Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu-malu Kucing
Acara ulang tahun sudah usai. Meisya, Haikal, dan Zikri sudah pulang dengan membawa tawa serta kebahagiaan mereka masing-masing. Kini, kediaman besar dan mewah itu kembali sepi dan sunyi, menyisakan hanya dua orang yang saling memiliki di dalamnya.
Namun, suasana di antara mereka berdua... terasa sangat aneh.
Sangat aneh.
Sejak momen di mana Farzhan memberikan cincin berlian itu, dan saat Vira memeluknya erat sambil menangis bahagia, seolah ada tembok tipis yang tiba-tiba terbentuk di antara mereka. Bukan tembok pemisah atau pembatas, melainkan tembok rasa malu yang menjulang tinggi dan sulit dihancurkan.
Kini mereka berdua bertingkah laku persis seperti dua remaja yang baru saja berpacaran, bukan suami istri yang sudah tinggal satu atap selama berbulan-bulan lamanya.
Di ruang tengah, keheningan terasa menyelimuti. Hanya terdengar suara detakan jam dinding yang berirama lambat: tik... tok... tik... tok...
Vira duduk di atas sofa beludru yang empuk, jari-jarinya bermain-main perlahan. Di jari manisnya kini melingkar indah cincin pemberian Farzhan yang berkilau saat terkena cahaya lampu. Ia sesekali melirik ke arah suaminya, lalu buru-buru menundukkan wajah kembali, berusaha menyembunyikan senyum bahagia yang hampir mekar di bibirnya.
Farzhan pun demikian. Pria itu berdiri tegak di dekat jendela besar, pura-pura menatap ke arah halaman rumah yang gelap dan sunyi. Padahal, matanya sesekali melirik ke samping, menangkap bayangan dan gerak-gerik Vira yang terpantul jelas di kaca jendela yang mengkilap itu.
"Ehm..." Farzhan berdeham keras, berusaha memecah keheningan yang mulai terasa menegangkan. "Sudah larut malam. Kamu... pasti sudah lelah, bukan? Sebaiknya segera beristirahat."
"I-iya..." jawab Vira pelan, suaranya terdengar kecil dan sedikit bergetar. "Kamu juga harus istirahat, Zhan. Besok kan kamu harus kerja."
Mereka berjalan beriringan menuju lantai atas. Langkah kaki mereka terdengar serempak namun terasa kaku. Ada jarak tak kasat mata yang sengaja mereka ciptakan, seolah takut kulit mereka bersentuhan sedikit saja.
Sesampainya di depan kamar masing-masing, mereka berhenti melangkah. Pintu kamar Vira dan pintu kamar utama tempat Farzhan tidur letaknya saling berhadapan.
"Selamat malam, Vira," kata Farzhan. Tangannya memegang gagang pintu kamarnya sendiri, namun ia tidak segera membukanya atau masuk ke dalam.
"Selamat malam juga, Zhan," jawab Vira sambil menundukkan kepala, tangannya sibuk meremas ujung gaunnya.
Keheningan kembali menyelimuti koridor itu selama beberapa detik.
Seharusnya mereka langsung masuk ke kamar dan berbaring di tempat tidur masing-masing. Namun anehnya, kaki mereka seakan terpaku kuat di lantai. Ada sesuatu yang ingin dikatakan, namun mulut terasa terkunci rapat. Ada sesuatu yang ingin dilakukan, namun tangan terasa sangat berat untuk bergerak.
"Emm... soal cincin itu..." Farzhan kembali memulai pembicaraan, suaranya terdengar berbeda dari biasanya, lebih lembut dan kurang tegas. "Cocok sekali di jarimu. Terlihat indah."
"Oh... iya..." Vira mengangkat tangannya perlahan, menatap kilauan batu berlian itu yang berkelap-kelip di bawah cahaya lampu koridor. "Terima kasih ya... sepertinya ini barang yang sangat mahal. Kamu boros sekali membelikanku ini..."
"Tidak boros. Ini investasi. Lagipula, istriku memang pantas mendapatkan yang terbaik," jawab Farzhan cepat. Namun sesaat setelah kata-kata itu keluar, ia sendiri terkejut dan menyesal mengapa bisa berbicara demikian. Wajahnya langsung memerah padam, dan ia buru-buru membuang muka ke arah lain. "Sudahlah! Masuklah ke dalam! Cepat tidur! Jangan begadang lagi!"
"Iya-iya..." Vira tersenyum kecil, merasa geli melihat tingkah suaminya yang tiba-tiba menjadi salah tingkah. "Kamu juga, jangan terus-terusan memikirkan pekerjaan ya."
Vira memutar gagang pintu kamarnya. "Aku masuk duluan ya..."
"Iya."
Klik... Pintu terbuka sedikit, menampakkan suasana kamar yang sudah redup cahayanya.
Namun Vira tidak langsung melangkah masuk. Ia berbalik badan kembali menatap suaminya. "Zhan?"
"Ya?" Farzhan masih berdiri diam di tempat. Ternyata ia juga belum masuk ke kamarnya sendiri.
"Tidak ada apa-apa..." Vira menggeleng pelan, senyumnya semakin mekar terlihat manis. "Selamat malam, Suamiku."
Panggilan itu terdengar begitu lembut dan manis, membuat jantung Farzhan berdegup kencang dan tidak beraturan di dalam dada.
"S-selamat malam, Istriku..." jawab Farzhan terbata-bata. Sangat jarang sekali orang melihat pria setampan dan sekuat dirinya menjadi segugup dan sekaku ini.
Akhirnya pintu keduanya tertutup hampir bersamaan. Dug! Dug! Suara itu bergema pelan di koridor yang kembali sepi.
Di dalam kamar masing-masing, drama mereka berdua ternyata belum berakhir, justru baru saja dimulai.
Di kamar Vira:
Vira langsung melempar tubuhnya ke atas kasur empuk, lalu menggeliat-geliat ke sana ke mari sambil menekan bantal di wajahnya dengan keras.
"AAAAAA! Apa-apaan ini?! Kenapa jadi begini sih?! Kenapa aku jadi sangat malu hanya melihat wajahnya?! Padahal dia kan suamiku sendiri! Sudah halal! Sudah menjadi hakku! Tapi kenapa rasanya persis seperti saat masa pendekatan di awal hubungan?! Huft! Cincinnya indah sekali... tapi dia juga terlihat sangat tampan tadi... aaaaaa aku jadi sangat malu!"
Di kamar Farzhan:
Farzhan berdiri diam di depan cermin besar, membasuh wajahnya dengan air dingin segar. Ia menatap tajam pantulan dirinya sendiri di kaca itu.
"Dasar bodoh! Kata-kata apa saja yang terucap tadi?! 'Cocok di jarimu'?! Itu ucapan yang sangat kaku dan biasa saja! Kenapa aku jadi sekaku ini sih?! Padahal kan aku sudah biasa melihatnya setiap hari! Tapi saat dia tersenyum begitu... astaga... rasanya ingin memeluknya lagi, tapi rasa gengsi ini setinggi langit! Farzhan Ibrahim, kamu itu laki-laki atau anak kecil?! Tingkahmu benar-benar memalukan!"
Keesokan paginya, situasi tidak membaik sama sekali. Justru keadaan menjadi semakin parah!
Saat sarapan pagi, mereka duduk berhadapan di meja makan panjang seperti biasa. Namun...
Saat Vira mengambil sendok, bunyinya nyaring: krek...
Saat Farzhan mengambil gelas, bunyi yang sama terdengar: krek...
Pandangan mata mereka bertemu sesaat, lalu...
Keduanya langsung membuang muka ke arah lain secara bersamaan!
"Ehm... roti bakarnya rasanya enak," kata Farzhan. Matanya menatap lekat-lekat piring di depannya seolah piring itu adalah benda paling menarik di dunia.
"Oh... iya. Terima kasih. Apakah kopinya kurang gula?" tanya Vira. Ia sibuk sendiri mengupas telur rebus dengan fokus berlebihan.
"Tidak. Rasanya pas."
"Baiklah."
Keheningan kembali terjadi. Suasana menjadi sangat canggung, namun terasa manis, terasa berbunga-bunga, tapi juga... menyesakkan karena rasa malu yang meluap-luap!
Mereka berdua sadar betul bahwa hubungan mereka sudah berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi teriakan keras, tidak ada lagi aturan ketat yang mengekang, tidak ada lagi rasa takut atau segan. Yang ada sekarang adalah rasa sayang yang mulai tumbuh subur dan kuat, serta rasa malu yang muncul karena mereka sadar satu hal: mereka saling menyukai dan saling membutuhkan.
Farzhan melirik ke arah Vira diam-diam dari balik gelasnya. Gila... kenapa dia terlihat makin cantik saja kalau dilihat-lihat? Padahal dia hanya berpakaian biasa dan tanpa riasan sama sekali, bukan?
Vira juga melirik ke arah Farzhan diam-diam sambil menunduk. Hihihi... kenapa dia terlihat makin tampan saja hari ini? Padahal dia hanya memakai pakaian santai biasa untuk ke kantor.
Dan begitulah hari-hari mereka berjalan.
Jika tidak sengaja berpapasan di koridor rumah, mereka akan saling menundukkan kepala sambil tersenyum sendiri-sendiri.
Jika sedang mengobrol, nada bicara keduanya menjadi sangat pelan dan lembut, sangat berbeda jauh dengan dulu yang sering saling membentak atau berbicara keras.
Jika tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat mengambil benda yang sama, keduanya akan kaget hebat dan menarik tangan secepat kilat seolah tersengat aliran listrik!
Mereka berdua benar-benar sedang berada dalam fase Malu-malu Kucing.
Saling menyayangi, saling memperhatikan, namun rasa gengsi dan malunya melebihi segalanya.