Di Shannonbridge, satu-satunya hal yang tidak bisa direncanakan adalah jatuh cinta.
Elara O'Connell membangun hidupnya dengan ketelitian seorang perencana kota. Baginya, perasaan hanyalah sebuah variabel yang harus selalu berada di bawah kendali. Namun, Shannonbridge bukan sekadar desa yang indah; desa ini adalah ujian bagi tembok pertahanan yang ia bangun.
Di balik uap kopi dan aroma kayu bakar, ada Fionn Gallagher. Pria itu adalah lawan dari semua logika Elara. Fionn menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan kesuksesan di London. Kini, di tengah putihnya salju Irlandia, Elara terperangkap di antara dua pilihan.
Apakah ia akan mengejar masa depan gemilang yang sudah direncanakan, atau berani berhenti berlari demi pria yang mengajarkannya bahwa kekacauan terkadang adalah tempat ia menemukan rumah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 : Garis Cakrawala dan Janji Lautan
Debu-debu di gudang bawah tanah kedai masih terasa menggelitik tenggorokan Elara saat ia menutup laptopnya dengan dentuman keras. Penemuannya tentang skema penipuan lahan keluarga Cillian pada tahun 2018 adalah sebuah bom waktu, namun ia butuh pemantiknya. Ia butuh bukti fisik—sebuah dokumen asli atau setidaknya saksi kunci yang dulu membocorkan audit internal tersebut.
"Kita tidak bisa hanya bersembunyi di sini, Fionn," ujar Elara, matanya yang lelah namun waspada menatap ke arah jendela. "Julian O’Neill dan Cillian pasti sudah mulai mencium penyelidikan kita. Sinead... wanita itu berbahaya. Dia punya akses ke orang-orang dewan kota yang kotor."
Fionn, yang sedang mengemasi beberapa botol air dan roti lapis ke dalam tas kanvas, mengangguk. "Aku tahu satu orang. Seamus pernah bercerita tentang mantan mandor proyek Cillian yang menghilang setelah kasus lahan itu meledak. Dia tinggal di sebuah gubuk nelayan di Pesisir Barat, dekat Cliffs of Moher. Dia orang yang mengirimkan audit itu secara anonim kepada ayahku dulu, tapi ayahku tidak punya kekuatan untuk memprosesnya."
"Maka kita pergi ke sana sekarang," Elara berdiri, menyambar jaket wolnya. "Bukan hanya untuk mencari pria itu, tapi karena aku butuh melihat samudera. Aku butuh ruang yang tidak dibatasi oleh rawa dan birokrasi."
Fionn tersenyum tipis, menggenggam tangan Elara. "Ayo. Sebelum Shannonbridge bangun dan mulai menuntut jawaban yang belum kita miliki."
Perjalanan menuju Pesisir Barat memakan waktu beberapa jam. Mobil tua Fionn menderu pelan melintasi jalanan berkelok yang diapit oleh tembok-tembok batu kuno dan padang rumput hijau yang tak berujung. Semakin jauh mereka meninggalkan Shannonbridge, ketegangan di bahu Elara perlahan meluruh.
"Kau tahu," Elara memulai, kepalanya bersandar pada jendela mobil yang dingin. "Di Dublin, aku selalu berpikir bahwa kemajuan itu berarti membangun sesuatu yang lebih tinggi. Tapi di sini, aku sadar bahwa kemajuan terkadang berarti berani mempertahankan apa yang sudah ada di bawah."
Fionn meliriknya, satu tangannya tetap di kemudi sementara tangan lainnya meraih jemari Elara. "Kau adalah arsitek pertama yang kudengar bicara seperti itu. Biasanya mereka bicara tentang struktur baja dan efisiensi ruang."
"Itu karena aku jatuh cinta pada seorang pembuat kopi yang keras kepala," goda Elara, membuat rona merah muncul di pipi Fionn. "Kau membuatku melihat bahwa sebuah bangunan tanpa cerita hanyalah tumpukan batu mati."
"Dan kau," balas Fionn dengan nada emosional yang manis, "membuatku sadar bahwa sebuah cerita butuh struktur agar tidak runtuh saat badai datang. Elara, jika kita berhasil menemukan pria itu... jika kita bisa menjatuhkan Cillian... apa yang akan kau lakukan pertama kali?"
Elara terdiam sejenak, menatap kawanan domba yang berlarian di kejauhan. "Aku ingin berdansa dengamu di tengah dermaga tua itu. Tanpa musik, tanpa orang-orang yang menonton. Hanya kita berdua, merayakan kemenangan atas semua ketakutan ini."
...****************...
Begitu mereka tiba di wilayah pesisir, udara berubah menjadi asin dan tajam. Angin Atlantik berhembus kencang, membawa suara gemuruh ombak yang menghantam tebing-tebing tinggi. Mereka sampai di sebuah desa nelayan kecil yang terisolasi.
Setelah bertanya ke sana-kemari dengan bantuan pesona lokal Fionn, mereka menemukan sebuah gubuk kecil yang terbuat dari susunan batu hitam di pinggir pantai terjal. Di sanalah tinggal Barney, pria paruh baya dengan wajah yang dikeraskan oleh garam laut dan penyesalan.
"Keluarga Gallagher?" suara Barney parau saat Fionn memperkenalkan diri. "Aku sudah menunggu hari di mana seseorang datang menanyakan dokumen itu. Aku pikir Liam akan melakukannya, tapi dia..."
"Ayahku sudah tiada, Barney. Tapi misinya belum selesai," kata Fionn tegas.
Barney menatap Elara dengan curiga. "Dan siapa wanita kota ini? Apakah dia salah satu dari orang-orang Cillian?"
"Aku Elara O'Connell. Aku yang akan memastikan Cillian membayar setiap senti tanah yang ia curi dari warga desa," Elara melangkah maju, sorot matanya yang penuh integritas membuat Barney perlahan melunak.
Drama terjadi saat Barney awalnya enggan menyerahkan salinan dokumen asli yang masih ia simpan. "Mereka akan membunuhku, Nak! Kekuasaan mereka menjangkau sampai ke Dublin!"
"Mereka sudah mencoba membunuh jiwa desa kami, Barney!" Elara berseru, suaranya bersaing dengan deru ombak. "Jika kau diam, maka kau membiarkan mereka menang dua kali. Sekali saat mereka menipu warga, dan kedua saat mereka membuatmu hidup dalam ketakutan selamanya. Tolong kami. Berikan suara pada mereka yang telah dibungkam."
Dengan tangan gemetar, Barney menyerahkan sebuah kotak besi berkarat. Di dalamnya terdapat tumpukan surat dan laporan asli yang membuktikan kolusi antara perusahaan keluarga Cillian dengan pejabat dewan kota. Bukti fisik yang sah.
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, Fionn mengajak Elara berjalan menuju puncak tebing sebelum mereka kembali ke Shannonbridge. Mereka berdiri di tepi Cliffs of Moher, di mana daratan seolah-olah berakhir dan menyerahkan diri pada lautan yang megah.
Angin kencang menerbangkan rambut Elara, membuatnya terlihat seperti dewi lautan di mata Fionn. Fionn berdiri di belakangnya, memeluknya erat dari belakang untuk melindunginya dari hembusan angin yang dingin.
"Terima kasih sudah membawaku ke sini, Fionn," bisik Elara, menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada dada bidang Fionn. "Di sini, masalah kita terasa sangat kecil dibandingkan dengan luasnya samudera ini."
"Tapi cintaku padamu tidak kecil, Elara," Fionn membalikkan tubuh Elara, menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang kasar namun penuh kasih. "Melihatmu berjuang untuk desaku... melihatmu tidak takut pada raksasa seperti Cillian... itu membuatku sadar bahwa aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa rencana-rencanamu lagi."
"Kau sedang melamarku di tepi tebing?" tanya Elara dengan tawa kecil yang menggemaskan, meski matanya berkaca-kaca.
"Belum," jawab Fionn sambil tersenyum nakal. "Aku akan melakukannya dengan benar setelah dermaga itu aman. Tapi untuk sekarang, biarkan aku memberimu janji ini."
Fionn mencium Elara di bawah langit Atlantik yang luas. Ciuman itu terasa asin karena percikan laut, namun sangat manis karena harapan yang menyertainya. Di tengah ketenangan pesisir barat, mereka seolah-olah sedang mengisi ulang energi sebelum kembali ke medan perang yang sesungguhnya.
Namun, kedamaian itu terusik saat Elara melihat sebuah mobil hitam terparkir jauh di bawah jalan setapak tempat mereka memarkir mobil tadi. Insting perencananya langsung bekerja.
"Fionn, kita tidak sendirian," bisik Elara, suaranya mendadak tegang.
Fionn melihat ke arah yang ditunjuk Elara. Mobil itu mirip dengan kendaraan yang sering digunakan oleh anak buah keluarga Cillian.
"Mereka mengikuti kita?" Fionn mengepalkan tangannya.
"Cillian tidak akan membiarkan bukti itu sampai ke tangan hukum begitu saja. Dia pasti sudah memantau pergerakan kita sejak kita meninggalkan desa," Elara mencengkeram tas berisi kotak besi itu erat-erat. "Kita harus segera pergi. Sekarang juga!"
Mereka berlari kembali menuju mobil, adrenalin memacu jantung mereka. Perjalanan yang awalnya bertujuan untuk mencari ketenangan kini berubah menjadi pengejaran yang berbahaya di jalanan pesisir yang sempit.
"Pegang erat-erat, Elara!" seru Fionn saat ia menginjak pedal gas, membuat mobil tua itu menderu liar.
"Aku memegangmu, Fionn! Aku tidak akan melepaskannya!" Elara membalas, matanya menatap tajam ke kaca spion, melihat mobil hitam itu mulai mengejar mereka dengan kecepatan tinggi.
Perang besar belum dimulai, namun garis depan sudah berpindah ke jalanan berbatu di Pesisir Barat. Di antara deburan ombak dan janji-janji romantis, Elara dan Fionn kini harus berjuang untuk hidup mereka sebelum mereka bisa memperjuangkan hidup Shannonbridge.