NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesaksian Jono

#29

Flashback

Malam semakin larut, Jono yang sedang kesepian di rumah, memutuskan keluar rumah, karena Anjani belum pulang dari bar tempatnya bekerja. 

Beberapa meter dari tempat Jono berjalan, ia melihat bar yang berhiaskan lampu remang-remang, beberapa orang keluar masuk tanpa ada larangan, asal punya niat dan punya uang, semua boleh masuk. 

“Jono!” salah seorang kenalannya memanggil Jono agar mendekat. 

“Kenapa?” 

“Jani balikan sama mantan pacarnya?” 

“Nggak,” jawab Jono pede. 

Karena, Jani pernah bilang hanya memanfaatkan Restu untuk mendapatkan uangnya saja. Dan setelah hutang mereka lunas, Jani akan mendepak Restu dari hidupnya. 

“Tadi ku lihat mereka masuk ke sana.” Teman Jono menunjuk ke arah bar. 

“Oh, kebetulan saja, Jani sudah bilang padaku, kok. Kalau ketemu Restu lagi.” 

Teman Jono menjadi heran, “Apa iya hanya berteman bisa seakrab itu?” gumamnya. 

Jono menyalakan rokok menggunakan korek api milik temannya, “Kau, nih, macam tak paham gimana pekerjaan Jani.” 

“Ya, memang aku tak paham, sih.” Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Tapi satu lagi, sepertinya kau harus tahu.” 

Jono mengepulkan asap dari mulutnya. “Apa?” 

“Sudah hampir dua minggu ini, preman yang biasa menagih hutang pada Anjani tak lagi datang. Kudengar dari salah seorang anak buah Bos Danu, hutang Anjani sudah lunas.” 

Deg

Meski hubungannya dengan Jani tak ada ikatan resmi, tapi mana mungkin Jono melepaskan tambang uang yang selama ini menghidupinya. Sebelum ia memiliki tambang uang baru, maka tambang uang lama tak boleh hilang. 

Jono membuang puntung rokoknya ke tanah, dan membiarkan benda tersebut padam dengan sendirinya. Pria itu berjalan dengan langkah cepat menuju Bar, meninggalkan warung kopi milik kenalannya tersebut. 

“Jani, sialan! Berani sekali dia menipuku. Pantas dia selalu banyak alasan ketika ku tanya perihal kedekatannya dengan restu. Ternyata, wanita jalang itu hendak menikam ku dari belakang.” 

Hampir mendekati bar, Jono melihat Jani kerepotan memapah Restu yang hampir teler sepenuhnya, tapi Jono tiba-tiba berhenti, ia ingin melihat apa yang hendak Jani lakukan. Dan sampai di mana batas keberanian Anjani. 

Ternyata Anjani mengantar Restu pulang ke rumah. Dengan memendam rasa penasaran, serta amarah yang ia tahan agar tak meledak sembarangan. Jono terus mengikuti kemanapun gerak langkah kaki Anjani membawa Restu pulang ke rumahnya. 

Anjani memapah Restu naik ke becak yang mangkal dekat bar, Jono pun mengikutinya dengan kendaraan serupa. 

Setibanya di dekat rumah Restu, Jono menghentikan becak, dan sisanya ia berjalan kaki. Pria itu mengendap-endap di luar rumah seperti maling, bahkan mendengar pertengkaran yang terjadi di dalam rumah termasuk fakta mengejutkan tentang kehamilan Anjani yang katanya anak Restu. 

Pria itu mengintip dari sela jendela rumah, dan melihat adegan Restu san Anjani saling berebut pisau, hingga benda tersebut menancap di perut Restu. Semua Jono lihat dengan kedua matanya sendiri, namun Jono memilih pergi, berlari, seolah tak pernah melihat apa yang terjadi. 

Dan ketika Anjani diperiksa polisi, Jono mengatakan bahwa ia tak tahu apa-apa, lalu minggat dari hidup Anjani. 

Flashback End. 

•••

Ayu mengeraskan rahangnya, ternyata ada satu saksi yang terlewat, andai saja dulu keadilan berpihak padanya, andai saja dulu—

Ayu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berandai-andai pada hal yang sudah berlalu, adalah hal yang sia-sia. Karena nasi sudah menjadi bubur, dan bubur itu sudah terlanjur basi. Walau perutnya menolak, Ayu harus rela tetap menikmatinya, itulah gambaran untuk ketidakadilan yang menimpanya di masa lalu. 

Kini ia hanya akan fokus ke masa depan, fokus pada kesembuhan Biru, serta fokus membersihkan namanya dari segala tuduhan. Dan menyeret pelaku sebenarnya agar mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. 

“Ada hal lain yang ingin aku tanyakan,” kata Ayu setelah pengakuan Jono. 

“Bertanya banyak hal pun tak masalah, kau sudah membayarku, dan aku pun menikmati kecantikanmu,” seringai Jono. 

“Cih, jaga kedua matamu, Brengsek!” 

“Wah, kau pintar mengumpat juga rupanya.” 

Plak!

Ayu menggeplak kepala Jono dengan tumpukan uang yang masih berada di atas meja, “Bajingan! Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak macam-macam denganku!” 

Jono tak marah, hanya cengengesan saja, “Iya, iya, terserah saja.” 

“Anak itu, apakah benar anak Bang Restu?” 

Jono tertawa sinis, “Entah, hanya Anjani yang tahu jawabannya, apakah anak itu anak Restu, anakku, atau anak kandung pengacara itu, atau— anak pria hidung belang lain yang kebetulan meniduri Anjani?” 

Bukannya memberikan jawaban, Jono justru memberikan teka teki. Jono sendiri pun makin penasaran, ia ingin mengetahui identitas asli anak perempuan Anjani. Jika ada kemungkinan bahwa anak itu adalah anak kandungnya, maka ia sudah bisa membayangkan banyaknya uang yang bisa Jono peroleh dari Anjani. 

Ayu berdiri dari kursinya, bermaksud pulang, namun Jono menahan langkahnya. “Jangan lupa dengan janjimu.”

Senyum dingin di wajah Ayu, membuatnya semakin menarik dan semakin mahal di mata Jono, “Aku ingat, tapi aku tak bilang akan memberikannya saat ini, kan?” 

Jono menggeram marah, ia mencengkram kerah pakaian Ayu. Tapi wanita itu balas melakukan hal yang sama, “Jika kamu ingin uangmu, maka besok datanglah ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian secara langsung.” 

“Gila! Kau pikir aku mau?” 

“Iya, kau memang sudah gila sejak lama, karena itu jangan setengah-setengah. Besok aku akan menggandakan dengan jumlah yang lebih banyak. 

Pelan-pelan, Jono mengendurkan cengkraman nya. “Sepuluh kali lipat,” tawarnya. 

“Deal, sepuluh kali lipat. Besok, Mahar yang akan menyerahkan uangnya, dengan catatan! Setelah kamu memberikan kesaksian.” 

•••

Setelah bersusah payah mengelabui pengawalnya, Miranda pun berhasil keluar dari kamarnya, gadis itu beralasan pergi ke dapur, ingin masak mie instan. Itu pun dua pengawal tetap mengawasi dari jarak aman, yakni di dekat meja makan tempat dapur bersih berada. 

Miranda berpura-pura mendengarkan musik selama berada di dapur, padahal telinganya bersiaga mendengar setiap obrolan dua orang yang mengikutinya. Terus berusaha mencari celah agar bisa melarikan diri, perasaannya tak tenang karena sampai detik ini ia tak mendengar kabar tentang Biru. 

Tapi ucapan Gunawan tidak main-main, karena hingga detik ini pengawal masih terus berjaga, di dalam dan di sekitar rumah. “Sial! Sepertinya Papi tak main-main, sebenarnya apa yang terjadi?!” jerit Miranda dalam hati. 

Kesempatan itu akhirnya tiba, sebuah mobil box dari salah satu fresh mart datang untuk mengantar stok sayur, buah, dan segala macam daging-dagingan untuk dapur di rumah mewah tersebut. 

Perhatian para pengawal seketika teralihkan, dan Miranda memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berlari mengendap-endap di antara orang-orang, hingga gadis itu berhasil naik ke mobil box, dan bersembunyi di sana. 

Selama terkurung di kamarnya, Miranda telah mengumpulkan banyak informasi, gadis itu juga bertanya melalui hotline service kepolisian, dimana Biru dirawat saat ini. 

Jantung Miranda berdegup kencang, karena ini pertama kalinya ia meninggalkan rumah, seperti seorang pencuri. 

Sementara itu, di dalam rumah mulai heboh, karena nona muda mereka hilang dari pengawasan. “Berpencar! Cari di setiap sudut, dia pasti belum jauh dari rumah!” perintah Anjani, panik serta takut membayangkan amukan suaminya. 

1
Dew666
👄👄👄👄👄
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harus tes DNA tuh
Patrick Khan
lanjut kakkkkkk😑😑😑
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ternyata Jono saksi kunci nih
Reni
Miranda kunci sukses semua masalah cinta buta nya buat biru bisa memporak porandakan Gunawan dari dalam
Reni
Jani ya ternyata jadi wanita g bener buat ngasih Jono juga astaga Jani Jani pikiran mu diluar nalar hehhhhh
Rahmawati
yg penting kasih yang, si jono pasti mau buka mulut
Cindy
lanjut
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
kesel sama si Gunawan.. jahatnya gak ketulungan
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
makin penasaran..
Aditya hp/ bunda Lia
sudah saatnya semua kejahatan si iguana cs terbongkar
Aditya hp/ bunda Lia
berarti biru emang sengaja di celakain sama si iguana
Esther Lestari
Semoga rencanamu berhasil Ayu dan Jono bisa dipercaya tidak membocorkan rencana ini ke Jani.
Gunawan bener2 ya jahat banget
Patrick Khan
aku suka😍😍😍
Patrick Khan
cuma bisa komen lanjut..ayo lah penasaran dan penasaran..kasian biru..semoga miranda tulus sm biru😑😑
Reni
pada akhirnya akankah Jani kena penyakit seksual mudahan wae
dannnnn aku berharap Melinda bukan anak Gunawan biar dia merasa menyesal telah mencampakkan giana terus firm nya ditutup karena ketahuan belangnya dia juga dipenjara biar lunas derita semua orang
Reni: biar para perusuh kena batunya udah cukup lama menikmati hidup
total 2 replies
Dew666
🍎👑💎
Siti Siti Saadah
semoga biru ngga amnesia
Siti Siti Saadah
semoga saja jono bisa berpihak pada ayu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain, sembarangan aja 😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!