Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Cahaya lampu tidur yang temaram menari lembut di wajah mungil baby Al yang tengah terlelap. Cintya mengamati wajah damai itu, hatinya dipenuhi rasa sayang. Ia tak pernah menyangka akan merasakan ikatan sekuat ini dengan seorang anak yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.
Rasanya seperti sudah ditakdirkan untuk menjaganya, pikirnya sambil tersenyum kecil. Ia masih ingat jelas malam itu, malam di mana ia menemukan bayi Al yang masih terlelap meringkuk dalam dekapan seorang wanita muda yang tak berdaya dengan pesan singkat yang memintanya untuk menjaga putranya itu. Wanita itu begitu pucat dan lemah, Cintya bahkan tak sempat menanyakan namanya. Malam yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
Dengan hati-hati, ia bangkit dari sisi ranjang. Di samping Al, seekor kucing putih yang anggun meringkuk tenang. Bulunya halus dan bersih, matanya memancarkan kecerdasan yang luar biasa. Dia adalah Anastasya.
"Kucing ini sama persis seperti Pus yang selalu ada di dekat Al. Sepertinya mereka berdua sangat menyayangi Al atau mungkin mereka berdua udah janjian buat jadi bodyguard-nya Al," gumam Cintya pelan, menggelengkan kepalanya geli. "Absurd banget sih isi pikiran gue!"
Saat Cintya beranjak, kucing itu mengeong lembut. Cintya mengelus kepalanya sekilas. "Aku titip Al ya. Tolong jaga baik-baik," bisiknya pelan. Aneh memang berbicara pada seekor kucing, tapi entah kenapa ia merasa kucing itu akan mengerti.
Anastasya mengangguk sambil mengeong, "Tentu, jangan khawatir!" balas Anastasya seolah menjawab bisikannya.
"Kucing cantik yang pintar dan menggemaskan. Pantas Pus gagal move on! Pasti susah cari pengganti yang levelnya sama," goda Cintya, mencolek pelan pipi kucing itu lalu terkekeh geli.
Setelah itu, ia mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur, lalu keluar dari kamar. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri sebelum berhadapan dengan sisa keluarga Dimitri di ruang tamu. "Semoga aja nggak ada drama Korea episode 10," bisiknya pada diri sendiri.
Di ruang tamu, Laudya sedang menemani May sambil mengobrol santai di sofa yang empuk. Suasana terasa hangat dan nyaman, tapi entah kenapa Cintya merasa sedikit gugup. Sementara Arkana berdiri di dekat jendela, menatap kegelapan malam dengan ekspresi datar seperti biasa.
Antony sendiri setelah makan malam masuk ke ruang kerjanya ditemani sang asisten, Dom.
Sementara Devano duduk santai di sofa sambil main ponsel, sesekali ikut nimbrung dengan obrolan Laudya dan May.
"Mommy Laudya, kami langsung pamit ya, Al juga udah tidur," ujar Cintya sopan saat sudah di ruang tamu.
Laudya menoleh, tersenyum hangat. "Lho, kok buru-buru, sayang? Sini ngobrol dulu. Sekalian ajak tuh 'pria kulkas' bicara, dari tadi diem. Siapa tahu kamu bisa bikin dia cair," godanya sambil tersenyum.
Cintya tersipu, melirik Arkana sekilas. Pria itu masih berdiri di dekat jendela, tak menunjukkan minat pada percakapan mereka. Ia tampak sangat jauh dan tak terjangkau.
"Mungkin lain kali, Mommy. Udah malem juga, kami harus balik ke kontrakan. Nggak enak sama yang punya kontrakan, nanti dikira bawa kabur cucian tetangga lagi," sahutnya dengan sedikit candaan menutupi rasa gugupnya, merasa tak enak menolak tawaran wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya itu.
Laudya menghela napas pasrah. "Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya," ujarnya, memeluk sekilas Cintya lalu meraih tangan Cintya dan menggenggamnya erat. "Sering-sering main ke sini ya." pintanya lembut.
"Pasti, Mommy. Cintya akan sering-sering jenguk baby Al," balas Cintya, tersenyum tulus. Ia merasa menemukan keluarga yang selama ini ia impikan.
Ia berpamitan sekali lagi dengan Laudya, lalu berbalik menghadap Arkana. Pria itu masih berdiri di dekat jendela, tapi kali ini ia menatap Cintya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang berbeda, tapi Cintya tak bisa menebaknya. "Jangan-jangan dia alien yang nyamar jadi manusia," pikir Cintya ngawur.
"Kami pamit ya Kak Arkan," pamit Cintya sopan, berusaha tetap tenang.
Arkana mengangguk singkat. "Gue antar," jawabnya datar.
Cintya mengerutkan kening. "Eh, nggak usah, Kak. Kami bawa motor kok," tolak Cintya halus. Ia merasa aneh dengan tawaran Arkana kali ini.
"Udah malem. Jangan GR, gue lakuin ini demi Al," balas Arkana masih datar, tapi ada sedikit nada penekanan di akhir kalimatnya.
Cintya memutar bola mata. "Siapa juga yang GR!" gerutunya pelan, kesal dengan jawaban Arkana. "Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba nuduh. Dasar kulkas! nyebelin!"
"Ck! Gengsi mulu!" sindir Devano dalam hati, menggeleng melihat sikap dingin Arkana. Ia tahu, jauh di dalam hati sahabatnya itu, ada perasaan yang tersembunyi. "Nggak heran jomblo akut!"
Devano gegas beraksi, menyeringai jahil. Seolah mengerti situasi antara Arkana dan Cintya, ia akan memberikan ruang untuk mereka, dengan caranya sendiri.
"Oke deh, karena semua udah beres, gue duluan ya," ujarnya, meraih tangan May dengan cepat. "May udah ngantuk, kasihan kalau nunggu lama," lanjutnya tanpa menunggu jawaban siapa pun.
May tersentak kaget dengan tindakan Devano, tapi ia malah mengikuti langkah pria itu dengan pipi merona bak kepiting rebus.
"Lho, Dev, kamu mau kemana?" tanya Laudya bingung sekaligus penasaran.
"Anter May pulang, Mommy. Kasihan udah capek. Nanti kalau kenapa-kenapa di jalan, kan repot," jawab Devano, tersenyum lebar, lalu mengedipkan mata pada Laudya sebagai kode rahasia. "Duluan ya. Bye bye!"
Laudya langsung paham dan menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia tahu rencana licik Devano. Yang memang selalu punya cara untuk membuat orang lain bahagia. "Dasar biang kerok!"
Tanpa menunggu persetujuan Laudya, Devano kembali menarik tangan May keluar dari ruang tamu. Cintya yang ingin protes, hanya bisa menatap punggung keduanya yang menjauh. Ia merasa kesal dengan tindakan Devano, tapi tak bisa berbuat apa-apa. "Tega banget ninggalin gue sama kulkas! Awas aja lo, kalian!"
"May kan bawa motor sendiri, Kak Dave," protes May saat sudah di halaman mansion.
"Iya, tapi udah malem, nggak baik cewek cantik kayak kamu pulang sendirian. Ntar diculik begal gimana? Gak rela gue," rayu Devano dengan jurus andalannya sambil tersenyum manis.
May tersipu malu dipuji cowok tampan di hadapannya, "Mimpi apa gue semalam, di boncegin Oppa!" bisiknya dalam hati. Lalu gegas mengangguk setuju, "Tapi gimana sama Cintya, Kak?" lanjutnya ragu, merasa tak enak meninggalkan Cintya sendirian.
"Cintya aman, sama Arkana!" balasnya yang kini sudah duduk di motor, menyeringai jahil.
"Ayo naik, keburu hujan!"
May akhirnya menurut naik ke boncengan Dave dan keduanya langsung tancap gas meninggalkan halaman mansion Dimitri, meninggalkan Cintya dalam kebingungan dan sedikit ... tegang.
Cintya mendengus kesal. "Kenapa malah kejebak berduaan sama kulkas berjalan! Sih? Ini namanya pengkhianatan tingkat dewa!" gerutunya dalam hati, merasa kesal dengan situasi yang ia hadapi.
Dengan enggan, Cintya membuntuti langkah Arkana yang lebih dulu melangkah keluar dari mansion. Ia menatap punggung tegap pria itu dengan perasaan campur aduk. Kesal, bingung, dan sedikit penasaran? Ah, sudahlah. Anggap aja ini nebeng taksi gratis! Lumanya uangnya bisa jajan bakso pak jajang besok! Hiburnya dalam hati, mencoba menenangkan diri.
Dalam perjalanan pulang, Cintya mencoba mengabaikan kehadiran Arkana. Ia menatap keluar jendela, menikmati lampu-lampu jalanan yang temaram. "Kenapa juga gue harus nebeng sama dia? Kan bisa aja gue jalan kaki. Sekalian olahraga malam," pikirnya ngawur.
Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat. Hanya suara deru mesin mobil dan helaan napas Cintya yang terdengar. Sesekali ia mencuri pandang pada Arkana yang fokus menyetir.
"Ck! Tuh muka kok datar bangat sih! Kayak tembok! Sebenarnya apa yang disembunyiin di balik wajah tanpa ekspresi itu?" batin Cintya menerawang. Jangan-jangan dia robot yang diprogram jadi manusia es!"
Arkana tiba-tiba berdeham, membuat Cintya tersentak kaget. "Apa ada masalah?" tanyanya dengan nada datar, dengan menatap Cintya sekilas.
Cintya menggeleng cepat. "Nggak ada! Cuma lagi mikirin cicilan panci," jawabnya asal. "Padahal mah lagi mikirin kamu, eh!" ralatnya dalam hati sambil tertawa hambar.
"Semoga perjalanan malam ini lancar tanpa drama," lanjutnya dalam hati.
Bersambung...
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus