NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

31. TGD.31

Waktu seolah berlari lebih cepat daripada deru mesin traktor di pagi hari. Hari yang dinantikan sekaligus mengharukan bagi Shelly dan Arkan akhirnya tiba: hari pertama si kembar tiga laki-laki—**Bumi, Aksara, dan Padi**—masuk Sekolah Dasar.

Sesuai prinsip Shelly, mereka tidak disekolahkan di kota kabupaten yang serba mewah. Mereka masuk ke **SD Negeri 01 Desa Makmur**, sekolah yang sama tempat Shelly dulu belajar mengeja huruf. Bedanya, sekolah itu kini sudah jauh lebih cantik berkat renovasi sukarela yang didesain oleh Arkan menggunakan dana CSR koperasi.

---

Pukul enam pagi, "Omah Tandur" sudah seperti sarang lebah yang tumpah. Shelly sibuk di dapur menyiapkan bekal nasi uduk dengan telur dadar berbentuk bintang, sementara Arkan menggendong salah satu bayi perempuannya, **Kirana**, sambil berusaha memasangkan dasi merah ke kerah baju **Bumi**.

"Ayah, dasinya miring! Aku mau rapi kayak Ayah kalau rapat!" protes Bumi yang memang paling perfeksionis.

"Sabar, Kapten. Ayah cuma pakai satu tangan ini, adikmu lagi nggak mau turun," jawab Arkan sambil tertawa kecil.

Di sudut lain, **Aksara** sedang asyik memeriksa isi tasnya. Bukan cuma buku dan pensil, ia menyelipkan sebuah obeng kecil dan kaca pembesar. "Buat apa itu, Aksara?" tanya Shelly sambil meletakkan kotak bekal ke dalam tasnya.

"Nanti kalau kursi di kelas goyang, Aksara bisa benerin, Bu!" jawabnya mantap.

Sedangkan **Padi**, si bungsu dari kembar laki-laki, sedang duduk di teras sambil berbicara pada kucing peliharaan mereka. "Pus, aku sekolah dulu ya. Kamu jaga adik-adik cewek. Jangan nakal, nanti aku bawain sisa sosis."

---

Arkan memutuskan untuk tidak mengantar mereka pakai mobil. "Hari pertama sekolah itu sejarah. Kita jalan kaki biar kalian tahu setiap jengkal tanah yang kalian lewati," ucap Arkan.

Shelly menggendong **Larasati**, Arkan menggendong **Kirana**, dan Ibu Shelly membantu membawakan **Mentari**. Di belakang mereka, si kembar tiga berjalan dengan gagah mengenakan seragam merah-putih yang masih kaku dan sepatu hitam mengkilap.

Di sepanjang jalan, warga desa keluar dari rumah untuk menyapa.

"Wah, Tunas-Tunas sudah jadi anak SD!" teriak Pak Kardi dari atas motornya. "Jangan nakal ya! Kalau nakal, nanti Pak Kardi laporin ke Ibu Direktur!"

"Siap, Pak Kardi!" sahut mereka bertiga serempak sambil memberi hormat.

Shelly menatap punggung ketiga putranya dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat masa kecilnya dulu, berjalan di jalanan yang masih berbatu tanpa alas kaki yang layak. Sekarang, anaknya berjalan di jalanan yang halus, dengan gizi yang tercukupi, menuju sekolah yang modern.

---

Sesampainya di gerbang sekolah, suasana sangat ramai. Banyak orang tua yang menunggu, namun perhatian semua orang tertuju pada keluarga "Dewi Padi" yang datang dengan pasukan lengkap: dua orang tua, tiga anak SD, dan tiga bayi perempuan.

"Mas Arkan, aku tiba-tiba melankolis," bisik Shelly sambil merangkul lengan Arkan. "Rasanya baru kemarin kita lari-larian di rumah sakit karena mereka mau lahir."

Arkan mengeratkan rangkulannya. "Mereka sudah besar, Shel. Lihat cara mereka berdiri. Mereka nggak takut sama sekali."

Bumi, Aksara, dan Padi berbalik menghadap orang tua mereka sebelum masuk ke barisan.

"Ayah, Ibu," ucap Bumi sebagai yang tertua. "Bumi bakal jagain adik-adik di dalam. Ibu nggak usah khawatir, fokus aja sama panen raya besok."

Aksara menyalami tangan Arkan dan Shelly. "Aksara mau lihat komputer di sekolah, katanya ada yang baru dari Mas Arkan!"

Padi memeluk kaki Shelly erat-erat. "Ibu jangan nangis ya. Padi cuma sekolah, nanti siang juga pulang bawa cerita."

Shelly berlutut, mencium pipi mereka satu per satu. "Belajar yang rajin ya, Nak. Bukan cuma soal angka, tapi soal cara berteman dan cara menghargai guru. Ingat, kalian anak petani, harus kuat dan rendah hati."

---

Baru dua jam mereka ditinggal, Arkan dan Shelly yang sedang di kantor koperasi mendapat telepon dari kepala sekolah.

"Halo, Pak Arkan? Bisa ke sekolah sebentar? Ada sedikit... kejadian dengan Mas Aksara," suara Ibu Guru terdengar cemas namun menahan tawa.

Arkan dan Shelly panik. Mereka segera berlari ke sekolah yang jaraknya hanya 500 meter. Sesampainya di sana, mereka melihat Aksara sedang dikerumuni teman-temannya di depan kipas angin kelas yang sedang dibongkar tutupnya.

"Aksara! Kamu apain kipas angin sekolah?" tanya Arkan kaget.

Aksara menoleh dengan wajah penuh debu namun bangga. "Tadi bunyinya *ngik-ngik*, Yah. Berisik, temen-temen nggak bisa denger suara Bu Guru. Terus Aksara lihat ada baut yang kendor, jadi Aksara benerin pakai obeng yang di tas tadi."

Ibu Guru tertawa kecil. "Pak Arkan, Mbak Shelly, Aksara ini luar biasa. Bukannya takut, dia malah jadi pahlawan kelas. Sekarang kipasnya sudah nggak berisik lagi."

Shelly menghela napas lega sambil geleng-geleng kepala. "Darah arsitekmu terlalu kuat, Mas," bisiknya pada Arkan.

---

Siang harinya, rumah "Omah Tandur" penuh dengan cerita. Di meja makan, si kembar tiga berebut bercerita.

"Tadi Bumi dipilih jadi ketua kelas!" seru Bumi.

"Tadi Padi kasih separuh bekal ke temen yang lupa bawa!" lapor Padi dengan malu-malu.

"Tadi Aksara dibilang 'Profesor Kecil' sama Bu Guru!" tambah Aksara bangga.

Shelly dan Arkan mendengarkan dengan penuh syukur. Di tengah-tengah mereka, ketiga bayi perempuan—Kirana, Larasati, dan Mentari—merangkak lincah di atas karpet, seolah ingin ikut dalam percakapan kakak-kakaknya.

"Mas," ucap Shelly saat mereka duduk di teras sore harinya, melihat ketiga jagoannya kini sedang asyik bermain bola di halaman. "Sekolah di desa ternyata pilihan yang paling tepat. Mereka tumbuh dengan identitas yang jelas."

"Iya, Shel. Mereka nggak butuh sekolah internasional untuk jadi hebat. Mereka cuma butuh kasih sayang, alam yang sehat, dan orang tua yang selalu ada buat mereka," jawab Arkan sembari menyesap kopi pahitnya.

Arkan lalu mengambil buku gambarnya, mulai mencoret-coret sesuatu.

"Apa lagi itu, Mas? Mau bangun gedung lagi?"

"Bukan," Arkan tersenyum lebar. "Aku mau desain sekolah menengah pertanian yang paling keren di Indonesia. Biar nanti kalau si kembar ini lulus SD, mereka nggak perlu ke luar kota. Kita bangun 'Harvard' versi pertanian di desa kita sendiri."

Shelly tertawa, ia tahu suaminya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Bersama Arkan, setiap mimpi selalu punya pondasi yang kokoh untuk diwujudkan. Dan bagi si kembar tiga, hari pertama sekolah itu adalah langkah awal dari perjalanan panjang untuk menjaga warisan sang Ibu dan visi sang Ayah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!