NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:552
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kehilangan

Setelah hampir dua jam lebih menunggu di depan kost dengan tubuh yang terus menerus menggigil karena hawa malam yang semakin dingin, mata Rohita mulai terasa berat dan berkali-kali terpejam tanpa disengaja. Badan yang sudah lelah akibat kegelisahan dan aktivitas sepanjang malam akhirnya tidak mampu lagi bertahan. Dengan kepala yang sedikit mengangguk ke depan dan tubuh yang menyandar pada sandaran bangku kayu yang lapuk, ia perlahan-lahan tertidur dalam keadaan setengah sadar. Meskipun dalam tidurnya ia masih sering terkejut dan membuka mata dengan tergesa-gesa, mencari tanda-tanda keberadaan Devi dan Dewi, namun rasa kantuk yang mendalam akhirnya menguasainya sepenuhnya.

Ketika mata Rohita kembali terbuka, sinar matahari pagi sudah mulai menerpa wajahnya dengan cukup hangat. Dia terkejut melihat bahwa dirinya masih berada di depan kost, dengan tubuhnya yang sedikit kaku karena posisi duduk yang tidak nyaman sepanjang malam. Tangannya yang masih menggenggam wadah plastik berisi sisa makanan secara refleks mengerutkan kening saat ia menyadari bahwa malam telah berlalu dan masih belum ada kabar dari kedua temannya. Jam dinding yang terlihat dari pintu masuk kost menunjukkan pukul delapan

Rohita berdiri perlahan, menggerakkan-gerakkan tubuhnya . Rasa marah yang sudah mulai surut semalam kini kembali muncul sedikit demi sedikit, namun kali ini ia mampu mengendalikannya dengan lebih baik. Pikirannya yang masih sedikit kabur karena tidur tidak nyenyak mulai mencari cara untuk mengusir rasa kekhawatiran dan kecemasan yang terus mengganggunya. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk pergi ke tempat yang seringkali membuatnya merasa tenang setiap kali sedang dalam kondisi emosional yang tidak stabil.

Ia kembali ke kamarnya yang kini sudah terang benderang karena sinar matahari yang masuk melalui jendela. Ruangan yang biasanya dipenuhi dengan suara candaan dan aktivitas ketiganya kini terasa lebih sepi dari sebelumnya. Dia melihat ke arah kasur Devi yang rapi sekali, dengan bantal dan selimut yang tertata rapi – berbeda dari biasanya yang seringkali berantakan karena dia suka berguling-guling saat tidur atau meletakkan barang-barangnya sembarangan. Di sisi lain, kasur Dewi juga terlihat sama rapinya, dengan buku-buku yang biasanya tersebar di atas kasurnya kini tidak ada satu pun yang terlihat. Bahkan rak buku kecil yang selalu penuh dengan koleksi novel dan buku pelajaran milik Dewi juga tampak kosong.

Rohita menghela napas dalam-dalam, mencoba menekan rasa kesedihan yang mulai muncul di dalam hatinya. Dia mengambil baju ganti dari lemari miliknya, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Air yang mengalir dari keran mandi terasa segar dan membantu membersihkan pikirannya dari berbagai kekhawatiran yang mengganggu. Setelah selesai berjemur dan berpakaian dengan baju yang lebih nyaman ia mengambil dompet dan kunci kamar dari atas meja, kemudian keluar dari kost dengan langkah yang lebih mantap.

Perjalanan menuju tempat tujuan tidak terlalu jauh, namun dia memilih untuk berjalan kaki agar bisa lebih banyak merenung dan menikmati udara pagi yang masih segar.

Setelah sampai di tempat tujuan, Rohita langsung mencari tempat duduk yang berada di bawah naungan pohon besar agar tidak terkena sinar matahari yang mulai terik. Ia duduk dengan tenang, menyaksikan ombak yang terus menerus menyapu pasir pantai dengan irama yang menenangkan. Suara deru ombak dan angin yang bertiup lembut di antara dedaunan pohon membuatnya merasa lebih tenang dan rileks. Dia mulai merenung tentang berbagai hal yang telah terjadi selama bertahun-tahun tinggal bersama Devi dan Dewi.

Mereka bertiga sebenarnya sudah tinggal bersama di kamar itu selama lebih dari dua tahun. Awalnya, Rohita merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan dua orang yang memiliki kepribadian sangat berbeda darinya. Devi yang selalu ceria dan suka berbicara terkadang membuatnya merasa kesal karena seringkali mengganggunya saat dia sedang fokus pada pekerjaannya atau ingin bersantai sendirian. Sementara Dewi yang pemalu dan jarang berbicara membuatnya merasa sulit untuk mengetahui apa yang ada di pikiran atau hatinya, sehingga terkadang terjadi kesalahpahaman antara mereka berdua.

Namun seiring berjalannya waktu, Rohita mulai menyadari bahwa kedua temannya adalah orang-orang yang sangat baik hati dan selalu ada di sisinya saat dia membutuhkan bantuan. Devi pernah membantu dia menyelesaikan pekerjaan rumah yang hampir terlambat , Sementara Dewi pernah diam-diam membantu membayar tagihan listrik kost saat Rohita sedang mengalami kesulitan keuangan, tanpa pernah meminta imbalan atau bahkan menyebutkannya kepada siapapun.

Sepanjang hari, Rohita hanya duduk diam menikmati pemandangan pantai dan merenungkan berbagai kenangan indah bersama kedua temannya. Kadang-kadang dia melihat anak-anak kecil yang sedang bermain pasir atau pasangan muda yang sedang berjalan-jalan menyusuri bibir pantai, yang membuatnya teringat bagaimana mereka bertiga seringkali datang ke pantai ini bersama-sama saat hari libur. Devi yang selalu suka bermain ombak dan mengajak mereka untuk berenang meskipun terkadang ombaknya cukup besar, sementara Dewi lebih suka duduk di pantai sambil membaca buku atau mengumpulkan kerang-kerang cantik yang ada di pasir.

Waktu berlalu dengan cepat dan sebelum dia menyadarinya, matahari sudah mulai bergeser ke arah barat dan memberikan warna jingga yang indah pada langit dan permukaan air laut. Rohita merasa tubuhnya lebih rileks dan pikirannya lebih jernih setelah menghabiskan hampir seharian di pantai. Dia berdiri perlahan, kemudian berjalan menyusuri bibir pantai untuk mengumpulkan beberapa kerang-kerang cantik sebagai kenang-kenangan, seperti yang biasa dilakukan Dewi setiap kali mereka datang ke pantai. Setelah merasa cukup, rohita kembali berjalan pulang menuju kost nya

Ketika Rohita tiba di depan kost, matahari sudah mulai menyembunyikan diri , meninggalkan warna jingga dan merah muda yang indah di langit sore. Udara mulai terasa lebih sejuk,

Setelah masuk ke dalam, dia langsung pergi ke dapur untuk mengambil air minum , Dapur yang masih terlihat sangat rapi membuatnya kembali teringat akan keberadaan Devi dan Dewi. Dia melihat ke arah lemari tempat dia menyimpan sisa makanan yang dibuat semalam, kemudian membukanya untuk memeriksa kondisinya. Meskipun masih bisa dimakan, dia merasa tidak memiliki keinginan untuk memakannya sendirian lagi. Dengan keputusan yang tiba-tiba, dia mengambil wadah makanan tersebut dan memutuskan untuk membagikannya kepada tetangga kost yang mungkin belum makan sore.

Dia keluar dari dapur dan mulai berjalan ke beberapa kamar tetangga yang dia kenal baik. Setiap kali memberikan makanan, dia selalu menyertakan pertanyaan tentang apakah mereka melihat atau mendengar kabar tentang Devi dan Dewi. Namun jawaban yang dia dapatkan selalu sama – tidak ada yang tahu keberadaan mereka atau melihat mereka pergi kemana saja. Meskipun sedikit kecewa, dia merasa lega karena setidaknya makanan yang dia buat tidak terbuang percuma

Setelah selesai membagikan makanan, Rohita kembali ke kamarnya dan melihat sekeliling ruangan ,

Rohita merasa dada mulai terasa sesak lagi saat menyadari bahwa semua ini menunjukkan bahwa Devi dan Dewi mungkin telah pergi untuk waktu yang lama, bahkan mungkin tidak akan kembali lagi. Namun dia dengan cepat menepis pikiran itu, memilih untuk tetap berpikir positif bahwa mereka hanya pergi untuk urusan penting dan akan segera kembali. Dengan tekad yang baru muncul, dia memutuskan untuk mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa agar tidak terus-terusan terjebak dalam pikiran negatif.

Dia mulai dengan membersihkan kamar mereka ketiganya dengan teliti. Dia menyapu lantai kamar hingga bersih dari debu dan pasir yang mungkin terbawa dari pantai, kemudian mengepelnya , Setelah itu, dia merapikan kasurnya sendiri beserta dengan bantal dan selimutnya.

Setelah kamar terlihat lebih bersih dan rapi, Rohita mengambil buku catatan dan pena miliknya dari atas meja. Dia mulai menulis berbagai hal yang perlu dia lakukan dalam beberapa hari ke depan, termasuk hal-hal yang mungkin perlu dia siapkan jika Devi dan Dewi benar-benar tidak segera kembali. Dia mencatat tentang pembayaran tagihan kost yang akan jatuh tempo dalam beberapa hari lagi, pembelian kebutuhan pokok harian, serta pekerjaan paruh waktu yang dia lakukan di toko buku dekat kost yang membutuhkan perhatiannya.

Setelah selesai menulis, dia mengambil beberapa buku pelajaran dan modul kerja dari rak miliknya yang masih penuh dengan berbagai buku dan catatan. Dia mulai mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh majikannya di toko buku, seperti membuat daftar buku baru yang akan masuk atau merapikan data penjualan selama beberapa minggu terakhir. Suara pena yang bergesek dengan kertas dan klik keyboard laptop yang dia gunakan untuk mengetik data menjadi satu-satunya suara yang terdengar di kamar yang sunyi.

Ketika malam mulai tiba dan ruangan menjadi semakin gelap, Rohita menyalakan lampu kamar – beruntung listrik sudah kembali menyala seperti biasa. Dia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Setelah merasa cukup lelah dengan pekerjaan yang telah diselesaikannya, dia kembali ke dapur untuk memasak makanan untuk dirinya sendiri.

Saat sedang memasak, dia tidak bisa tidak merenungkan bagaimana biasanya saat ini mereka bertiga akan berkumpul di dapur, bercanda dan berbagi cerita tentang aktivitas masing-masing selama hari itu. Devi akan selalu bercerita dengan penuh semangat tentang hal-hal kecil yang dia alami, membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Sementara Dewi akan duduk dengan tenang, terkadang menyisipkan komentar singkat namun lucu yang membuat mereka terkejut karena tidak terduga dari seseorang yang pemalu seperti dia.

Setelah makan malam dengan sendirian Rohita membersihkan dapur dan mencuci piring hingga bersih. Dia kembali ke kamarnya dan duduk di atas kasurnya, menatap ke arah jendela yang terbuka lebar, membiarkan angin malam yang segar masuk ke dalam kamar. Dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Devi dan Dewi sekali lagi, namun seperti biasa, tidak ada yang bisa dihubungi.

1
chemistrynana
seneng deh pertemanan yang suportif gini
Blueberry Solenne
Meski kehilangan pacar beruntung loh ada temen yang nemenin, pacar itu hama kalau cowoknya gak bener. 😁
𝐍𝟏𝐬𝐡𝐢𝐦𝐮𝐫𝐚
ceritanya baguss , tp karna kalimat nya terlalu panjang, dan dialognya yang nempel, bkin ak jadi bingung hehe, semangat thor🙏
Jing_Jing22
Aduh, nyesek banget lihat Dewi nangis sendirian begitu. 🥺 Untung ada Rohita yang lewat. Walaupun awalnya kelihatan galak, ternyata Rohita peduli banget. Semoga Dewi mau cerita masalahnya ya!
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!