Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: JEMBATAN ANTARA DUA DUNIA
Kesuksesan "Penjaga Pangkalan Terakhir" ternyata tidak berhenti di lingkup batalyon saja. Berkat promosi mulut ke mulut dan kekuatan media sosial—yang jaringannya dijaga ketat oleh Damar—novel itu mulai merambah toko buku di kota-kota besar. Alisa sering menghabiskan waktu sorenya di joglo, memandangi layar laptop yang dipenuhi notifikasi ulasan pembaca. Banyak yang mengaku menangis membaca hubungan antara ksatria kaku dan putri penulisnya. Alisa merasa aneh sekaligus bahagia; rahasia paling sunyinya kini menjadi penghibur bagi ribuan orang asing di luar sana.
Suatu siang, Damar datang ke joglo dengan langkah terburu-buru, membawa selembar kertas hasil cetakan faksimile dari kantor markas. "Alisa, kamu harus lihat ini. Ini dari Jakarta," seru Damar sambil menyerahkan kertas itu. Rupanya, itu adalah undangan dari salah satu festival literasi terbesar di tanah air. Mereka mengundang Alisa sebagai pembicara untuk diskusi panel tentang sastra dan realitas kehidupan militer. Alisa terpaku. Jakarta terasa sangat jauh dari hutan tempat ia berada sekarang. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap; ia terbiasa menulis dalam kesunyian, bukan bicara di depan khalayak.
Cakra, yang sedang memeriksa laporan logistik di dekat sana, melirik ke arah mereka. Ia bangkit dan mendekat, membaca undangan itu tanpa suara. Alisa menatap Ayahnya, menunggu reaksi "protokol" yang biasanya muncul. Namun, Cakra justru melipat kertas itu dengan rapi dan mengembalikannya pada Alisa. "Ini kesempatan bagus. Kamu sudah berjuang lewat kata-kata, sekarang saatnya kamu berdiri di depan orang-orang dan menunjukkan siapa penulis di balik cerita hebat itu," ucap Cakra. Suaranya tidak lagi memerintah, melainkan memberi semangat yang tulus.
"Tapi, Yah, Jakarta itu jauh. Ayah kan sedang sibuk dengan persiapan operasi pengamanan wilayah bulan depan. Aku tidak mungkin pergi sendiri," ujar Alisa ragu. Ia merasa berat meninggalkan zona nyamannya, apalagi di tempat terpencil ini Cakra adalah satu-satunya pegangannya. Ia takut jika ia pergi, jarak emosional yang baru saja mereka jembatani akan merenggang kembali.
Cakra tersenyum, jenis senyum tipis yang kini lebih sering ia tunjukkan. "Ayah sudah bicara dengan Damar. Dia kebetulan ada koordinasi teknis di Mabes minggu depan. Dia yang akan mengantarmu sampai ke hotel di Jakarta. Ayah memang tidak bisa mendampingimu di panggung, tapi Ayah akan pastikan jalur komunikasimu tetap aman. Kamu bukan lagi gadis kecil yang tersesat di rumah dinas, Alisa. Kamu ksatria yang sedang melakukan ekspedisi ke duniamu sendiri."
Persiapan keberangkatan itu menjadi proyek kecil bagi seluruh penghuni markas. Para ibu-ibu persit (Persatuan Istri Tentara) membawakan Alisa oleh-oleh khas daerah untuk dibawa ke Jakarta, sementara Damar sibuk menyiapkan segala kebutuhan teknis. Di sela-sela kesibukan itu, Cakra memberikan sebuah kotak kecil kepada Alisa pada malam sebelum ia berangkat. Isinya adalah sebuah pulpen logam yang berat dengan ukiran inisial nama Alisa. "Gunakan ini untuk menandatangani buku-bukumu di sana. Ingat, meskipun kamu di Jakarta, pangkalanmu tetap di sini. Ayah menunggu laporan kesuksesanmu," kata Cakra.
Saat hari keberangkatan tiba, Alisa berdiri di depan jip yang akan membawanya ke bandara terdekat. Ia melihat Cakra berdiri tegap di depan barisan prajuritnya. Ayahnya tidak memeluknya di depan umum, tapi tatapan matanya bicara lebih banyak dari ribuan kata. Cakra memberikan hormat militer saat jip mulai bergerak, sebuah tanda penghormatan bukan hanya kepada putrinya, tapi kepada seorang profesional yang sedang menjalankan misinya. Alisa melambai dari jendela, menatap sosok Ayahnya yang semakin mengecil di tengah debu tanah merah.
Di Jakarta, Alisa merasa seperti alien yang baru turun dari pesawat. Kebisingan kota, gedung-gedung tinggi, dan kerumunan orang membuatnya sedikit kewalahan. Namun, setiap kali ia merasa gugup, ia meraba pulpen pemberian Cakra di dalam tasnya. Di atas panggung festival, di hadapan ratusan pembaca dan kritikus sastra, Alisa bicara dengan tenang. Ia tidak lagi gagap. Ia menceritakan tentang bagaimana kesunyian di rumah dinas mengajarinya cara mendengar, dan bagaimana kerasnya disiplin militer membentuk keteguhan jarinya untuk terus mengetik.
"Ayah saya mengajarkan saya bahwa menyerah bukan pilihan bagi seorang prajurit. Saya rasa, hal itu juga berlaku bagi seorang penulis," ucap Alisa di akhir sesinya, yang disambut dengan tepuk tangan meriah. Damar yang menonton dari barisan belakang tampak mengacungkan jempol sambil sibuk merekam video melalui ponselnya. Video itu langsung dikirimkan ke grup percakapan batalyon, dan Alisa tahu, di belantara sana, Ayahnya sedang menontonnya dengan senyum bangga.
Malam harinya di hotel, Alisa menelepon Cakra melalui sambungan internet yang stabil. "Yah, acaranya lancar. Banyak orang yang suka bukunya," cerita Alisa dengan antusias. Cakra mendengarkan di seberang sana, suaranya terdengar hangat meskipun ada latar belakang suara radio panggil yang berisik. "Ayah sudah lihat videonya. Kamu hebat, Nak. Kamu bicara seperti seorang komandan di panggung sastra. Damar bilang kamu tidak gemetar sama sekali."
Percakapan itu berlangsung lebih lama dari biasanya. Alisa menyadari bahwa fisik mereka mungkin terpisah ribuan kilometer, tapi jiwa mereka kini berada di frekuensi yang sama. Alisa bukan lagi anak yang merasa terbuang, dan Cakra bukan lagi ayah yang merasa gagal. Novel itu telah benar-benar menjadi jembatan yang menghubungkan dunia militer yang kaku dengan dunia sastra yang penuh rasa. Alisa menyadari bahwa ia tidak perlu memilih salah satu; ia bisa menjadi keduanya.
Kepulangan Alisa dari Jakarta disambut seperti pahlawan yang baru kembali dari medan tempur. Di gerbang markas, para prajurit memberikan salam hangat. Joglo batalyon kini terasa lebih dari sekadar tempat menulis; itu adalah tempat ia menemukan jati dirinya kembali. Alisa duduk di kursinya, membuka laptop, dan mulai mengetik baris pertama untuk novel keduanya. Kali ini, ceritanya bukan lagi tentang duka, melainkan tentang perjalanan seorang ksatria yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Cakra datang membawa dua cangkir teh hangat, meletakkan satu di depan Alisa. Ia tidak bertanya kapan novel itu akan selesai, ia hanya duduk diam di samping putrinya sambil menikmati senja. Keheningan di antara mereka kini terasa padat dan berisi. Di tempat terpencil yang dulu ia benci, Alisa menemukan bahwa kebahagiaan sejati tidak butuh keramaian kota, melainkan hanya butuh satu orang yang benar-benar mengerti dan mendukung langkahnya. Dan orang itu, kini duduk dengan tenang di sampingnya, menjaga pangkalannya dengan penuh kasih sayang.