ig: @namemonarch
Di sebuah multiverse di mana para penguasa mengandalkan insting dan amarah, Ye Chen mendominasi dengan kalkulasi dingin. Ia adalah sosok yang memanipulasi keadaan dari balik layar, memandang konflik dunia layaknya bidak catur di papan raksasa.
"Kultivasi hanyalah proses penyempurnaan sirkulasi energi. Dan takdir? Itu hanyalah sekumpulan data yang belum dikendalikan oleh tangan yang tepat."
Inilah awal dari perjalanan lintas jagat raya. Sebuah jalan di mana hukum langit akan tunduk di bawah kendali seorang analis sistem yang memulai langkahnya dari titik terendah untuk mencapai puncak tertinggi multiverse.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameless Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 — Batas Persepsi Spiritual
Kabut pagi di Rawa Racun Hitam terasa jauh lebih pekat dan berbau busuk dibandingkan hari sebelumnya. Jarak pandang visual murni hanya terbatas hingga lima meter ke depan. Tanpa penunjuk arah dari Ahli Alkimia Su, tim pengawal ini pasti sudah tersesat dan mati tertelan rawa.
Ye Chen berjalan di barisan paling belakang, langkahnya ringan seolah ia mengambang di atas lumpur. Sejak semalam, ia mempertahankan Persepsi Spiritual miliknya dalam keadaan aktif secara konstan. Layaknya sebuah radar inframerah di dalam otaknya, ia memindai radius lima puluh meter di sekitarnya, mencari fluktuasi energi dari binatang buas yang bersembunyi.
Sejauh ini, radarnya bekerja tanpa cacat. Ia berhasil mendeteksi kawanan lintah raksasa penyerap darah dari jarak empat puluh meter dan dengan sengaja membuang batu ke arah berlawanan untuk membelokkan rute binatang itu sebelum Kapten Lei menyadarinya. Ia merasa sangat memegang kendali atas medan rawa ini.
"Kita sudah sampai," ucap Ahli Alkimia Su dengan suara yang sedikit bergetar karena antusiasme. Ia menghentikan langkahnya dan menunjuk ke depan.
Dari balik kabut tebal, menjulang sebuah formasi tebing batu yang sangat aneh. Tebing itu dipenuhi oleh lubang-lubang besar dan kecil yang saling terhubung, persis seperti sarang lebah raksasa yang terbuat dari batu hitam kelam. Melalui Pupil Penembus Ilusi, Ye Chen bisa melihat dada alkemis tua itu berdenyut dengan pendaran kuning pucat yang menandakan kebohongan, dan hijau gelap yang melambangkan keserakahan absolut.
"Teratai Pembeku Darah biasanya tumbuh di dalam gua yang lembap dan minim cahaya," jelas Ahli Alkimia Su, menoleh ke arah Kapten Lei. "Kita harus masuk ke salah satu lubang terbesar di bawah sana."
Kapten Lei mengangguk tegas. Ia menghunuskan pedang besarnya dan mengalirkan Qi berwarna biru ke bilahnya. "Tetap dalam formasi! Nyalakan obor kalian. Rapat dan jangan menyentuh dinding gua sembarangan."
Kelompok itu perlahan masuk ke dalam lubang gua terbesar di dasar tebing.
Suasana di dalam gua terasa sangat dingin dan lembap. Air menetes dari stalaktit di langit-langit, menciptakan gema yang membuat bulu kuduk berdiri.
Ye Chen terus memfokuskan Persepsi Spiritualnya. "Sistem, pindai anomali energi di dalam gua ini. Beritahu aku jika ada binatang buas tingkat tinggi atau jebakan formasi Qi."
[Memindai lorong gua... Tidak terdeteksi adanya fluktuasi energi kehidupan.]
[Tidak terdeteksi adanya radiasi Qi dari susunan formasi yang aktif. Area dinyatakan aman dari ancaman spiritual.]
Mendapat konfirmasi absolut dari Sistem, otot-otot Ye Chen sedikit mengendur. Ia mengalihkan sebagian fokusnya dari radar spiritual untuk memikirkan skenario perampasan di makam kuno nanti. Namun, di dunia kultivasi, kelengahan sekecil apa pun memiliki harga yang mematikan.
Saat salah satu tentara bayaran di depan Ye Chen melangkah maju, kakinya menginjak sebuah batu pijakan yang sedikit menonjol. Batu itu amblas sekitar satu sentimeter ke dalam tanah dengan suara klik mekanik yang sangat pelan, nyaris tertutup oleh suara tetesan air.
Mata Ye Chen melebar. Tidak ada peringatan dari Sistem. Tidak ada fluktuasi Qi di radarnya. Namun, dari celah-celah lubang kecil di dinding gua sebelah kanan, melesat belasan anak panah kayu hitam pekat yang ujungnya dilumuri racun korosif. Anak panah itu ditembakkan dengan kecepatan luar biasa akibat tarikan pegas baja berkarat yang tersembunyi di dalam dinding selama ribuan tahun.
*Wusss! Wusss!*
"Serangan!" teriak Kapten Lei, memutar pedang besarnya untuk menangkis anak panah yang mengarah kepadanya dan Ahli Alkimia Su.
Satu anak panah kayu melesat tepat ke arah leher Ye Chen dari titik buta. Karena tidak ada sepercik pun energi Qi pada anak panah mati tersebut, Persepsi Spiritualnya sama sekali buta. Di saat kritis yang hanya berjarak sepersekian detik, refleks biologis tingkat fana dan memori otot dari Jejak Bayangan Hantu mengambil alih.
Ye Chen memiringkan kepalanya ke belakang dengan sudut patah yang ekstrem. Ujung panah beracun itu melesat hanya satu milimeter di depan hidungnya, memotong sehelai rambutnya sebelum menancap dalam ke dinding di seberang.
"Argh!"
Tentara bayaran yang menginjak batu tadi tidak seberuntung Ye Chen. Sebuah panah menembus bahu kirinya. Kulit di sekitar luka itu seketika mendesis dan berubah warna menjadi ungu kehitaman. Pria itu menjerit kesakitan dan ambruk ke lantai gua.
Keheningan kembali menyelimuti gua setelah rentetan panah mematikan itu berhenti. Kapten Lei segera berlari menghampiri anak buahnya yang terluka, merobek bajunya, dan menaburkan bubuk penawar racun dengan wajah tegang.
Ye Chen berdiri diam, menatap panah kayu kuno yang tertancap di dinding. Napasnya masih teratur, namun di dalam otaknya, badai evaluasi sedang terjadi.
"Kalkulasi yang salah. Asumsi yang cacat," batin Ye Chen menyalahkan dirinya sendiri dengan tajam. "Persepsi Spiritualku ini hanyalah sensor pendeteksi energi murni. Benda mati, jebakan mekanik murni tanpa pasokan Qi, atau panah kayu biasa sama sekali tidak memancarkan energi. Bagian radar ini, benda-benda itu tidak terlihat layaknya sebuah batu yang dingin."
Ia baru menyadari bahwa kemampuannya saat ini sangat jauh dari kata 'Mata Dewa' yang bisa melihat segala hal. Mengandalkan Persepsi Spiritual secara buta dan mengabaikan penglihatan fisik serta kewaspadaan logis adalah sebuah kebodohan fatal.
"Sistem tidak memberitahuku karena jebakan mekanik ini murni digerakkan oleh tegangan pegas, bukan formasi Qi kuno. Energi formasinya pasti sudah habis termakan waktu ribuan tahun, menyisakan mekanisme kasarnya saja," analisis Ye Chen. Pelajaran pahit ini tidak akan pernah ia lupakan. Mulai sekarang, ia harus menggabungkan radar energi sistem dan insting fananya secara bersamaan.
"Sialan! Ahli Alkimia Su, kau bilang tempat ini hanya sarang herbal liar! Sejak kapan teratai dijaga oleh jebakan mekanik bawah tanah?!" bentak Kapten Lei dengan amarah yang meledak. Ia menarik kerah jubah alkemis tua itu dan mengangkatnya ke udara.
Tanah di sekitar tempat jatuhnya panah tadi tiba-tiba bergetar pelan. Mekanisme jebakan kuno itu rupanya juga mengaktifkan tuas lain. Lumpur dan bebatuan di ujung lorong gua berjatuhan, perlahan mengungkap sebuah dinding batu raksasa yang diukir dengan relief binatang buas dan tulisan kuno yang sudah memudar. Di tengah dinding itu, terdapat sebuah celah pintu yang terbuka selebar bahu orang dewasa.
Semua mata di dalam gua terbelalak menatap gerbang kuno tersebut.
Kapten Lei menjatuhkan Ahli Alkimia Su. "Itu... sebuah makam kultivator kuno? Keparat kau, Su! Kau membohongi kami! Kau menyewa kami untuk menjadi umpan mati di reruntuhan berbahaya ini dengan harga murah?!"
Ahli Alkimia Su terbatuk-batuk, raut wajahnya pucat pasi karena kedoknya terbongkar, namun matanya tetap melirik rakus ke arah celah pintu batu itu.
"K-Kapten Lei, tenanglah!" bujuk Su dengan suara bergetar. "Aku memang membohongi kalian, tapi pikirkanlah! Sebuah makam kultivator kuno! Ada puluhan botol pil spiritual, senjata peninggalan, dan manual kultivasi di dalam sana! Aku hanya mencari sebuah gulungan resep alkimia peninggalan pemilik makam ini. Sisanya, kalian boleh mengambil semuanya!"
Kata-kata itu bagaikan sihir. Dua tentara bayaran yang tersisa saling berpandangan. Kapten Lei yang awalnya marah kini terdiam, matanya menatap pintu batu kuno itu dengan keraguan yang mulai terkikis oleh keserakahan.
Nilai dari harta karun di makam kuno bisa mengubah nasib seorang tentara bayaran miskin menjadi bangsawan kota dalam semalam. Menggandakan bayaran 100 keping perak tidak ada artinya dibandingkan satu botol pil tingkat tinggi.
"Kita sudah kehilangan satu orang, dan aku tidak akan membiarkan kematiannya sia-sia untuk 100 keping perak," geram Kapten Lei, matanya kini memancarkan tekad yang gelap. Ia menoleh ke arah Ye Chen. "Bagaimana denganmu, Nak? Kau anggota baru, tapi refleksmu sangat bagus. Kau mau ikut masuk, atau lari kembali ke kota dengan ekor di antara kedua kakimu?"
Ye Chen menatap Kapten Lei dengan ekspresi sedatar papan. Melalui Pupil Penembus Ilusi, ia bisa melihat warna hijau pekat meluap dari dada sang kapten dan kedua anak buahnya. Keserakahan telah menguasai logika mereka. Mereka siap mati demi harta karun yang belum pasti wujudnya.
"Aku seorang tentara bayaran. Kita mengikuti ke mana pun keuntungan mengalir," jawab Ye Chen singkat, memilih kata yang sempurna untuk membaur dengan pola pikir mereka.
"Bagus," Kapten Lei menyeringai. Ia memaksa Ahli Alkimia Su berjalan di barisan paling depan sebagai penunjuk jalan sekaligus tumbal jebakan pertama.
Ye Chen berjalan di barisan belakang. Di dalam hatinya, ia sudah menghitung variabel baru. Begitu mereka masuk ke dalam reruntuhan itu, kerja sama tim hanyalah ilusi. Saat harta karun sesungguhnya muncul, manusia-manusia serakah ini pasti akan saling membunuh. Dan ketika kekacauan itu terjadi, sang Perencana akan bergerak untuk membersihkan seluruh papan permainan. Sistem di kepalanya sudah bersiap untuk mengurai harta kuno menjadi Poin Kenaikan yang tak terbatas.
ada usul tidak jelas