"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
"Selamat pagi, Ibu Alaric. Wah, masya Allah... cantik sekali Ibu hari ini, pantas saja Komandan buru-buru mengunci pintu depan tadi."
Suara ramah bercampur gurauan lembut itu menyambut Calla begitu pintu rumah dinas dibuka sepenuhnya. Seorang wanita paruh baya dengan seragam Persit hijau pupus yang sangat rapi dan jilbab senada sudah berdiri di teras. Beliau adalah Ibu Sarah atau dipanggil Ibu Hermawan, istri dari Wakil Komandan pangkalan, yang pagi ini bertugas menjemput Calla.
Calla langsung memasang senyumnya yang paling menawan, mengangguk hormat dengan gerakan yang sangat anggun. "Selamat pagi, Ibu Hermawan. Mohon maaf jika saya membuat Ibu menunggu. Tadi ada sedikit kendala dengan... persiapan pakaian."
Alaric yang berjalan tepat di belakang Calla hanya bisa berdehem pelan, membetulkan letak baret merahnya dengan kaku untuk menutupi rasa canggung yang kembali menyerang setelah bisikan "guling sosis" dari Calla tadi.
"Siap, selamat pagi, Ibu Sarah. Terima kasih sudah bersedia menjemput istri saya," ujar Alaric dengan suara baritonnya yang formal dan tegas.
"Sama-sama, Komandan. Sudah menjadi tugas saya untuk membimbing Ibu Komandan kita yang baru ini," jawab Ibu Sarah sambil tersenyum hangat, matanya melirik sekilas ke arah Calla dengan pandangan kagum. "Kalau begitu, mari kita langsung menuju ke aula kantor Persit, Ibu. Ibu-ibu pengurus inti sudah berkumpul di sana."
"Baik, Ibu Hermawan. Mari," sahut Calla lembut, melangkah perlahan menuruni anak tangga teras.
Sebelum benar-benar melangkah jauh, Calla sengaja membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Alaric yang masih berdiri tegap di teras rumah dinas mengantarnya dengan pandangan mata yang tidak lepas. Calla memberikan lambaian tangan kecil yang sangat anggun, namun matanya berkedip satu kali dengan kilatan jahil yang sangat cepat—hanya bisa ditangkap oleh Alaric.
Alaric menahan napasnya sesaat, lalu memberika anggukan kepala formal sebagai jawaban. "Hati-hati di jalan, Calla."
Perjalanan menuju aula pangkalan terasa sangat lambat karena Calla harus menyesuaikan langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak kecil dengan langkah anggun Ibu Sarah. Sepanjang koridor pangkalan, beberapa prajurit yang berpapasan langsung mengambil posisi siap dan memberikan hormat dengan lantang.
"Siap, selamat pagi, Ibu!" seru para prajurit itu bergantian.
Calla membalas setiap penghormatan itu dengan senyuman manis dan anggukan kepala yang konstan, sangat berwibawa, membuat Ibu Hermawan di sampingnya manggut-manggut puas.
"Ibu Alaric sangat cepat beradaptasi, ya. Biasanya, istri-istri perwira muda yang baru pertama kali masuk pangkalan akan terlihat sangat tegang dan ketakutan kalau dihormat oleh anggota," puji Ibu Sarah pelan saat mereka hampir sampai di depan pintu aula.
"Ah, tidak juga, Ibu Hermawan. Saya sebenarnya hanya mencoba menutupi rasa gugup saya saja," jawab Calla merendah, padahal dalam hatinya ia sedang tertawa. Takut gimana? Kemarin aja saya hampir panggil Mas Sersan di lumpur buat gendong.
"Gugup itu wajar, Ibu. Tapi tenang saja, hari ini agendanya hanya perkenalan santai dan penyampaian struktur organisasi baru di bawah kepemimpinan Ibu selaku Ketua Pengurus Cabang yang baru," jelas Ibu Sarah sembari mendorong pintu aula yang besar.
Begitu pintu terbuka, puluhan wanita berseragam Persit hijau yang sudah duduk rapi di dalam aula langsung bangkit berdiri serentak. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan penuh takzim.
"Selamat pagi, Ibu Ketua!" seru mereka bersamaan dengan sikap sempurna.
Calla sempat menahan napas sejenak melihat pemandangan itu. Ibu-ibu di depannya ini memiliki rentang usia yang beragam, ada yang jauh lebih tua darinya, namun semuanya memberikan penghormatan tertinggi karena statusnya sebagai istri Alaric.
"Selamat pagi, Ibu-ibu sekalian. Silakan duduk kembali," ucap Calla dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang dan merdu.
Dua jam berlalu dengan tempo yang terasa sangat lambat bagi Calla. Ia harus mendengarkan pembacaan laporan bendahara, memorandum serah terima jabatan, hingga pengarahan demi pengarahan. Tangannya juga sudah menandatangani belasan berkas resmi organisasi dengan nama barunya: Ny. Callanta Alaric Vance.
"Bagaimana, Ibu Alaric? Apakah ada poin dari program kerja seksi kebudayaan yang ingin Ibu evaluasi atau tambahkan?" tanya Ibu Sarah yang duduk di sebelah kanan Calla di meja utama.
Calla menutup buku panduan Persit di depannya perlahan, menatap ibu-ibu pengurus yang sekarang menanti jawabannya dengan tegang.
"Untuk saat ini, program kerja yang sudah berjalan sudah sangat baik dan terstruktur, Ibu Hermawan," jawab Calla dengan senyum profesionalnya. "Saya hanya ingin menambahkan sedikit, mungkin untuk kegiatan sosial ke depannya, kita bisa lebih melibatkan anak-anak yatim piatu di sekitar pangkalan. Saya rasa itu akan sangat baik untuk citra organisasi kita."
Mendengar jawaban Calla yang tak hanya aman tapi juga menyentuh sisi sosial, ibu-ibu di aula langsung mengangguk-angguk setuju dengan gembira. "Siap, setuju, Ibu!"
Rapat akhirnya resmi ditutup pukul sebelas siang. Setelah sesi foto bersama yang cukup panjang, Calla akhirnya bisa bernapas lega saat melangkah keluar dari aula bersama Ibu Sarah.
"Ibu Alaric luar biasa sekali untuk ukuran pertemuan pertama. Komandan Alaric pasti sangat bangga memiliki istri seperti Ibu," puji Ibu Sarah tulus saat mereka berjalan kembali menuju arah rumah dinas.
"Terima kasih banyak atas bimbingannya hari ini, Ibu Hermawan. Tanpa bantuan Ibu, saya pasti sudah bingung di dalam tadi," sahut Calla merendah.
Dari kejauhan, di dekat koridor kantor markas, Calla melihat sesosok pria bertubuh tegap dengan seragam PDH lengkap sedang berdiri bersedekap dada. Alaric tampaknya sengaja menunggu di sana, memperhatikan kepulangan istrinya dari kejauhan.
"Wah, tampaknya ada yang sudah tidak sabar menunggu istrinya pulang rapat," goda Ibu Sarah pelan saat menyadari arah pandangan Calla. "Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu ya, Ibu Alaric. Selamat beristirahat."
"Baik, Ibu Hermawan. Terima kasih sekali lagi," ucap Calla.
Begitu Ibu Sarah berjalan menjauh, keanggunan yang melekat pada tubuh Calla selama dua jam terakhir langsung luruh seketika. Langkah kakinya yang tadinya anggun berubah menjadi setengah berlari kecil menghampiri Alaric yang kini menurunkan kedua tangannya, bersiap menyambut kedatangan istri kecilnya.
"Paksuuu! Kaki Ismut mau copot rasanya!" keluh Calla langsung begitu jarak mereka sudah dekat, wajah anggunnya langsung berubah cemberut total, mode cegil-nya kembali aktif dalam satu detik.
Alaric melirik ke sekeliling koridor yang sepi, lalu menatap wajah lelah Calla yang menggemaskan. "Gimana rapatnya? Berjalan lancar?"
"Lancar banget! Ismut tadi keren banget tahu, dipuji-puji sama Ibu Sarah," adu Calla bangga, langsung meraih lengan kekar Alaric dan menggandengnya tanpa peduli sekitar. "Tapi dengerin ibu-ibu baca laporan keuangan itu lebih bikin pusing daripada dengerin ceramah Paksu. Lapar banget sekarang, Paksu masak apa siang ini?"
Alaric menatap jemari Calla yang melingkar di lengannya, kali ini ia tidak menarik tangannya lagi. Pria 38 tahun itu hanya tersenyum tipis, menuntun langkah mereka berdua menuju rumah dinas. "Saya sudah minta dapur masak sayur asam dan ikan asin kesukaanmu. Ayo pulang."
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨