Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 15 – retakan yang tidak lagi sunyi
Airi tidak lagi menghitung waktu.
di ruangan itu, waktu terasa seperti benda cair yang menetes pelan, bahkan terlalu pelan sampai setiap detiknya terasa menyiksa. Detik demi detik itu terasa tidak segera berlalu. Seolah ingin mengingatkan bahwa tidak ada jalan keluar yang mudah.
Tubuh Airi kaku bukan karena ia tidak ingin bergerak, tetapi karena tubuhnya berhenti mendengarkan perintah dari otak nya sendiri. nafasnya terasa memendek dan mencekat, terpotong-potong, bahkan seperti ia lupa cara bernafas dengan benar bahkan udara yang terasa terlalu dangkal, setiap hembusan terasa terlambat.
Ia tau ka harus bergerak dan ia tahu ia harus berteriak atau melakukan sesuatu.
Namun tubuhnya seperti bukan miliknya lagi, enggak untuk mengikuti arahannya.
Seperti ada jarak tipis antara keinginannya dan kemampuannya, dan jarak itu semakin melebar setiap detik. Yang tersisa hanyalah satu insting paling masuk akal dan yang masih bekerja dengan baik dan benar.
Bertahan.
Bertahan dengan diam. Bertahan dengan menahan. Bertahan dengan harapan samar bahwa semua ini adalah mimpi yang akan segera berhenti.
Di tengah kekaburan itu, ada suara yang lain masuk.
Bukan suara yang ia bayangkan. Bukan suara yang ia tunggu-tunggu. Tapi suara yang akan terasa bersalah kalau ada di sana.
Langkah kaki.
Bukan langkah kaki yang berat, tetapi tidak juga yang tergesa, langkah kaki yang berhenti di depan pintu studio, yang sepenuhnya yakin untuk dia buka walaupun tidak penuh.
Pintu studio terbuka dengan bunyi gesekan yang halus dan tidak sepenuhnya. Hanya cukup untuk membiarkan cahaya dari koridor masuk membelah ruangan.
seperti celah kecil di tengah ruangan remang itu.
Ren berdiri di ambang pintu.
Gitar masih tergantung di bahunya. Tangannya belum sempat melepaskan strap ketika matanya menangkap apa yang ada di dalam ruangan itu. Pikirannya berkerja cepat, bahkan terlalu cepat. Seperti potongan memori yang menyatu dan tanpa ia minta.
Airi.
Dinding.
Jarak mereka yang terlalu dekat.
wajah pucat. Bahu tegang. Mata kosong. Tapi basah.
Dan pria itu.
Terlalu dekat.
Bahkan ren tak membutuhkan penjelasan yang lebih jauh, bahkan tidak perlu suara untuk mengkonfirmasi apa yang terjadi, tanpa perlu klarifikasi panjang dari Airi, ada sesuatu di dalam hatinya yang mengeras. seperti nalurinya bangun sebelum logikanya berbicara.
Gitar itu terlepas dari bahunya dan jatuh ke lantai dengan suara keras.
Suara yang menggema itu memecah keheningan. membelah ruang sepi itu kedua orang itu menoleh ke arah ren.
Dalam satu detik berikutnya, ren sudah berlari.
"Airi."
Nama itu keluar dari mulutnya tanpa rencana. seperti refleks. seperti doa yang terlambat dia ucapkan, tetapi tetap di ucapkan karena tidak ada pilihan lain.
Airi mendongak.
Matanya yang sejak tadi kosong akhirnya memancarkan cahayanya menemukan sesuatu yang nyata di hadapannya. Tatapannya bertemu dengan ren, dan sesuatu di dalam dirinya runtuh begitu saja. Pertahanan dirinya yang terasa seperti bendungan rapuh akhirnya menyerah.
Bibirnya bergerak.
Tidak ada suara yang keluar. tidak cukup udara. Tidak cukup tenaga.
Namun ean bisa membacanya dengan jelas Airi menyebut namanya
Ren.
Satu kata itu cukup. Sangat teramat cukup untuk membuat dia merasakan Airi sedang dalam bahaya.
Ren secara reflek menarik tubuh airi menjauh tanpa ragu, gerakannya yang cepat dan tegas penuh amarah yang dia tahan sendiri tadi di ambang pintu. Rahangnya mengeras merasakan amarah yang tertahan rapi di dalam dirinya. Tubuh Airi kehilangan keseimbangan. Lututnya melemas. Ia terjatuh terduduk, dunia di sekelilingnya berputar sejenak.
Ren dengan respon cepat berlutut di hadapan Airi, satu tangan menopang bahunya sedangkan tangan yang lain menahan agar tidak terjatuh sepenuhnya.
"Airi, lihat aku" katanya cepat. Suaranya rendah tapi ada getar yang tidak bisa ia sembunyikan. "kamu dengar aku kan Airi?"
Hanya anggukan pelan yang bisa Airi isyaratkan ke ren.
Air matanya jatuh tanpa suara. Bukan karena sakit fisik, tapi karena ketegangan yang akhirnya menemukan celah untuk keluar.
Ren menghela napas pendek, mencoba menenangkan diri lebih dulu sebelum menenangkan Airi. Ia membantu Airi duduk di kursi terdekat. Tangannya gemetar, tapi sentuhannya hati-hati. Seolah takut jika satu gerakan salah bisa menghancurkan sesuatu yang rapuh.
“Kurang ajar.”
Suara itu datang dari belakang. Dingin. Rendah. Menyeringai.
“Kau mengacaukannya, Ren.”
Ren berdiri perlahan.
Ia berdiri tepat di antara Airi dan Takahashi. Tubuhnya menghalangi pandangan pria itu ke arah Airi. Seperti dinding. Seperti perisai yang dipasang tanpa sadar.
“Kau yang berengsek,” kata Ren. Suaranya tajam, penuh kemarahan yang akhirnya menemukan jalan keluar. “Berani-beraninya kau—”
Tangannya mencengkeram kerah kemeja Takahashi sebelum pikirannya sempat menahan. Mata Ren merah. Napasnya berat. Semua kendali yang ia banggakan runtuh di titik itu.
Namun Takahashi hanya tersenyum tipis.
Senyum orang yang merasa aman.
“Kau berani memukulku?” katanya ringan, hampir mengejek. “Pikirkan orang tuamu. Pikirkan masa depanmu. Kampus ini tidak akan memihakmu.”
Kata-kata itu tepat mengenai sasaran.
Ren membeku.
Ada jeda singkat. Sepersekian detik di mana semua kemungkinan melintas di kepalanya sekaligus. Wajah orang tuanya. Nama keluarganya. Kampus. Masa depan yang dibangun dengan susah payah.
Di belakangnya, suara Airi terdengar.
Tipis. Gemetar.
“Ren… berhenti.”
Ren menoleh.
Airi menatapnya dengan mata yang penuh ketakutan.
Namun bukan pada Takahashi.
Pada Ren.
“Jangan… jangan libatkan dirimu lebih jauh,” bisik Airi. “Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
Tangannya yang gemetar menarik ujung jaket Ren pelan. Bukan menarik untuk mendekat. Tapi menahan agar ia tidak melangkah lebih jauh.
Seolah memohon.
Ren melepaskan cengkeramannya perlahan.
Rahangnya mengeras. Giginya bergemeletuk. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, tapi ia mundur selangkah.
Bukan karena takut.
Karena Airi memintanya.
Takahashi merapikan pakaiannya dengan santai, seperti tidak ada yang terjadi. Seperti situasi ini hanya gangguan kecil dalam rutinitasnya.
Pintu studio terbuka lagi.
Mei, Yukito, dan Haruto berdiri di sana. Wajah mereka berubah begitu melihat kondisi ruangan.
“Airi?” Haruto melangkah maju, tapi berhenti saat melihat wajah Airi yang pucat dan matanya yang sembab.
“Aku pusing,” kata Airi pelan. Suaranya nyaris tidak terdengar. “Aku mau pulang.”
“Kalian boleh pulang,” Takahashi menimpali. Nada suaranya kembali formal. “Sepertinya Airi tidak enak badan.”
Ren langsung mengambil tas dan ponsel Airi. Tangannya masih gemetar.
“Aku antar,” katanya singkat.
Mei menatap Takahashi sekilas. Ada sesuatu yang tidak beres. Tapi sebelum ia sempat bertanya, Ren sudah membawa Airi keluar.
Ren bahkan tidak ingat gitarnya tertinggal.
Di halte, mereka duduk berjajar tanpa kata.
Airi masih sesenggukan. Napasnya tidak teratur. Ren pergi sebentar, membeli air minum, lalu kembali dan menyodorkannya.
Tidak ada kata penghiburan. Tidak ada pertanyaan.
Hanya kehadiran.
Mereka naik bus. Turun. Berjalan.
Hening menemani mereka seperti bayangan yang setia.
Di depan rumah Airi, langkah Airi berhenti.
“Aku… aku nggak mau masuk dulu,” katanya pelan. “Aku takut ibu khawatir.”
Ren menatapnya sebentar. Lalu mengangguk.
“Ke rumahku aja,” katanya. “Aku janji, nggak akan kenapa-kenapa.”
Di rumah Ren, suasana sunyi dan rapi. Terlalu rapi, tapi menenangkan. Airi duduk di sofa, menatap televisi tanpa benar-benar melihat. Ren menyiapkan makan malam sederhana. Kari hangat. Aroma rempah menyebar perlahan, menenangkan ruang yang tadinya dingin.
Mereka makan dalam diam.
Tidak canggung.
Tidak juga nyaman.
Hanya tenang.
Setelah itu, Airi akhirnya bicara.
“Ren… kenapa tadi sensei bilang orang tuamu bakal dalam bahaya?”
Ren menarik napas panjang.
“Keluargaku,” katanya pelan, “punya hubungan kerja sama dengan keluarganya. Donatur. Proyek seni. Kampus ini… banyak yang bergantung pada mereka.”
Airi menunduk.
“Maaf,” katanya lirih.
Ren menoleh cepat. “Jangan minta maaf.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih lembut.
“Airi… aku salah dulu. Aku ceroboh. Tapi aku di sini sekarang. Dan aku nggak akan ninggalin kamu.”
Airi mengangkat wajahnya perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia menatap Ren tanpa rasa takut yang menusuk.
Mungkin masih ada retakan.
Namun di celahnya, cahaya kecil mulai masuk.
Dan untuk Airi, itu sudah cukup untuk bertahan satu hari lagi.