Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Novel Alisa
Kabar itu datang melalui email di suatu pagi yang berkabut. Novel Alisa akhirnya disetujui untuk naik cetak. Setelah berbulan-bulan mengirim draf melalui koneksi internet yang diperjuangkan Cakra, perjuangannya membuahkan hasil. Judulnya "Penjaga Pangkalan Terakhir", sebuah fiksi yang sangat terinspirasi dari kehidupan mereka di asrama dan rumah dinas. Dua minggu kemudian, sebuah paket besar tiba di penjagaan depan batalyon menggunakan truk logistik. Isinya adalah sepuluh eksemplar bukti terbit yang dikirimkan penerbit. Alisa membukanya dengan tangan gemetar di teras rumah, sementara Cakra yang baru pulang dinas memperhatikan dari balik pintu. Ada rasa bangga yang meledak di dada Alisa saat melihat namanya tercetak jelas di sampul depan, di bawah gambar siluet seorang prajurit dan seorang gadis kecil yang menatap senja.
Alisa memberikan eksemplar pertama kepada Cakra. Tidak ada kata-kata puitis, ia hanya menyodorkannya sambil berbisik, "Ini buat Ayah." Cakra menerimanya dengan kaku, mengusap sampulnya yang halus, lalu membawanya masuk ke ruang kerja. Malam itu, lampu di ruang kerja Cakra menyala lebih lama dari biasanya. Dari celah pintu, Alisa bisa melihat Ayahnya duduk tegak, membaca baris demi baris cerita yang ia tulis. Di dalam buku itu, Alisa tidak menutupi apa pun. Ia menulis tentang dinginnya rumah dinas, tentang rindu pada Ibu yang tak tersampaikan, dan tentang bagaimana ia melihat Ayahnya sebagai ksatria yang kesepian. Ia menulis tentang betapa kerasnya Cakra, namun juga tentang bagaimana Cakra membangun "jembatan" berupa kabel internet di tengah hutan demi mimpinya.
Keesokan harinya, suasana di markas batalyon mendadak berubah. Damar, yang memang dasarnya tukang kompor, entah bagaimana sudah mendapatkan satu eksemplar dan membacanya habis dalam semalam. Berita bahwa anak Komandan menulis novel tentang kehidupan militer menyebar secepat api di padang rumput kering. Para prajurit yang biasanya hanya bicara soal latihan dan logistik, kini mulai berbisik-bisik saat melihat Alisa lewat. Di kantin dan lapangan, mereka membicarakan karakter-karakter di buku yang terasa sangat mirip dengan keseharian mereka. Ada rasa bangga yang aneh menyelimuti para prajurit itu; mereka merasa hidup mereka yang terpencil dan terlupakan kini mendapatkan tempat di sebuah buku yang bisa dibaca orang di seluruh Indonesia.
"Kamu bikin saya kelihatan terlalu ganteng di buku itu, Lis," canda Damar saat bertemu Alisa di joglo. Ia tertawa lebar sambil menunjukkan bab di mana Alisa menggambarkan sosok paman yang humoris dan ahli teknologi. "Tapi bagian soal Ayahmu... itu jujur sekali. Saya rasa seumur hidup Cakra baru kali ini dia dikuliti habis-habisan lewat tulisan." Alisa hanya tertawa kecil menanggapi candaan Damar. Ia merasa lega karena ternyata orang-orang di sekitarnya tidak merasa tersinggung, melainkan justru merasa dihargai. Tulisan Alisa telah memberikan nyawa pada rutinitas mereka yang selama ini dianggap biasa saja.
Titik puncaknya adalah saat Cakra memanggil Alisa ke ruang kerjanya setelah tiga hari buku itu berada di tangannya. Di atas meja, buku itu tampak sudah dibaca berkali-kali, terlihat dari beberapa lipatan kecil di sudut halamannya. Cakra tidak langsung bicara. Ia berdiri, menatap keluar jendela ke arah barisan barak prajurit. "Ayah baru sadar kalau selama ini Ayah terlalu sibuk menjadi Mayor sampai lupa bagaimana cara dilihat sebagai manusia," kata Cakra, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. Ia berbalik dan menatap Alisa dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, meski ia berusaha keras menyembunyikannya. "Terima kasih sudah menuliskan ini, Lis. Ayah tidak tahu kalau selama ini kamu melihat Ayah sekuat itu, sekaligus serapuh itu."
Cakra kemudian menceritakan bahwa ia sudah memesan lima puluh eksemplar lagi untuk diletakkan di perpustakaan batalyon. Ia ingin setiap prajuritnya membaca buku itu agar mereka sadar bahwa di balik seragam mereka, ada keluarga di rumah yang memiliki perasaan dan harapan yang sama seperti Alisa. "Ayah mau mereka tahu kalau pengabdian bukan cuma soal di lapangan, tapi juga soal menjaga hati orang-orang yang menunggu di rumah," tambah Cakra. Bagi Alisa, itu adalah pengakuan paling berharga. Lebih dari sekadar royalti atau ketenaran, ia merasa telah berhasil meruntuhkan tembok terakhir antara dirinya dan ayahnya.
Sore itu, mereka kembali duduk di joglo. Alisa sibuk membalas pesan dari pembacanya di media sosial, sementara Cakra duduk di sampingnya sambil membaca koran. Sesekali, prajurit yang lewat memberi hormat dan tersenyum pada Alisa, beberapa bahkan berani meminta tanda tangan dengan malu-malu. Cakra hanya tersenyum melihat itu semua. Ia tidak lagi melarang Alisa berimajinasi; ia justru merasa bahwa tulisan putrinya telah menjadi bagian dari kekuatan batalyonnya. Di daerah terpencil itu, di bawah naungan joglo kayu, Alisa merasa hidupnya sudah lengkap. Ia bukan lagi sekadar anak tentara yang kesepian; ia adalah seorang penulis yang berhasil menemukan rumahnya kembali lewat kata-kata.
Novel itu menjadi awal dari karir Alisa yang sesungguhnya. Namun bagi Cakra, buku itu adalah cermin yang membantunya menjadi ayah yang lebih baik. Di sela-sela kesibukan tugas negara, kini Cakra selalu punya waktu untuk bertanya, "Sudah menulis apa hari ini?" Sebuah pertanyaan sederhana yang bagi Alisa bermakna dunia. Mereka tidak lagi hanya bicara soal disiplin, tapi soal rasa, soal cerita, dan soal masa depan. Di perbatasan yang sunyi itu, mereka berdua akhirnya mengerti bahwa ksatria sejati adalah ia yang berani mengakui perasaannya, dan penulis sejati adalah ia yang mampu menyentuh hati ksatria yang paling keras sekalipun.
"Hebat kamu, Lis. Ayah bangga," ucap Cakra pelan sebelum ia kembali fokus pada film di ponselnya. Kalimat pendek itu menutup hari Alisa dengan kehangatan yang tak bisa dilukiskan. Penantian panjang di rumah dinas yang sepi dulu kini terbayar lunas dengan pengertian yang dalam. Alisa menutup laptopnya, menatap pegunungan di kejauhan, dan mulai memikirkan ide untuk novel keduanya. Kali ini, ia tahu ceritanya akan lebih indah karena ia tidak lagi menulis dalam kesendirian.