NovelToon NovelToon
Balas Dendam Pengantin Pengganti

Balas Dendam Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Penyesalan Suami / Putri asli/palsu / Balas dendam pengganti / Chicklit
Popularitas:53k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.

Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.

“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”

Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.

Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Pintu villa terbuka perlahan. Cahaya hangat dari dalam ruangan menyambut mereka, dan di ambang pintu, seorang wanita telah berdiri dengan sikap sopan, punggung tegak, tangan terlipat rapi di depan tubuhnya.

Gaun sederhana berwarna netral membingkai tubuhnya dengan pas. Rambutnya diikat rendah, wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Penampilannya tenang, nyaris tanpa cela. Namun, begitu mata Shasmita menangkap sosok itu, langkahnya terhenti. Untuk sepersekian detik, dunia seakan melambat.

Shasmita menatap Yura lebih lama dari yang semestinya. Garis wajah itu, sorot mata itu. Cara ia berdiri semuanya terasa familiar. dan terlalu familiar.

Pandangan Shasmita yang semula datar perlahan melembut. Bibirnya terangkat membentuk senyum kecil hangat, tulus, dan ringan. Senyuman yang bahkan Arga, selama bertahun-tahun, jarang sekali dapatkan.

Yura menangkapnya, dan entah mengapa, dadanya terasa sesak. Arga melangkah ke depan, memecah keheningan yang nyaris tak terdengar.

“Shas,” ucapnya singkat, lalu menoleh ke arah Yura. “Ini Yura, Asisten pribadi di rumah utama.”

Nada suaranya datar, profesional dan seolah hubungan mereka tak lebih dari sekadar urusan kerja.

Yura menunduk sopan.

“Selamat datang, Nona Shasmita,” ucapnya lembut. “Selamat datang kembali di Indonesia.”

Shasmita masih menatapnya, matanya menyimpan ketertarikan yang sulit dijelaskan. Ia melangkah lebih dekat, mengamati Yura tanpa rasa sungkan, lalu tersenyum lagi, kali ini lebih dalam.

“Kamu…” Shasmita berucap pelan, hampir seperti gumaman.

“Cantik.”

Arga terdiam, Sky, yang berdiri sedikit di belakang, mengangkat alisnya samar, memperhatikan pertukaran itu dengan mata tajam seorang pengamat.

Yura mengangkat wajahnya perlahan. Senyum kecil terlukis di bibirnya, terlatih dan rapi.

“Terima kasih, Nona,” jawabnya. “Anda juga sangat anggun.”

Shasmita terkekeh kecil, suara yang ringan namun penuh arti.

“Aku tidak keberatan tinggal di sini,” ujarnya kemudian, menoleh singkat ke arah Arga. “Villanya nyaman. Dan … asistenmu juga menyenangkan.”

Arga mengangguk, meski ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan mengganjal di dadanya. Yura kembali menunduk, melangkah setengah langkah ke belakang, kembali ke posisinya semula.

Arga melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menghela napas pelan.

“Perjalanan kalian pasti melelahkan,” ujarnya akhirnya.

“Istirahat saja malam ini. Kalau butuh apa pun, Shas bisa langsung hubungi aku di rumah utama.”

Shasmita mengangguk singkat. “Terima kasih, Arga.”

Sky menepuk pundak adiknya ringan, lalu pandangannya beralih pada Yura yang berdiri sedikit di belakang, masih dengan sikap sopan dan tenang.

Pria itu melangkah mendekat.

“Sky Alexander,” katanya sambil mengulurkan tangan.

“Kakaknya Shasmita.”

Yura tertegun sepersekian detik sebelum membalasnya. Jemarinya menyentuh telapak tangan Sky dengan ragu, lalu menggenggam ringan dan cukup sopan, cukup singkat.

“Yura,” jawabnya lembut.

“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Sky.”

Sky tersenyum, bukan senyum basa-basi seorang pebisnis, melainkan senyum hangat yang tulus, seolah Yura bukan sekadar bagian dari rumah itu.

“Sama-sama,” balasnya. “Terima kasih sudah membantu menyiapkan villa ini.”

Yura menunduk lagi, senyum kecil tersungging di bibirnya.

Di sisi lain, rahang Arga mengeras. Ada sesuatu yang mengusiknya, cara Sky menatap Yura, cara Yura menjawab dengan suara yang tak pernah ia gunakan padanya. Perasaan itu muncul tiba-tiba, asing, dan membuat dadanya menghangat dengan rasa tak nyaman.

Namun, Arga memilih diam. Di hadapan Shasmita dan kakaknya, ia tak punya hak untuk bereaksi, tak ada alasan dan tak ada posisi.

“Kalau begitu, kami pamit dulu,” ucap Arga akhirnya, suaranya kembali dingin dan terkendali. Dia berbalik tanpa menunggu jawaban, melangkah meninggalkan villa menuju rumah utama.

Yura menatap punggung itu sesaat.

Di balik wajah tenangnya, bibirnya nyaris bergetar membentuk senyum tipis, bukan karena senang, melainkan karena sebuah keyakinan yang mulai tumbuh.

Malam semakin larut saat Arga tiba di rumah utama. Dia menutup pintu ruang kerjanya dengan kasar, melempar kunci mobil ke atas meja hingga berbunyi nyaring. Jas yang masih melekat di tubuhnya dilepas sembarangan, napasnya memburu, padahal ia sendiri tak tahu apa yang membuat dadanya terasa sesak.

Villa, dan rumah utama hanya berjarak 10 menit saja perjalanan perbedaan halaman rumah yang lumayan besar. Bayangan Sky tersenyum pada Yura kembali terlintas.

Cara pria itu menatap, cara Yura membalas dengan lembut.

“Brengsek,” gumam Arga, meraup rambutnya sendiri dengan frustrasi.

Dia berdiri di depan jendela besar, menatap gelap halaman yang memisahkan rumah utama dan villa. Ada api menyala di dadanya, amarah, cemburu, atau harga diri yang terusik dan semuanya bercampur tanpa nama.

'Dia hanya pengganti,' katanya dalam hati.

'Kenapa aku peduli?'

Namun, semakin ia mencoba menepis perasaan itu, semakin kuat dorongan untuk memastikan satu hal Yura tetap berada di tempat yang seharusnya.

Sebagai miliknya, tanpa berpikir panjang, Arga pergi menemui Yura di villa, karena sementara Yura akan tinggal di sana melayani Shasmita.

Di villa, Yura baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lampu kamar diredupkan, tubuhnya masih terasa lelah sejak kejadian semalam. Kelopak matanya hampir terpejam ketika suara ketukan pelan terdengar di pintu.

Tok! Tok!

Yura mengerjap, bangkit perlahan. Saat pintu dibuka, belum sempat ia bereaksi, tubuhnya sudah terdorong keras ke belakang.

“Mas!”

Arga masuk dan menutup pintu dengan kasar. Satu dorongan membuat Yura hampir terjatuh ke ranjang.

“Kau sengaja, ya?” suara Arga rendah, berbahaya.

“Menggoda Sky di depanku.”

Yura menggeleng cepat, matanya melebar. “Aku tidak berani, Mas. Aku tidak akan pernah menggoda pria lain ... apalagi di depan suamiku.”

Kalimat itu seperti percikan bensin ke api.

“Tutup mulutmu!” Arga mencengkeram dagu Yura kuat-kuat, memaksanya menatap. “Jangan pernah menyebut kata itu di depan Shasmita atau kakaknya.”

Jari-jari itu menekan, menyakitkan.

“Kalau kau berani,” lanjut Arga dingin, “aku akan menghancurkanmu. Dan pengobatan ayahmu ... akan ku hentikan detik itu juga.”

Napas Yura tercekat, ancaman itu selalu berhasil. Ia mengangguk perlahan. “Aku mengerti.”

Tatapan Arga menajam beberapa detik sebelum akhirnya ponselnya berdering. Dia melepas Yura dengan kasar, menjawab panggilan itu singkat, lalu berbalik pergi tanpa sepatah kata pun.

Pintu tertutup, sunyi kembali menyelimuti kamar.

Yura berdiri mematung beberapa saat, lalu perlahan menyentuh dagunya yang masih terasa nyeri. Bibirnya melengkung, bukan senyum luka, melainkan senyum dingin penuh perhitungan.

Ponselnya bergetar.

[Nona,] suara asistennya terdengar dari seberang.

[Proyek baru sudah selesai. Saat ini, kita berhasil menyalip beberapa perusahaan nomor satu di Indonesia. Apa langkah selanjutnya?]

Tatapan Yura mengeras.

“Terus awasi gerak-gerik perusahaan Pradipta,” ucapnya datar. “Jangan biarkan satu proyek pun berjalan mulus.”

[Baik, Nona.] Panggilan terputus.

Yura menyimpan ponselnya, menatap langit-langit kamar, lalu berbisik pelan namun penuh tekad.

“Kalau bukan karena aku butuh uangmu seratus miliar … aku tak akan bertahan sejauh ini.” Ia mengepalkan tangan, lalu tersenyum sinis.

“Aku tidak menyia-nyiakan empat tahun hidupku. Semua yang ku incar selama menjadi istri kontrakmu ... akan ku ambil, satu per satu.”

Sementara itu, di kamar lain, suasana jauh lebih tenang namun tak kalah berbahaya.

Shasmita berdiri di dekat jendela besar, satu tangan memegang gelas anggur merah. Cairan itu berputar pelan saat ia menggerakkan pergelangan tangannya, matanya menatap keluar, ke arah taman yang basah oleh sisa hujan.

Di sofa, Sky duduk santai dengan kaki disilangkan, segelas minuman berada di tangannya. Tatapannya tak pernah lepas dari adiknya.

“Kau belum menjawab,” ucap Sky akhirnya. “Apa rencanamu sebenarnya, Shas?”

Shasmita menghela napas tipis, lalu menyesap anggurnya.

“Aku akan mengeluarkan Yura dari pernikahan kontrak itu.”

Sky mengangkat alis, sedikit terkejut, namun tidak sepenuhnya.

“Jadi … dia memang wanita yang selama ini kau ceritakan padaku?”

Shasmita menoleh dan mengangguk perlahan.

“Ya, Yura.”

Nama itu keluar dari bibirnya dengan nada berbeda bukan iri, bukan cemburu, melainkan sesuatu yang lebih dalam.

“Dia gadis yang baik,” lanjut Shasmita pelan. “Dulu dia tidak mudah ditindas. Dia kuat, berani, dan selalu berdiri di atas kakinya sendiri.” Shasmita mengepalkan jemarinya di sekitar gelas.

“Aku tidak pernah membayangkan dia akan berakhir menikah dengan pria sekejam Arga.”

Sky terdiam sejenak, menimbang kata-kata adiknya.

“Dan Arga tidak tahu kau sudah mengetahui semua ini?” tanyanya.

Shasmita tersenyum tipis. “Tidak, Arga pikir aku tidak tahu apa-apa. Termasuk soal kontrak pernikahan itu.”

Dia melangkah mendekat ke sofa, berdiri tepat di hadapan Sky.

“Kak,” katanya serius, “aku mau kamu membantuku. Buat Yura berpisah dari Arga.”

Sky menatap adiknya lama sebelum akhirnya bertanya, “Ini alasan sebenarnya kita pulang?”

Shasmita mengangguk tanpa ragu. “Salah satunya. Aku berutang pada Yura. Dan aku akan membalas kebaikannya ... apa pun caranya.”

Sky menghela napas berat. “Masalahnya, Yura terlihat seperti tidak mengenal kita. Bahkan tidak mengenalmu.”

“Aku juga merasakannya,” sahut Shasmita lirih. “Entah dia pura-pura … atau memang ada sesuatu yang terjadi dalam hidupnya.”

Shasmita menatap jendela kembali, sorot matanya mengeras.

“Tapi aku akan mencari tahu,” lanjutnya. “Aku akan bicara langsung dengannya.”

Sky tersenyum tipis, senyum seorang pria yang tahu permainan besar akan segera dimulai.

“Baik,” katanya pelan.

“Kalau itu maumu, aku akan membantumu.”

1
Asyatun 1
lanjut
merry
cept tes hans,, klo cocok depak putri palsu itu umuknn siapa adikmu mky putri Arga gk brni ngusik yura lgg,, untuk Arga mngkin bulan nyesel tau yura ank konglomerat bangsawan dan org yg dh Nolongin dia 😄😄😄 putri gk bs berkutik klo seluruh ngeri tau yura adalh adik mu hans
Gadis misterius
Pertama yg harus disingkirkan dan ditengalamkan putri hans arga urusan blekangan krn putri membully yura dr zaman dia sekolah
Hanifah 76
apa kabar ka baru up lagi?sehat selalu
Arieee
semoga test dna positif Yura si putri yang hilang🤧🤧🤧🤧
Allea
semoga yura ga cepat2 memaafkan si hans
ken darsihk
Nggak sabar menunggu tnggl 10 , dan hasil tes DNA Yura & keluarga Wijaya
iqha_24
semoga positif, Yura Adik Hans
Eva Karmita
bukan kebahagiaan yang akan kamu dapatkan Arga tapi sebuah kehancuran, kebenaran yang sesungguhnya 🔥💪🥰
Oma Gavin
seharusnya kalau test DNA ini bener putri wajib didepak dari keluarga wijaya secara dia anak panti songong banget ngga cocok jadi keluarga wijaya
Naufal hanifah
ceritanya bagus
Aidil Kenzie Zie
peringatan untuk menjauhi Hans paling yang dimaksud Sky
merry
klo niat baik gpp klo niat buruk siap de demo ibu ibu kmu sky😄😄😄
Aisyah Alfatih: belum bisa double ini 😁 padahal pengen tak double terus biar tamat ... mungkin besok ya ...
total 1 replies
Ma Em
Alhamdulillah akhirnya Yura bebas dari jerat Arga , semoga Yura selalu bahagia setelah lepas dari Arga pasti Arga akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Yura .
Eva Karmita
lanjut... pengen tau bagaimana Arga Tampa Yura disisinya, apa hidupnya akan bahagia atau sebaliknya jungkir balik ngk karuan .
Yulia Dhanty
menarik
ken darsihk
Setelah ini Arga akan menyesal parah , setelah dia tau siapa yng menolong dia sebenar nya
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂
Hanifah 76
bagus ceritanya ka semangat
Gadis misterius
Yura akan menghindari sky krn yura tau adeknya arga ada rasa ke sky...jngn kuatir ksu sky yura tdak akan menggangu hubungan hans dan adekmu yura itu anti laki2 sebelum blas dendamnya terblaskan
Sunaryati
Dengan membuang Yura berarti kau menyia- nyiakan perempuan yang pernah berjasa padamu, apalgi 4,5 tahun kau siksa fisik dan mentalnya dengan menyandra, setelah kau tahu, tapi keadaan kamu telah hancur. Kau tidak mendapatkan Yura atau tunangan kamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!