NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 Festival Akhir Tahun

Malam semakin larut aku sampai tepat di depan rumah, udara dingin terasa begitu mencengkram kulit.

Aku lihat ibu tampak sedang bersandar di bangku, sedangkan ayah tengah mengasah arit untuk berladang besok.

Aku segera menghampiri ibu, mencoba bertanya mengenai apa yang akan kami jual ketika festival akhir tahun nanti.

Ibu menunjuk sudut bibirnya, menatap ke langit-langit memikirkan jawaban dari pertanyaanku, "Hmm... iya ya, sudah makin dekat ya, festival akhir tahunnya."

Aku melompat kecil, mengepalkan tangan di depan dada "iya buk, kalau waktu aku masih di kota, ibu sama bapak buat apa?"

Ibu tertawa kecil melihat antusiasmeku, tawa yang pelan dan hangat seperti kain tipis yang menutup dingin malam.

Ia mengusap lututnya, lalu menoleh ke arah bapak yang masih sibuk mengasah arit dengan gerakan teratur.

*srek… srek… srek* ritme yang kerap membuat halaman rumah terasa canggung.

"Waktu kamu masih di kota…" Ibu mulai, suaranya pelan, seperti sedang membuka lembaran lama, "kita nggak jual apa-apa, Mir."

Aku mengerjap. "Lho? Kok, nggak?"

Bapak berhenti mengasah aritnya. Ia menoleh sebentar, lalu kembali ke pekerjaannya.

"Kita gak panen apa-apa" katanya tanpa menatapku. "Selama kamu di luar, bapak cuma fokus sama jati, panen karet pun gak cocok buat festival."

Aku terdiam sebentar, "Terus… tahun ini gimana pak?" tanyaku pelan.

Bapak, bangkit tanpa jawaban, meninggalkan kami berdua.

Pandangan mata ibu mengikutinya, seolah mencoba membaca sesuatu dari punggung bapak yang mulai menjauh.

Suara langkahnya pelan, tapi ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Pintu belakang digeser perlahan, lalu tertutup dengan bunyi duk yang pendek.

Aku menelan ludah. "Buk… bapak kenapa?"

Ibu menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepala, ibu berbisik "Sebenernya bapakmu mau banget ikut festival, cuma dia bilang kalo kita gak punya apa-apa."

"Lagian, siapa suruh tanam jati sama karet." Terus ibu, bergumam.

Ibu mengucapkannya sambil tersenyum miris, tapi aku bisa melihat jelas ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keluhan kecil.

Kalimat itu jatuh ringan, namun meninggalkan perasaan yang anehnya, membuat halaman rumah terasa lebih sunyi.

Aku menatap pintu belakang yang baru saja ditutup bapak. Ada sesuatu di sana, bukan marah, bukan kecewa. Lebih seperti rasa malu yang ia sembunyikan dengan diam.

Ibu merapatkan selendangnya, lalu menatapku dengan mata yang lembut namun lelah. "Bapakmu itu orangnya keras kepala," katanya pelan.

"Kalau dia merasa nggak bisa nyumbang apa-apa buat desa, dia langsung ngerasa dirinya nggak berguna."

Aku mengerutkan kening. "Ya gimana? Bapak mau ikut jualan di festival, tapi gak punya panen."

Ibu mengangguk, tapi wajahnya tetap muram. "Padahal buat bapakmu, festival itu cara nunjukin kalau dia masih bisa ikut bangun desa. Masih bisa kasih sesuatu. Beberapa tahun ke belakang, pasti bapak ngerasa... Kosong."

Aku menunduk. Menyadari kalau, kami bertiga rupanya sedang menghadapi kekosongan masing-masing.

Ibu melanjutkan, suaranya lebih pelan, seolah takut didengar angin malam. "Waktu kamu di kota, bapak cuma fokus sama jati. Itu pun belum waktunya tebang. Karet juga lagi jelek harganya. Jadi tiap festival… ya kita cuma datang, bantu-bantu, terus pulang."

Aku menatap ibu. "Terus bapak sedih gak, buk?"

Ibu tersenyum kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Bapakmu itu… kalau sedih, dia nggak nangis. Dia kerja. Dia ngasah arit, dia bersihin kandang, dia naik ke bukit. Itu cara dia ngelawan rasa nggak berguna."

Aku menelan ludah. Tiba-tiba suara bapak mengasah tadi terasa seperti suara seseorang yang sedang menahan sesuatu.

Ibu menepuk pahaku lembut. "Tapi kamu pulang tahun ini. Itu aja udah bikin dia ngerasa punya sesuatu."

Aku menoleh cepat. "Aku? Lah aku kan gagal bu bertahan di kota."

Ibu langsung menoleh padaku, cepat, seolah kata gagal itu adalah sesuatu yang tidak boleh dibiarkan jatuh begitu saja ke tanah.

Ia menggeleng pelan, tapi tegas. "Jangan ngomong gitu, Mir."

Aku membuka mulut hendak lanjut berbicara, tapi ibu mengangkat tangan, meminta aku mendengarkan terlebih dulu.

"Kamu pulang bukan karena gagal," katanya, suaranya lembut tapi penuh keyakinan. "Kamu pulang karena kamu butuh rumah. Jadi, ibu dan bapak bakalan terus nerima kamu, apa pun yang terjadi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!