Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Hanya seorang gadis kecil dan pengawal yang tidak berdaya, serang!" perintah salah satu anggota Boby.
Perintah itu menjadi pemicu. Dalam sekejap, para penyerang bergerak bersamaan.
Colly memainkan pisau lipatnya ke arah lawan, mereka menghindar dan menyerang dengan senjata tajam mereka.
Sementara Dicky menembak dada dan jantung mereka dengan cepat. Namun dari belakang ada yang menyerang secara diam-diam menggunakan pisau terbang dan melukai tangan Dicky hingga berdarah.
Pistol di tangan Dicky terlepas dan ia pun diserang oleh mereka.
Pertarungan sengit terjadi di jalan besar yang sepi. Colly menarik tangan lawan dan membantingnya ke aspal, serta menghindari lawan lainnya yang menyerang dirinya.
Dicky menghantam kepala lawannya ke kaca mobil, bruk.
Kaca jendela tersebut pecah, ia merebut senjata tajam dari lawannya dan menikam lawannya yang lain.
Colly yang bertarung dengan beberapa lawannya, salah satu lawannya melayangkan senjata tajamnya ke arah gadis itu. Colly menghindar dan mengenai lengannya.
Dari sisi kiri dan kanan menyerang serentak dengan senjata masing-masing.
Colly memutarkan tubuhnya menghindari serangan lawan, namun ia juga diserang dari belakang. Mereka menendang punggungnya dengan keras sehingga gadis itu tersungkur.
"Nona!" seru Dicky sambil melayangkan pukulan ke wajah lawannya, bruk.
Colly dikepung oleh puluhan lawannya yang adalah pria berpostur tinggi dan tentu saja sulit bagi Colly untuk mengalahkan mereka.
Meski tubuhnya sempat tersungkur, Colly tidak membiarkan dirinya tergeletak lama. Ia menggertakkan gigi, telapak tangannya menekan aspal dingin, lalu bangkit dengan napas memburu. Pisau lipatnya masih tergenggam erat, matanya menatap tajam ke arah para pria yang mengepungnya.
Satu langkah maju, Colly kembali menyerang. Gerakannya cepat dan lincah, pisau di tangannya menggores perut salah satu lawan hingga pria itu terhuyung sambil mengerang kesakitan. Tanpa memberi kesempatan, Colly memutar tubuhnya dan menendang lutut lawan lain hingga pria itu jatuh berlutut.
Namun jumlah mereka terlalu banyak. Serangan datang bertubi-tubi dari berbagai arah. Colly menangkis satu serangan, lalu yang lain nyaris mengenai kepalanya. Ia terhuyung, tetapi tetap berdiri, menolak menyerah meski napasnya semakin berat.
“Aku tidak akan jatuh semudah itu,” gumam Colly pelan, matanya menyala penuh tekad.
Para penyerang kembali merapat, bersiap menghabisinya, sementara di kejauhan Dicky masih berusaha menyingkirkan lawan-lawannya untuk mencapai Colly.
Tidak lama kemudian sejumlah mobil berlogo Tiger tiba di lokasi, suara deru mesin memecah keheningan malam. Lampu depan mobil-mobil itu menyorot tajam ke arah para penyerang, membentuk kepungan rapat yang tidak memberi celah sedikit pun. Mereka mengelilingi anggota Boby yang menyerang Colly.
Di saat mobil itu tiba, serangan pun langsung dihentikan. Para pria itu terdiam, wajah mereka berubah pucat. Tatapan panik saling bersilang saat mereka menyadari siapa yang telah datang. Beberapa di antara mereka refleks menggenggam senjata lebih erat, namun langkah kaki mereka justru mundur setengah langkah.
Sebuah mobil berhenti tepat di barisan depan. Pintu terbuka perlahan, memunculkan sosok tinggi dengan aura dingin yang langsung menekan mental siapa pun yang melihatnya.
Xiao Han keluar dari mobilnya dengan ditemani oleh Roy dan Monica. Sorot matanya tajam, menyapu seluruh lokasi, lalu berhenti pada tubuh Colly yang terluka.
"Apa kalian ingin cari mati?" suara Xiao Han terdengar datar, namun mengandung ancaman yang membuat udara terasa semakin berat.
Mobil-mobilnya berhenti dan mengunci lingkaran. Anak buah Tiger turun satu per satu, senjata terangkat, siap mengeksekusi perintah. Jalanan sepi itu kini sepenuhnya berada di bawah kendali Xiao Han, dan siapa pun tahu—malam ini, tidak ada jalan keluar bagi mereka yang telah menyentuh Colly Shen.
"Kakak!" seru Colly.
"Bos!" seru Dicky.
Xiao Han melangkah menghampiri adiknya yang terluka. Langkahnya mantap namun sarat tekanan. Sorot matanya langsung tertuju pada darah yang mengalir di tubuh Colly, membuat rahangnya mengeras menahan amarah yang nyaris meledak.
"Maaf, kakak terlambat!" ucap Xiao Han sambil menahan amarah melihat darah yang melukai adiknya.
Colly tersenyum tipis meski wajahnya pucat. Tubuhnya terasa nyeri di banyak bagian, namun ia tetap berdiri tegak, menolak terlihat lemah di hadapan kakaknya.
"Aku tidak apa-apa, malam ini aku cukup hebat karena bisa bertahan," kata Colly.
Kata-kata itu justru membuat amarah Xiao Han semakin dalam. Tatapannya perlahan terangkat, mengarah ke para penyerang yang kini terkepung, aura dingin dan mematikan menyelimuti dirinya.
"Tahan mereka!" perintah Monica pada anak buahnya.
Para anggota Tiger langsung bergerak serempak. Mereka menerjang maju, mengunci kedua tangan semua musuh mereka tanpa memberi kesempatan melawan. Beberapa penyerang tersungkur, wajah mereka pucat saat menyadari siapa yang kini menguasai keadaan.
"Bawa mereka ke markas dan jalankan hukuman untuk mereka!" perintah Xiao Han.
Sementara Roy menerima sebuah panggilan. Wajahnya langsung berubah tegang saat layar ponsel menyala.
"Hallo!" sapanya.
"Roy, terjadi sesuatu pada nyonya. Beliau dikejar oleh beberapa mobil, awalnya hanya dua, kini menjadi delapan mobil," suara rekannya terdengar panik di seberang sana.
"Kirim lokasi nyonya sekarang juga!" perintah Roy dengan cemas.
Xiao Han menoleh tajam, menangkap perubahan ekspresi Roy dalam sekejap.
"Apa yang terjadi?" tanya Xiao Han.
"Bos, ada yang mengejar nyonya. Ada delapan mobil orang asing. Saat ini nyonya hanya seorang diri," jawab Roy cepat.
Wajah Colly langsung memucat. Rasa nyeri di tubuhnya seakan terlupakan.
"Mama dalam bahaya, Kakak cepat kita pergi!" ujar Colly dengan cemas.
Namun Xiao Han justru terlihat tenang, ekspresinya nyaris tak berubah seolah situasi itu berada sepenuhnya dalam kendalinya.
"Kakak, kenapa diam saja?" tanya Colly, suaranya bergetar.
"Aku lebih khawatir dengan nasib delapan mobil itu," jawab Xiao Han dengan santai.