Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Belahan Jiwa
Pangeran Evan mengubah posisinya, sedikit menjauh dari Pangeran Lian, namun tetap berada di barisan belakang seolah mengamati celah musuh. Dengan gerakan cepat dan tersembunyi, ia mengeluarkan belati beracun dari balik jirahnya.
“Serang!” teriaknya lantang, seolah membidik musuh di depan.
Tangannya terayun, “Mati kau!” batinnya.
“Pangeran!” teriak Anastasia.
Anastasia menyadari niat buruk itu dalam sepersekian detik. Sebelum belati itu melesat, ia melompat dari kudanya, tubuhnya menerjang ke punggung Pangeran Lian.
“Aghh…!”
Belati itu menancap di punggung Anastasia. Darah muncrat membasahi tanah.
“ANASTASIA!” Teriakan Lexus menggelegar di udara.
Ia melompat dari kudanya, menangkap tubuh istrinya sebelum jatuh sepenuhnya. Tangannya berlumur darah, napasnya terputus-putus.
“Lexus…” bisik Anastasia lemah.
“Anastasia… Anastasia… lihat aku… jangan tutup matamu…” suaranya pecah, panik yang tak pernah ia tunjukkan di hadapan siapa pun.
“Ibunda!” teriak Pangeran Leo.
Pangeran Lian menoleh sekilas, tapi tangannya tidak berhenti menebas. Air mata menetes di pipinya, namun tubuhnya tetap maju. Pedangnya bergerak lebih liar, lebih kejam, setiap tebasan penuh dengan amarah. Pemimpin perang tidak boleh berhenti di tengah jalan, apa pun alasannya.
Pangeran Leo menggertakkan gigi, mengikuti kakaknya, menghajar musuh dengan keganasan yang membuat pasukan Kingdom Conqueror gentar.
Pangeran Evan berdiri kaku, wajahnya kehilangan warna.
Kenapa Bibi Anastasia ada di sini? Pikirannya kosong. Tenang… tenang, Evan. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang melihat belati itu berasal darimu. Ia menggenggam pedangnya erat, berusaha menguasai napasnya. Sementara darah Anastasia terus mengalir di tanah Agartha.
“Aku… Lexus... aghh… sakit...” rintih Anastasia. Tubuhnya terasa kaku dalam waktu cepat, pandangannya perlahan kabur, dan kegelapan itu segera datang.
“Anastasia… istriku!”
Teriakan Lexus memecah medan perang yang dipenuhi denting besi dan jerit kematian. Ia berlutut di tanah yang basah oleh darah, meraba leher Anastasia dengan tangan yang gemetar. Jarinya mencari denyut nadi, sekali… dua kali… lalu berhenti.
Tidak ada.
“Tidak… tidak… ini tidak mungkin…” bisiknya parau.
Ia menarik tubuh Anastasia ke dalam pelukannya. Rambut hitamnya terurai di lengan Lexus, wajah yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi jiwanya kini pucat dan dingin.
“Aaaaaaaa!”
Raungan Lexus mengguncang udara. Tangis seorang kesatria yang kehilangan segalanya. Tangis seorang pria yang kehilangan belahan jiwanya.
Putri Isolde Anastasia, perempuan yang menemaninya dari tahta Kaisar hingga menjadi rakyat biasa, dari kejayaan hingga kesulitan. Perempuan yang bersumpah hidup dan mati bersamanya, kini terbaring tanpa napas di pelukannya.
Lexus menundukkan keningnya ke dahi Anastasia.
“Bangunlah… kau berjanji padaku…” suaranya pecah, napasnya tersengal. “Kau berjanji tidak akan meninggalkanku.”
Namun hutan, angin, dan langit tidak menjawab. Lexus mengangkat wajahnya ke langit.
“Demi para dewa dan demi seluruh tanah Agartha…” suaranya berubah, bukan lagi tangisan, melainkan sumpah yang menggetarkan hukum dunia.
“Aku menarik sumpah Imperial Agartha, bahwa pewaris darah Agartha tidak boleh saling membunuh!”
Langit seketika menghitam, awan bergulung seperti diseret amarah langit, angin berhenti tiba-tiba.
Lexus berdiri tegak. Aura di sekelilingnya berubah dingin, berat, dan mematikan. Ia melangkah menuju Pangeran Evan tanpa ragu. Dengan satu ayunan, ujung pedangnya menancap ke tubuh kuda Evan. Hewan itu meringkik keras sebelum berlutut, roboh ke tanah.
“Apa yang…!” Evan tersentak, matanya membesar oleh ketakutan yang terlambat.
"Aku akan mengejarmu sampai di neraka!" Pedang Lexus mengayun satu kali, lalu kepala Pangeran Evan terpisah dari tubuhnya, jatuh ke tanah dengan bunyi tumpul yang mematikan satu nyawa. Darah memercik, namun wajah Lexus kosong dan hampa.
Ia berbalik, kembali berlutut di sisi Anastasia.
“Anastasia…” namanya keluar seperti harapan terakhir.
Suara itu menggema di medan perang, seolah seluruh dunia ikut mendengarnya.
Bersama gema itu, semangat Imperial Agartha ikut runtuh. Prajurit-prajurit melihat pemimpin mereka berlutut sambil menangis kehilangan arah. Sementara itu, pasukan Kingdom Conqueror terus berdatangan. Jumlah mereka seperti tidak ada habisnya, senjata mereka melibas barisan Agartha yang kian menipis.
“Kakak…!” teriak Leo dengan suara serak, menahan air mata dan darah di wajahnya. “Kita tidak boleh egois… prajurit Agartha hampir habis!”
Pangeran Lian menutup matanya sesaat, lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
“Mundur!” teriakannya menggema, berat dan pahit. Perintah paling menyakitkan bagi seorang pemimpin.
Tangan kanan Jenderal Aras gemetar, ia meneteskan air mata saat ia mengangkat bendera putih ke udara.
Di tengah medan perang yang sudah berhenti Lexus tetap berlutut, memeluk tubuh Anastasia. Agartha tidak hanya kehilangan kemenangan, tapi juga seorang wanita yang pernah membawa namanya dalam kejayaan.
___
Putri Lily meraba dadanya. Detak jantungnya berpacu tidak wajar, seolah ada tangan tak kasatmata yang meremasnya dari dalam. Napasnya tersendat, darah di tubuhnya terasa berhenti mengalir.
“Ibunda…” bisiknya lirih.
Keranjang obat-obatan yang baru saja ia petik terlepas dari genggamannya. Daun-daun segar berserakan, namun Lily tak menoleh. Air mata mengalir begitu saja, tanpa sebab yang bisa dijelaskan oleh nalar.
Kata Kakek Wilhelm, hari ini adalah hari peperangan Imperial Agartha dan Kingdom Conqueror.
Putri Lily menggenggam dadanya, menahan rasa nyeri berasal dari ikatan darah. Ikatan yang tidak pernah putus meski jarak memisahkan. Ia merasakan kehilangan sebelum kabar itu tiba. Rasa hampa yang terlalu tiba-tiba untuk disebut kebetulan.
“Ada sesuatu yang terjadi…” bisiknya pada angin.
Ia tidak bisa terus diam. Lily berlari dengan langkah cepat, hingga akhirnya ia berdiri di hadapan gerbang hutan Moonveil. Saat jemarinya menyentuhnya, tanah bergetar pelan. Sulur-sulur tanaman menjulur dari tanah, melilit, menutup gerbang lebih rapat dari sebelumnya.
Lily berbalik perlahan, menatap hutan yang membesarkannya. Pohon-pohon tinggi menjulang diam, dedaunan berdesir lirih seolah berbisik. Hutan Moonveil, ibu kedua yang merawatnya sejak kecil.
Air mata Lily jatuh ke tanah.
“Aku tahu perasaanku ini bukan prasangka,” ucapnya dengan suara bergetar. “Ini kabar buruk.”
Ia melangkah mundur satu langkah, lalu menyatukan kedua tangannya di depan dada.
“Jika keluargaku baik-baik saja di sana,” katanya, suaranya nyaris pecah, “maka tutuplah gerbang ini selamanya.”
Ia mengangkat wajahnya, mata basahnya menatap ke dalam hutan.
“Aku rela,” lanjutnya lirih namun tegas, “menyerahkan hidupku sepenuhnya sebagai penjaga Moonveil. Aku akan tinggal dan menjaga setiap akar, setiap daun, setiap makhluk yang bernapas di sini.”
Angin berhembus lebih kencang.
“Tapi jika sesuatu yang buruk telah terjadi…” Ia berlutut di tanah, kedua telapak tangannya menekan bumi Moonveil.
“Tolong izinkan aku pergi.”
“Moonveil,” bisiknya dengan penuh hormat dan cinta, “aku bersumpah aku tidak akan melupakanmu. Aku tidak akan melupakan nilai-nilai yang kau tanamkan padaku”
Air matanya jatuh satu per satu ke tanah.
“Aku berjanji,” ucapnya lirih namun penuh tekad, “aku akan kembali suatu hari nanti untuk menjengukmu, seperti anak yang pulang ke pelukan ibunya.”
Matahari perlahan meredup, cahaya keemasannya tertelan awan kelabu. Angin berputar mengitari tubuh Lily. Sulur-sulur tanaman yang menutup gerbang bergetar, mengecil… lalu satu per satu masuk kembali ke dalam tanah.
Gerbang Moonveil terbuka, hutan memilih melepaskannya. Putri Lily menatap hutan untuk terakhir kalinya hari itu, menunduk hormat seperti seorang putri pada ibunya.
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author