"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja sama
"Kalian sudah bisa aku tinggal 'kan?" tanya Vano setelah makan.
"Abang mau balik?" sahut Yandra.
"Iya. Aku belum mandi juga. Tadi waktu kamu telpon, aku baru saja sampai rumah," jelas lelaki itu pada adiknya.
"Oh yaudah. Abang pulang saja, nanti kalau ada sesuatu aku telpon Abang."
"Oke!" Vano berjalan menghampiri Runi.
"Jangan terlalu banyak bergerak ya. Kalau kamu ada keluhan yang serius, segera kasih tahu Abang. Besok pagi-pagi Abang balik lagi," ujar Vano mewanti-wanti adik iparnya.
"Baik Bang. terimakasih banyak ya Bang." runi tersenyum teduh. bersyukur memiliki Abang ipar yang sangat baik.
"Yan, jaga Runi ya. Jangan di tinggal-tinggal!" pesan Vano.
"Ya baiklah."
Vano segera keluar dari ruang ranap Runi. Namun, ia berpapasan dengan mommy dan papa.
"Eh, mommy dan papa kesini?" sapa dokter itu pada kedua orangtuanya.
"Iya, tadi mommy di kabari papa. Sekarang bagaimana keadaan runi?" tanya mommy tampak khawatir.
"Kondisinya sudah lebih baik, Mom."
"Tapi Runi dan bayinya baik-baik saja 'kan?" timpal papa tak kalah cemas.
Vano menghela nafas pelan. Ia terpaksa harus berbohong lagi. Ini semua ia lakukan atas keinginan Runi.
"Ya Pa, Runi dan bayinya baik-baik saja."
"Ah syukurlah." mommy dan papa mengucap syukur secara bersamaan.
"Yaudah, kalau begitu aku mau balik dulu. Mommy dan papa silahkan masuk. Ada Yandra di dalam."
Papa dan mommy segera masuk ke ruang rawat anak menantunya. Terlihat Yandra masih menemani runi.
"Mommy, papa!" seru Runi saat melihat kedatangan papa dan istri tuanya. Tetapi ia tidak melihat mama emeli ikut bersama mereka.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya mommy menghampiri Runi yang tengah bersandar di kepala ranjang.
"Alhamdulillah sudah lebih baik, Mom."
"Alhamdulillah.... Tadi mommy sangat khawatir saat dengar kabar dari papa. Kenapa bisa pendarahan?" tanya mama membuat Runi dan Yandra saling pandang. Wajah mereka terlihat tegang. Entah siapa yang berani menjawab.
"Ah, tadi aku dan runi...."
"Tadi aku dan mas Yandra kejar-kejaran di kamar, aku tidak sengaja jatuh kesandung kaki meja," potong Runi membuat Yandra terpaku tanpa meneruskan perkataannya.
"Kenapa bisa kejar-kejaran? Kalian ini kenapa ceroboh sekali?" timpal papa menatap pasangan itu tak habis pikir.
"Kamu ini sebagai suami kenapa tidak memikirkan keselamatan istrimu? Untung saja runi dan bayinya baik-baik saja," imbuh papa menatap kesal pada Yandra.
"Iya aku minta maaf, Pa. Habisnya Runi ngegemesin," celetuk Yandra membuat papa menggelengkan kepala.
Sementara itu Runi hanya tersenyum mendengar jawaban Yandra. Untung saja Yandra tak berkata jujur.
"Lain kali jangan seperti itu lagi ya. Ingat, kamu ini lagi hamil," imbuh mommy menyayangkan kelakuan mereka.
Runi mengangguk patuh. Ia merasa senang karena mommy Amira berbeda dengan mama emeli. Dia baik dan perhatian. Setidaknya masih ada mommy yang bisa menerima dirinya sebagai menantu.
Cukup lama papa dan mommy berada di sana. Runi merasa senang karena di perhatikan oleh pasangan baya itu. Meskipun mommy bukan ibu kandung Yandra, tetapi mommy tampak menyayangi Yandra seperti anak sendiri.
"Yan, papa dan mommy pulang dulu ya. Kamu jaga Runi dengan baik. Jangan di tinggalkan," pesan papa pada sang putra.
"Baik, Pa. Papa nggak pulang ke rumah?" tanya Yandra. Mengingat hari ini masih jadwal papa pulang ke rumah mamanya. Maklum saja Yandra sudah sangat hafal dengan jadwal papa pulang ke rumah kedua istrinya.
"Iya, ini papa mau antar mommy kamu pulang dulu, nanti baru pulang kerumah. Soalnya tadi papa ajak sekalian mama kamu nggak mau," jelas papa memang begitu.
"Jadi mama nggak ada keinginan mau jenguk Runi?" tanya Yandra pada sang papa.
Papa menghela nafas dalam. "Entahlah, papa rasa kamu sudah tahu bagaimana sikap mama kamu. Tapi sudahlah, yang penting kamu tidak ikutan seperti mamamu," ujar papa tampak kecewa.
"Kalau begitu malam ini papa nggak usah pulang," timpal Yandra membuat mommy dan papa menatap tidak mengerti.
"Maksud kamu?" tanya papa.
"Papa pulang kerumah mommy saja. Biarin mama dirumah sendirian. Papa ingin mama berubah 'kan?"
"Tapi nanti papa dikira suami tidak adil."
"Aku rasa papa lebih tahu bagaimana cara mengatasi mama. Papa gunakan saja mommy sebagai senjatanya."
"Aish, mommy nggak mau. Nanti mommy yang di serang mama kamu. Dikira mommy yang merayu papa. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap mama kamu yang suka meledak-ledak," sambung mommy.
Yandra tersenyum tipis mendengar ucapan mommy. Ternyata mommy sudah sangat hafal dengan sikap mama.
"Nggak pa-pa Mom, asalkan mommy dan papa berkerja sama. Soalnya aku juga risih karena mama masih keukuh ngedeketin aku sama Gracia," ujar Yandra memang begitu.
Mommy dan papa saling pandang. Papa mengangguk meyakinkan istri tuanya itu. Tidak ada salahnya mereka bekerja sama demi menyadarkan Emeli.
Bersambung.....
Syukurlah mommy orangnya baik pada Yandra 🥰🥰