NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lanjut

Aelira menopang pipi sambil mengerjakan PR Fisikanya di ruang tengah.

Lampu ruangan hanya menyala satu—yang paling dekat dengan mejanya. Sisanya redup, sengaja ia matikan agar tidak terlalu terang. Buku catatan berserakan di atas meja kayu, pulpen menggelinding di samping penggaris. Sesekali ia menghela napas, menggaruk kepala, lalu kembali menulis rumus yang membuat alisnya berkerut.

F \= m × a. Gaya sama dengan massa dikali percepatan.

Dia tulis ulang rumus itu tiga kali. Bukan karena susah—tapi karena pikirannya melayang ke mana-mana.

Ceklek!!

Pintu depan terbuka dengan bunyi klik halus. Dan menampilkan wajah lelah Ravian sepulang dari syuting.

Jaket hitamnya basah oleh embun malam. Wajahnya pucat, bayangan tipis di bawah matanya menunjukkan betapa padatnya jadwal hari ini. Tapi matanya—begitu menangkap sosok Aelira yang duduk meringkuk di ruang tengah—sedikit berbinar.

Aelira menoleh refleks. "Kok pulangnya malem banget, Van?"

"Lo sendiri belum tidur?" tanyanya pelan—suara serak, seperti habis berteriak di studio rekaman. Dia melepas sepatunya di depan pintu, gerakannya lambat karena kelelahan.

"Belum, masih ngerjain PR," jawab Aelira hati-hati, tangannya tanpa sadar merapikan buku-bukunya.

Ravian mengangguk singkat. Langkahnya tertahan sejenak. Matanya menatap Aelira—dari ujung rambut yang diikat asal, hingga ujung jari kakinya yang dingin tanpa kaos kaki.

"Duduk sini. Ngerjainnya sambil duduk di pangkuan gue."

Aelira menggeleng cepat. "Jangan. Aku beneran pengin fokus... nanti nilai Fisikaku turun."

Ravian tidak menggubris. Dia berjalan mendekat—dan duduk tepat di belakang Aelira. Sejajar. Punggungnya hampir menempel.

Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, tangannya terulur. Kedua lengan itu melingkar di pinggang Aelira, menarik tubuh gadis itu ke pangkuannya dengan gerakan halus tapi tegas.

"Aduh—Van!" Aelira terkejut, tubuhnya menegang seketika. Pulpennya jatuh berguling ke lantai. Bukunya hampir tersenggol.

Tapi cowok itu tidak menggubris. "Diem!"

Kedua lengannya melingkar di pinggang Aelira—kuat tapi tenang, membuat gadis itu tidak bisa bergerak. Dagu Ravian bertumpu di bahu Aelira, napas hangatnya menyentuh kulit lehernya yang dingin.

Aelira menggigit bibir. Dia bisa merasakan detak jantung Ravian dari belakang—berdebar stabil, sedikit lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin itu detak jantungnya sendiri?

Belahan dada Ravian terasa hangat di punggungnya. Tangannya yang besar menggenggam perut Aelira—bukan menekan, hanya meletakkan.

"Capek, ya?"

"Hm." Ravian mengangguk pelan dan ndusel kecil di bahunya—seperti kucing besar yang mencari tempat nyaman untuk tidur. "Capek, Eli..."

"Mau aku siapin makanan? Aku bisa bikin mie instan atau angetin lauk kemarin."

"Enggak usah." Ravian menggeleng pelan. "Lanjutin aja ngerjainnya." Bisiknya serak, mata mulai terpejam.

"Tapi aku nggak bisa fokus kalo kamu begini..." cicit Aelira pelan, jari-jarinya memegang pulpen lagi tapi tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut—tapi karena dada Ravian yang naik turun di punggungnya membuat konsentrasinya buyar total.

Ravian membuka satu mata. Tatapannya tajam—tapi lembut. Kontradiksi yang hanya Aelira yang tahu artinya.

"Gue nggak peduli bisa atau nggak. Gue cuma mau lo tetap di sini." Suaranya terdengar nyaris seperti ancaman manis. "Lo nggak usah mikirin PR. Lo nggak usah mikirin apapun. Cuma satu yang lo lakuin—diam."

Aelira menelan ludah. "Tapi—"

"Tapi apa?" Ravian memotong. Tangannya mengerat. "Lo dengar jantung gue? Cepat, kan? Karena gue habis syuting empat belas jam. Kepala gue pusing. Badan gue remuk. Tapi lo tahu kenapa gue pulang ke sini, bukan ke apartemen gue?"

Aelira diam.

"Karena di sini ada lo." Bisik Ravian pelan—hampir seperti rahasia yang tidak ingin didengar siapa pun. "Jadi jangan bikin ribut. Biarin gue nutup mata sebentar."

Aelira mengangguk pelan. "Oke..."

Dia melanjutkan menulis—setidaknya mencoba. Garis hurufnya mulai bergoyang karena tubuhnya tegang. Rumus Fisika yang tadinya jelas kini terlihat asing. F \= m × a berubah jadi F \= Ravian + Aelira \= pelukan.

Astaga. Dia benar-benar tidak bisa fokus.

Ravian menutup mata. Wajahnya kembali terbenam di ceruk leher Aelira, sesekali menghirup pelan aroma shampo yang masih melekat di rambutnya. Bibirnya tanpa sengaja menyapu kulit leher Aelira—membuat gadis itu bergidik.

"Van..."

"Shh." Ravian menghela napas panjang. "Lo wangi."

Aelira merona. "I—itu shampo."

"Gue nggak peduli itu shampo atau elo. Yang penting wangi." Ravian mengeraskan lingkarannya. "Tadi kenapa nggak angkat call gue?"

"HP aku mati. Habis dipake buat tugas." Aelira menggigit bibir—sedikit berbohong. Sebenarnya HP-nya mati karena dia lupa cas setelah nonton drakor sampai larut.

"Bohong." Ravian langsung menebak. "Lo nonton drakor lagi, kan?"

Aelira terdiam. "Hahahah... enggak, kok."

"Ngomong jujur!"

"Iya, dikit."

Ravian mendengus kesal. "Dasar. Gue di luar keringetan nyanyi sampe suara ilang, lo di rumah enak-enakan nonton oppa Korea."

"Oppa Korea mana? Aku nonton drakor sejarah."

"Sama aja. Oppa tetaplah oppa." Ravian menggigit pelan bahu Aelira—cuma pelan, bukan sampai sakit. "Gue cemburu sama cowok di TV lo."

Aelira tertawa kecil. "Gila kamu, Vano."

"Baru tau?"

Hening sejenak.

"Oh ya, kamu dapet banyak hadiah dan surat dari fans kamu," Aelira mengingatkan. "Aku taruh di kamar kamu, ya. Ada yang bentuk boneka besar juga."

"Biarin aja. Atau lo mau?" tanya Ravian dengan nada malas.

"Nggak ah. Itu buat fans. Masa aku ambil." Aelira menggeleng. "Kamu nggak mau istirahat—"

"Gue mau istirahat sambil begini. Jadi diem." Tangan Ravian mengerat lagi. "Besok gue mulai sekolah."

Tangan Aelira refleks berhenti menulis. "S—sekolah?" Dia menoleh sedikit—hanya cukup untuk melihat profil Ravian dari sudut mata. "Maksudnya kamu serius mau masuk sekolah umum?"

"Hmm." Ravian mengangguk kecil di bahunya. "Sekolah lo. SMA Nusa Cendekia."

Aelira membalikkan wajah sedikit, walau hanya bisa melirik dari ekor matanya. "Lo serius? Om Linyi setuju?"

"Om Linyi bisa komplain. Tapi gue yang bayar kontrak." Ravian mencibir samar. "Lo pikir gue bakal biarin lo sendirian di sana tiap hari dan deket sama cowok lain terus?"

Aelira menghela napas. "Enggak, bukan gitu. Aku cuma kaget aja. Kamu tuh artis papan atas, Van. Tiba-tiba masuk sekolah biasa... pasti ribut."

"Biarkan ribut." Ravian mengangkat bahu. "Gue bisa bagi waktu. Mulai besok, gue yang ngawasin lo langsung. Jadi jangan coba-coba deket sama siapa pun."

"Iya, Vano."

"Dan lo juga jangan senyum sembarangan. Gue paling nggak suka liat lo ramah ke cowok lain." Nada bicara Ravian seperti bukan sekadar peringatan—lebih seperti perintah mutlak. "Gue bisa bubarin sekolah lo kalau perlu."

"Kamu gila."

"Lo ulang terus. Gue jadi malu."

Aelira menggeleng tapi tersenyum kecil. "Aku ngerti, kok."

Ravian menempelkan dahinya ke punggung Aelira—matanya mulai terpejam. Napasnya mulai teratur. Pelan. Dalam.

Aelira membiarkan. Tangannya yang tadinya memegang pulpen kini hanya diam di atas meja. PR Fisika sudah tidak penting. Yang penting adalah cowok di belakangnya ini akhirnya bisa istirahat—walau hanya sebentar.

Tapi tiba-tiba memorinya membawa dirinya ke halte bus sore tadi.

Hujan baru saja reda. Aelira berdiri di pinggir halte sambil memegang payung, menunggu jemputan dari Ravian. Lalu sebuah mobil hitam berhenti di depannya—bukan mobil Ravian.

Kaca depan terbuka perlahan. Dan di balik setir, seorang cowok dengan kemeja putih bersih tersenyum hangat.

"Aelira?"

Dia membeku. "Ra... Ray? Ma—maksudku, Radit?"

Radit tertawa kecil. "Sama aja. Gue masih panggilan itu."

Aelira terdiam. Radit—nama kecil yang dulu sering ia panggil. Cinta pertamanya di bangku SMP sebelum semuanya hancur karena Radit pindah ke luar negeri tanpa pamit.

"Lo tinggal di sini? Gue kira lo masih di luar negeri."

"Justru baru balik minggu lalu. Udah selesai kuliah." Radit tersenyum lagi—senyum yang dulu membuat hati Aelira berdebar tak karuan. "Lo masih sama cowok itu? Yang vokalis band?"

Aelira mengangguk cepat. "Iya."

Radit mengangguk pelan. "Pantasan. Lo bahagia?"

"Bahagia kok."

Radit tersenyum—tapi matanya sayu. "Baguslah. Gue duluan, ya. Ada urusan."

Mobil itu melaju pergi. Dan Aelira hanya berdiri di halte, dadanya terasa aneh.

Bukan rindu. Bukan kecewa.

Hanya... mengingat.

"Eli!"

Aelira tersentak. Kepalanya ditepuk pelan dari belakang.

"Mikirin anjing mana lo?" tanya Ravian dingin. Matanya yang setengah terbuka menatap Aelira penuh selidik.

"Hah? A—anjing siapa? Nggak. Nggak mikirin apa-apa." Aelira buru-buru menggeleng. "Aku mikirin tugas, Van. PR Fisika susah."

"Masa susah sih, rumus gitu doang?" Ravian mendengus. "Gue aja yang anak IPS bisa jawab F \= m × a."

"Itu kan rumus paling dasar!"

"Ya bedanya lo nggak bisa jawab, gue bisa." Ravian memicingkan mata. "Jangan bohongin gue! Muka lo dari tadi kayak orang nonton sedih. Bahu lo tegang. Jari lo ngegenggam pulpen sampe putih." Ravian memutar tubuh Aelira pelan hingga mereka saling berhadapan. "Ada apa?"

Aelira menatap mata Ravian—gelap, lelah tapi penuh kewaspadaan.

"Enggak ada apa-apa, Van."

Ravian menatapnya lama. Tiba-tiba tangannya naik—menjepit pipi Aelira. "Lo bohong."

"Aduh, sakit!"

"Bilang jujur atau gue jepit pipi lo seharian."

Aelira mengerang. "Iya, iya... tadi siang, di halte—aku ketemu mantan cinta pertamaku dulu. Namanya Radit."

Ravian langsung diam. Seluruh tubuhnya membeku. Matanya yang tadinya setengah kantuk kini terbuka lebar—gelap. Berbahaya.

"Lo... ketemu siapa?"

"Tapi udah lama selesai, Van! Dia cuma lewat—"

"Nama lengkapnya. Alamat rumahnya. Nomor HP-nya." Ravian meraih HP-nya dari saku jaket. "Gue bakal laporin ke pengacara gue. Gue bakal urus restraining order."

Aelira menepuk tangan Ravian. "Jangan gila, Vano! Dia cuma nyapa. Setelah itu pergi."

"Nyapa?" Ravian tertawa pendek—tapi tidak lucu sama sekali. "Cowok itu dulu ninggalin lo tanpa pamit. Bikin lo nangis seminggu. Gue yang jemput potongan-potongan hati lo waktu itu, gue yang kumpulin satu-satu. Dan sekarang dia berani nyapa lo?"

Aelira terdiam.

Ravian menggenggam kedua pipi Aelira dengan lembut—matanya menatap lurus. "Lo denger gue, Eli? Gue nggak peduli dia cinta pertama lo. Gue nggak peduli dia sekarang jadi presiden atau rakyat biasa. Yang jelas—dia sudah kehilangan hak untuk dekat sama lo. Paham?"

"Paham," bisik Aelira.

Ravian menghela napas. Tangannya turun dari wajah Aelira, lalu menarik tubuh gadis itu ke pelukannya. Dagu Ravian bertumpu di puncak kepala Aelira.

"Gue capek, Eli. Capek mikirin lo terus."

"Kenapa lo mikirin aku?"

"Karena lo satu-satunya alasan gue masih punya otak waras." Ravian mengecup puncak kepala Aelira. "Sekarang gue mau tidur. Besok bangunin gue pagi-pagi. Enggak usah bergadang!"

Ravian berdiri—tapi Aelira menarik ujung kausnya.

"Van."

"Apa?"

"Kamu enggak perlu maksain diri kerja kayak gitu. Aku bisa urus soal beasiswa sama pihak sekolah. Nilai aku juga bagus terus, kok." Suara Aelira pelan. "Kamu jangan terlalu memaksakan diri."

Ravian tersenyum sinis. Dia menekuk lutut sehingga wajahnya sejajar dengan Aelira.

"Yang perlu lo lakuin cuma diem dan nurut. Selebihnya—lo tanggung jawab gue. Gue yang bayar SPP lo. Gue yang beliin lo makan. Gue yang jagain lo." Jemarinya menyentuh dagu Aelira. "Gue yang sayang lo. Jadi jangan pernah bilang gue maksain diri. Karena lo pantas dapat semuanya."

Aelira hanya bisa diam. Matanya berkaca.

"Udah. Gue mau tidur."

Ravian melangkah pergi. Tapi di ambang pintu kamarnya, dia berhenti. "Eli!"

"Iya?"

"Kalo ada cowok mana pun berani nyapa lo lagi—lo kasih tau gue. Gue urus sendiri."

"Urus gimana?"

Ravian menoleh. Matanya dingin. Senyumnya tipis.

"Taring pewaris nggak pernah tumpul." Dia masuk ke kamar—lalu menutup pintu.

Aelira terdiam di ruang tengah. Tangannya meraba kalung pemberian Ravian—liontin huruf A kecil yang masih hangat.

Dia gila, pikir Aelira. Tapi gila dia... rasanya aman.

---

Di dalam kamar, Ravian merebahkan diri di kasur. Ponselnya menyala—sebuah chat dari Ilham.

Ilham: Van, gue cek sosmed Radit Pratama. Cowok itu baru balik dari luar negeri. Keluarganya pindah ke perumahan sebelah komplek lo.

Ravian menatap layar.

Lalu tersenyum.

Bukan senyum ramah.

Tapi senyum predator yang tahu kapan harus menerkam.

Cinta pertama?

Dia mengetik balasan singkat.

Ravian: Biar gue urus sendiri.

Ponsel dimatikan. Ravian menutup mata.

Besok akan menjadi hari yang menarik.

1
🌹Widian,🧕🧕🌹
protektif banget ya si Ravian👍
T28J
Langit tidak berubah. Namun sesuatu… memperhatikan.

“Fragmen ini… menarik.” Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia ada di antara kata-kata yang ditulis, dan yang sengaja tidak ditulis.

“Kau tidak menulis dunia. Kau… sedang mencoba menciptakannya.”

“Ada bagian yang masih kau batasi. Bukan karena tidak mampu… tapi karena kau belum siap melihat bentuk akhirnya.”

Cahaya muncul. Bukan lima titik kecil, melainkan lima penanda, seperti sesuatu yang telah ditentukan jauh sebelum penilaian ini terjadi.

★ ★ ★ ★ ★

“Ini bukan penilaian.”

“Ini pengakuan… bahwa kau telah melangkah cukup jauh untuk dilihat.”

“Lanjutkan! Tidak semua yang melangkah sejauh ini… diizinkan untuk berhenti.”

—Astraeus, The Seven Pillar Titan
Alia Chans: (◉⁠‿⁠◉)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
secawan ☕️ biar seger dan semangat up nya
Alia Chans: thanks😉
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⒋ⷨ͢⚤zc❖Aisyah Chris
aku mampir ya
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!