NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu dari Masa Silam

Langit di luar sana mulai melukis gradasi jingga yang memar, pertanda sang surya mulai lelah bertahta.

Di dalam kamarnya yang beraroma kayu tua dan sisa-sisa wangi getah damar, Arunika sedang menyesap dunianya sendiri. Ia duduk bersandar pada tumpukan bantal, menekuni barisan kalimat dalam sebuah buku tua yang sampulnya sudah mulai menguning. Baginya, buku adalah satu-satunya pelarian paling sunyi yang tidak pernah menghakiminya.

Jendela kamar yang sedikit terbuka membiarkan angin sore masuk tanpa izin, membelai helaian rambutnya yang tergerai, dan sesekali memainkan ujung halaman bukunya.

Suara gesekan daun-daun dari pohon besar di luar sana menjadi musik latar yang menenangkan. Kesunyian itu adalah kemewahan yang selalu Arunika jaga dengan rapat, seperti rahasia yang tidak boleh dicuri siapa pun.

Namun, ketenangan itu pecah oleh ketukan pelan di pintu jati kamarnya.

"Nduk, Ika..." Suara serak-serak basah milik Nenek menyusup masuk.

Arunika menoleh, sedikit merenggangkan punggungnya. "Iya, Nek? Ada apa?"

"Itu, tamu Kakek sudah datang. Kakek minta tolong dibuatkan teh hangat sama camilan untuk tamu ya," ujar Nenek lembut.

Ika bangkit dari tempat tidurnya, sedikit merapikan pakaiannya. "Siapa yang datang, Nek?"

"Tamu si Kakek dari jauh, Nduk. Mau menginap beberapa minggu untuk urusan bisnis. Ini tamu penting soalnya, orang sukses besar di kotanya," jawab Nenek memberikan penjelasan.

Arunika menarik napas panjang, menutup bukunya perlahan dengan pembatas dari daun kering yang ia buat sendiri.

Ada sedikit rasa berat hati meninggalkan keheningan kamarnya, namun baktinya pada Kakek dan Nenek selalu menjadi prioritas di atas segalanya. Ia tahu, penginapan ini adalah napas bagi keluarga kecil mereka.

"Iya, Nek. Ika segera turun," sahutnya lembut.

Ia beranjak menuju cermin besar di sudut kamar. Rambutnya yang panjang dan hitam ia jepit dengan jedai secara asal namun justru memberikan kesan anggun yang alami, menyisakan beberapa anak rambut yang jatuh di pelipis.

Wajahnya polos tanpa riasan berlebih, hanya bibirnya yang tipis namun berwarna merah muda alami tampak kontras dengan kulitnya yang putih bersih, seputih porselen yang dirawat dengan baik.

Ia mengenakan kemeja katun longgar berwarna krem dan celana kain yang menonjolkan kakinya yang jenjang.

Di usianya yang sekarang, tubuh Arunika tumbuh dengan proporsi yang sempurna; tinggi sekitar 170 cm, ramping, namun memiliki aura ketegasan yang dingin.

Di dapur, aroma camilan yang baru saja disiapkan mulai menyeruak, bercampur dengan uap teh melati yang mengepul dari teko keramik.

Arunika menata semuanya di atas nampan kayu dengan gerakan yang cekatan namun anggun. Setelah memastikan semuanya sempurna, ia melangkah menuju ruang tamu utama.

Lantai kayu penginapan itu berderit halus di bawah langkah kakinya. Saat ia mendekati ruang tamu, suara tawa rendah dan berat terdengar memenuhi ruangan.

Di sana, Kakek sedang duduk berhadapan dengan dua orang pria yang tampak sangat kontras dengan suasana penginapan yang sederhana.

Tamunya adalah orang yang sukses dan kaya di tempat asalnya, datang karena memiliki urusan bisnis di tempat Arunika dan memutuskan untuk menginap di sana.

Pria pertama terlihat sangat berwibawa, usianya mungkin sekitar lima puluh akhir menuju enam puluh tahun. Rambutnya sudah dihiasi sedikit uban di bagian pelipis, namun posturnya tetap tinggi dan gagah. Ia mengenakan kemeja batik sutra yang mahal, dengan kumis tebal yang terawat dan suara berat yang sangat dominan.

Namun, perhatian dunia seolah berhenti berputar saat Arunika melangkah masuk ke lingkaran cahaya lampu ruangan itu. Di samping pria tua itu, duduk seorang pemuda.

Pemuda itu memiliki perawakan yang sangat tinggi, sekitar 183 cm. Kulitnya bersih, tidak terlalu putih namun tampak sangat terawat. Rambutnya dipotong pendek rapi, menyisakan kesan maskulin yang kuat.

Ada bayangan kumis tipis di atas bibirnya—bekas cukuran yang memberikan kesan dewasa namun tetap segar.

Ia mengenakan kemeja linen berwarna biru tua yang pas di badannya yang tegap, menebarkan aroma parfum yang mewah namun tidak menusuk hidung—aroma yang bicara tentang kelas dan kemapanan.

Saat Arunika meletakkan nampan di meja kayu jati, pemuda itu mendongak.

Detik itu juga, napas Senja—nama asli dari pemuda yang kini dikenal dunia sebagai Adit—seolah tertahan di tenggorokan. Matanya yang teduh bertemu dengan mata Arunika yang dingin dan datar. Senja terpana.

Di hadapannya berdiri seorang perempuan yang tampak seperti personifikasi dari kabut pagi: cantik, bersih, namun sangat tertutup.

Ia terkesima melihat bagaimana cahaya lampu memantul di kulit putih perempuan itu, dan bagaimana bibir merah mudanya terkatup rapat tanpa senyum yang dipaksakan.

Senja tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman manis yang tulus—sesuatu yang jarang ia berikan pada orang asing.

"Nah, ini cucu Kakek yang paling rajin," ujar Kakek dengan nada bangga. "Namanya Ika. Dia yang banyak membantu Kakek mengurus penginapan ini sekarang."

Pria tua di seberang Kakek tertawa renyah. "Wah, beruntung sekali kamu punya cucu seanggun ini. Kenalkan, Ika, saya Ardhi, panggil saya om Ardhi saja. Dan ini putra saya, Adit."

Adit sedikit memajukan tubuhnya, tetap dengan senyum manisnya yang tertuju pada Ika. "Adit," ucapnya singkat sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman sembari berucap dengan suara rendah yang terdengar ramah.

Ika hanya mengangguk sopan, tanpa binar berlebih di matanya. "Ika," jawabnya pendek. Suaranya datar, sedingin udara luar yang mulai menusuk tulang.

Tidak ada secuil pun memori yang terlintas di kepala Arunika tentang masa lalunya. Sosok di depannya terlalu "sempurna" untuk dihubungkan dengan luka lama.

"Silakan dinikmati teh dan camilannya," lanjut Ika formal.

"Terima kasih, Ika," sahut Ayah Adit. "Kami akan menginap beberapa hari di sini. Semoga tidak merepotkan."

"Sama sekali tidak. Jika sudah selesai, saya akan mengantarkan ke kamar masing-masing," kata Ika lagi.

Selama percakapan antara Kakek dan Ayah Adit berlangsung, Senja hampir tidak menyentuh camilannya. Matanya terus mengikuti gerak-gerik Arunika yang kini berdiri sedikit menjauh.

Senja terpesona pada bagaimana Arunika tetap terlihat berwibawa meskipun hanya diam. Ada misteri di balik wajah dingin itu yang membuat rasa penasaran di dadanya bergejolak. Sangat berbeda dari perempuan-perempuan kota yang biasa ia temui.

Setelah teh habis dan urusan sementara selesai, Arunika kembali untuk mengantar tamu-tamunya setelah dipanggil oleh kakeknya. "Mari, Pak, saya antarkan ke kamar," ucapnya tenang kepada Ayah Adit.

Adit segera berdiri, menyambar tas kulitnya dengan cekatan. Ia berjalan di belakang Arunika, memperhatikan bagaimana langkah kaki perempuan itu begitu tenang.

"Penginapan ini emang tselalu tenang kaya gini ya?" Adit mencoba membuka percakapan saat mereka menaiki tangga kayu. Suaranya sengaja dibuat selembut mungkin.

"Memang begitu tujuannya. Orang datang ke sini untuk mencari kesunyian," jawab Ika tanpa menoleh, terus mendaki tangga.

"Jangan panggil kaku begitu, panggil Adit saja," Adit terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana.

Ika berhenti di depan sebuah pintu kayu bernomor 07. Ia memutar kunci dan membukanya, membiarkan aroma kayu manis dari dalam kamar menyambut mereka. "Ini kamar kalian, Handuk dan perlengkapan mandi sudah ada di dalam.

Jika butuh sesuatu, bisa tekan bel di samping tempat tidur, saya pamit dulu ya om, mas adit" ucap ika dengan senyum ramah kepada keduanya.

"Terima kasih ya Ika" Ucap Om Ardhi dengan ramah dengan seutas senyuman.

Adit masuk ke dalam kamar, namun ia tidak langsung menutup pintu. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Ika yang hendak berbalik pergi.

"Ika," panggilnya lagi.

Ika menghentikan langkah, menoleh sedikit dengan raut wajah yang tampak datar, seolah keberadaan Adit hanya sekadar tugas yang harus diselesaikan. "Ada yang kurang?"

"Kamu... sudah lama tinggal di sini?" tanya Adit, matanya menatap lekat ke dalam mata Ika, mencoba mencari celah di balik sikap dingin itu.

"Cukup lama untuk tahu bahwa tamu biasanya butuh istirahat setelah perjalanan jauh," jawab Ika telak, namun tetap dengan nada yang sopan. "Selamat malam, Adit."

Ika berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu balasan. Rambutnya yang dijepit jedai bergoyang pelan seiring langkahnya yang menjauh.

Senja berdiri terpaku di depan pintunya, memperhatikan punggung Arunika sampai perempuan itu menghilang di balik tikungan koridor.

Ia menyentuh dadanya yang berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ada rasa menggebu-gebu yang asing. Ia yang biasanya dikejar, kini merasa tertantang untuk mengejar.

Ia merasa kerdil di depan ketenangan seorang gadis penginapan bernama Arunika.

"Ika..." gumamnya pelan, mengulangi nama itu di bibirnya. Senyum manisnya kembali muncul. "Sedingin apa pun esnya, matahari pasti bisa mencairkannya. Dan aku punya banyak waktu untuk itu."

Di luar, angin malam berhembus lebih kencang, menggoyangkan dahan-dahannya. Di bawah langit yang kini sepenuhnya gelap, sebuah cerita baru telah dimulai—cerita yang belum menyadari bahwa ia hanyalah kelanjutan dari bab lama yang belum benar-benar usai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!