Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan di Tengah Bayangan
Malam itu, Beirut terasa seperti kanvas hitam yang ditaburi intan kotor. Elara Vanya berdiri di balkon lantai empat puluh tiga, gaun malam sutra hitamnya memantulkan cahaya lampu kota seperti kulit reptil yang licin. Di tangannya, bukan gelas sampanye, melainkan sepasang teropong inframerah canggih.
Dia tidak pernah menyukai istilah yang dilekatkan padanya oleh atasan: Tentara Seksi. Itu adalah label yang merendahkan, namun juga alat paling efektif yang dimilikinya. Daya tarik Elara adalah senjata rahasia yang melampaui senapan serbu apa pun. Di mata orang lain, dia adalah Mayor Vanya, staf penghubung yang menawan, atau bahkan hanya seorang ‘aset’ yang menanggapi panggilan-panggilan di tengah malam yang dingin.
Tugasnya malam ini: Mengamati. Targetnya: Jenderal Al-Hassan, seorang pedagang senjata yang dicurigai menjadi pemasok utama bagi faksi pemberontak di Timur Tengah. Elara berada di Beirut untuk memastikan transfer dana terjadi, dan untuk mengumpulkan data biometrik dari setiap orang yang hadir.
Di sebelahnya, Kolonel Dimitri, seorang perwira intelijen yang kaku dan sudah tua, batuk pelan. "Lima menit lagi, Mayor Vanya. Pastikan Anda mendapatkan sudut yang bersih. Operasi ini harus... rapi."
Elara menoleh, senyumannya yang dingin dan terlatih muncul di bibirnya. "Tentu, Kolonel. Rapi, seperti peti mati yang baru dipoles."
Dimitri bergidik sedikit dan menjauh. Bahkan bagi sekutunya, Elara adalah misteri yang berbahaya.
Elara kembali menatap ke bawah. Di lantai dasar, iring-iringan mobil mewah memasuki pekarangan kediaman Al-Hassan. Di antara mereka, Elara menangkap siluet yang tidak ia harapkan: mobil lapis baja hitam matte, yang bukan berasal dari konvoi Jenderal.
Mobil itu mengeluarkan dua pria. Yang satu adalah pengawal berotot biasa. Yang lainnya... adalah target baru.
Pria itu tinggi, tegap, dan memancarkan aura bahaya murni yang tidak perlu dipaksakan. Dia mengenakan setelan jas taktis yang pas membalut tubuh atletisnya, tetapi caranya berjalan, caranya memindai lingkungan dengan mata tajam yang tersembunyi di balik kegelapan malam, memberitahu Elara bahwa ia adalah seorang Komando. Lebih dari itu, dia adalah seorang predator.
“Kolonel,” bisik Elara ke comm internal. “Kita punya tamu tak terduga. Pakaian sipil, tetapi jelas-jelas militer tingkat tinggi. Mungkin dari Komando Khusus.”
“Deskripsi,” balas Dimitri cepat.
“Tinggi, sekitar 185 cm, rambut hitam pendek, profil wajah keras, seperti pahatan batu. Tidak ada lencana atau tanda pengenal yang terlihat. Aura... dominan.” Elara menahan napasnya. "Dia bukan orang yang bernegosiasi. Dia di sini untuk mengambil sesuatu."
Saat pria itu menoleh sedikit, mencari titik lemah atau penembak jitu yang mungkin ada, teropong inframerah Elara menangkap pantulan cahaya bulan di matanya. Matanya berwarna abu-abu gelap, penuh perhitungan, dan saat itu juga, tatapannya seolah-olah menembus lantai empat puluh tiga dan bertemu langsung dengan mata Elara.
Sebuah sensasi listrik dingin menyengat Elara. Itu mustahil. Dia berada di balik kaca anti-peluru dan tirai gelap. Tetapi pria itu hanya diam, seolah-olah dia telah menemukan sesuatu.
“Aku punya firasat, Kolonel,” ujar Elara, suaranya lebih rendah dari bisikan. “Pria itu. Dia bukan sekutu kita, dan bukan musuh Jenderal Al-Hassan. Dia... pengganggu.”
Dalam hitungan detik, Komando itu menghilang ke dalam rumah.
Elara mengalihkan fokusnya kembali ke target utama, Jenderal Al-Hassan, yang sedang bertukar dokumen dengan seorang utusan bank. Ini adalah momennya. Elara mengambil gambar dokumen, mencatat kode enkripsi, dan merekam sidik jari Jenderal menggunakan sensor termal jarak jauhnya.
Satu menit kemudian, kekacauan pecah.
Bukan ledakan, melainkan keheningan yang tajam, diikuti oleh suara pecahan kaca dari lantai dasar. Jeritan tertahan, dan kemudian—bunyi desingan yang tak salah lagi dari pisau lempar titanium yang mendarat tepat di leher salah satu pengawal Jenderal.
Pria Komando itu bergerak. Dia bergerak dengan kebrutalan yang terarah, cepat, dan ekonomis. Dia tidak membunuh untuk menimbulkan teror, tetapi untuk menyelesaikan pekerjaan seefisien mungkin. Dalam tiga puluh detik yang mengerikan, dia melumpuhkan seluruh tim keamanan Al-Hassan tanpa menembakkan satu pun peluru.
Jenderal Al-Hassan panik, mencoba meraih brankas yang tersembunyi di balik lukisan. Tetapi Komando itu lebih cepat. Pria itu menyudutkan Jenderal di meja kayu mahoni yang besar.
"Di mana kuncinya?" suara pria itu, terdengar datar dan rendah, bergema samar-samar di mikrofon jarak jauh Elara.
Jenderal Al-Hassan menggeleng ketakutan. Komando itu tidak memohon, tidak mengancam. Dia hanya mematahkan jari Jenderal satu per satu. Elara, seorang veteran operasi berdarah, harus menahan napasnya. Kekejaman ini terasa terlalu personal, terlalu mendesak.
"Cukup!" Kolonel Dimitri menjerit melalui comm. "Elara! Dia mencuri target kita! Lakukan penembakan peringatan—tidak, tembakannya harus mematikan!"
Elara melepaskan teropongnya dan meraih senapan laras panjang yang tersembunyi di balik tirai. Jantungnya berdebar, bukan karena adrenalin, tetapi karena konflik. Jika dia menembak Komando itu, dia akan mengacaukan operasi intelijen yang lebih besar. Tetapi jika dia membiarkannya pergi, dia gagal dalam tugasnya untuk menahan Al-Hassan.
Dia mengarahkan bidikan ke kepala Komando, tepat di belakang telinga kirinya.
Saat Elara menahan napasnya dan mulai menarik pelatuk, pria itu tiba-tiba berhenti menyiksa Jenderal Al-Hassan. Dia menoleh ke jendela, seolah-olah dia bisa melihat titik bidik laser yang tidak ada, dan menatap lurus ke arah gedung Elara.
Bukan tatapan curiga. Ini adalah tatapan yang tahu. Tatapan yang menantang.
Kolonel Zian Arkana. Nama itu tiba-tiba melintas di benak Elara, sebuah file rahasia yang ia baca seminggu lalu. Unit Komando Khusus ‘Shadow Hawk’. Dikenal karena efisiensi brutalnya dan kesetiaan yang dipertanyakan. Dia adalah hantu di dunia militer, dan target pengawasan tersembunyi Elara yang berikutnya.
Dia ada di sini. Kenapa?
Zian —jika itu memang dia— menyeringai singkat, sebuah ekspresi yang sangat singkat sehingga Elara hampir meragukannya, tetapi itu cukup untuk mengirimkan gelombang panas melalui tubuh Elara. Itu bukan senyuman menggoda; itu adalah senyuman peringatan.
Dia kemudian menjatuhkan Jenderal Al-Hassan ke lantai, mengambil sebuah kotak logam kecil dari saku Jenderal, dan melompat keluar dari jendela, mendarat dengan mulus di atap mobil lapis baja yang menunggunya.
"Dia melarikan diri! Tembak! Elara, aku perintahkan kau untuk menembak!" raung Dimitri.
Elara menurunkan senapannya. "Terlalu berisiko, Kolonel. Itu akan memicu perang terbuka dengan faksi yang tidak kita ketahui. Dia hanya mengambil kotak kecil. Operasi penangkapan Jenderal gagal, tetapi kami mendapatkan data biometrik dan sandi bank. Misi berhasil sebagian."
Dimitri memukul meja. "Panglima Tertinggi tidak akan senang, Mayor Vanya."
Elara mendekati Kolonel, tatapannya yang dingin bertemu langsung dengan tatapan mata tuanya yang gelisah. "Aku tahu, Kolonel. Tapi bukankah tugas kita adalah mengikuti permainan, bukan mengakhiri permainan secara prematur?"
Dia melangkah menjauh, membiarkan Kolonel merenungkan kegagalannya sendiri. Elara tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Panglima Tertinggi akan memanggilnya kembali. Dan target pengawasannya akan segera menjadi bos barunya.
Saat dia berjalan menuju lift, Elara menarik ponsel burner dari saku gaunnya. Dia mengetik satu pesan rahasia, dienkripsi lapis tiga, ke kontaknya yang paling sensitif:
Zian Arkana. Dia bergerak lebih cepat dari yang diharapkan. Segera tempatkan aku di bawah pengawasannya. Aku butuh penugasan ke Unit Phoenix. Kali ini, tanpa topeng. Aku harus dekat.
Dia memandang pantulan dirinya di pintu lift – sosok yang sempurna dalam sutra hitam. Mayor Elara Vanya, Tentara Seksi. Alat yang sempurna untuk mengorek rahasia dari seorang pria seperti Kolonel Zian Arkana. Dia hanya perlu memastikan bahwa dalam permainan ini, dia yang memegang kendali atas taruhannya sendiri.
Game on, Kolonel.