NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"

Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.

Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.

Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Duri dalam Perjamuan

Pagi ini, ketegangan di Mansion Tarkan seolah menguap, digantikan oleh kesibukan persiapan perjamuan kecil menyambut Farr Burhan. Namun, bagi Amora, suasana ini justru jauh lebih menyesakkan daripada kemarahan Hamdan kemarin.

Zahra masuk ke kamar Amora dengan tawa riang, membawa beberapa pilihan gaun. "Pilih satu, Amora. Malam ini kau harus terlihat lebih bersinar dari wanita-wanita sosialita yang akan mengerumuni Abang."

Amora memilih sebuah gaun satin berwarna mawar gelap yang elegan namun tetap sederhana. Saat ia sedang mencoba merapikan bagian belakang gaunnya di depan cermin besar, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.

Hamdan berdiri di sana. Rambutnya yang sedikit basah dan kemeja putihnya yang belum dikancingkan sempurna menunjukkan ia baru saja selesai bersiap.

"Zahra bilang kau butuh bantuan," bohong Hamdan datar. Ia melangkah mendekat, membuat Amora terpaku menatap pantulannya di cermin.

Amora baru saja akan protes saat Hamdan melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia mengambil segelas air soda dingin dari meja rias Amora, lalu dengan gerakan cepat, menempelkan permukaan gelas yang berembun ke tengkuk Amora yang terbuka.

"Aduh! Dingin, Abang!" Amora melompat kecil, bahunya terangkat karena terkejut.

Hamdan hanya menarik sudut bibirnya—sebuah senyum jahil yang sangat jarang muncul. "Kau terlalu tegang. Anggap saja itu pendingin untuk kepalamu yang keras."

"Kau benar-benar menyebalkan!" Amora berbalik, hendak memukul lengan Hamdan, namun pria itu dengan mudah menangkap kedua tangannya.

"Pakai gaunmu dengan benar. Jangan biarkan ada celah untuk Farr menyentuhmu malam ini," bisik Hamdan, suaranya kembali rendah dan penuh ancaman protektif sebelum ia melenggang pergi.

--------

Perjamuan dimulai. Mansion Tarkan kini dipenuhi tamu-tamu penting. Amora turun dengan gaun pilihannya, namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di aula utama.

Hamdan sedang dikerubungi oleh sekelompok wanita. Ada Clarissa, seorang sosialita yang secara terang-terangan mengelus lengan jas Hamdan sambil tertawa manja. Hamdan tidak menolak, ia justru terlihat sedang membisikkan sesuatu yang membuat Clarissa tertawa semakin keras.

Dada Amora terasa panas. Ia merasa seperti baru saja ditipu oleh keisengan "dingin" Hamdan di kamar tadi.

"Tuan Hamdan, kau berjanji akan menemaniku berkuda besok pagi," suara manja wanita lain terdengar, sengaja dikeraskan saat Amora melewati mereka.

Hamdan melirik Amora lewat sudut matanya, memperhatikan wajah Amora yang mulai memerah karena cemburu. Bukannya menghampiri Amora, Hamdan justru menerima gelas minuman yang disodorkan Clarissa.

"Tentu. Aku tidak pernah mengingkari janji pada wanita cantik," sahut Hamdan dingin, namun matanya tetap tertuju pada Amora.

Amora mengepalkan tangannya. Begitu caramu bermain, Tuan Tarkan?

Tanpa berpikir panjang, Amora berbalik menuju arah paviliun taman tempat Farr Burhan sedang berdiri sendirian, menunggunya dengan senyum kemenangan.

Amora sengaja mempercepat langkahnya menuju Farr Burhan. Ia bisa merasakan tatapan tajam Hamdan menusuk punggungnya, namun ia menolak untuk menoleh.

"Kau terlihat sangat memukau malam ini, Amora. Merah sangat cocok dengan keberanianmu," sapa Farr sambil menyodorkan segelas jus delima untuk Amora.

Amora tersenyum, senyum paling manis yang bisa ia buat. "Terima kasih, Tuan Farr. Ternyata berada di sini jauh lebih menyenangkan daripada melihat kerumunan 'lebah' yang memperebutkan satu pot bunga di dalam sana."

Farr tertawa renyah, ia melirik ke arah aula di mana Hamdan masih berdiri kaku, meski dikelilingi wanita cantik. "Sepertinya 'pot bunga' itu tidak bisa melepaskan matanya darimu. Kau ingin membuatnya gila?"

"Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku bukan miliknya," bisik Amora.

Sementara itu, di aula, Hamdan sudah tidak bisa lagi mendengar celotehan Clarissa. Pikirannya kosong saat melihat Amora tertawa begitu lepas bersama Farr di ambang pintu taman. Ia meletakkan gelasnya dengan kasar ke nampan pelayan yang lewat, hingga isinya terciprat ke lantai marmer.

"Tuan Hamdan? Anda baik-baik saja?" tanya Clarissa bingung.

"Maaf, aku ada urusan mendesak," jawab Hamdan dingin. Ia tidak lagi memedulikan kesopanan. Langkah kakinya yang panjang dan berat mulai membelah kerumunan tamu, menuju ke arah taman.

Clarissa terlihat cemberut saat Hamdan pergi.

Amora melihat bayangan Hamdan mendekat. Dengan nekat, ia justru menyentuh lengan Farr dan sedikit berjinjit, seolah ingin membisikkan sesuatu yang sangat rahasia di telinga pria Turki itu. Dari kejauhan, posisi mereka terlihat sangat intim, seolah-olah Amora sedang mencium leher Farr.

"Amora!" geraman Hamdan membelah udara malam di paviliun.

Amora menjauh dari Farr dengan tenang, menatap Hamdan yang kini berdiri dengan napas memburu dan rahang yang mengeras seperti baja. "Ada apa, Tuan Tarkan? Perjamuan di dalam sudah selesai?"

Hamdan tidak menjawab Amora. Ia menatap Farr dengan kilat kemarahan yang mematikan. "Farr, kukira kau tamu yang tahu batasan. Sopirmu sudah menunggu di depan. Sekarang."

Farr mengangkat kedua tangannya, tersenyum provokatif. "Tenanglah, Hamdan. Aku hanya menghibur 'mawarmu' yang sepertinya merasa kesepian. Sampai jumpa besok, Amora."

Setelah Farr pergi, suasana taman menjadi sangat mencekam. Hamdan maju hingga hanya tersisa beberapa sentimeter di antara mereka. Amora bisa mencium aroma parfum dan kemarahan yang pekat dari tubuh Hamdan.

"Kau sengaja melakukannya," ucap Hamdan rendah, suaranya bergetar karena emosi yang ia tahan. "Kau menggunakan dia untuk menyakitiku? Untuk membuatku cemburu? kesal?"

"Menyakitimu?" Amora tertawa sinis. "Kau aneh... dan kau yang memulai, Hamdan! Kau membiarkan aku sendirian, lalu kau mengharapkanku duduk diam di pojokan seperti pajangan? Aku bukan salah satu koleksi barang antikmu!"

Hamdan tiba-tiba mencengkeram pilar kayu di samping kepala Amora dengan tangan kosongnya hingga terdengar bunyi retakan kecil. Ia menunduk, menatap mata Amora dengan intensitas yang membuat gadis itu gemetar.

"Jangan pernah... sekali lagi dekat-dekat dengan pria lain! atau... menggunakan pria lain untuk melawanku, Amora. Kau tidak tahu betapa sulitnya aku menahan diri untuk tidak menghancurkan wajah pria itu tadi."

"Apa urusanmu jika aku bicara dengan pria lain?" tanya Amora, emosinya sedikit memuncak. Mata pria itu menatapnya dengan tatapan yang tidak karuan. Amora merasakan perasaan yang gila.

Hamdan melepaskan pilar itu, berbalik, dan berjalan menuju arah kolam renang tanpa menoleh lagi. Amora berdiri lemas di paviliun, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan "monster" yang selama ini berusaha Hamdan sembunyikan di balik jas mahalnya.

Mengapa dia begitu gila?

To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!