NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

HAL-HAL YANG DIJAGA DALAM DIAM

Rumah sakit tidak pernah benar-benar tidur.

Ia hanya berganti suara.

Pagi itu, setelah 2 Minggu ayah nya Aira di rawat, Aira terbangun di kursi tunggu dengan leher pegal dan mata yang perih. Selimut tipis rumah sakit masih melingkari pundaknya.

Ia hanya ingat setelah ayahnya di tahan dan ibu nya masih di rumah sakit hanya satu malam itu dia tidur dengan nyenyak setelah itu ia tidak ingat kapan terakhir kali benar-benar tidur, yang ia tahu, setiap kali memejamkan mata, ia selalu terbangun dengan satu pikiran yang sama, bagaimana jika Ibu berhenti bernapas saat aku lengah?

Ia segera berdiri. Masuk ke kamar perawatan.

Ibunya masih terbaring di sana. Nafasnya pelan. Teratur. Mesin monitor berbunyi lembut, seperti penanda bahwa hidup masih bertahan, meski rapuh.

Aira duduk di samping ranjang. Menggenggam tangan ibunya.

“Aira di sini,” bisiknya, seolah ibunya bisa tersesat jika tidak diberi tahu.

Ibunya membuka mata perlahan. Senyum kecil muncul, lemah, tapi nyata.

“Kamu nggak pulang?” tanyanya lirih.

Aira menggeleng.

“Kalau Aira pulang, nanti Ibu kebangun sendirian.”

Ibunya menatap wajah anaknya lama. Wajah yang terlalu dewasa untuk usia yang seharusnya masih boleh lelah.

“Kamu mirip Ayahmu,” katanya pelan. “Kalau lagi takut… justru makin diam.”

Aira menunduk.

“Aira nggak takut,” katanya, meski suaranya bergetar.

“Aira cuma… nggak mau kehilangan siapa-siapa lagi.”

Ibunya memejamkan mata. Jari-jarinya mengerat sedikit.

Dan di luar kamar itu, tanpa Aira sadari, seseorang berdiri cukup lama di ujung lorong. Tidak mendekat. Tidak bertanya. Hanya memastikan satu hal, perempuan itu tidak sendirian.

...####...

Di tempat lain, dinding penjara berdiri dingin dan jujur.

Tidak berpura-pura ramah. Tidak menawarkan harapan.

Ayah Aira duduk di bangku besi ruang kunjungan khusus. Tangannya terlipat. Punggungnya tetap tegak, meski matanya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan lagi.

Langkah kaki terdengar.

Seorang pria muda masuk. Setelan rapi. Wajah tenang. Cara berjalan yang tidak terburu-buru, bukan karena santai, tapi karena terbiasa menguasai ruang.

Begitu melihat ayah Aira, ia berhenti.

Menunduk.

Bukan basa-basi.

Bukan formalitas.

Hormat yang lahir dari kesadaran posisi, seorang yang lebih muda, berdiri di hadapan seseorang yang pernah memikul dunia lebih dulu darinya.

“Pak,” katanya pelan.

Ayah Aira mengangkat wajah. Matanya menyipit sebentar, menelusuri wajah itu, seolah sedang menyusun ingatan lama yang belum sepenuhnya muncul.

“Kamu…” katanya pelan.

Pria itu tersenyum kecil. Tidak menyangkal. Tidak juga menjelaskan.

“Saya datang bukan sebagai siapa-siapa,” ucapnya. “Hanya memastikan Bapak tidak sendiri.”

Ayah Aira tertawa lirih. Suara yang kasar, tapi jujur.

“Di tempat seperti ini, semua orang sendirian.”

Pria muda itu menggeleng.

“Tidak semua.”

Ia duduk berhadapan. Jarak aman. Tidak melampaui garis yang tak terlihat.

“Aira tidak tahu saya di sini,” katanya tenang.

Ayah Aira mengangguk pelan.

“Saya hanya ingin kamu membantu saya menjaga Aira, saya tidak perduli jika dunia menyalahkan saya, yang terpenting Aira tau kalau ayah nya tidak salah” katanya. “Dia tidak perlu menanggung beban orang dewasa lagi.”

Hening sejenak.

“Terima kasih,” kata ayah Aira akhirnya.

“Bukan karena kamu datang. Tapi karena kamu menjaga apa yang tidak bisa saya jaga dari sini.”

Pria muda itu menunduk lagi. Kali ini lebih dalam.

“Bapak dulu menjaga banyak orang,” katanya.

“Saya hanya… membalas satu kebaikan yang terlambat.”

Waktu kunjungan habis tanpa kata berlebihan.

Tidak ada janji. Tidak ada rencana.

Hanya satu kesepakatan tak terucap

ada hal-hal yang akan tetap dijaga, bahkan jika dunia tidak pernah tahu siapa penjaganya.

...####...

Sementara itu, di luar sana, Langit duduk di depan layar laptopnya. Berita-berita bergulir. Opini publik bergerak seperti arus, mudah diarahkan, asal tahu celahnya.

Ia membaca satu artikel pelan-pelan.

Tentang Aira.

Bukan tentang ayahnya.

Bukan tentang kasus.

Tentang dia.

Mahasiswi berprestasi. Anak pengusaha bermasalah. Perempuan muda yang “tampak kuat” di tengah skandal.

Langit tersenyum tipis.

“Selalu mudah,” gumamnya, “menyerang lewat simpati.”

Ia membuka pesan. Mengetik.

Langit

Aku dengar kondisi ibumu memburuk. Kalau kamu butuh apa-apa, bilang.

Beberapa menit berlalu.

Tidak ada balasan.

Langit menatap layar lebih lama. Ada sesuatu yang mengganggunya, bukan penolakan, tapi keheningan.

Ia membuka folder lain. Draft yang belum pernah ia kirim. Judulnya netral. Isinya tidak.

Satu langkah lagi, pikirnya.

Satu dorongan kecil, dan Aira akan runtuh.

Ia tidak menyadari satu hal, ada perbedaan besar antara menjatuhkan seseorang yang sendirian, dan menyerang seseorang yang diam-diam dijaga.

Malam kembali turun.

Aira duduk di samping ranjang ibunya, menyuapi air sedikit demi sedikit.

Di luar jendela, kota terus hidup, seolah tidak ada yang sedang runtuh di kamar kecil itu.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Langit.

Aira membacanya. Lama. Lalu mengunci layar tanpa membalas.

Ia menatap ibu yang tertidur.

“Bu,” bisiknya, hampir tidak bersuara,

“kalau dunia jahat… Aira boleh nggak capek sebentar aja?”

Ibunya tidak menjawab. Tapi tangannya mengerat.

Dan di lorong yang sama, bayangan itu kembali berdiri.

Menunggu.

Menjaga.

Tidak muncul sebagai penyelamat.

Tidak meminta dikenali.

Karena beberapa orang tidak datang untuk dilihat.

mereka datang untuk memastikan yang rapuh sempat pulih,

sebelum kebenaran benar-benar jatuh dan semua nya tak menghancurkan segalanya.

Pagi datang tanpa benar-benar terasa sebagai pagi.

Cahaya hanya bergeser di sela tirai rumah sakit, tidak membawa kabar baik atau buruk, hanya keberlanjutan.

Aira sedang berdiri di lorong, menatap mesin penjual minuman yang kosong setengah. Kepalanya berat. Bahunya pegal. Tangannya gemetar sedikit saat menekan tombol air mineral.

“Aira.”

Suara itu datang dari belakang. Suara yang tidak asing. Tidak lembut, tapi selalu hadir.

Aira menoleh.

“Bang Raka…”

Raka berdiri di sana dengan jaket hitam yang sudah sering menemani begadang. Rambutnya sedikit berantakan, matanya merah, bukan karena kurang tidur semalam, tapi karena terlalu banyak menahan.

Tanpa bertanya, Raka membuka tangan.

Aira masuk ke pelukan itu.

Tidak ada tangis keras. Tidak ada drama.

Hanya dahi Aira yang menempel di dada Raka, dan napasnya yang akhirnya jatuh, panjang, patah, jujur.

“Capek ya,” kata Raka pelan.

Aira mengangguk.

“Capek banget, Bang.”

Raka tidak berkata kamu harus kuat.

Ia tidak berkata semua akan baik-baik saja.

Ia hanya berkata,

“Sekarang kamu boleh lemah sebentar. Aku di sini.”

Kalimat itu membuat sesuatu di dada Aira runtuh. Air matanya jatuh tanpa perlawanan.

Raka mengusap punggungnya pelan, seperti seorang abang yang tidak tahu cara memperbaiki dunia, tapi tahu caranya berdiri agar adiknya tidak jatuh sendirian.

“Aku bawa bubur,” katanya setelah beberapa saat. “Nggak enak, tapi hangat.”

Aira tersenyum kecil.

“Bang Raka romantisnya aneh.”

“Abang-abang itu bukan buat romantis,” jawab Raka. “Tugasnya jaga.”

Aira menunduk. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa… ditopang.

Beberapa jam kemudian, Aira keluar dari kamar perawatan untuk mengambil berkas di meja perawat. Langkahnya cepat. Pikirannya penuh. Dadanya sesak, terlalu banyak hal yang belum selesai.

Dan saat itulah

Bruk.

Ia menabrak seseorang.

Berkas-berkas di tangannya hampir jatuh. Aira mundur selangkah, refleks.

“Maaf” katanya cepat, lalu berhenti.

Pria itu berdiri tepat di depannya. Tinggi. Tegap. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk lorong rumah sakit yang penuh kecemasan.

Aira mendengus kesal.

“Kalau berdiri di tengah lorong, setidaknya lihat arah,” katanya, nada suaranya naik. “Ini rumah sakit, bukan lobi hotel.”

Pria itu tidak membalas.

Hanya menatap.

Tatapan yang tidak menghakimi. Tidak tergesa. Seolah Aira bukan orang yang sedang marah, melainkan sesuatu yang sedang diamati dengan penuh perhatian.

Dan entah kenapa, itu membuat Aira semakin kesal.

“Apa?” lanjutnya, suaranya bergetar kini. “Kenapa diam? Mau minta maaf susah, ya?”

Tidak ada jawaban.

Pria itu tetap berdiri di sana, matanya gelap dan dalam, seperti menyimpan terlalu banyak hal yang tidak perlu ia jelaskan pada siapa pun.

Aira menghela napas tajam.

“Tau nggak,” katanya panjang lebar, “hari ini aku capek. Aku nggak punya energi buat orang-orang yang merasa dunia harus ngalah sama mereka. Jadi kalau kamu mau berdiri di sini kayak patung...”

Ia berhenti.

Karena pria itu menunduk sedikit.

Bukan tunduk meminta maaf.

Tapi hormat. Senyap. Dewasa.

“Aku nggak minta kamu ngerti,” Aira melanjutkan, suaranya kini lebih pelan, nyaris gemetar. “Aku cuma minta… jangan jadi beban tambahan.”

Pria itu mengangguk kecil.

Langkahnya mundur satu langkah. Memberi jalan.

Aira menatapnya sesaat. Ada sesuatu di dada yang tiba-tiba mengganjal, bukan lega, bukan marah, lebih tepatnya Aneh.

Ia mengambil berkasnya.

“Ya,” katanya singkat. Lalu pergi.

Ia tidak tahu, pria itu menatap punggungnya cukup lama.

Bukan karena terkejut.

Bukan karena tersinggung.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, Aira meluapkan masalahnya tanpa tahu bahwa orang di hadapannya adalah seseorang yang telah lama belajar mencintai dengan cara paling sunyi, menjaga tanpa diminta, hadir tanpa nama.

Pria itu menghela napas pelan.

“Marahmu wajar,” gumamnya lirih. “Duniamu memang sedang runtuh.”

Ia berbalik arah. Melangkah pergi.

Dan Aira

baru menyadari setelah beberapa langkah menjauh

bahwa untuk pertama kalinya hari itu,

ia merasa ada seseorang yang melihatnya bukan sebagai anak tersangka,

bukan sebagai simbol tragedi,

melainkan sebagai manusia yang sedang kelelahan.Aira berfikir mungkin ia tidak update berita sekarang, atau mungkin bukan orang yang suka membaca berita.

Dan Tanpa Aira tahu siapa.

Tanpa tahu bahwa takdir baru saja bersinggungan dengannya,

di lorong sempit rumah sakit,

tanpa jam,

tanpa nama.

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!