Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16 - Kenyamanan Mila
"Itu... lagu favorit mendiang suami saya," ucap Oma Soimah pelan, suaranya sedikit bergetar namun tetap berwibawa. Beliau menatap Valen dengan pandangan yang jauh lebih lunak dari sebelumnya. "Kamu tahu dari mana?"
"Saya tidak tahu, Oma," jawab Valen jujur.
"Saya hanya memainkan apa yang menurut
saya cocok dengan suasana rumah ini yang penuh kehormatan."
Oma Soimah menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis—kali ini senyum yang tulus. "Kamu punya rasa, Valen. Bukan cuma otak yang pintar, tapi hatimu juga ada di tempat yang benar."
Oma beralih menatap Mila. "Mila, pembimbing kamu ini lulus ujian musik Oma. Tapi ingat, kalau Bab tiga tidak selesai tepat waktu, Keytar ini tidak boleh masuk ke rumah Oma lagi."
Mila tertawa lega.
"Siap, Oma!" Valen tersenyum.
Hari pun berlalu, sore menyapa. Saat Valen hendak pamit pulang, Mila mengantarnya sampai ke depan mobil.
"Makasih ya, Kak. Hari ini luar biasa banget. Aku nggak nyangka Oma bakal sesenang itu denger Kakak main musik," ucap Mila tulus.
Valen menyandarkan tangan di pintu mobilnya, menatap Mila dengan dalam.
"Apapun buat bikin 'Singa Betina' kasih lampu hijau, Mil. Dan yang paling penting, supaya kamu nggak stres ngerjain skripsi."
"Semangat buat persiapan sidang akhirnya ya, Kak. Aku doain lancar," tambah Mila malu-malu.
Valen tersenyum, lalu masuk ke mobilnya. "Sampai ketemu besok pagi jam delapan, Tuan Putri. Siapkan mental buat Bab tiga!"
"Iya, Kak." Mila tersenyum dan tangannya melambai hingga mobil Valen pergi tak terlihat lagi oleh netranya.
Setelahnya Mila masuk dan mendapati Tante Dewi di sana.
"Mila, seneng banget kelihatanya. Kamu suka ya sama Valen," goda Tante Dewi.
Mila yang ditanya malah celingukan ke dalam mencari sang Oma.
Tante Dewi yang menyadari itu pun kembali buka suara, "Oma kamu lagi istirahat, Sayang, sini duduk di samping Tante."
Mila pun tersenyum dan segera duduk di sebelah Tante Dewi, setelahnya berkata, "Sebenernya Mila juga bingung dengan perasaan Mila. Dibilang udah suka sih belum, tapi kalau dibilang nyaman, udah nyaman banget Mila ini."
"Tante tau, Sayang, Tante kan juga pernah Muda." Dewi terkekeh. "Menurut kamu Valen gimana?"
"Mila sih belum kenal jauh ya, Tante, tapi dari bimbingan tadi itu, Mila bener-bener dapat kenyamanan yang berbeda, Tante," jawab Mila membuat keduanya melempar senyuman.
Mila memang sedari dulu lebih nyaman curhat ke tantenya itu, karena dibalik tantenya yang lembut, dia juga tidak membocorkan informasi dari Mila ke Oma Soimah.
_______
Dua minggu telah berlalu sejak makan malam pertama yang penuh intimidasi itu. Selama empat belas hari ini, hubungan Valen dan Mila berkembang sangat pesat. Bahkan kini sudah masuk bab 5 Mila hampir rampung berkat bimbingan intensif Valen di Wangsa Cafe, dan Valen sendiri sudah berada di titik puncak perjuangannya: besok adalah hari sidang akhirnya.
Malam itu, kediaman Hardianto terasa tenang. Mila berada di dapur bersama Bunda Selfi, sedang menyiapkan minuman hangat.
"Sudah nih, Sayang, bisa tolong diantarkan ke teras rumah?" ucap Bunda Selfi.
"Oke, Bunda Sayang."
Sementara itu, Valen baru saja meletakkan Keytar-nya di ruang tamu setelah menghibur si kecil Leshia. Di sudut lain, Robi, April, Tasya, dan Mutia sedang asyik berbincang pelan, sesekali melirik ke arah teras rumah. Mereka adalah empat orang yang memegang rahasia besar itu.
Tante Lesti, Om Billar dan Tante Dewi tampak sedang mengobrol di ruang tengah bersama Levian yang bermain dengan papanya.
Tepat di teras rumah, Papa Fildan dan Ayah Faul duduk berdua, merasa aman karena anak-anak tampak sibuk sendiri.
"Fildan, besok Valen sudah sidang akhir," ucap Ayah Faul pelan namun penuh kepastian.
"Kurasa setelah dia sah jadi sarjana, ini waktu yang tepat untuk kita umumkan soal perjodohan mereka. Janji kita belasan tahun lalu untuk menyatukan keluarga Adiwangsa dan Hardianto akhirnya menemui titik terang."
Papa Fildan tersenyum, mengangguk setuju.
"Iya, Faul. Mereka terlihat sangat serasi. Janji masa lalu kita tidak sia-sia."
Tanpa mereka sadari, Oma Soimah berdiri tepat di balik tirai pintu beranda. Wajahnya yang semula tenang seketika mengeras. Di sisi lain, Mila yang baru saja hendak mengantar nampan teh membeku di ambang pintu dapur, sementara Valen yang baru berdiri dari sofa terdiam kaku. Langkah mereka terhenti oleh satu kata yang menyakitkan: Perjodohan.
"Apa yang kalian bicarakan?" suara Oma Soimah menggelegar, memotong keheningan malam dan yang mengejutkan semua orang.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya, Guys
Love you All ❤️