NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sama seperti ibunya

Hari ini entah mengapa rasanya begitu melelahkan dari biasanya. Dirga menghabiskan waktunya berjam-jam di kantor, mengurus semuanya hingga ia benar-benar merasa pusing sendiri.

Mahargabhi—restoran yang kini ia pegang dan urus itu memang cukup menguras tenaga. Sebagai restoran nomor satu di Indonesia, jelas Dirga harus memutar otak untuk mengatur strategi untuk mempertahankan posisi bisnisnya itu.

Dirga harus memikirkan bagaimana caranya agar ia tak tersingkirkan di gempuran kreativitas para pesaingnya yang semakin maju.

Itulah mengapa kini sore-sore begini Dirga termenung di kursi putar besarnya, menatap ke arah kaca besar yang menghadap ke arah kota dan bangunan-bangunan pencakar langit.

Tapi selain Mahargabhi, sepertinya sosok nona pengganti juga ikut menghantuinya.

Dirga mengingat kata-kata yang ia lontarkan kemarin malam kepada Hita dengan amarah yang menguasai. Ia mulai merasa tak nyaman dengan ucapan kasarnya yang kali ini ia anggap berlebihan.

Tapi semua hal membuat Dirga tak waras kemarin.

Pertama, kemarin ia mengetahui kenyataan pahit bahwa wanita yang teramat ia cintai ternyata memasuki hotel dengan sosok pria asing tepat di hari seharusnya mereka menikah.

Dan yang selanjutnya, pemandangan kedekatan Bram dan Hita juga semakin menyulut amarah Dirga yang memang sudah berapi-api. Tapi untuk masalah yang satu ini cukup tidak masuk akal. Mengapa ia harus semarah itu melihat Hita dan Bram?

Apakah ia sebegitu kejamnya? Apakah ia terlalu berlebihan?

Bahkan pagi tadi Hita bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit. Perempuan itu tidur di lantai tanpa alas ataupun selimut dan bantal, begitu menurut dengan perintah Dirga.

Bahkan saat sarapan, perempuan itu juga tak mendongakkan kepala untuk sekedar menatapnya. Tapi memang Dirga sendiri yang memerintahkannya, kan?

Tanpa sadar tangan Dirga kini beralih membuka laptop, laki-laki itu selanjutnya tanpa sadar membuka sesuatu yang menghubungkan perangkat itu dengan CCTV di rumah besar Martadinata.

Hal yang kini ia pikirkan hanya satu—apa yang mungkin istrinya itu tengah lakukan sekarang. Apakah dia menangis? Mengurung diri? Atau mungkin merenung setelah mendengar ucapan kasarnya kemarin?

"Ya, seperti itu! Kakak cantik sekali!"

Yang pertama menyambut ialah suara Lian.

Dirga menggerakkan mouse, memperbesar area ruang tamu yang tersorot.

Di sana terlihat Lian dan Hita begitu akrabnya duduk di atas sofa ruang tamu yang terlihat nyaman. Dirga bisa melihat barang-barang aneh yang berserakan di atas meja kaca—barang-barang yang hanya perempuan mengerti.

Dirga menyandarkan punggungnya pada kursi, matanya memperhatikan interaksi keduanya.

"Apa benar seperti ini? Tapi kenapa seperti topeng, ya?"

Senyum tipis terukir di wajah Dirga begitu melihat raut bingung Hita saat membenarkan posisi masker yang menempel di wajahnya. Ia tak menyadari reaksinya itu.

"Ck, ini bukan topeng, kak! Ini namanya masker!"

"Masker? Tapi kenapa seperti ini? Bukanya masker itu biasanya dipasangkan di mulut, ya?"

"Itu masker jenis lain, Kak Pramahita...."

Sudut bibir Dirga berkedut tatkala menahan senyum. Lian terlihat gemas sendiri pada kepolosan Hita yang entah harus disebut bodoh atau murni.

Lian tampak mudah sekali akrab dengan Hita, begitu berbeda saat gadis itu bersama Loria.

Loria dan Lian benar-benar seperti musuh, bahkan keduanya saling menjelekkan dan menyindir saat berada di satu tempat yang sama. Dirga pikir itu normal, namun setelah melihat ini, sepertinya pemikirannya itu salah.

"Kalau begitu masker yang ini untuk apa?"

Pertanyaan Pramahita itu diikuti oleh tindakan polos yang mungkin tak disadari. Perempuan itu mengangkat bungkus masker wajah, membolak-balikkan bungkusan itu dan membaca tulisan yang tertera dengan mata yang menyipit.

"Untuk mencerahkan... dan... menenangkan kulit..."

Dirga tak bisa tak tertawa tatkala melihat bagaimana lucu dan menggemaskannya perempuan itu saat mencoba membaca tulisan kecil pada bungkusan.

"Iya, itu untuk mencerahkan dan menenangkan kulit. Kalau kakak menggunakan ini dengan rutin, wajah kakak pasti akan semakin cantik."

"Seperti kamu, ya?"

"Ya, benar sekali, seperti aku."

Dirga mendengus geli begitu mendengar ucapan adiknya yang begitu percaya diri.

Setidaknya tak percuma CCTV itu dipasang di rumah, begitu mahal hingga bisa menangkap suara dan gambar dengan jernih. Ini membuat Dirga bisa mengawasi kedua perempuan itu.

"Wah! Kalau seperti itu aku mau memakainya setiap hari agar aku bisa secantik dirimu!"

Lian tertawa, kepalanya menggeleng pelan saat mendengar ucapan Hita yang tampak begitu kagum dan bersemangat.

"Tapi kakak sudah cantik, cantik sekali malahan."

"Ah jangan berbohong seperti itu, Lian. Aku ini tidak cantik."

"Kenapa begitu? Aku tidak berbohong. Kakak cantik sekali, memiliki rambut panjang yang indah dan kulit yang mulus. Alis kakak juga lebat, bibir kakak juga merah seperti buah jambu"

"Karena banyak orang mengatakan itu."

"Mengatakan apa?"

"Mengatakan aku tidak cantik."

Senyum Dirga perlahan-lahan menghilang begitu mendengar ucapan Hita, dengan sengaja ia membesarkan volume suara laptopnya, memastikan ia tak melewatkan percakapan antara dua perempuan itu.

"Di rumah, biasanya mereka memuji Kak Loria yang cantik, sementara aku dibilang mirip dengan Ibu."

"Orang-orang di sana mengatakan bahwa ibu itu buruk rupa, seperti pel*cur berwajah anj*ng. Mereka juga mengatakan bahwa aku juga seperti itu, malahan mengatakan bahwa aku juga akan menjadi seperti ibu suatu saat nanti."

"Menjadi... apa?" tanya Lian hati-hati, tangannya berhenti membenahi posisi masker.

"Menjadi selingkuhan dan perusak rumah tangga orang lain. Itu kata mereka—"

Dirga buru-buru menutup laptopnya begitu mendengar ucapan perempuan polos yang kini berstatus sebagai istrinya, membiarkan ucapan Hita terpotong begitu saja saat laptop mati.

Ada sesuatu yang membuatnya terusik saat mendengar Hita berkata seperti itu pada dirinya sendiri.

Bagaimana bisa Hita setenang itu?

Bagaimana bisa perempuan itu mengatakan kata-kata seperti itu dengan begitu santainya? Seolah-olah itu... bukan hal yang menyakitkan?

Dirga mencoba menenangkan tubuhnya yang tiba-tiba menegang, kembali menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap langit yang mulai gelap.

Dirga jadi membayangkan bagaimana Hita diperlakukan di rumahnya sendiri, di kediaman Wijaya yang begitu besarnya.

Perempuan itu benar-benar disembunyikan, bahkan diperlakukan lebih buruk dari pelayan.

Bahkan kini ia memperlakukan Hita dengan buruk juga, kan.

Loria sendiri sering menceritakan bagaimana buruknya Hita, mulai dari ibu perempuan itu yang merupakan selingkuhan ayahnya, hingga bagaimana seharusnya Hita tak pernah dilahirkan di dunia.

Dirga jelas mengerti bagaimana jika berada di posisi Loria, dan ia juga membenci kehadiran Hita di kehidupan wanita yang begitu dia cintai.

Bagaimana sekiranya rasa sakit hati yang dialami oleh ibu Loria dan Loria begitu mengetahui bahwa Arseno berselingkuh?

Dirga setuju bahwa seharusnya Pramahita tak dilahirkan dunia, karena perempuan itu akan hanya memberi luka pada orang lain yang tak memiliki salah apa-apa seperti Loria dan ibunya.

Perempuan itu memang sama seperti ibunya.

Apapun yang dialami oleh Hita sekarang, entah sikap dingin Dirga ataupun segala macam cobaan yang menimpa perempuan itu Dirga anggap memang pantas didapatkan.

Itu adalah karma, karma yang memang seharusnya perempuan itu tanggung.

Tapi jauh dari itu, ada sesuatu yang diam-diam muncul di hati Dirga, sesuatu yang seharusnya tak pernah ada. Sesuatu yang muncul setelah melihat langsung bagaimana perempuan itu berucap.

Secercah empati.

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
Liaramanstra: author usahakan ya kak🤍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!