NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Bab 16: Di Ambang Beku.

​Detik-detik seolah melambat saat Alaska menatap kapal tanker tanpa awak itu meluncur deras menuju tangki bahan bakar pulau. Cahaya merah dari indikator bom di kapal itu berkedip seperti mata iblis yang haus nyawa. Alaska tahu, sistem pertahanan canggihnya telah disabotase dari dalam. Tidak ada waktu untuk menembak, tidak ada waktu untuk melarikan diri ke dermaga seberang.

​"Bara! Semuanya terjun ke laut! Sekarang!" teriak Alaska melalui pemancar di kerah bajunya.

​Ia berbalik, menyambar tubuh Sania yang masih terbalut mukena putih. Tanpa menunggu jawaban, Alaska menerjang jendela kaca besar di lantai dua vila tersebut.

​PRANG!

​Pecahan kaca berkilauan tertimpa cahaya bulan saat mereka melayang di udara. Alaska memeluk Sania dengan posisi melindungi, punggungnya menghadap ke bawah.

​BOOM!!!

​Ledakan dahsyat mengguncang fondasi Pulau Nirvana tepat saat tubuh mereka menghantam permukaan air laut yang sangat dingin. Gelombang panas dari ledakan itu menjilat permukaan air, menciptakan uap panas yang menyesakkan, sementara tekanan udara melemparkan mereka lebih dalam ke dalam kegelapan samudera.

​Lautan yang Menelan Segalanya.

​Air laut di sekitar pulau itu bukanlah air tropis yang hangat. Arus bawah laut yang masuk dari palung terdalam membuat suhunya mampu membekukan sumsum tulang dalam hitungan menit.

​Di bawah air, dunia menjadi sunyi yang mematikan. Sania, yang tidak terlalu pandai berenang dengan benar, merasakan paru-parunya seperti diperas. Mukena dan gamisnya yang panjang dan berat karena air justru menjadi beban yang menariknya ke dasar. Ia mencoba menggapai ke atas, namun kegelapan laut terlalu pekat.

​Ya Allah... hanya itu yang sempat terlintas di benaknya sebelum oksigen terakhir di paru-parunya berubah menjadi gelembung-gelembung keputusasaan.

​Alaska muncul ke permukaan, terengah-engah. Ia menyapu pandangannya yang kabur karena air garam. Di belakangnya, Pulau Nirvana telah berubah menjadi bola api raksasa. Api membubung ke langit, menghanguskan semua teknologi dan kemewahan yang ia banggakan. Namun, Alaska tidak peduli pada vila jutaan dollarnya.

​"Sania!" teriaknya.

Suaranya hilang ditelan suara gemuruh sisa ledakan.

​Ia melihat sehelai kain putih yang perlahan tenggelam beberapa meter darinya. Tanpa ragu, Alaska menghirup napas dalam dan menyelam kembali. Di dalam air yang sangat dingin itu, otot-ototnya mulai kaku, namun amarah dan rasa takut kehilangan memberinya energi tambahan. Ia menyambar pinggang Sania, menarik wanita itu ke permukaan dengan sisa-sisa kekuatannya.

​Perjuangan Melawan Beku.

​"Bernapaslah, Sania! Bernapas!" Alaska berteriak saat mereka berhasil muncul kembali.

​Sania terbatuk hebat, mengeluarkan air laut dari mulutnya. Napasnya tersengal-sengal, pendek dan berat. Wajahnya yang tertutup cadar basah membuatnya semakin sulit untuk menghirup oksigen. Tubuhnya gemetar hebat (tremor) akibat syok suhu dingin yang ekstrem.

​"Ding... dingin..." rintih Sania lirih.

Suaranya nyaris tidak terdengar di antara deburan ombak yang kini menjadi liar akibat ledakan.

​Alaska memeluknya erat, mencoba membagikan panas tubuhnya sendiri. Mereka terombang-ambing di atas sebuah puing kayu besar, sisa dari dermaga yang hancur.

​Satu jam berlalu. Bagi Alaska, itu terasa seperti satu abad di neraka yang membeku. Laut Jawa yang biasanya tenang kini seolah ingin menguji nyawa sang mafia. Alaska terus bergerak, kakinya mengayuh air agar mereka tetap terapung di atas kayu, sementara tangannya mendekap Sania yang kian lama kian tak berdaya.

​"Tetap bangun, Sania. Jangan tutup matamu. Itu perintah!" bentak Alaska, namun suaranya sendiri bergetar karena kedinginan.

​Sania menatap Alaska dengan mata yang mulai sayu. Cahaya api dari kejauhan terpantul di matanya, tapi tak ada lagi binar kehidupan di sana. Tubuhnya berhenti gemetar—tanda bahwa hipotermia telah mencapai tahap kritis di mana tubuh sudah menyerah untuk memanaskan diri.

​"Tu...an... Al...aska..."

​Kepala Sania terkulai di dada Alaska. Tangannya yang semula memegang kemeja Alaska kini jatuh lemas ke dalam air.

​"Sania? Sania! Buka matamu!"

Alaska mengguncang bahu istrinya. Tak ada respon. Denyut nadinya terasa sangat lemah dan lambat, seolah detak jantung itu sedang bersiap untuk berhenti selamanya.

​Dilema Sang Naga.

​Alaska berhasil mencapai sebuah gosong pasir kecil yang tak jauh dari lokasi ledakan. Ia menyeret tubuh Sania ke daratan yang lebih stabil. Di bawah cahaya bulan yang pucat, Sania tampak seperti mayat yang indah namun membeku.

​Alaska jatuh berlutut di sampingnya. Ia panik. Sebagai mafia, ia tahu cara mengobati luka tembak, ia tahu cara mematahkan leher musuh, tapi ia tidak tahu cara menyelamatkan seseorang yang "padam" karena kedinginan.

​"Sial! Sialan!"

Alaska mengumpat keras, memukul pasir dengan tangannya.

​Ia harus memberikan napas buatan. Ia harus memastikan jalan napas Sania tidak terhambat oleh kain basah itu. Tangannya bergerak menuju ikatan cadar di belakang kepala Sania. Namun, gerakan tangannya terhenti tepat di atas simpul kain itu.

​Bayangan kata-kata Sania beberapa hari lalu terngiang seperti guntur di kepalanya:

“Cadar ini adalah pelindung martabat saya... sampai Anda melihat saya sebagai manusia, bukan sebagai aset.”

​"Jika aku membukanya sekarang, kau akan membenciku, bukan?" gumam Alaska dengan napas yang memburu.

​Ia berada dalam dilema yang menyiksa. Jika ia tidak membuka cadarnya, ia tidak bisa melakukan resusitasi dengan maksimal. Jika ia membukanya, ia merasa telah mengkhianati prinsip wanita yang mulai ia hormati itu.

​"Argh!!! Persetan dengan martabat jika kau mati!" teriak Alaska frustrasi.

​Namun, tepat saat jemarinya akan menarik kain itu, ia melihat tasbih kayu yang masih melingkar erat di pergelangan tangan Sania. Bahkan dalam keadaan pingsan, jemari Sania seolah masih memegang butiran-butiran itu.

​Alaska berhenti. Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada api untuk menghangatkan, tidak ada bantuan yang datang. Hanya ada kegelapan dan kesunyian. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alaska merasa benar-benar tidak berdaya. Semua senjatanya ada di dasar laut. Semua anak buahnya entah di mana.

​Ia kembali mendekap tubuh kaku Sania, membungkusnya dengan tubuhnya sendiri yang juga basah, mencoba menyalurkan setiap derajat suhu tubuh yang ia miliki ke kulit dingin Sania.

​"Jangan mati... kumohon," bisik Alaska di telinga Sania yang tertutup hijab. Suaranya pecah.

"Aku belum siap melihatmu menghadap Tuhanmu. Aku belum siap tinggal di dunia ini sendirian dengan semua dosa ini."

​Alaska mengumpat lagi, mengutuk Dante, mengutuk dirinya sendiri, mengutuk takdir yang membawanya ke titik ini. Ia terus memijat tangan dan kaki Sania dengan kasar, berusaha melancarkan aliran darah istrinya.

​Bayangan yang Mengintai.

​Dari kejauhan, di atas sebuah perahu karet hitam yang bergerak senyap tanpa lampu, sepasang teropong malam memantau mereka.

​"Dia masih hidup, Tuan," lapor seorang pria ke radio komunikasi. "Bersama wanitanya di sebuah gosong pasir. Mereka tampak sekarat."

​Suara Dante terdengar melalui earpiece, dingin dan penuh kemenangan.

"Biarkan dingin yang menyelesaikannya. Tapi jangan lepaskan pandangan kalian. Jika dia masih bernapas saat matahari terbit, habisi dia. Aku ingin Alaska mati dengan melihat wanitanya membeku terlebih dahulu."

​Di atas pasir yang dingin, Alaska tidak tahu bahwa maut masih mengintai dari kegelapan laut. Ia hanya terus memeluk Sania, berbisik pada wanita yang tak sadarkan diri itu, seolah kata-katanya bisa menjadi nyawa tambahan.

​"Sania, bangun... Kau bilang kau ingin melihatku berubah, bukan? Kau tidak bisa pergi sebelum melihat itu terjadi!"

​Malam itu, di sebuah pulau karang yang sunyi, sang Mafia yang ditakuti dunia sedang menangis tanpa air mata, bertarung melawan alam demi sepotong nyawa yang ia culik, namun kini justru menjadi pusat dari seluruh dunianya.

__Tuhan tidak mematahkan hatimu untuk menghancurkanmu. Dia mematahkannya agar cahaya-Nya bisa masuk melalui celah-celah retakan itu. Terkadang, kita harus kehilangan segalanya untuk menyadari bahwa satu-satunya yang benar-benar kita miliki hanyalah napas yang diberikan-Nya secara gratis__

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!