Kata pepatah 'mulutmu adalah harimaumu' mungkin itu yang terjadi pada sebuah keluarga yang merasa dirinya tinggi maka bisa merendahkan orang lain.
Hal itu terjadi pada Yusuf dan keluarganya. Kesombongan mereka membuat mereka hidup tak tenang karena ada yang sakit hati pada mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irawan Hadi Mm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 27
Sifa mengikuti arah pandang Wati. Ketika anaknya berkata seperti itu.
"Astaga naga! Lailahaillallah! Serem amat itu, Wati!" Sifa berjingat kaget dengan tatapan ngeri, tangannya terkepal erat.
Beruntungnya Sifa, sosok yang ia lihat sedang tidak menatap ke arahnya. Melainkan menatap ke arah Sigit melangkah. Dengan posisi berdiri menyampingi di mana Sifa berada.
‘Ya alloh, itu kolong wewe apa bukan ya? Lagi itu demit ngapa ngelietin mas Sigit bae ya? Mana gede bangat itu 2 ngegantung kaga pake kut ang, nglawir gitu kan jadinya! Kapan jadi keliatan bener itu, mana bajunya kusam amat ya, ora ganti baju apa di cuci ya itu di alamnya!
Masya alloh itu tangannya panjang amat ya! Rambut acak acakan amat itu nek! Ora ada sisir apa ya di alamnya?’ pikir Sifa, menelan salivanya sulit, tanpa sadar netranya terus mengamati sosok yang terlihat nyata di matanya.
“Liet apaan si nyak? Kaget kaya begitu! Perasaan cuma ada ilalang yang tumbuh pada tinggi tinggi itu!” beo Wati, dengan celingukan mencari yang salah dengan kebun yang ada di sebrang gerbang rumahnya.
Jreng.
“Akkkkkhhhhhh!” Sifa menjerit kencang, mana kala ia beradu pandang dengan kolong wewe.
Sosok kolong wewe terkekeh dengan nada menyeramkan. Sepasang mata merahnya tampak menyeramkan. Dengan kulitnya yang tampak keriput, dengan warna pucat persis seperti manusia tanpa teraliri darah. Kuku tangannya sangat menjijikan dengan gak terawat.
“Ahahahhahaha ngapain lu ngeliatan gua? Iri lu ya sama buah dada gua yang mon tok bin bohaaay ahahhahaha!”
‘Buset dah lu, mon tok dari mana? Buah dada jelek kaya gitu mana jiji, ngelawir panjang kaya gitu astagaaa percaya diri amat itu setan!’ jerit batin Sifa dengan gelengan kepala.
Sementara Wati berjingkat kaget, mendengar jeritan sang ibu. Sementara ia sendiri gak melihat apa yang tengah di tampakkan si demit kolong wewe pada Sifa.
“Buset dah lu! Ngapa jerit nyak? Nyak liet apa?” cecar Wati dengan nada khawatir, ia mengguncang lengan sang ibu.
Sifa tergagap dengan kedua kaki gemetar, dengan mata melotot, masih melihat ke arah sosok kolong wewe berada.
“I- itu a- ada i- itu, Ti!” tangan Sifa terulur menunjuk dimana sosok kolong wewe itu berada dengan gemetar.
Wati mengikuti arah yang ditunjuk Sifa, “Itu ape si nyak? Wati kaga liet apa apa nyak!”
“A- ada i- itu, Ti! Di- dia lietin nyak, Ti! Di- dia serem, Ti!” beo Sifa dengan tergagap.
‘Ya alloh, aya pengen lari tapi ngapa kaki aya ora bisa diajak gerak ini! Itu ngapa si kolong wewe negesin aya bae si! Pergi apa sono merad dari sini!’ jerit batin Sifa dengan wajah pucat
Sosok kolong wewe kembali tertawa dengan tatapan menyeramkan, “Ko takut si? Kalah saing lu ya sama gua? Ahahaha! dasar manusia bisanya cuma iri dengki doang lu! Apa yang lu miliki sekarang itu cuma titipan Sifa!”
“Nyak ta- takut, Ti! Ki- kita masuk, Ti!” racau Sifa dengan gigi menggeretuk takut.
Wati mendengus kesal, “Ya allah, nyak! Takutin apaan si, nyak? Ini masih siang, dzuhur juga belom nyak! Jangan nakut nakutin Wati napa nyak! Mana di rumah tibang Wati doang ama nyak! Biasanya kapan ada cing Minah ini, bikin Wati ora iseng iseng amat di dalam rumah!”
Grap.
Sifa mencengkram lengan Wati dengan erat.
Sifa kembali tergagap, “Nyak ta- takut, Ti! Dia melototin nyak!”
Wati memekik kesakitan, saat kuku Sifa yang panjang mengenai kulit tangannya yang di cengkram..
“Aduh nyak! Tangan Wati sakit ini! Wati anter nyak masuk ke dalam rumah dah ya!”
Kini Wati menggiring Sifa dalam rangkulannya masuk ke dalam rumah. Meski Sifa harus menyeret kakinya yang berat untuk melangkah.
Sosok kolong wewe yang masih betah berdiri di seberang gerbang rumah Sifa. Dengan tubuh rentanya itu, kini mencibir Sifa dengan nada mengejek, “Dasar lu manusia, ngakuin iri aja susah! Salah lu iri sama gua! Dada lu kaga bakal bisa semon tok dada gua!”
Sifa menggeleng, dengan mata mengembun takut, keringat dingin kini menyertai tubuhnya.
‘Gua ora iri, najis gua iri sama tampang demit modelan kolong wewe kaya lu! Dasar lampir demit! Ngapa ini mulut gua kaya di lem, buru apa Wati tarik nyak masuk ke dalam rumah!’ jerit batin Sifa.
Kini wangi kentang bakar menyapa indra penciuman Sifa dan Wati, gak peduli meski kala itu masing siang dengan sinar mentari tepat berada di atas kepala.
“Nyak, kapan dimari kaga ada rumah lagi selain rumah kita sama rumah mendiang nyai Sor. Tapi siapa yang bakar kentang ya, nyak? Mana enak bangat ini wanginya!” celetuk Wati.
Suara menyeramkan yang tengah tertawa, terdengar dari atas kepala Sifa. Bahkan ia bisa melihat sepasang kaki besar yang tengah berdiri diantara rumahnya yang megah.
“Hahaha dasar manusia, sama si kolong wewe bae lu takut! Gimana sama penampakan gua yang menggoda, gagah bin keren? Lu bakal kepincut sama gua kaga? Ahahahhahaha!”
Sifa semakin mencengkram erat lengan Wati, anak yang tengah membantunya masuk ke dalam rumah.
“Astaga setaaaaaan!” jerit Sifa sekencang kencangnya, usai memastikan apa yang tengah berdiri di antara rumahnya.
“Ahahahhahaha ngapa lu jerit manusia? Sekagum itu lu ya sama penampakan gua si genderuwo penunggu rumah kosong?” tawa mengejek, terlontar dari sosok astral si genderuwo.
Wati menggaruk kepalanya frustasi, “Setan apa lagi si nyak! Ya allah! Kaga ada setan apa lagi demit nyak! Ini masih tengari bentet!”
Sifa tergagap dengan mata melotot gak percaya, “Ge- genderuwoooo!”
Brugh.
Sifa ambruk gak sadarkan diri, di lantai beralaskan tanah di halaman rumahnya.
Gimana gak pingsan, Sifa melihat sosok yang lebih menyeramkan dari kolong wewe. Sosok astral berjenis pria, dengan tubuh tinggi bak raksasa. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh bulu rambut lebat, mirip kera.
Dengan kulit hitam kemerahan. Sepasang mata merah menyala, dan giginya mencuat ke atas, memiliki sepasang tangan yang panjang.
“Waduh, nyak! Nyak bangun nyak!” seru Wati, berusaha menyadarkan sang ibu, ia menepuk pipi Sifa, dengan duduk bersimpuh di dekat wanita yang sudah melahirkannya.
Wati mengedarkan pandangannya, “Kaga mungkin aya ngarepin orang lewat! Kapan rumah aya ini udah diujung, manah di samping rumah almarhum nyak Sor udah jalan buntu! Ujung dikit udah kebon kosong. Het ya!”
Wati menatap kembali wajah sang ibu yang pucat pasih, tergeletak gak berdaya di hadapannya.
“Astaga jangan sekarang napa, nyak! Ya allah gimana ini! Mana kaga ada orang di rumah!” beo Wati dengan netra mengembun.
Wushhhh.
Hembusan angin, yang mampu membuat bulu kuduk Wati bergidik kembali menyapa. Dengan aroma kembang melati yang khas.
“Aduh jangan lagi dah!” keluh Wati, menge lus leher belakangnya.
“Mau abang bantu, neng?”
***
Bersambung …