Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Ketahuan Enak-Enak
"Ini sudah siang, Pak, haha," gelak Nisa kepada seorang satpam yang menjaga pintu.
"Eh iya, udah siang ternyata, hehe," ucap satpam itu. "Ibu mau ketemu sama Pak Arya ya?"
"Iya, Pak. Suami saya ada kan di kantornya?"
"Ada, Bu. Silakan."
Nisa pun mengangguk dan mulai melanjutkan langkahnya. Sebenarnya bisa saja Nisa menitipkan berkas yang dia bawa ke salah satu pegawai di lantai satu agar diberikan kepada suaminya, akan tetapi karena tadi malam Arya bilang kalau berkas itu adalah berkas yang sangat penting membuat Nisa tidak berani menitipkannya ke sembarang orang meskipun itu pegawai perusahaan yang dikelola oleh suaminya sendiri.
Saat Nisa sampai di area dekat ruang kantor suaminya, dia mengernyit karena Anna tidak ada di tempatnya.
"Kok tumben sekretarisnya Mas Arya tidak ada di tempat?"
"Ah, apa mungkin dia sedang pergi keluar," pikir Nisa yang tidak mau ambil pusing.
Wanita itu mulai mendekat ke arah pintu masuk ruang kantor suaminya. Saat Nisa akan mengetuk pintu di depannya, dia mengurungkan niatnya saat mendengar sayup-sayup suara aneh dari arah dalam.
"Kenapa seperti ada suara ******* dan erangan dari arah dalam?" gumam Nisa yang kini mulai beralih ke arah jendela ruang kantor suaminya yang kebetulan lupa ditutup oleh Anna atau pun Arya.
Hati Nisa mulai merasa tidak enak saat akan mengintip dari balik kaca. Meskipun pernikahannya dulu dengan Arya tidak dilandasi oleh cinta, namun kebersamaan mereka selama dua puluh tahun pasti akan menumbuhkan rasa sayang.
Dengan gerakan pelan, Nisa mulai mendekatkan wajahnya ke arah kaca transparan itu.
Deg ....
Sakit sekali dan ngilu rasanya saat kedua mata Nisa melihat dengan jelas adegan panas yang ada di dalam ruangan kerja suaminya.
Air mata kekecewaan pun luruh dari pelupuk mata Nisa dan salah satu tangan wanita itu menutupi area mulutnya agar suara tangisnya sedikit teredam.
"Ini bukan saatnya untuk menangisi pengkhianatan suamimu, Nis!" ucapnya pelan pada diri sendiri.
Disekanya air mata di kedua pipinya dan sebuah ponsel pintar pun Nisa keluarkan untuk digunakan merekam adegan panas yang sedang dilakukan oleh suami dan sekretarisnya itu.
Wajah Arya dan Anna pun terekam jelas di rekaman ponsel Nisa yang suatu saat bisa dijadikan bukti kuat seandainya pihak Arya dan Anna memutarbalikkan fakta suatu hari nanti.
Dirasa sudah cukup rekaman video panas itu, Nisa segera menyimpan ponselnya kembali dan kini wanita itu menguatkan hatinya agar bisa membuat suami dan sekretarisnya itu ketar-ketir.
Diketuknya pintu ruang kantor suaminya dengan keras dan suara Nisa pun mulai berseru nyaring.
"Mas Arya! Ini aku Nisa, Mas!"
Arya dan Anna yang saat ini masih sedang menikmati penyatuan tubuh mereka langsung tersentak kaget saat mendengar suara gedoran dan panggilan Nisa dari luar.
"Mas Arya! Kamu lagi ngapain sih di dalam ruangan! Cepat buka pintunya!" seru Nisa lagi.
"****," umpat Arya yang saat ini situasinya sedang sangat nanggung sekali.
"Si*lan," kesal Anna di dalam hati yang tidak suka kesenangannya diganggu oleh Nisa.
Padahal mereka belum mencapai puncaknya, akan tetapi aktivitas mereka harus terhenti paksa karena kedatangan Nisa di kantor ini.
"Mas Arya!" seru Nisa yang sengaja dia lakukan agar orang di dalam ruangan semakin panik. "Buka pintunya! Kamu nggak apa-apa kan di dalam?"