Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memburu Rivaldo - 2
Rio sudah sampai di rumah ketika ia melihat sepasang sepatu Rani terletak rapi di samping pintu. Rumah itu tidak besar, namun terasa hangat dengan lampu kuning lembut dari ruang tengah. Pintu masuk terbuka sedikit, seakan menyambutnya pulang.
“Aku pulang..” ucap Rio sambil menjejakkan kaki ke dalam. Aroma masakan langsung menyapa hidungnya, dan Rani sudah berdiri di meja makan sambil menata piring.
“Kamu sudah datang. Ayo makan.” Rani tersenyum tipis, nada suaranya lembut dan sedikit lelah, seperti seseorang yang sudah menjalani hari panjang tetapi tetap ingin memastikan orang lain nyaman.
Rio mengangguk sambil melepas seragamnya.
“Iya, aku ganti baju dulu.” Ia masuk ke kamar, mengganti pakaian dengan kaos biru, lalu kembali ke meja makan. Mereka makan dalam suasana tenang, hanya suara sendok dan garpu yang mengisi ruang.
“Apa tanganmu tidak sakit?” tanya Rani tanpa menatap langsung, tapi jelas kekhawatiran itu ada di suaranya.
“Sudah tidak…” Rio tersenyum kecil, mencoba terlihat setenang mungkin. “Ini akan sembuh.”
Setelah makan, Rani berdiri sambil menutup mulut menguap pelan.
“Aku tidur duluan…” katanya, langkahnya sedikit goyah karena mengantuk.
Rio hanya mengangguk dan menatapnya masuk ke kamar. Ketika rumah kembali sepi, Rio masuk kamar mandi dan membuka perban di kedua tangannya. Bekas luka samar terlihat di kulitnya, tidak sakit, hanya meninggalkan jejak masa lalu. “Sudah menghilang… tapi masih membekas,” gumamnya.
Rio kembali ke kamar dan mulai berlatih. Push-up, sit-up, diulang sampai mencapai seratus. Nafasnya tersengal, tubuhnya panas, dan keringat menetes ke lantai.
“Ini malah menyakitkan…” keluhnya, wajahnya kembali memancarkan kemalasan Rio. Tapi ia tetap bangkit, mandi, lalu menyalakan ponselnya. Sudah pukul 22.07.
“Latihan lagi,” batinnya. Ia membuka video teknik bertarung, memilih tinju dan taekwondo.
“Mudah sekali, aku hanya melihatnya satu kali dan bia mengingatnya dengan jelas.” Rio mempraktikkan gerakan itu saat malam .
jab cepat diikuti tendangan lurus, lalu hook dan tendangan memutar. Gerakannya kasar tapi penuh tekad. Ia berlatih hingga tubuhnya benar-benar menyerah dan akhirnya tertidur tanpa sadar.
...----------------...
Pagi harinya, Rio berjalan ke sekolah sambil menyeret langkah seperti zombie.
“Aku mengantuk…” gumamnya. Tangan yang dulunya diperban kini terlihat pulih, hanya menyisakan goresan kecil. Ia melihat sosok di depan.
“Riko!!” panggilnya. Riko menoleh dan berhenti.
“Kau terlihat lemas.” kata Riko, Rio mengangkat tangan ke atas sambil meregangkan tubuh.
“Aku latihan semalaman.” Riko membalas dengan gaya percaya diri yang agak dipaksakan.
“Aku juga berlatih, tau.” dia memamerkan tubuh dan otot nya yang besar Wajahnya sok keren, tapi malah terlihat seperti orang yang habis ketindihan bantal.
Rio hanya meliriknya sambil berpikir, “Kenapa dia?”
Dari depan lorong, Eliza muncul. Begitu melihat dua pria yang tampak seperti habis dihajar kehidupan, ia mendekat dengan langkah cepat. “Kenapa dia…” pikir Eliza sambil memandang Riko yang masih mencoba terlihat gagah.
“Ayo berjalan bersama…” ajaknya tenang. Mereka berjalan bertiga hingga sampai gerbang sekolah, di mana Kris dan Arya sudah menunggu.
“Hey Rio, aku sudah dengar tentang kejadian kemarin kau keren sekali,harus nya aku yang ber ada di sana !” Kris terlihat sangat bersemangat, matanya bersinar seperti menemukan berita nasional. “Aku akan membuat topik yang menarik!” Arya menepuk bahu Rio. “Kau keren. Semoga berhasil. Aku tunggu di ruang klub nanti.”
Di lorong sekolah, Eliza kembali bertanya dengan nada penuh kekhawatiran.
“Tanganmu tidak apa-apa?” Rio langsung mengangkat kedua tangannya seperti memamerkan trofi.
“Lihat. Tidak ada luka.” Ia tersenyum bangga. Riko, Eliza, Kris, dan Arya hanya menahan tawa kecil. Setelah itu mereka berpisah, menyisakan Rio dan Eliza yang satu kelas. Begitu masuk kelas, suara bisik-bisik langsung muncul.
“Lihat itu… dia beneran mau datang?” suara perempuan yang berbisik bisik
“Arogan banget.” perempuan lainya menimpali
“Paling tumbang sekali pukul.”
“Atau malah gak berani muncul.”
Rio menghela napas dalam hati.
“Biarkan.” Ia tahu kalau ia terpancing marah, hal buruk akan terjadi. Bukan pada mereka… tapi pada dirinya sendiri.
“Sudah, sudah!!” guru masuk dan kelas langsung diam.
Ketika bel istirahat berbunyi, Rio dan Eliza berjalan menuju ruang klub. Begitu pintu dibuka, mereka melihat Kris, Riko, dan Liam yang sudah menunggu. “Kalian cepat sekali, padahal baru saja bel.”
Mereka berlima duduk mengelilingi meja kayu ruang klub, dengan kertas-kertas, botol minum, dan udara tegang yang menggantung seperti awan sebelum hujan.
Kris duduk paling depan, tubuhnya condong sedikit ke depan, wajahnya berbeda dari biasanya. Tidak ada senyum nakal, tidak ada semangat memanas kan drama . Hanya ketenangan yang seperti pisau sudah dihunus.
“Jika menurut pengamatanku… sebaiknya kau tidak usah ikut,” katanya pada Eliza. Suaranya datar, jelas itu bukan candaan.
Eliza langsung membelalak.
“Hah? Kenapa memangnya? Bukannya kalian sudah setuju?” Nada suaranya naik, bukan marah, tapi lebih seperti seseorang yang merasa didorong menjauh dari sesuatu yang penting.
Kris tidak menjawab lagi, hanya mengalihkan pandangannya. Jawabannya memang terlalu jelas, tempat Rivaldo berada bukan tempat aman untuknya.
Liam menguap panjang sambil bersandar pada kursi. “Benar juga… lebih baik kau pulang,” katanya setengah tidur. Ia terlihat seperti orang yang bisa ketiduran bahkan ketika dunia meledak di belakangnya.
Eliza menatap Rio, mencari penolong terakhir.
“Bagaimana ini Rio?” Rio menunduk menatap meja, jari-jari tangannya saling menggenggam. Ia tidak menemukan kata-kata, padahal wajah Eliza penuh harap.
“Jujur saja… aku setuju dengan mereka…” ujarnya akhirnya, pelan, seperti seseorang yang baru saja menusuk perasaan orang lain tanpa sengaja. Eliza terdiam, lalu menarik nafas yang terdengar patah.
“Bahkan kau juga…” Ia mencoba tersenyum, tapi suaranya gemetar. “Aku tahu aku akan jadi beban… tapi kalau aku sendirian…”
Dan barulah mereka sadar. Selama ini Eliza selalu berjalan pulang sendirian. Selalu mengurus dirinya sendiri. Tidak ada yang menunggu, tidak ada yang menjemput. Itu bukan tentang keberanian. Itu tentang kesepian, bahkan temannya hanya lah kepalsuan. dan Rio merasakannya seperti melihat dirinya sendiri melalui cermin masa lalu. Kesendirian itu familiar.
Liam tiba-tiba mengangkat tangan kanannya tanpa membuka mata.
“Jika kau takut sendirian, aku akan mengantarmu pulang.” Ucapannya ringan seperti angin, tapi tulus.
Eliza menatapnya dengan ragu. “Apa kau bisa menjamin aku aman?” suaranya kecil, tapi jelas.
Rio mengangguk tipis. Dalam pikirannya, semuanya masuk akal." Jika dengan Liam, Eliza pasti aman. Liam juara Taekwondo."begitu pikirnya.
“Aku menjamin itu,” kata Rio dengan yakin.
Liam tersenyum kecil, masih dengan mata setengah tertutup.
“Terima kasih…” katanya pada dirinya sendiri, bahagia karena dipercaya. Lalu, seperti makhluk hibernasi, ia langsung tidur lagi dalam tiga detik. Riko menatapnya seperti melihat alien.
“Apa dia cuma tidur saja?” Wajah Riko benar-benar kosong seperti lembar kertas kosong.
Kris hanya menepuk meja pelan. “Oke. Mengamankan Eliza telah selesai.” Bibirnya terangkat sedikit, jelas ia sudah menyiapkan langkah ini dari awal.
Itu bukan tentang menyingkirkan Eliza. Ini bagian dari strategi. Semakin sedikit fokus Rio terbagi, semakin besar peluang kemenangannya.
Kris tersenyum, Tatapannya tajam seperti seseorang yang sudah menyiapkan rencana jauh sebelum Rio sendiri memutuskan untuk balas dendam.
“Rencana selanjutnya adalah membuat Rio dan Rivaldo hanya berdua. Ini cukup mudah, kita tinggal menghabisi para eksekutifnya,” katanya. Ucapan itu meluncur begitu ringan, padahal isinya seperti pengumuman operasi penyergapan.
Riko mengangkat tangan seperti murid yang baru bangun tidur saat ujian.
“Apakah memang bisa?” tanyanya dengan wajah datar, ekspresi yang sulit dibedakan apakah dia serius atau sekadar bingung.
Kris langsung menatapnya seperti seseorang yang menemukan bug di dunia nyata. “Apa kau sebodoh ini? kita bisa menggunakan tubuh mu?” katanya, nadanya naik, kesal dengan kepolosan Riko yang kadang menjengkelkan, kadang malah menyelamatkan situasi.
Kris melanjutkan rencananya.
"Intinya begini.. Kita bisa menggunakan Riko, dia cukup kuat,” Riko langsung berubah. Matanya bersinar seperti lampu panggung, dan ia duduk lebih tegak.
“Ya… itu benar, aku cukup kuat.” Semangatnya meledak begitu saja, jika dia di bilang kuat oleh orang lain,di dirinya yang aktif hanya kalau ada orang memuji kekuatannya.
Kris menutup wajah dengan satu tangan.
“Astaga… kenapa aku bersama orang seperti ini,” gumamnya sambil menunduk.
Di dalam kepalanya ia mungkin sedang mempertanyakan seluruh keputusan hidupnya, termasuk alasan kenapa ia masuk klub koran yang anggotanya setengahnya tidak waras. “Sial, dia bodoh sekali,” pikirnya, namun tidak diucapkan keras-keras.
Eliza menahan tawa kecil, Liam menggerakkan alisnya sedikit sebelum kembali setengah tidur, dan Rio cuma menatap mereka berdua dengan ekspresi antara pasrah dan terhibur.
Suasana serius yang sempat menekan kini buyar oleh kelakuan Riko, tapi justru itu yang membuat persiapan menjelang hari besar mereka terasa lebih manusiawi.
Walaupun adegannya penuh kekonyolan, rencana Kris jelas Rio harus bertarung tanpa gangguan. Para eksekutif Rivaldo bukan sekadar pengawal mereka adalah ancaman tambahan yang bisa merusak peluang Rio.
Perlahan, Kris kembali mengangkat wajahnya. “Baik. Walau agak merepotkan… rencana bisa jalan.”
Ruang klub kembali dipenuhi energi penuh gaya ketika Kris menyilangkan tangan dan berkata,
“Dan jika Riko tidak cukup, aku masih ada.” Nada suaranya seperti aktor yang baru selesai debut di panggung utama.
Ia bahkan mengangkat dagu sedikit, percaya diri berlebihan namun entah kenapa tetap cocok dengan dirinya. Rio menoleh, penasaran.
“Kau juga bisa bertarung?” tanyanya. Kris tersenyum seolah dunia memang sudah menunggu pertanyaan itu. “Pakai bertanya, tentu saja aku bisa menggunakan Capoeira.”
"Capoeira??... merupakan sebuah olahraga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an, dan Kris bisa melakukannya??." begitu pikir Rio
Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Pertarungan dalam capoeira biasanya diiringi oleh musik dan disebut Jogo. Atau bisa juga dengan beat musik di dalam pikiran pengguna
“Capoeira…?” bisik Rio, setengah kagum, sungguh gabungan yang bagus anak setenang Kris bisa mempelajari seni bertarung setenang itu.
“Jika masih kurang, maka aku juga akan ikut.” Suara lain masuk begitu saja, membuat mereka semua menoleh.
Ternyata Arya bersandar santai di pintu masuk, seperti karakter yang tahu timing dramatisnya sendiri. “Sejak kapan kau datang?” tanya Riko dan Kris bersamaan. Mereka sama sekali tidak menyadari kehadirannya, padahal pintunya bahkan tidak bergerak saat dibuka.
Riko diam terpaku sementara Kris terlihat sedikit kesal pada dirinya sendiri. Namun Rio… Rio justru menegang sedikit. King’s Sense-nya biasanya bisa menangkap keberadaan siapa pun, bahkan emosi paling samar.
"Tapi Arya? Tidak ada tanda, tidak ada getaran kecil di hati." Seolah Arya berdiri di dunia yang berbeda dari yang mereka rasakan. “Apa itu… secepat apa dia bergerak?” pikir Rio. Pertanyaan itu menggelitik kepalanya lebih keras daripada strategi balas dendam yang sedang mereka rancang.
Arya hanya mengangkat bahu.
“Kalian saja yang terlalu serius.” Katanya ringan, seperti belum menyadari betapa anehnya dirinya muncul tanpa terdeteksi. Namun bagi Rio, kata-kata itu tidak menjawab apa pun. Ia menunduk, mencoba meraba ulang ingatan yang samar.
Ada teknik, seni bertarung yang begitu halus, begitu lembut, sampai kehadirannya sulit dirasakan… sesuatu yang cocok dengan gerakan Arya. “Aikido…?” Rio membatin. Itu adalah teknik yang menggunakan kelenturan dan kesunyian, bukan agresi.
Sementara yang lain kembali membicarakan rencana, Rio masih mencoba memahami sosok Arya. Dunia mungkin sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar balas dendam kepada Rivaldo. Dan entah kenapa, Rio merasakan bahwa Arya bukan sekadar ketua klub koran… tapi seseorang yang menyimpan sesuatu yang sangat tenang, dan sangat berbahaya.
......................
Sepulang sekolah, rencana mereka akhirnya bergerak. Koridor sudah kosong, cahaya sore memanjang seperti garis-garis senjata yang setengah tertidur. Rio, Kris, Arya, dan Riko berjalan menuju lantai empat, tempat Rivaldo biasanya menaruh anak buahnya seperti hiasan berotot.
Di gerbang, Eliza menahan langkah. “Aku benar benar akan pulang… bersama Liam?” tanyanya, ada getar kecil yang tersembunyi di suaranya. Matanya berpindah dari Kris ke Rio, seperti mencari tanda bahwa dunia tidak sedang bercanda.
“Tidak apa apa,kau akan aman” jawab Kris dengan wajah dan nada sedingin kulkas kantor. Tidak ada jeda, tidak ada drama, hanya dingin.
Eliza mengernyit. “Tapi bagaimana jika hal buruk terjadi?” Ketakutannya jelas, tidak berusaha ia tutupi.
Kris maju setengah langkah, berdiri tegak di hadapannya.
“Tidak apa apa. Justru terkadang kita harus mendapatkan hal buruk sebelum hal baik terjadi.” katanya, datar tapi dalam. Seperti kalimat yang ia simpan lama untuk dipakai pada kesempatan yang pas.
Kata itu entah bagaimana masuk ke hati Eliza, membuat pundaknya turun sedikit. “Baiklah… ayo.” Ia pun pergi bersama Liam, perlahan tapi mantap.
Di belakang Kris, tiga orang justru menahan tawa. Arya membungkuk sedikit sambil menutupi mulutnya. “Siapa sangka Kris yang dingin akan jadi seperti itu,” bisiknya. Rio dan Riko ikut cekikikan seperti kru yang baru melihat adegan komedi di novel timur.
Kris menoleh dengan wajah datar sekeras batu bata. “Sialan…” gumamnya."Apakah ini adalah sebuah cobaan?." Ia mulai curiga bahwa Tuhan sengaja menempatkannya bersama orang-orang aneh ini sebagai ujian kebijaksanaan.
Mereka naik. Lantai satu sunyi. Lantai dua mulai terasa tegang. Dan tepat di bagian tangga menuju lantai tiga, tiga orang berdiri menunggu. Tubuh mereka besar, aura mereka gelap, dan yang di tengah… Rio tahu siapa dia.
Salah satu dari tiga eksekutif Rivaldo. Orang kuat. Orang yang biasanya dipakai Rivaldo untuk mengacak-ngacak sekolah seperti mainan.