Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 : Tawa kecil anak residence
Keheningan menempel pekat di dalam ruangan, hanya suara detik jam yang terdengar samar. Victoria menutup kotak kecil berisi perban dan obat, lalu dengan hati-hati mengembalikannya ke tempat semula. Gerakannya teratur, seolah sengaja menjaga jarak dari pria yang masih duduk membisu. Usai itu, ia beranjak ke wastafel, membasuh tangannya perlahan, air mengalir dingin menyapu jemari yang tadi sibuk merawat luka.
Cahaya matahari mulai menembus tirai tipis yang menggantung. Lembut, namun cukup membuat ruangan redup itu sedikit hidup. Victoria melangkah mendekat, membuka tirai lebar-lebar, membiarkan sinar memenuhi setiap sudut. Wajahnya yang tadi serius kini tampak tenang, namun sorot matanya masih menyimpan sisa emosi.
“Kalau kau memang ingin tetap di sini, gunakan waktumu untuk beristirahat,” ucapnya pelan, tanpa menoleh. “Aku harus kembali ke IGD.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik, meninggalkan ruangan dengan langkah ringan namun pasti. Pintu tertutup perlahan, menyisakan Alexander sendirian di kursinya.
Ia masih terdiam, menatap meja kosong di hadapannya. Pikiran semalam kembali menghantui. Kata yang berulang-ulang menggema di telinganya, suara datar yang menuntut, “kembalikan…” Sebuah gema yang menolak hilang meski ia berusaha menepisnya.
“Ahh… sial…” gumamnya geram, tangan meremas rambutnya sendiri.
Kepalanya jatuh ke meja, dahi menempel pada permukaan kayu dingin. Ia mencoba menyusun potongan demi potongan, mencari pola dari semua yang sudah ia lihat. Namun justru saat itulah, sebuah detail terlupakan menembus pikirannya.
Langkah kaki. Gema langkah di lorong malam itu. Hanya ada satu suara, langkahnya sendiri.
Alexander mengangkat kepalanya perlahan, nafasnya tercekat. “Orang itu… dia berjalan di depanku… tenang… meski aku mengejarnya dari belakang?”
Mata pria itu membelalak, memutar kembali bayangan postur tegak yang terus membelakanginya. Sosok yang seolah tak pernah tergesa. Bahkan ketika suara ledakan kecil dari pelurunya menghantam udara, bayangan itu tidak goyah.
Ia menoleh ke arah jendela yang kini tirainya terbuka, cahaya matahari menyilaukan pandangannya. “Apa… tembakanku mengenainya?”
Pertanyaan itu menusuk dadanya, meninggalkan keresahan baru. Dengan cepat ia bangkit, kursinya bergeser kasar menyentuh lantai. Langkahnya mantap, kali ini tanpa tergesa, tanpa keraguan. Ia meninggalkan ruangan, tubuhnya bergerak menuju IGD dengan tenang, seolah setiap langkahnya menyiapkan jawaban yang harus segera ditemukan.
Di IGD suasana tampak berbeda dari biasanya. Bau antiseptik masih menusuk, tapi suasana pagi itu jauh lebih riuh oleh tawa kecil dan bisikan para anak residence yang duduk bergerombol di kursi tunggu. Kotak makanan plastik berderet di pangkuan mereka, sendok dan garpu beradu pelan.
Begitu Alexander melangkah masuk, tubuh tegapnya segera menyita perhatian. Langkahnya mantap, suara sepatu kulitnya teredam oleh lantai rumah sakit yang mengilap. Gadis-gadis muda itu spontan menghentikan obrolan dan menoleh, sebagian berpura-pura sibuk, sebagian lain malah menatapnya tanpa berkedip.
“Ohh, selamat pagi, Tuan Reed…” sapa salah satu gadis dengan suara setengah bergetar, seolah berusaha terdengar ramah namun gugup.
“Pagi.” Balas Alexander singkat, tanpa berhenti, tatapannya lurus ke arah meja informasi. Nada suaranya datar, tapi justru membuat sosoknya semakin sulit dijangkau.
Begitu ia menjauh, bisikan kembali pecah.
“Ya ampun… lihat deh, keren banget…” salah seorang gadis berbisik sambil menggigit sendoknya, senyum samar muncul di wajahnya. “Apa dia udah punya pacar ya? Aku ingin sekali punya nomornya.”
“Mungkin sudah,” timpal gadis lain dengan nada kecewa tapi penuh kagum. “Orang setampan dia, masa sih enggak ada yang punya?”
Beberapa anak lelaki yang duduk di sisi lain hanya menghela napas, sebagian memutar bola mata, jengah dengan obrolan yang selalu sama setiap kali Alexander lewat.
Di tengah hiruk pikuk kecil itu, hanya satu gadis yang sama sekali tak menghiraukan, Victoria. Duduk manis di kursinya, ia sibuk mengunyah sarapannya. Wajahnya tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak lebih penting dari roti dan telur yang ada di piringnya.
“Vic, kamu udah minta maaf sama Tuan Reed?” bisik Olivia di sebelahnya sambil menyenggol lengan Victoria.
Victoria hanya melirik singkat, lalu menggeleng pelan. Pipi keduanya menggembung penuh makanan, membuatnya tampak seperti anak kecil. Setelah berhasil menelan, ia berkata pelan, “Bukan salahku.”
“Aih, bukan salahmu gimana?” Olivia mendesah kesal. “Jelas-jelas kamu yang nabrak dia.”
Victoria hanya menahan tawa kecil, matanya melirik nakal. Setelah menelan suapan berikutnya, ia berbisik makin pelan, “Tubuhnya enak kalau ditabrak.” Senyum licik merayap di wajahnya, kontras dengan ekspresi polos yang sering ia tunjukkan.
“Enak?!” Olivia hampir tersedak, menatap sahabatnya tak percaya. “Jadi kau sengaja?”
“Enggak.” Victoria menggeleng cepat, tangannya sibuk memotong roti lagi. “Aku enggak sengaja. Dia aja yang selalu muncul di jalan yang aku gak lihat.”
Tawa kecil keluar dari bibirnya, membuat beberapa anak residence di sekitar mereka penasaran. Tatapan-tatapan tertuju pada keduanya, ingin tahu topik apa yang begitu rahasia sampai dibisikkan seperti itu.
“Hey, kalau ngobrol jangan berdua aja dong,” celetuk salah seorang lelaki dengan nada setengah cemburu.
Olivia langsung refleks menutup topik, wajahnya sedikit merah. “Ah, bukan apa-apa… aku cuma nanya, tumben hari ini Victoria gak lihat pasien pagi tadi. Biasanya kan dia ngasih hadiah kecil.”
“Hadiah?” beberapa anak lain langsung menoleh bersamaan, alis mereka terangkat.
Mereka saling berpandangan, mengingat kebiasaan Victoria. Hampir setiap kali ada pasien datang ke IGD, entah bagaimana, gadis itu selalu memberikan sesuatu. Tapi tak ada yang tahu pasti apa yang diberikannya, sebuah kebiasaan misterius yang hanya Alexander sempat memperhatikan diam-diam.