Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seusai Konflik Seblak: Antara Gamis Kaftan, Ngaji Sore, dan Canggung meja makan
Setelah perdebatan pagi tadi, Ning Hana di kamar belum juga keluar dan baru keluar setelah sholat Ashar, ia mandi lalu bersiap siap Menggunakan gamis kaftan, ia langsung membawa kitab untuk ngaji sore kitab salafiyah di masjid.
- (Ning Hana mengambil air wudhu dengan khusyuk, lalu mengenakan gamis kaftan yang anggun.)
- Ning Hana (berbisik): "Ya Allah, semoga Engkau memberikan ketenangan hati kepada hamba."
(Ning Hana berjalan menuju masjid dengan membawa kitab di tangannya.)
Setelah selesai ngaji ia kembali ke ndalem, sambil menunggu sholat Maghrib. setelah sholat magrib berjamaah di masjid pondok setelah itu kembali ke ndalem dan makan malam bersama keluarga ndalem, Ning Hana sangat canggung karena kehadiran Gus Rasel di meja makan itu tapi ia berusaha menepis rasa canggung itu karena tempat duduknya (kursi) bersebelahan dg Gus Rasel itu yg membuat Ning Hana sangat canggung.
- (Di ruang makan, semua anggota keluarga ndalem sudah berkumpul. Ning Hana duduk di kursi yang bersebelahan dengan Gus Rasel. Ia merasa sangat canggung dan berusaha menghindari tatapan Gus Rasel.)
- Abah Yai: "Mari kita mulai makan malam ini dengan membaca basmalah bersama."
- Semua: "Bismillahirrahmanirrahim."
(Saat makan, Ning Hana hanya mengambil sedikit nasi dan lauk. Ia makan dengan sangat pelan dan terus menundukkan pandangannya.)
Malam hari ini adalah malam pertama untuk Ning Hana karena Ning Hana sudah naik kelas menjadi kelas 5A di Diniyah dan kelas 5A/6A termasuk kelas unggulan, karena tidak semuanya bisa masuk dikelas unggulan itu. juga malam pertama kali Gus Rasel mengajar di kelas 5A, kelas istrinya, sedari tadi di ndalem Sampek mau berangkat ngajar Gus Rasel terus digodain keluarga ndalem (akung, uti, Abi Haikal, Gus Rama, Gus Wildan) karena ia mengajar di kelas istrinya sndiri.
- (Di ruang keluarga, Gus Rasel sedang bersiap-siap untuk mengajar. Akung, Uti, Abi Haikal, Gus Rama, dan Gus Wildan terus menggoda Gus Rasel.)
- Akung: "Rasel, jangan grogi ya nanti ngajar di kelasnya Hana."
- Uti: "Iya, Rasel. Jangan lupa kasih nilai yang bagus buat istrimu."
- Abi Haikal: "Jangan terlalu kaku, Rasel. Santai aja."
- Gus Rama: "Awas aja kalau berani marahin Hana di depan teman-temannya."
- Gus Wildan: "Jangan lupa pandang-pandangan sama istrimu ya."
- Gus Rasel (tersenyum malu): "Aduh, akung, Uti, Abi, Gus Rama, Gus Wildan. Jangan godain saya terus dong."
Gus Rasel mulai masuk ke dalam ruangan kelas 5A itu, semuanya kaget saat Gus Rasel memperkenalkan diri karena dirinya yg akan mengajar di kelas ini dan juga yg akan menggantikan Gus Wildan mengajar. Ning Hana juga sama kagetnya kenapa disaat ia baru naik kelas, Gus Rasel juga pindah ngajar ke pondoknya dan sekarang mengajar dikelasnya. Gus Rasel mulai mengajar dan disela sela mengajarnya biar para santri tidak mengantuk ia juga mengajak para santri lalaran nadhom aqidatul awwam. Gus Rasel selama mengajar selalu memandang Ning Hana sebagai istrinya secara diam diam dan tanpa sepengatahuan siapapun
- (Gus Rasel memasuki kelas 5A. Semua santri terkejut melihatnya.)
- Gus Rasel (tersenyum): "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, nama saya Gus Rasel. Mulai malam ini, saya akan menggantikan Gus Wildan untuk mengajar di kelas ini."
- (Ning Hana juga merasa sangat terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Gus Rasel akan menjadi gurunya.)
(Gus Rasel mulai mengajar dengan penuh semangat. Di sela-sela mengajarnya, ia mengajak para santri untuk lalaran nadhom Aqidatul Awwam.)
- Gus Rasel: "Ayo semuanya, kita lalaran nadhom Aqidatul Awwam bersama-sama."
- (Para santri mengikuti Gus Rasel dengan khidmat.)
(Selama mengajar, Gus Rasel selalu mencuri pandang ke arah Ning Hana. Ia mengagumi kecantikan dan kepintaran istrinya.)