"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gua Tulang Belulang
Keesokan paginya, saat matahari mulai menyingsing di ufuk timur, Puri dan teman-temannya sudah bersiap di depan gubuk Pak Tua. Mereka membawa tas ransel yang berisi perlengkapan penting, seperti air minum, makanan ringan, obat-obatan, senter, dan peta.
Pak Tua sudah menunggu mereka di depan perahunya. Perahu itu tampak tua dan usang, tetapi tampak kokoh dan terawat dengan baik. Jaring-jaring ikan terlipat rapi di dalam perahu, dan alat-alat navigasi tersusun di dekat kemudi.
"Kalian sudah siap?" tanya Pak Tua dengan nada datar.
"Siap, Pak," jawab Puri dengan mantap.
"Bagus," kata Pak Tua. "Naiklah ke perahu. Kita akan berangkat sekarang."
Puri dan teman-temannya naik ke perahu dengan hati-hati. Perahu itu terasa bergoyang-goyang di atas air, tetapi mereka berusaha untuk tetap tenang.
Pak Tua menyalakan mesin perahu dan mulai melaju menuju laut lepas. Perahu itu membelah ombak dengan mulus, meninggalkan jejak buih putih di belakangnya.
Semakin jauh mereka melaju, semakin jelas Pulau Tengkorak terlihat di depan mereka. Pulau itu tampak gelap dan angker, dengan tebing-tebing curam yang menjulang tinggi ke langit. Hutan lebat menutupi sebagian besar permukaan pulau, menyembunyikan rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalamnya.
Puri merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, mereka akan segera memasuki wilayah yang berbahaya. Mereka harus siap menghadapi apapun yang menanti mereka di sana.
Saat perahu semakin mendekat ke pulau, Puri melihat sesuatu yang aneh di pantai. Ia melihat sebuah sosok yang berdiri di atas tebing, menatap mereka dengan tatapan yang tajam. Sosok itu tampak seperti Rendra.
"Rendra!" teriak Puri dengan gembira. "Rendra, itu kamu!"
Namun, sosok itu tidak menjawab. Ia hanya terus menatap mereka dengan tatapan yang aneh.
Puri merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasa seolah-olah sosok itu bukanlah Rendra yang ia kenal.
Saat perahu semakin mendekat ke pantai, sosok itu tiba-tiba menghilang. Puri merasa bingung dan khawatir. Ke mana Rendra pergi? Dan apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Tengkorak?
Pak Tua menghentikan perahu di dekat pantai. "Kita sudah sampai," katanya dengan nada datar. "Berhati-hatilah. Pulau ini tidak suka dengan orang asing."
Puri dan teman-temannya turun dari perahu dengan hati-hati. Mereka menginjakkan kaki di pantai yang berpasir hitam. Udara di pulau itu terasa dingin dan lembap. Suara-suara aneh terdengar dari dalam hutan, membuat bulu kuduk mereka merinding.
"Ayo," kata Puri dengan nada berani meski sedikit bergetar. "Kita cari Rendra. Kita tidak boleh membuang waktu lagi."
Mereka berjalan menyusuri pantai, menuju ke arah hutan yang lebat. Pak Tua mengikuti mereka dari belakang, dengan tongkat kayunya yang kokoh di tangan.
Saat mereka memasuki hutan, suasana langsung berubah. Cahaya matahari hampir tidak bisa menembus rimbunnya pepohonan, menciptakan suasana yang gelap dan menakutkan. Suara-suara aneh semakin jelas terdengar, seperti bisikan-bisikan yang tidak jelas dan langkah kaki yang samar-samar.
"Tetaplah bersama," kata Rio dengan nada waspada. "Jangan sampai ada yang terpisah."
Mereka berjalan dengan hati-hati, mengikuti jalan setapak yang tampak jarang dilalui. Mereka terus memanggil nama Rendra, berharap ia akan mendengar mereka.
"Rendra! Rendra, di mana kamu?" teriak Puri dengan suara yang sedikit bergetar.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara jawaban. Suara itu terdengar lemah dan jauh, tetapi mereka yakin itu adalah suara Rendra.
"Tolong... aku di sini..."
Puri dan teman-temannya saling bertukar pandang. Mereka merasa lega dan bersemangat. Mereka tahu, mereka tidak salah. Rendra masih hidup dan ia membutuhkan bantuan mereka.
"Di mana kamu, Rendra?" teriak Puri. "Tunjukkan di mana kamu berada!"
Suara itu menjawab lagi, semakin dekat. "Di dalam gua... tolong aku..."
Puri dan teman-temannya mengikuti arah suara itu. Mereka berjalan semakin dalam ke dalam hutan, melewati pepohonan yang menjulang tinggi dan semak-semak yang berduri.
Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah gua yang gelap dan menakutkan. Gua itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan mereka hidup-hidup.
"Ini dia," kata Puri dengan nada gemetar. "Rendra ada di dalam sana."
Pak Tua menatap gua itu dengan tatapan yang penuh kekhawatiran. "Hati-hati," katanya. "Gua ini bukan tempat yang baik. Banyak bahaya yang menanti kalian di dalam sana."
Puri dan teman-temannya mengangguk. Mereka tahu, mereka akan menghadapi bahaya yang besar di dalam gua itu. Tapi mereka tidak punya pilihan lain. Mereka harus menyelamatkan Rendra, apapun yang terjadi.
"Ayo," dengan tekad, yang menyalakan senternya dan mengarahkannya ke dalam gua. "Kita masuk bersama-sama."
Dengan langkah hati-hati dan jantung berdebar kencang, Puri, Rio, Ayu, Dina, dan Fahri memasuki gua yang gelap dan menakutkan. Pak Tua tetap berjaga di luar, matanya mengawasi sekeliling dengan waspada, siap memberikan bantuan jika dibutuhkan.
Begitu mereka masuk ke dalam gua, kegelapan menyelimuti mereka. Senter mereka adalah satu-satunya sumber cahaya, menerangi dinding-dinding gua yang lembap dan berlumut. Aroma tanah dan kelembapan memenuhi udara, bercampur dengan bau yang aneh dan tidak sedap, seperti bau tulang yang membusuk.
"Rendra! Rendra, di mana kamu?" teriak Puri, suaranya menggema di dalam gua.
"Di sini... tolong..." jawab suara Rendra, terdengar semakin dekat, namun juga semakin lemah.
Mereka terus berjalan menyusuri gua, mengikuti arah suara Rendra. Jalan di dalam gua semakin sempit dan licin, memaksa mereka untuk berjalan dengan hati-hati.
Tiba-tiba, Ayu berteriak. Ia tersandung sesuatu dan jatuh ke tanah.
"Ayu, kamu tidak apa-apa?" tanya Dina dengan khawatir, membantu Ayu untuk berdiri.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ayu, "Tapi aku tersandung sesuatu tadi. Seperti tulang..."
Puri mengarahkan senternya ke tempat Ayu terjatuh. Ia terkejut melihat bahwa lantai gua dipenuhi dengan tulang-belulang manusia. Tulang-belulang itu tampak tua dan rapuh, tetapi jumlahnya sangat banyak.
"Ya Tuhan..." bisik Dina, menutup mulutnya dengan tangan.
Mereka merasa ngeri dan takut. Apa yang sebenarnya terjadi di gua ini? Mengapa ada begitu banyak tulang-belulang di sini?
"Kita harus terus berjalan," kata Rio dengan nada serius. "Kita tidak bisa membuang waktu lagi."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, melewati tulang-belulang yang berserakan di lantai gua. Suasana di dalam gua semakin mencekam. Mereka merasa seolah-olah sedang diawasi oleh sesuatu yang jahat.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah ceruk yang lebih dalam di dalam gua. Di tengah ceruk itu, mereka melihat Rendra tergeletak di atas tanah. Ia tampak lemah dan pucat, dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.
"Rendra!" teriak Puri dengan lega, berlari menghampiri Rendra. "Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu?"
Rendra membuka matanya dan menatap Puri dengan tatapan yang lemah. "Puri... kalian datang..."
"Kami datang untuk menyelamatkanmu," kata Puri dengan nada lembut. "Apa yang terjadi di sini? Siapa yang melakukan ini padamu?"
Rendra mencoba untuk berbicara, tetapi suaranya terlalu lemah. Ia hanya bisa menunjuk ke arah bayangan yang lebih pekat di dinding ceruk itu.
Puri mengarahkan senternya ke arah yang ditunjuk Rendra. Di sana, di dalam kegelapan, ia melihat sesuatu yang mengerikan.
Sesosok makhluk berdiri di dalam bayangan. Makhluk itu tampak seperti manusia, tetapi tubuhnya kurus kering dan kulitnya pucat pasi. Matanya merah menyala dan mulutnya dipenuhi dengan gigi-gigi tajam. Makhluk itu memegang sebuah pisau berlumuran darah. Cahaya senter seolah tidak bisa menembus kegelapan di sekelilingnya, membuatnya tampak semakin mengerikan.
"Apa... apa itu?" bisik Dina dengan ketakutan, bersembunyi di belakang Rio.
"Aku tidak tahu," jawab Rio dengan nada waspada, "Tapi itu pasti bukan manusia."
Makhluk itu menatap mereka dengan tatapan yang lapar. Ia mengeluarkan suara geraman yang mengerikan dan mulai mendekati mereka.
"Kita harus melarikan diri!" teriak Fahri dengan panik.
"Tidak bisa!" kata Puri dengan nada tegas. "Kita tidak bisa meninggalkan Rendra di sini."
Puri menatap makhluk itu dengan tatapan berani. Ia tahu, ia harus melindungi teman-temannya, meskipun itu berarti ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Siapa kau?" tanya Puri dengan nada lantang. "Apa yang kau inginkan?"
Makhluk itu tidak menjawab. Ia hanya terus mendekati mereka dengan tatapan yang semakin lapar.
Puri tahu, ia harus melakukan sesuatu. Ia mengambil sebuah batu besar dari lantai gua dan melemparkannya ke arah makhluk itu.
Batu itu mengenai tubuh makhluk itu dan membuatnya terhuyung mundur sejenak. Makhluk itu mengeluarkan suara geraman yang marah dan menyerang Puri dengan pisau.
Puri menghindar dengan cepat dan menghindari serangan makhluk itu. Ia terus melemparkan batu ke arah makhluk itu, berusaha untuk menghentikannya.
Rio, Ayu, dan Dina juga ikut membantu Puri. Mereka melemparkan batu, berteriak, dan melakukan apapun yang mereka bisa untuk mengalihkan perhatian makhluk itu.
Fahri, meskipun ketakutan, berusaha untuk membantu Rendra. Ia mengangkat Rendra dari tanah dan membawanya ke tempat yang lebih aman, sedikit menjauh dari makhluk itu, namun tetap berada di dalam ceruk tersebut.
Dengan mengubah deskripsi menjadi "ceruk yang lebih dalam" dan menekankan pada bayangan serta kegelapan, adegan ini menjadi lebih masuk akal secara geografis dan tetap mempertahankan unsur ketegangan dan kengerian.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*