ravian memotong. "Tunggu—kata si 'Wakil Naksir Ziva' ini—chat dia... 'Jangan lupa makan, Ka. Kamu kelihatan kurusan akhir-akhir ini.'" Ravian menirukan dengan suara cempreng. "Dasar lebay."

Aelira mengambil ponselnya kembali. "Stop bacotin chat orang."

Ravian menyandarkan tubuh ke kursi—tapi kakinya tetap menyentuh sepatu Aelira di bawah meja.

"Ya sudah, Aelira. Kita ngobrol lain kali, ya! Bye!" Lauren berlalu dengan langkah cepat.

Ravian baru menoleh sekilas—lalu kembali ke Aelira.

"Lo nggak jadi ke taman belakang?" tanya Aelira.

"Udah batal." Ravian memainkan garpu. "Kesel liat lo senyum-senyum sama si Korea."

Aelira mendelik. "Aku senyum sopan, Van."

"Ya. Gue nggak suka."

"Kamu cemburu sama cewek?"

Ravian terdiam sesaat—lalu mengangkat bahu. "Gue cemburu sama siapa pun yang bisa bikin lo tersenyum tanpa gue."

Aelira membeku.

Ziva yang dari tadi hanya diam—kini menutup muka dengan kedua tangan. "Baperan, gue."

Ravian menatap Aelira—dan untuk sesaat, sorot matanya berubah. Tidak galak. Tidak posesif. Hanya... hangat.

"Pokoknya nanti pulang sekolah, lo anter gue ke rumah sakit."

Aelira mengerjap. "Rumah sakit? Kenapa?"

"Ada urusan." Ravian berdiri. "Jangan telat. Gue tunggu di parkiran."

Dia berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.

Aelira hanya bisa menatap punggungnya—sementara Ziva menyenggol lengannya.

"Eli, cowok lo tuh..."

"Apa?"

"Anjing banget. Tapi gemes."

Aelira tertawa kecil—tapi matanya tetap menatap ke arah Ravian yang sudah menghilang di balik pintu kantin.

Ravian penggoda.

Dan dia—selalu, selalu jatuh pada godaan itu.

1
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
mampir kesini Thor
anggita
novel baru👌moga lancar.
Avocado Juice 🥑🥑: Semangat nulisnya kak /Smile//Ok/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!