Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan dan Sidang Meja Hijau Keluarga
Pagi terakhir di Puncak tidak diawali dengan kicauan burung yang merdu, melainkan dengan suara klakson mobil Alphard hitam mengkilap yang suaranya terdengar sangat otoriter. Sopir pribadi keluarga Arlan sudah berdiri di depan gerbang villa tepat pukul tujuh pagi. Sangat presisi, sangat Arlan (versi lama).
Ghea menatap koper Arlan yang sudah rapi di teras dengan pandangan lesu. "Ar, rasanya kayak baru kemarin gue liat lo salah kostum pake pantofel ke hutan, sekarang lo udah mau dijemput paksa aja."
Arlan tersenyum kecil, sambil membetulkan letak kacamatanya. Dia memakai kaos pemberian Juna yang tulisannya 'I Love Puncak' dengan gambar jagung bakar di tengahnya. "Setidaknya gue pulang bawa kenangan, Ghe. Bukan cuma bawa laporan fisik."
Juna datang sambil membawa plastik berisi sisa bakwan dingin semalam. "Nih, Ar. Buat bekal di jalan. Siapa tahu lo laper pas lagi diceramahin bokap lo, tinggal kunyah ini biar suaranya nggak terlalu kedengeran."
"Makasih, Jun. Jagain Ghea ya pas gue nggak ada di sekolah nanti," ucap Arlan serius.
"Beres, Bos! Gue bakal jaga Ghea kayak gue jaga stok cilok terakhir gue," jawab Juna sambil hormat grak.
Ghea memberikan pelukan singkat (tapi sangat erat) ke lengan Arlan. "Semangat ya, Robot. Inget, kalau bokap lo mulai ngeluarin jurus mautnya, lo bayangin aja dia lagi dandan pake bando kelinci gue semalam. Biar lo nggak takut."
Arlan tertawa lepas, lalu masuk ke mobil. Saat mobil itu bergerak menjauh, Ghea melambai-lambaikan tangannya sampai mobil itu hilang di balik tikungan kabut.
Perjalanan pulang bagi Ghea dan Juna terasa sunyi. Tanpa Arlan yang biasanya memprotes volume musik atau menjelaskan teori fisika di jalan, mobil jeep tua Juna terasa sangat luas dan hampa.
"Ghe, lo kok diem aja? Biasanya lo cerewet kayak burung beo habis minum kopi," tanya Juna sambil menyetir.
"Gue kepikiran Arlan, Jun. Bokapnya itu kalau marah bukan tipe yang teriak-teriak, tapi tipe yang dinginnya bisa bikin air kolam jadi es batu. Gue takut Arlan beneran dikurung."
"Tenang, Ghe. Arlan yang sekarang udah beda. Dia udah punya 'firmware' baru sejak kenal lo. Dia nggak akan gampang di-shutdown gitu aja," hibur Juna.
Sementara itu, di dalam mobil Alphard yang dingin karena AC-nya disetel ke suhu kutub, Arlan hanya menatap ke luar jendela. Sopirnya, Pak Dadang, sesekali melirik dari spion tengah.
"Den Arlan... Bapak pesen, nanti pas di rumah, Den Arlan sabar-sabar aja ya. Tuan Besar kayaknya lagi kurang sehat suasana hatinya," bisik Pak Dadang kasihan.
"Iya, Pak. Makasih infonya," jawab Arlan tenang. Dia merogoh kantongnya, menyentuh buku catatan hitam kecilnya. Dia menambahkan poin baru di sana menggunakan pulpen: 6. Berani jujur meskipun hasilnya pahit.
Begitu sampai di kediaman keluarga Hendra, suasana langsung terasa mencekam. Di ruang tamu yang luas dan sunyi, Papa Arlan sudah duduk di sofa tunggalnya, sementara Mama Arlan berdiri di belakangnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Duduk," perintah Papa Arlan singkat begitu Arlan melangkah masuk.
Arlan duduk dengan tenang di depan ayahnya. Dia masih memakai kaos 'I Love Puncak' itu, sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan kemewahan ruangan tersebut.
"Kaos apa yang kamu pakai itu? Murahan sekali," kritik Papa Arlan pertama kali.
"Ini pemberian Juna, Yah. Nyaman dipakai," jawab Arlan tenang.
Papa Arlan meletakkan tumpukan foto di atas meja kaca. Itu adalah foto-foto Arlan yang sedang tertawa di air terjun, foto Arlan yang sedang makan sosis bakar bareng Ghea, dan foto Arlan yang sedang masang tenda. Foto-foto kiriman Shinta.
"Kamu bilang kamu studi banding. Kamu bilang kamu kerja untuk sekolah. Tapi ini apa? Kamu bersenang-senang dengan perempuan yang bahkan tidak bisa menghitung gaya gesek dengan benar?"
Arlan menarik napas panjang. "Ayah benar, Arlan bersenang-senang. Dan itu adalah hal terbaik yang Arlan lakukan tahun ini."
Papa Arlan menggebrak meja. "KAMU SUDAH GILA, ARLAN! Semua fasilitas yang Ayah kasih, semua masa depan yang Ayah bangun, kamu pertaruhkan demi liburan sampah ini?"
"Ayah..." Mama Arlan mencoba menenangkan, tapi dipotong oleh tatapan tajam suaminya.
"Ayah mendidik kamu untuk jadi pemimpin, bukan jadi penggembira di pinggir jalan!" lanjut Papa Arlan. "Mulai hari ini, semua gadget kamu disita. Kamu tidak boleh keluar rumah selama sisa liburan. Dan yang paling penting... asisten kamu itu, Ghea, dia harus diberhentikan dari tugas ruang arsip."
Dunia seolah berhenti bagi Arlan. Dia sudah menduga soal penyitaan gadget, tapi soal Ghea... itu adalah batas terakhirnya.
"Kenapa Ghea harus berhenti, Yah?" tanya Arlan, suaranya tetap rendah tapi tegas.
"Karena dia adalah distraksi! Dia yang bikin kamu jadi pembangkang!"
"Bukan, Yah. Ghea bukan distraksi. Ghea adalah alasan kenapa Arlan masih mau belajar Fisika. Ghea adalah alasan kenapa Arlan nggak stres pas ngerjain laporan akreditasi yang membosankan itu. Tanpa Ghea, Arlan mungkin sudah menyerah sejak bulan lalu," Arlan berdiri. Dia menatap ayahnya tepat di mata.
"Kalau Ayah mau hukum Arlan, silakan. Sita HP Arlan, sita laptop Arlan. Tapi jangan hentikan Ghea. Karena sekolah butuh Ghea, dan yang lebih penting... Arlan butuh Ghea buat tetep waras."
Papa Arlan terdiam. Dia kaget melihat anaknya yang biasanya hanya bilang 'Iya Yah' sekarang bisa berargumen sepanjang itu.
"Ayah kasih kamu waktu. Berhenti berhubungan dengan dia, atau Ayah pindahkan kamu ke sekolah asrama di luar negeri semester depan," ancam Papa Arlan.
Arlan tidak menjawab. Dia hanya membungkuk hormat, lalu berjalan menuju kamarnya. Di tangga, dia berpapasan dengan ibunya yang matanya berkaca-kaca.
"Sabar ya, Nak," bisik Mama Arlan.
"Arlan nggak apa-apa, Ma. Arlan cuma lagi ngetes seberapa kuat 'baterai' Arlan," jawab Arlan sambil tersenyum tipis.
Di kamar, Arlan bener-bener sendirian. HP-nya sudah dibawa ayahnya. Dia merasa terisolasi. Namun, dia teringat sesuatu. Dia membuka laci mejanya yang paling bawah, mengambil sebuah walkie-talkie mainan yang dulu pernah dia beli bareng Juna waktu SD (yang entah kenapa masih berfungsi).
Arlan mencoba menyalakannya. Krrkkk... krrkkk...
"Juna? Juna? Ini Guntur Satu memanggil Cilok Satu. Ganti."
Hening selama beberapa menit. Sampai akhirnya terdengar suara balasan yang sangat grasak-grusuk.
"ARLAN?! INI LO?! Gila, ini alat masih idup?!" suara Juna terdengar pecah di walkie-talkie.
"Juna, dengerin. HP gue disita. Gue dikurung di rumah sampai liburan habis. Tolong kasih tahu Ghea, gue nggak apa-apa. Bilang sama dia, jangan nangis, dan tetep belajar bab Termodinamika. Gue bakal cari cara buat tetep komunikasi."
"Ar, lo beneran kayak di penjara ya! Oke, nanti gue kasih tahu Ghea. Eh, tapi Ghea sekarang lagi di depan rumah lo nih!"
"Hah?! Ngapain?!" Arlan kaget sampai hampir menjatuhkan walkie-talkie-nya.
"Dia bilang dia mau bawain lo seblak sebagai tanda simpati. Dia lagi duduk di halte depan kompleks lo, dandanannya kayak intel lagi, pake kacamata hitam sama koran buat nutupin muka."
Arlan langsung lari ke jendela kamarnya yang menghadap ke arah jalan raya di luar gerbang kompleks. Meskipun jaraknya cukup jauh, dia bisa melihat sosok mungil dengan baju biru muda duduk di halte. Sosok itu sedang memegang bungkusan plastik dan sesekali melihat ke arah gerbang.
Arlan mengambil selembar kertas putih besar. Dia menuliskan kata "SEMANGAT" dengan spidol hitam tebal, lalu menempelkannya di kaca jendela.
Di halte, Ghea yang tadinya lesu tiba-tiba melihat sesuatu yang putih di salah satu jendela rumah mewah itu. Dia menyipitkan matanya. Begitu dia bisa membaca tulisannya, Ghea langsung berdiri dan melonjak-lonjak kegirangan. Dia melambai-lambaikan plastik seblaknya ke arah jendela Arlan.
Arlan tertawa di balik jendela. Dia merasa, meskipun tembok rumahnya tinggi dan ayahnya sangat keras, ada satu hal yang nggak bisa dihalangi: yaitu frekuensi kegilaan yang sama antara dia dan Ghea.
"Juna, bilang ke Ghea. Seblaknya dimakan dia aja, gue udah kenyang cuma liat dia dari sini," ucap Arlan lewat walkie-talkie.
"Siap, Bos! Misi dilaksanakan!"
Malam itu, Jakarta yang biasanya panas terasa sedikit lebih sejuk bagi Arlan. Dia tahu, perjuangannya semester depan bakal makin berat. Shinta pasti makin gila, ayahnya makin ketat, dan tantangan sekolah makin menumpuk.
Tapi selama ada cewek aneh yang mau nunggu di halte sambil bawa seblak dingin, Arlan rasa dia sanggup menghadapi apapun. Bahkan jika dia harus belajar Fisika Kuantum sambil jungkir balik sekalipun.