(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)
Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.
Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Klan Bintang
Distrik Tikus selalu gelap, namun malam ini kegelapan itu terasa lebih pekat.
Di ruang bawah tanah markas Geng Laba-Laba Besi, Zhuo Mang (yang kini menjadi boneka patuh) sedang berlutut di lantai besi yang dingin, menunggu dengan cemas. Saat pintu rahasia terbuka, dia segera membenturkan dahinya ke lantai.
"S-Selamat datang kembali, Tuan Besar!"
Han Luo melangkah masuk. Posturnya kembali membungkuk, wajahnya adalah kakek tua Xie Yan yang berpenyakitan. Namun, di matanya tidak ada setitik pun kelemahan. Di belakangnya, Long Tian (Hei Mian) memanggul sebuah bungkusan besar berisi harta rampasan, dan menuntun seorang gadis kecil bertudung tebal.
"Tutup pintunya," suara parau Han Luo bergema. "Dan pastikan tidak ada tikus yang menguping dalam radius satu mil."
"Siap, Tuan!" Zhuo Mang segera mengaktifkan formasi pengedap suara maksimal.
Han Luo berjalan ke kursi kebesarannya dan duduk bersandar. Dia menghela napas panjang, membiarkan ilusi Sutra Seribu Wajah-nya sedikit mengendur di area Dantian untuk menstabilkan aliran Qi-nya pasca pertarungan singkat namun berintensitas tinggi tadi.
"Hei Mian, turunkan gadis itu."
Long Tian melepaskan pegangannya pada gadis kecil berambut perak kebiruan itu.
Xue'er berdiri di tengah ruangan. Udara di sekitarnya seketika anjlok mendekati titik beku. Kristal es tipis mulai merambat di lantai besi tempat dia berpijak. Dia adalah Roh Es Primordial; keberadaannya sendiri adalah anomali suhu yang bisa membekukan manusia fana hingga mati dalam hitungan menit.
Zhuo Mang menggigil hebat di sudut ruangan, giginya bergemerutuk. "D-Dingin sekali... Tuan, makhluk apa itu?"
"Sebuah investasi," Han Luo mengabaikan Zhuo Mang dan menatap Xue'er.
Gadis kecil itu tidak melihat ke sekeliling. Mata biru kosmiknya yang tanpa pupil langsung terkunci pada Han Luo. Tanpa ragu, dia berjalan mendekati kursi Han Luo, mengabaikan hawa membunuh Long Tian yang bersiaga.
Xue'er berhenti tepat di depan lutut Han Luo. Dia mengulurkan tangan mungilnya yang pucat pasi, menempelkannya ke dada Han Luo (tempat Dantiannya berada).
WUSSSHHH!
Saat kulit gadis itu menyentuh jubah Han Luo, sebuah resonansi spiritual yang luar biasa dahsyat meledak.
Han Luo memejamkan matanya. Di dalam Dantiannya, pusaran Sutra Hati Es Abadi yang telah dilebur dengan Jantung Iblis Es berputar dengan kecepatan gila. Hawa dingin absolut yang memancar dari Xue'er tidak membekukan Han Luo. Sebaliknya, energi itu diserap layaknya air yang menyiram padang pasir yang kehausan.
Bagi Xue'er, tubuh Han Luo adalah sebuah wadah tanpa dasar yang bisa menampung hawa dinginnya yang menyiksanya selama ini. Bagi Han Luo, Xue'er adalah "Pabrik Es Murni" yang terus-menerus memproduksi Qi Es kualitas tertinggi tanpa henti.
"Sinergi yang sempurna," bisik Han Luo, membuka matanya. Mata kirinya berkedip dengan cincin biru yang kini bersinar jauh lebih pekat dan stabil.
"T-Tuan," suara Xue'er terdengar jernih di dalam pikiran Han Luo. "Di dalam dirimu... sangat tenang. Boleh... bolehkah aku tinggal di sini?"
"Tentu saja," Han Luo mengelus rambut perak gadis itu dengan tangan kirinya (lengan tulang iblis). "Selama kau patuh, kau tidak akan pernah lagi dikurung dalam sangkar panas. Kau adalah pedang esku sekarang, Xue'er."
Gadis kecil itu tersenyum untuk pertama kalinya. Senyum yang sangat polos, namun memancarkan aura kematian yang bisa membekukan lautan. Dia duduk bersimpuh di samping kursi Han Luo, menyandarkan kepalanya ke lutut pria itu, dan memejamkan mata dengan damai.
Long Tian menatap pemandangan itu dengan takjub. "Senior... aura Es Anda... meningkat tajam tanpa perlu bermeditasi?"
"Roh Primordial adalah pecahan Hukum Alam (Dao) yang hidup," Han Luo menjelaskan santai. "Dengan dia di sisiku, aku tidak perlu lagi membuang Qi-ku sendiri untuk mempertahankan Domain Nol Mutlak. Dia adalah cadangan energi eksternalku."
Han Luo kemudian menatap Long Tian.
"Sekarang, mari kita bicara tentang hadiah sesungguhnya malam ini."
Han Luo mengetukkan jarinya ke meja. Lima Cincin Penyimpanan melayang keluar dari lengannya dan jatuh berdenting di atas meja besi.
"Ini milik Tuan Muda Yan dan empat pengawal Jiwa Baru Lahir Awal-nya," Han Luo menyeringai di balik wajah tuanya. "Anak Baru, periksa isinya."
Long Tian maju dan memecahkan segel cincin-cincin itu dengan paksa.
Matanya terbelalak saat melihat tumpukan cahaya yang keluar.
"T-Tuan! Ini gila! Di dalam kelima cincin ini... ada lebih dari dua ratus ribu Batu Kristal Suci! Belum lagi artefak pelindung dan pil-pil tingkat Surga!" Long Tian menelan ludah. "Tuan Muda Yan ini... dia membawa perbendaharaan kecil saat bepergian."
"Dia bukan orang bodoh yang membawa uang tunai tanpa alasan," Han Luo mengambil sebuah gulungan giok hitam dari tumpukan barang jarahan tersebut. "Dia adalah pewaris klan. Uang itu pasti disiapkan untuk menyuap seseorang di Ibukota Cakrawala Suci. Tapi itu tidak penting lagi sekarang."
Han Luo menempelkan gulungan giok hitam itu ke dahinya.
Ini adalah kristalisasi ingatan Tuan Muda Yan yang telah disedot oleh Raja Ulat Sutra Penenun Hampa sebelum kematiannya.
Selama sepuluh menit, ruangan itu hening. Han Luo menyortir puluhan tahun memori seorang bangsawan korup, mencari informasi yang paling bernilai.
Perlahan, Han Luo menurunkan gulungan itu. Matanya menyipit, memancarkan kalkulasi yang sangat licik dan berbahaya.
"Tuan Besar," Zhuo Mang memberanikan diri untuk bicara dari sudut ruangan. "Satu jam yang lalu, Kota Atas menjadi kacau balau. Lonceng alarm berbunyi sembilan kali. Kabarnya, Pelita Jiwa milik Tuan Muda Yan dan pengawalnya pecah di Aula Leluhur Klan Bintang Jatuh. Seluruh gerbang kota telah ditutup. Mereka sedang menyisir setiap distrik untuk mencari 'Pria Berambut Perak'!"
Long Tian memegang gagang pedangnya dengan tegang. "Mereka mencari Bai Ze. Penyamaran Anda semalam terlalu mencolok, Senior."
"Sengaja mencolok," koreksi Han Luo, tertawa pelan. "Jika mereka sibuk memburu hantu berambut perak bernama Bai Ze yang telah 'melarikan diri' dari kota... mereka tidak akan pernah mencurigai Kakek Tua Xie Yan yang sedang batuk-batuk di selokan ini."
Han Luo mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Long Tian dan Zhuo Mang.
"Dengarkan aku baik-baik. Ingatan Tuan Muda Yan memberikan kita peta lengkap dari Kubah Inti Bintang Jatuh."
"Kubah Inti?" Long Tian bingung.
"Klan Bintang Jatuh tidak menjadi penguasa kota ini karena mereka baik hati. Mereka menguasai kota ini karena kediaman utama mereka dibangun tepat di atas sebuah Nadi Bintang Meteorit. Nadi itu menghasilkan energi yang tak terbatas, menopang formasi kota, dan menjadi sumber kekayaan klan mereka."
Han Luo menyeringai tipis, sebuah senyuman yang menjanjikan kehancuran absolut bagi musuhnya.
"Dan kebetulan... ingatan Tuan Muda Yan mengungkapkan sebuah rahasia besar. Tiga hari lagi, Patriark Klan Bintang Jatuh (ayah dari Tuan Muda Yan) akan melakukan Kultivasi Tertutup Kematian untuk mencoba menembus Ranah Pemutus Roh Awal."
Long Tian tersentak. "Jika dia berhasil... dia akan menjadi monster yang setara dengan Leluhur Jian Wuji!"
"Dia tidak akan berhasil," potong Han Luo dingin. "Untuk menerobos, dia harus menarik 100% energi dari Nadi Bintang ke dalam tubuhnya, meninggalkan sistem pertahanan luar Klan Bintang Jatuh dalam kondisi paling lemah selama satu malam."
Han Luo berdiri. Jubah tuanya tidak bisa menyembunyikan aura predator yang mendidih dari dalam.
"Mereka kehilangan pewaris mereka hari ini. Mereka sedang buta oleh kemarahan dan kepanikan. Tiga hari lagi, pemimpin mereka akan mengunci diri, dan pertahanan mereka akan anjlok."
Mata Han Luo berkilat dengan kegelapan kosmik.
"Tiga hari lagi, kita tidak akan merampok mereka di gang gelap. Kita akan menyusup ke jantung kediaman mereka. Saat Patriark itu mencoba menyerap Nadi Bintang... aku akan menyedot Nadi Bintang itu beserta kultivasinya langsung dari bawah kakinya."
Long Tian menelan ludah. Rencana Senior Bai selalu berada di luar nalar manusia. Menyusup ke markas penguasa kota saat mereka sedang siaga penuh, dan merampok fondasi kultivasi pemimpin mereka?! Ini bukan lagi pencurian; ini adalah kudeta faksi raksasa oleh dua orang!
"Zhuo Mang," perintah Han Luo pada boneka preman itu.
"S-Siap, Tuan Besar!"
"Gunakan jaringan Laba-Laba Besi-mu. Sebarkan rumor palsu di pasar gelap bahwa 'Bai Ze sang Pembantai' terlihat menaiki kapal menuju pelabuhan utara. Buat pasukan Klan Bintang Jatuh memfokuskan pencarian mereka ke luar kota. Berikan mereka jejak palsu yang cukup kuat untuk membuat mereka mengirim setengah elit mereka ke sana."
"Akan segera saya laksanakan, Tuan!" Zhuo Mang segera mundur dan berlari keluar.
Han Luo menoleh ke Xue'er yang masih bersimpuh dengan tenang di sampingnya.
"Dan kau, Xue'er. Tiga hari ini, kau akan tidur. Aku akan mengalirkan Qi-ku untuk menyembuhkan retakan jiwamu akibat sangkar itu. Karena saat kita masuk ke Kubah Inti nanti... aku butuh kau membekukan seluruh ruang waktu di sekitar Patriark itu."
Gadis kecil itu mengangguk patuh, matanya yang biru kosmik memancarkan loyalitas absolut pada pria yang memberinya tempat berlindung.
Han Luo menatap langit-langit ruang bawah tanah yang lembap itu. Dia bisa merasakan kepanikan yang sedang terjadi di kota atas melalui resonansi energi di udara.
"Nikmatilah perburuan hantu kalian, Klan Bintang Jatuh," batin Sang Dalang, menyeringai di balik wajah keriputnya. "Karena saat kalian sibuk mencari ke luar, bayangan kalian sendiri akan menggorok leher kalian dari dalam."