Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bidadari Lapangan Basket
Satu hal yang Kirana pelajari tentang takdir di Uwikerta: dia sangat menyebalkan dan punya selera humor yang buruk.
Sejak kejadian di bengkel sore itu, Kirana merasa radar "Bima"-nya jadi terlalu sensitif. Masalahnya, Kirana benci fakta bahwa dia jadi sering tidak sengaja mencari-cari jaket jeans lusuh atau suara knalpot berisik di antara kerumunan mahasiswa. Bukan karena suka—tentu saja—tapi lebih karena dia ingin memastikan "ancaman" itu tidak tiba-tiba muncul dan menabraknya lagi. Baginya, Bima adalah gangguan dalam rima puisinya yang tenang.
Pagi itu, kelas Puisi Lama baru saja usai. Kirana keluar dengan kepala penuh rima-rima membosankan dari zaman kerajaan yang rasanya lebih kuno daripada selera makan siangnya. Dia butuh asupan gula, atau setidaknya sesuatu yang dingin untuk mendinginkan otaknya yang mendidih.
"Kira! Tungguin!" Maya berlari mengejar dari arah tangga gedung Sastra, napasnya tersengal-sengal. "Lo mau ke kantin?"
"Haus. Mau beli Thai Tea," jawab Kirana singkat sambil terus berjalan.
"Pas banget! Temenin gue ke lapangan basket bawah dulu, ya? Bentar aja!" Maya memohon dengan muka memelas yang biasanya sulit ditolak.
Kirana menghentikan langkah, menatap Maya curiga. "Lapangan basket? Sejak kapan lo suka basket? Lo lari dari halte ke kelas aja langsung asma."
Maya nyengir tanpa dosa sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Iya, iya, gue jujur. Cowok gue, si Adit, lagi ada di sana. Anak Teknik Mesin lagi ada demo unit atau apa gitu di lapangan basket. Katanya dia ikut jaga stand. Gue udah janji mau mampir."
Kirana memutar bola mata. "Ya udah lo aja sana. Gue mau ke kantin, laper."
"Ih, ayolah, Ra! Sekalian lewat. Lagian... lo nggak penasaran apa?" Maya menyenggol bahu Kirana dengan tatapan penuh arti. "Ada si Bima juga pasti di sana. Kan mereka satu jurusan, satu geng lagi."
"Nggak peduli, Maya," potong Kirana cepat. "Gue malah bersyukur kalau nggak liat muka temboknya hari ini."
"Halah, bilang aja mau liat si 'Mekanik Malam' itu lagi rapi atau kotor," goda Maya. "Ayo dong, temenin. Gue males sendirian lewat depan anak-anak Teknik yang mulutnya kayak knalpot bocor semua."
Akhirnya, dengan helaan napas panjang yang menunjukkan betapa pasrahnya dia, Kirana mengangguk. Mereka berjalan menuju lapangan basket yang sudah dipenuhi motor-motor modifikasi dan kerangka mesin yang dipajang di atas meja-meja panjang. Bau bensin, aroma oli, dan panas matahari yang menyengat langsung menyambut indra penciuman mereka.
Di tengah lapangan, Kirana langsung menangkap sosok itu tanpa perlu mencari lama.
Bima. Kali ini dia kembali ke "setelan pabrik"-nya. Tidak ada kemeja rapi yang disetrika kaku. Dia mengenakan kaus hitam polos yang lengannya dilipat hingga ke pangkal bahu, menunjukkan otot lengannya yang kencang namun penuh noda hitam. Celana jeans-nya tampak lebih lusuh dari biasanya, dan ada handuk kecil berwarna biru tua melingkar di lehernya. Dia sedang memegang obeng besar, menjelaskan sesuatu pada beberapa maba yang mengerumuninya dengan wajah yang luar biasa serius.
Meskipun terlihat sangat sibuk dengan mesin di depannya, ada sesuatu yang berbeda. Bima tampak seperti orang yang memiliki radar tersendiri. Begitu Kirana masuk ke area lapangan, gerak tangan Bima yang sedang memutar baut sempat terhenti sekejap. Tanpa menolehkan kepala sepenuhnya, matanya melirik tajam ke arah pintu masuk lapangan. Hanya sedetik, sebuah curi-curi pandang yang sangat singkat sebelum dia kembali fokus pada blok mesin di depannya.
"Tuh, liat deh si Bima. Kalau lagi serius gitu, auranya emang beda ya," bisik Maya, meski matanya sebenarnya mencari-cari keberadaan Adit.
"Beda apanya. Tetap kotor," gumam Kirana, padahal dalam hati dia mengakui kalau fokus Bima pada pekerjaannya terlihat sangat... kuat.
Tiba-tiba, seorang cowok dengan jaket himpunan Teknik Mesin berlari mendekat ke arah mereka. Itu Adit, pacar Maya. Wajahnya yang semula tampak lelah karena panas-panasan langsung berubah cerah begitu melihat Maya.
"By! Aku kira kamu nggak datang," seru Adit sambil menghampiri Maya, mengabaikan fakta bahwa ada Kirana dan Sari yang baru saja bergabung di sana.
Maya langsung berubah mode dari penggosip ulung menjadi cewek paling lembut sedunia. "Ya datanglah, kan udah janji tadi pagi."
Adit mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan yang agak kotor. "Aduh, panas banget di sini, By. Mana mesinnya rewel terus dari tadi. Kasih aku semangat dong, By, biar bertenaga lagi jaganya."
Kirana yang berdiri tepat di samping Maya langsung merasa perutnya bergejolak. Dia menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi horor.
Maya dengan wajah yang dibuat seimut mungkin mencubit pelan pipi Adit. "Iya, semangat ya By sayang... Jangan capek-capek, nanti kalau udah selesai kita makan enak, ya?"
Kirana benar-benar ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Dia membuat gerakan seolah-olah ingin muntah ke aspal. "Jijik banget sih lu berdua, May! Gila, hormon lo kalau di depan pacar langsung berubah drastis ya?"
Sari, yang biasanya sangat tenang, kali ini ikut bergidik ngeri. Dia menggeser posisinya sedikit menjauh dari Maya. "Gue juga ngerasa ada yang salah sama pendengaran gue barusan. 'By sayang'? Serius, May?"
Maya melepaskan cubitannya dan menoleh ke arah dua sahabatnya dengan tatapan meremehkan. "Halah, sirik amat sih lu berdua! Bilang aja iri karena nggak ada yang panggil 'By' terus disemangatin begini."
"Gue lebih milih dipanggil 'Woi' daripada denger suara cempreng lo yang dipaksain imut itu," balas Kirana pedas.
Adit hanya tertawa malu-malu. "Duluan ya, Ra, Sar. Mau balik ke stand lagi, si Bima udah mulai melirik-lirik galak itu kalau ada yang kelamaan izin." Adit melambaikan tangan ke arah Maya sebelum kembali ke tengah lapangan.
Setelah Adit pergi, Maya kembali ke mode normalnya. "Puas lo berdua ngeledek gue?"
"Puas banget. Besok-besok gue bawa kantong muntah kalau nemenin lo ketemu Adit," kata Kirana sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
Namun, tanpa Kirana sadari, di tengah riuhnya suara mesin dan obrolan mahasiswa, ada sepasang mata yang tidak benar-benar fokus pada mesin motor. Bima, yang posisinya membelakangi mereka, sebenarnya berkali-kali melirik lewat pantulan kaca spion motor besar yang sedang dipajang. Dia memperhatikan ekspresi "jijik" Kirana, memperhatikan bagaimana Kirana tertawa mengejek temannya, dan bagaimana rambut cewek itu tertiup angin panas lapangan.
Setiap kali Kirana hampir menoleh ke arahnya, Bima dengan sangat lihai kembali menunduk, pura-pura sibuk mengelap bagian mesin yang sebenarnya sudah bersih. Dia tidak mau ketahuan. Tidak boleh. Di mata Bima, Kirana adalah variabel yang tidak masuk dalam rumus logikanya—berisik, banyak protes, dan terlalu berisik untuk ukuran cewek yang suka puisi.
"Woi, Bim! Fokus! Itu bautnya jangan dikencengin terus, bisa patah!" teriak Roni, teman Bima yang sadar kalau temannya itu agak melamun.
Bima tersentak kecil, lalu berdehem rendah. "Gue tahu."
"Tahu apa? Dari tadi mata lo nggak di mesin, tapi di spion. Ada apa sih? Ada bidadari jatuh di lapangan basket?" Roni ikut melirik ke arah spion, lalu melihat ke arah Kirana dan teman-temannya yang masih berdiri di pinggir lapangan. "Oalah... cewek Sastra yang itu lagi."
Bima tidak menjawab. Dia meletakkan obengnya dengan bunyi denting logam yang cukup keras di atas meja. "Gue mau beli minum. Panas."
Bima berjalan melewati pinggiran lapangan, rutenya sengaja dibuat agak dekat dengan tempat Kirana berdiri. Saat jarak mereka hanya tinggal dua meter, Bima tidak menoleh sama sekali. Wajahnya tetap sedingin es di tengah terik matahari. Namun, matanya sempat melirik sekilas ke arah sepatu kets Kirana yang terkena sedikit debu lapangan, lalu naik ke wajah cewek itu yang masih tampak kesal karena drama Maya tadi.
Hanya selintas. Begitu singkat sampai Kirana tidak sadar kalau dia baru saja "diperiksa" oleh mata tajam si Mekanik Malam.
"Nah, tuh si Bima lewat," bisik Maya lagi, kali ini dengan nada normal. "Ganteng banget ya kalau diliat dari deket, biarpun kotor begitu."
Kirana melengos, sengaja membelakangi Bima yang baru saja lewat. "Ganteng dari mana. Kayak orang belum mandi tiga hari gitu. Wangi oli itu bukan parfum, Maya. Itu polusi."
Meskipun mulutnya berkata begitu, Kirana tidak bisa membohongi hidungnya. Saat Bima lewat tadi, aroma oli itu memang ada, tapi bercampur dengan sesuatu yang maskulin dan segar—mungkin sabun yang dia pakai pagi tadi.
Bima terus berjalan menuju kantin tanpa menoleh ke belakang lagi. Dia tahu Kirana sedang membicarakannya. Dia tahu cewek itu tidak menyukainya. Dan entah kenapa, bagi Bima, itu jauh lebih menarik daripada puluhan cewek yang terang-terangan minta foto bareng dengannya.
"Ayo ah, jadi beli Thai Tea nggak?" ajak Kirana, mencoba mengalihkan perhatiannya sendiri.
"Jadi dong. Yuk!"
Mereka bertiga berjalan meninggalkan lapangan basket. Di kejauhan, Bima yang baru saja mengambil botol air mineral dari kulkas kantin, berdiri diam di depan pintu kaca. Dia memperhatikan punggung Kirana yang menjauh, langkah kakinya yang menghentak-hentak kesal, dan rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang ke kiri dan ke kanan.
Dia tidak tersenyum. Dia tidak melambaikan tangan. Dia hanya berdiri di sana, meminum air dinginnya dengan mata yang tetap terkunci pada sosok cewek "berisik" itu sampai benar-benar hilang di balik tikungan gedung fakultas.
"Kenapa lo, Bim? Kayak liat hantu aja," tanya Gendut yang baru datang.
"Nggak ada," jawab Bima datar, suaranya sedingin biasanya. "Cuma ngerasa... cuaca hari ini emang bikin pusing."
Gendut mengernyit. "Pusing? Tumben lo ngeluh. Biasanya kena panas matahari seharian di bengkel juga lo anteng-anteng aja."
Bima tidak menanggapi. Dia meremas botol plastik kosong di tangannya hingga mengeluarkan suara gemeretak yang keras, lalu membuangnya tepat ke dalam tempat sampah. Pikirannya kembali pada satu wajah yang tadi terlihat sangat jijik melihat drama cinta di lapangan.
Cewek aneh, pikirnya. Namun, di dalam kepalanya, "cewek aneh" itu justru adalah satu-satunya gambar yang paling jelas terekam dibandingkan mesin-mesin motor yang dia bongkar sejak pagi tadi.
Sementara itu, Kirana sudah sampai di stan Thai Tea. Dia memesan yang paling besar, dengan ekstra es batu. Dia butuh sesuatu yang sangat dingin untuk menekan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya setiap kali dia berada di dekat lapangan basket tadi.
"Kenapa ya, setiap kali ada si Bima, suasananya jadi nggak enak?" gumam Kirana sambil menyedot minumannya.
Maya yang mendengar itu hanya tersenyum licik. "Bukan suasananya yang nggak enak, Ra. Tapi hati lo yang lagi nego sama logika. Jangan terlalu benci, nanti kalau beneran jadi 'By sayang' gimana?"
Kirana hampir tersedak es batunya. "Mending gue jomblo seumur hidup daripada harus manggil cowok kotor itu 'By'!"
Sari hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya. "Dunia itu bulat, Kirana. Apa yang lo benci hari ini, bisa jadi yang lo cari besok."
"Nggak akan," tegas Kirana. "Gue punya harga diri yang lebih tinggi daripada menara rektorat."
Di lapangan basket, Bima kembali ke posisinya. Dia mengambil kunci pas, kembali fokus pada baut-baut yang harus dikencangkan. Namun, sesekali matanya masih melirik ke arah jalan setapak menuju kantin, berharap—atau mungkin hanya sekadar menebak—apakah si cewek Sastra itu akan lewat sana lagi atau tidak.
Takdir di Uwikerta memang menyebalkan. Dan bagi Bima serta Kirana, ini baru saja dimulai. Tanpa kata, tanpa sapa, hanya melalui curi-curi pandang di antara debu lapangan dan aroma oli yang menyengat.