"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Janji di Balik Rahasia
Setelah melihat video yang ditunjukkan Raden, keheningan melanda ruang tamu utama mansion keluarga Adicandra.
Nyonya Aristi masih menutup mulutnya seolah tak percaya, dengan tangannya yang masih gemetaran. Sementara Tuan Arsenio hanya bisa tertunduk lesu.
Ia merasa sangat bersalah di hadapan layar yang masih menampilkan perjuangan Arina, ibu Alana. Raden langsung berdiri dengan tatapan dingin dan rahang yang mengeras.
Rasanya ia tidak sanggup lagi berlama-lama di rumah yang penuh dengan kepalsuan itu.
"Pa, Ma... kami pergi dulu," ucap Raden dengan suara dingin, tanpa ada nada hangat sedikit pun.
Nyonya Aristi mencoba bangkit hendak menahan tangan putranya. "Tunggu Raden... Mama tidak bermaksud—"
"Sudah cukup Ma," potong Raden cepat dengan tatapan tajam.
Ia menoleh ke arah Alana dan ayahnya yang masih tampak sedih dan rapuh. "Ayo kita pulang sekarang, kalian pasti sudah sangat capek."
Sebelum pergi, Alana hanya memberikan satu tatapan kecewa yang sangat mendalam pada kedua orang tua Raden.
Ia melangkah mengikuti Raden keluar dari mansion, melintasi lobi megah dan melewati para pelayan yang tertunduk takut.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil SUV itu terasa sunyi dan mencekam seperti kuburan. Hanya ada suara deru mesin dan gesekan ban dengan aspal.
Dingin AC seolah tak mampu mendinginkan suasana hati mereka yang sedang panas seperti disiram api neraka.
Alana menyandarkan tubuhnya ke kursi sebelah kemudi sambil menoleh ke samping, menatap lampu-lampu kota yang memudar lewat jendela.
Sedangkan di kursi belakang, ayahnya masih memeluk erat daster kusam dan kotak kayu itu. Sesekali terdengar isak tangis kecil.
Di balik kemudi, Raden mencengkeram setir sangat kuat hingga urat-urat tangannya menonjol. Ia menahan kemarahan besar demi menjaga perasaan wanita yang sangat ia cintai.
Begitu mobil berhenti di depan rumah sederhana Alana, Raden segera turun dan membukakan pintu. Alana terlihat sangat pucat di bawah sinar lampu jalan.
"Alana Sayang, masuklah duluan. Kamu butuh istirahat untuk menenangkan pikiran," ucap Raden penuh kasih sayang.
Alana hanya bisa mengangguk pelan karena sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menjawab. Begitu pintu rumah tertutup, Raden berdiri berhadapan dengan ayah Alana.
"Om, atas nama keluarga saya, saya benar-benar minta maaf atas semua kekacauan malam ini," ucap Raden serius.
"Tolong jangan sungkan untuk minta tolong apa pun. Saya janji akan selalu menjaga Alana dan membantu Om mencari keberadaan Tante. Om bisa pegang omongan saya."
Ayah Alana menatap mata Raden, mencoba mencari kebohongan di sana, tapi yang ia lihat hanya ada ketulusan.
Beliau mengangguk terharu sambil meneteskan air mata. Beban hidup selama dua belas tahun seolah sedikit terangkat karena kehadiran Raden.
"Terima kasih Dokter, Ayah titip Alana. Ayah sangat percaya padamu."
Sesampainya di dalam rumah, Ayah melihat Alana sedang menunggunya dengan secangkir teh.
Ia duduk di samping putrinya dan mengusap punggung Alana penuh kasih sayang.
"Nak, Dokter Raden tadi janji bakal jagain kita apa pun yang terjadi," ucap Ayah serak.
"Sekarang Ayah bisa tenang kalau ada dia di samping kita. Dia benar-benar laki-laki yang bisa diandalkan."
Alana hanya tersenyum tipis, mencoba menghargai ketenangan yang baru saja ayahnya dapatkan. "Iya Yah, Ayah benar. Raden memang sangat baik."
Mereka sempat mengobrol cukup lama di ruang tamu sambil meminum teh hangat untuk menenangkan saraf yang tegang.
Setelah larut, Ayah menyuruh Alana segera beristirahat. Alana pun masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamarnya, Alana tidak bisa tidur. Pikirannya berlari ke mana-mana seperti pasangan suami istri yang sedang berantem.
Terutama pada raut wajah ibu Raden yang ia temui tadi. Ada perasaan aneh yang mulai mengusik batinnya, seolah ada sesuatu ganjil yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Alana stop, jangan memikirkan apa-apa sekarang. Tenang, semua pasti ada jalannya," ucap Alana pada dirinya sendiri.
Pukul 3 pagi, Alana merasa haus dan memutuskan keluar ke dapur. Saat mencoba mengambil gelas di rak atas, gerakannya yang tidak hati-hati membuat lengannya menyenggol sebuah kotak kayu kecil yang tersimpan di sudut rak.
Brak!!!
Kotak kayu itu jatuh dan isinya berhamburan. Alana langsung berjongkok memunguti surat-surat dan kliping koran lama dengan terburu-buru agar ayahnya tidak terbangun.
Kotak kayu itu jatuh dan isinya berhamburan. Alana langsung berjongkok memunguti surat-surat dan kliping koran lama dengan terburu-buru agar ayahnya tidak terbangun.
Namun di antara tumpukan kertas itu, terdapat sebuah foto yang tergeletak terbalik.
"Ya ampun Alana, ternyata masih ada yang tertinggal, gimana sih kamu," gumamnya pada diri sendiri.
Alana mengambil foto yang mulai menguning dan buram itu di bawah cahaya lampu dapur yang redup. Karena rasa penasaran, ia membaliknya.
Begitu melihat gambar di dalam foto, jantung Alana seolah berhenti berdetak. Matanya terbelalak lebar.
"Ini... mereka... tidak... tidak mungkin..." bisiknya parau.
Alana menyadari satu hal yang sangat mengerikan, melebihi saat menonton film horor. Dunianya seolah runtuh hanya karena satu lembar foto usang.
Napas Alana tercekat, dadanya terasa sangat sesak seolah pasokan oksigen di dapur itu menghilang ditelan bumi. Air matanya kembali menetes.
Sesuatu tentang janji Raden beberapa waktu lalu terasa begitu jauh dan tidak meyakinkan lagi untuknya.
******
Catatan Penulis:
Hayo, ada yang bisa tebak sosok tiga orang di foto itu? Coba tulis teori kalian di kolom komentar ya! 😱
Jangan lupa klik Like kalau kalian makin sayang sama perjuangan Alana dan Raden. Mampir juga ke halaman depan buat kasih Rating Bintang 5 ya! ⭐⭐⭐⭐⭐