Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Mereka kembali ke meja dengan wajah yang sama seperti sebelumnya—tenang, rapi, dan terkendali. Tidak ada satu pun yang tampak mencurigakan bagi orang luar.
Ia duduk kembali di kursinya dengan gerakan hati-hati, seolah takut suara kursi yang bergeser akan menarik perhatian. Tangannya bertaut di pangkuan, dingin dan sedikit gemetar. Winda menunduk, menatap kain taplak meja yang polos, berusaha menenangkan napasnya.
Sementara Dirga, ia duduk di sebrang Winda. seperti biasa.Tegap. Tenang. Jauh.
Makanan kembali dihidangkan. Percakapan mengalir ringan—tentang cuaca, tentang rencana kerja, tentang hal-hal yang tidak penting. Tawa kecil terdengar dari ujung meja, terdengar asing di telinga Winda.
Ia tak ikut tertawa.
Ia masih memikirkan percakapan di lorong tadi. Setiap kata, setiap kalimat, ia masih jelas mengingat semuanya.
Dirga mengambil sendoknya, mencicipi makanan dengan sikap wajar, bahkan terlalu wajar.
Winda sadar, ia satu-satunya yang masih terjebak di lorong itu.
Percakapan kembali berjalan. Tentang hal-hal ringan yang tidak membutuhkan perasaan. Tawa kecil Megan sesekali terdengar, ramah dan terkontrol.
Begitu juga dengan suara tawa Priska , Arman dan Bram.
Winda tidak ikut tertawa.
Matanya kosong, tertuju pada piring yang nyaris tidak tersentuh. Begitu juga dengan Dirga yang berada di sebrangnya yang sedari tadi hanya diam.
"Kalau begitu," suara Bram akhirnya memecah suasana, nadanya tenang namun tegas, "kita langsung saja bicara soal rencana ke depan."
Winda mengangkat wajahnya perlahan.
Bram menatap Arman dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca—bukan ramah, bukan pula keras. Hanya ekspresi seseorang yang terbiasa mengambil keputusan.
"Kami tidak ingin ini berlarut-larut," lanjutnya. "Lebih baik semuanya jelas sejak awal."
Arman langsung mengangguk, senyum puas terukir jelas di wajahnya. "Saya setuju." sahut Arman cepat "Seperti kata orang Lebih cepat, lebih baik."
Winda merasa dadanya mengencang.
Megan mencondongkan tubuh sedikit. "Bagaimana kalau pernikahannya kita lakukan bulan depan saja?"
Bulan depan.
Kata itu seperti jatuh pelan, tapi menghantam tepat di kepala Winda.
Bulan depan berarti tidak ada waktu.
Tidak ada ruang untuk berpikir.
Tidak ada kesempatan untuk bernapas.
"Bulan depan?" ulang Winda pelan.
"Ya," jawab Arman "Itu ide bagus. Kenapa? Terlalu lama?"
"Bukan itu," suara Winda melemah. “
"Maksudku… terlalu cepat."
Dirga akhirnya menoleh. "Cepat atau lambat, hasilnya sama."
Kalimat itu membuat dada Winda berdenyut.
"Dirga," Megan menoleh ke anaknya. "Kamu tidak keberatan, kan?"
Dirga menjawab tanpa menoleh, "Tidak."
Satu kata.
Namun bagi Winda, rasanya seperti pintu yang dikunci rapat.
Ia refleks menoleh ke arah Dirga.
Mungkin—hanya mungkin—ia akan mengatakan sesuatu. Menolak. Setidaknya menunjukkan keberatan.
Namun tidak.
Ia tidak menolak.
Ia tidak keberatan.
Ia hanya menggelengkan kepalanya. Isyarat yang nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk mengesahkan semuanya. Seolah keputusan itu tidak lebih berat dari memilih menu makan malam.
Winda menelan ludah.
"Dirga juga sudah siap," tambah Megan lembut.
"Tunggu…" suaranya akhirnya keluar, lirih, hampir tenggelam di antara suara alat makan.
Semua mata beralih ke arahnya.
Arman Winda menoleh cepat. Tatapannya tajam, memperingatkan, seolah Winda baru saja melanggar batas tak kasatmata.
"Ada apa, Winda?" tanya Arman, nada suaranya terdengar tenang—terlalu tenang.
Winda membuka mulut. Banyak hal ingin ia katakan. Tentang ketidaksiapan. Tentang ketakutan. Tentang dirinya yang bahkan tidak pernah dimintai pendapat.
Namun sebelum satu kata pun keluar dengan utuh—
"Winda," potong ayahnya, masih dengan suara halus yang sama, "ini bukan waktunya."
Kalimat itu sederhana.
Namun maknanya jelas:
Diam
Priska akhirnya bersuara pelan, "Sudahlah…"
Winda menoleh ke arah Priska "Mama juga setuju?"
Ibunya menunduk. "Mama ikut keputusan ayah."
Winda terdiam menatap ibunya sebelum mengalihkan pandangan jelas kesal.
Winda menutup mulutnya perlahan. Kepalanya tertunduk lagi. Ia merasakan panas menjalar ke wajahnya—bukan karena malu, melainkan karena rasa tidak berdaya.
Bram kembali berbicara, "Kalau begitu, kita sepakati. Pertunangan bulan depan."
"Saya setuju," kata Arman cepat.
Winda kembali melirik ibunya.
Perempuan itu menunduk, jemarinya saling meremas di atas meja. Tidak membela. Tidak menolak. Tidak melakukan apa pun.
Winda berahli menoleh ke Dirga.
Untuk kedua kalinya malam itu, Dirga meliriknya.
Tatapan singkat. Datar. Tidak ada empati di sana. Tidak ada penyesalan. Seolah yang sedang terjadi hanyalah kesepakatan bisnis biasa.
Seolah hidup Winda bukan bagian penting dari keputusan itu.
"Aku rasa ini keputusan yang baik," lanjut Bram. "Untuk kedua keluarga."
"Betul," sahut Arman cepat. "Nanti kita atur detailnya."
Winda menggeleng kecil. "Kalian bahkan tidak menanyakan pendapatku."
Dirga menyahut dingin, "Pendapatmu tidak akan mengubah apa pun."
Sunyi.
Kalimat itu tidak keras. Tapi mematikan.
Pembicaraan pun berlanjut. Tentang tanggal yang memungkinkan. Tentang jumlah tamu. Tentang siapa saja yang harus diundang. Semua disusun rapi, teratur, dan cepat.
Nama Winda disebut berkali-kali.
Namun suaranya tidak pernah diminta.
Ia duduk di sana seperti penonton yang dipaksa menyaksikan hidupnya sendiri diputuskan orang lain.
Arman berdehem. "Cukup. Kita makan."
Pembicaraan beralih, tapi suasana sudah berubah. Setiap suara terasa berat. Setiap detik berjalan lambat.
Tangannya mulai dingin. Ujung jarinya sedikit mati rasa. Saat pelayan datang mengisi ulang minuman, gelas di hadapannya bergetar pelan ketika disentuh. Winda buru-buru menahannya agar tidak terlihat.
mereka berdiri.
"Terima kasih atas waktunya," ujar Bram mengulurkan tangan menjabat tangan Arman.
"Sama-sama," balas Arman.
Makan malam akhirnya berakhir dengan senyum dan jabatan tangan. Janji-janji manis yang terdengar kosong di telinga Winda. Kesepakatan yang terasa seperti vonis.
Di luar restoran, udara malam menyambut mereka. Dingin, tapi jujur.
Ayah Winda berjalan di depan, langkahnya mantap. Ibunya mengikuti di samping, tetap diam.
Winda berjalan sedikit di belakang Dirga.
Lampu parkiran memantulkan bayangan mereka di aspal. Bayangan itu terlihat rapi. Utuh. Tidak ada yang tahu betapa berantakannya perasaan Winda.
Winda berhenti melangkah.
"Dirga," panggil Winda pelan.
Dirga berhenti. "Apa lagi?"
Winda terdiam. mendongak untuk melihat apakah orang tua mereka sudah jauh di depan. Setelah memastikan nya ia melanjutkan berbicara pelan.
"Kamu benar-benar tidak keberatan?"
Dirga menatap ke depan. "Keberatan tidak relevan."
"Kamu tidak merasa ini salah?"
"Salah atau benar," jawabnya datar, "tidak mengubah hasil."
Winda menahan napas. "Aku tidak ingin menikah dengan orang yang membenciku. Dan kau juga tidak mau menikah dengan ku kan?"
Dirga menoleh sedikit. "Aku tidak membencimu."
"Lalu?"
"Aku hanya tidak suka pada mu. Dan tidak peduli."
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada kebencian.
"Kita jalan," lanjut Dirga. "Jangan buat mereka menunggu."
Ia melangkah pergi.
"Tapi, Dirga."
Dirga berhenti melangkah, lalu menoleh. "Kenapa?" tanyanya singkat.
Satu kata itu saja sudah cukup menunjukkan jarak.
Winda menatapnya. Ada banyak hal menumpuk di dadanya—amarah, sedih, takut, putus asa. Namun semuanya bercampur jadi satu, terlalu berat untuk diucapkan.
"Tidak apa-apa," ucapnya akhirnya pasrah.
Dirga mengangguk ringan, seolah memang itu jawaban yang ia harapkan. "Kalau begitu, jalan."
Ia melangkah lebih dulu, tanpa menoleh.
Winda berdiri beberapa detik lebih lama. Dadanya terasa kosong, tapi berat. Lampu parkiran terasa terlalu terang, seolah menyoroti satu kenyataan yang tak bisa ia hindari.
Perjodohan ini sudah diputuskan.
Tanpa suaranya.
Tanpa persetujuannya.
Dan sejak malam itu, Winda tahu—
Ia tidak lagi sedang memilih jalan hidupnya.
Ia hanya sedang dibawa ke arah yang bahkan tidak pernah ia inginkan.
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini