Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Pertempuran atau Pembantaian
Pagi di Hutan Batu Hitam tidak pernah benar-benar menjanjikan harapan. Cahaya mentari yang berusaha menembus tajamnya tajuk pepohonan hanya berakhir sebagai berkas-berkas redup yang mati ditelan kabut.
Li Shen bergerak sendirian di antara pilar-pilar batang hitam yang menjulang kaku. Langkahnya cepat dan presisi, sementara seluruh indranya terbentang luas, memantau setiap pergerakan udara. Di dalam tubuhnya, Kehendak Murni bersirkulasi tanpa henti, menciptakan benteng imajiner yang menolak racun qi yang mencoba merayap masuk ke dalam meridian yang tak pernah ia miliki.
Semakin masuk ke dalam, semakin jelas jejak kehancuran itu. Hingga tepat sebelum mencapai jantung hutan, ia melewati sebuah desa kecil di perbatasan. Tempat yang konon dulunya menjadi persinggahan pedagang dan pemburu kini hanya menyisakan bau busuk.
Rumah-rumah bambu luluh lantak, atapnya hangus dan pintu-pintunya jebol dipaksa masuk. Di sepanjang jalan tanah yang membelah desa, jasad manusia bergelimpangan tanpa ampun. Pria, wanita, orang tua, hingga anak-anak, semuanya tewas dalam kondisi mengenaskan. Tubuh mereka mengering menyerupai kayu lapuk, dengan mata yang terbelalak kosong. Qi dan esensi kehidupan mereka telah diisap habis tanpa sisa.
Li Shen terpaku di ambang pintu sebuah rumah. Di sana, seorang anak kecil tergeletak kaku, tangan mungilnya masih menggenggam boneka kain yang kusam.
Dadanya seketika mendingin. Ini bukan lagi pertempuran antar-faksi, ini adalah pembantaian sistematis. Mo Wuxie tidak sekadar memburu pemberontak, ia menjadikan seluruh desa sebagai ladang penuaian energi. Li Shen tidak memiliki waktu untuk upacara pemakaman yang layak. Ia hanya mampu menundukkan kepala, membisikkan permohonan maaf dan penghormatan terakhir, sebelum melanjutkan langkahnya.
Berkat kebiadaban itu, jejak Mo Wuxie kini menjadi sangat mudah untuk diikuti. Darah yang mengering, bekas serapan energi yang menghanguskan tanah, serta residu aura hitam yang pekat menuntunnya menuju jantung hutan.
Menjelang siang, kabut mendadak menebal secara tidak wajar. Suara benturan logam terdengar dari kejauhan, disusul jeritan yang tertahan dan tawa bengis yang sarat akan kegilaan. Li Shen merendahkan tubuhnya, bergerak memutar dengan sangat hati-hati hingga ia menemukan perlindungan di balik sebuah batu besar. Dari sana, ia bisa melihat sebuah gua besar yang menganga.
Di depan mulut gua, seekor kuda perang yang perkasa sedang tertambat. Tubuhnya kekar dengan otot yang menonjol padat, dibalut zirah hitam yang menutupi leher dan dadanya. Mata binatang itu menyala merah, memancarkan kecerdasan dan haus darah yang jauh dari sifat liar hewan biasa. Ia adalah binatang qi tingkat tinggi yang setia, terlatih, dan telah terbiasa mandi dalam genangan darah, persis seperti tuannya.
Li Shen menahan napas dan mengamati. Sudah jelas Mo Wuxie ada di dalam.
Li Shen menahan napas, mengamati interior gua yang suram. Stalaktit tajam menggantung rendah di langit-langit, sementara celah-celah batu yang sempit mendominasi dinding gua. Medan ini sangat tidak bersahabat bagi pengguna senjata panjang.
Di dalam, sepuluh orang pemberontak yang tersisa telah terdesak hingga ke dinding batu. Pemimpin mereka, seorang praktisi tingkat 5 ranah Pemadat Inti tahap akhir, berdiri di depan para pengikutnya yang hanya berada di tingkat 4 Penempaan Qi. Wajah-wajah mereka pucat pasi, namun sisa-sisa tekad keputusasaan masih menyala di mata mereka.
Mo Wuxie berdiri tenang di pusat gua, Tombak Pemangsa Qi tergenggam erat di tangannya. Mata merahnya berkilat penuh gairah membunuh yang murni.
“Sekarang! Jatuhkan semuanya!” teriak pemimpin pemberontak dalam komando terakhirnya.
Secara serentak, stalaktit-stalaktit di langit-langit gua runtuh. Mo Wuxie bereaksi dengan kilat, mengayunkan tombaknya dalam putaran maut. Hujan batu pecah berkeping-keping sebelum sempat menyentuhnya, namun satu stalaktit berhasil menggores bahunya. Darah menyembur, namun belum sempat luka itu menutup, hujan jarum racun melesat dari celah-celah batu, menghujam lengannya. Racun tersebut dirancang khusus untuk memperlambat regenerasi.
Ilusi kabut qi mulai menyebar, menciptakan bayangan-bayangan palsu yang menari di dinding gua, disusul oleh serangan pedang pendek yang menyambar dari titik butanya. Punggung Mo Wuxie robek. Untuk sesaat, ia benar-benar terluka.
“Menarik,” suaranya parau, namun terdengar sangat puas. “Tapi sayangnya, ini masih belum cukup untuk menghiburku.”
Mo Wuxie memutar tombaknya dengan kecepatan yang mustahil. Kabut racun di sekitarnya tersedot masuk ke dalam bilah hitam tombak tersebut, yang berdenyut seolah memiliki denyut nadi sendiri. Racun itu secara instan dikonversi menjadi qi mentah, membuat sorot mata Mo Wuxie semakin benderang.
Ia melangkah maju. Domain miliknya dilepaskan. Tekanan atmosfer di dalam gua meningkat tajam, dinding-dinding batu mulai retak di bawah beban otoritas kekuatannya. Bayangan-bayangan palsu itu lenyap seketika.
Satu per satu, para pemberontak tumbang. Energi mereka terserap secara paksa ke dalam tubuh Mo Wuxie. Jeritan mereka berhenti secara beruntun, menyisakan kesunyian yang mengerikan. Sang pemimpin terakhir mencoba teknik jiwa pamungkas, bayangan naga hitam muncul, meliuk ganas ke arah algojo Tianyuan tersebut.
Mo Wuxie membalas dengan satu kali tebasan yang membuat tombaknya mengeluarkan aura hitam yang begitu mematikan. Bayangan naga pun lenyap, tersedot ke dalam tombak, dan tubuh pemimpin pemberontak terakhir ikut terbelah jadi dua akibat kuatnya serangan Mo Wuxie. “Lezat sekali,” ucapnya sambil menjilat bibir. “Penutup yang manis setelah hidangan pembuka dari penduduk desa tadi.”
Gua itu kembali sunyi, hanya menyisakan aroma logam darah yang kental. Mo Wuxie perlahan memutar kepalanya, menatap lurus ke arah batu besar di mulut gua, tepat di mana Li Shen berada.
“Kau yang di sana,” ujarnya tanpa perlu menoleh sepenuhnya, suaranya dingin dan menusuk. “Keluarlah!”