NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Perjamuan Berdarah di Paviliun Rembulan

​Suasana di Akademi Phoenix Langit pagi itu terasa begitu mencekam. Meskipun pihak akademi mencoba menutupi insiden di Perpustakaan Sayap Naga, desas-desus tentang "Penyusup Bayangan" yang melukai pengawal pribadi Putri Long Yan telah menyebar seperti api di atas rumput kering. Namun, di tengah kegemparan itu, Xiao Lan—identitas baru Lin Xiao—tampak begitu tenang, seolah-olah ia tidak memiliki kaitan apa pun dengan kejadian malam sebelumnya.

​Pagi itu, sebuah undangan berlapis emas dengan aroma wangi bunga peony tiba di paviliun pribadi Lin Xiao. Undangan itu berasal dari Feng Meili.

​"Untuk Nona Xiao Lan yang terhormat. Keberhasilanmu menghancurkan Lonceng Jiwa Guntur telah membuktikan bahwa kau adalah permata yang langka. Sebagai bentuk apresiasi, aku mengundangmu ke Perjamuan Rembulan di paviliun pribadiku malam ini. Mari kita bicara tentang masa depanmu di kekaisaran ini."

​Lin Xiao meremas kertas itu hingga hancur menjadi debu hitam. Sebuah senyuman dingin tersungging di bibirnya. "Masa depanku? Masa depanku adalah melihatmu memohon ampunan di atas tumpukan abu klanmu, Meili."

​Ia tahu ini adalah jebakan. Feng Meili bukan tipe orang yang akan merangkul saingan, apalagi seseorang yang sudah mempermalukan sepupunya. Perjamuan ini pasti dirancang untuk menguji, meracuni, atau bahkan melenyapkannya secara halus sebelum ia menjadi terlalu kuat untuk dikendalikan. Namun, bagi Lin Xiao, ini adalah kesempatan emas untuk menyebarkan benih keraguan di antara para elit yang mendukung Feng Meili.

​Malam pun tiba. Paviliun Rembulan milik klan Feng berdiri megah di atas danau buatan yang tenang, dikelilingi oleh lampion-lampion gantung yang memancarkan cahaya jingga yang hangat. Musik kecapi yang merdu mengalun di udara, menciptakan suasana mewah yang palsu.

​Lin Xiao tiba dengan mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat dengan bordiran mawar ungu di bagian bawahnya. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, hanya dijepit oleh tusuk konde perak berbentuk sayap phoenix yang menukik.

Penampilannya malam itu begitu memukau hingga musik seolah berhenti sejenak saat ia melangkah masuk ke aula perjamuan.

​Feng Meili duduk di kursi utama, mengenakan gaun merah menyala yang sangat provokatif. Di sampingnya duduk beberapa putra mahkota dari klan-klan bangsawan pendukung, serta beberapa tetua akademi yang sudah disuap.

​"Nona Xiao Lan, aku senang kau memutuskan untuk hadir," ucap Meili dengan nada manis yang beracun. Ia melambaikan tangannya, memberi isyarat agar Lin Xiao duduk di kursi yang telah disediakan—posisi yang dikelilingi oleh para pengawal tersembunyi.

​"Tawaran dari calon Permaisuri bukanlah sesuatu yang bisa ditolak dengan mudah, bukan?" jawab Lin Xiao tenang, sambil duduk dan menatap langsung ke mata Meili.

​Perjamuan dimulai dengan basa-basi yang membosankan. Namun, saat pelayan menuangkan anggur ke cangkir Lin Xiao, indra tajamnya segera menangkap sesuatu yang ganjil.

Bau harum anggur itu tercampur dengan aroma

tipis 'Bubuk Penghancur Nadi'—racun langka yang tidak membunuh seketika, tapi perlahan-lahan akan mengeraskan jalur energi seseorang hingga mereka menjadi lumpuh secara permanen.

​Lin Xiao tidak menolak. Ia mengangkat cangkirnya, memberikan penghormatan pada Meili, lalu meminumnya dalam satu tegukan.

​Senyum kemenangan sempat melintas di wajah Meili. Namun, ia tidak tahu bahwa Energi Nirwana Hitam di dalam tubuh Lin Xiao menyambut racun itu seperti makanan ringan. Racun itu langsung diserap dan dinetralkan, bahkan diubah menjadi energi tambahan bagi Lin Xiao.

​"Nona Xiao Lan," Meili mulai membuka serangan verbalnya. "Kudengar kau berasal dari wilayah Utara yang liar. Sangat jarang melihat seseorang dengan bakat sepertimu muncul dari tempat yang begitu... terbelakang. Apakah kau memiliki guru rahasia, atau mungkin kau menemukan warisan kuno?"

​Semua orang di meja itu terdiam, menunggu jawaban Lin Xiao. Pertanyaan ini adalah jebakan untuk memancing identitas aslinya.

​Lin Xiao meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang tajam. "Dunia ini luas, Nona Feng. Ada banyak kekuatan yang terkubur di bawah tanah yang kalian injak. Terkadang, mereka yang kalian anggap sudah mati dan menjadi debu, sebenarnya hanya sedang menunggu waktu untuk mekar kembali dan membalas dendam."

​Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Meili mengerutkan kening, merasa tersinggung. "Kau bicara seolah-olah kau tahu banyak tentang sejarah yang sudah terkubur. Hati-hati, Xiao Lan. Di ibu kota ini, terlalu banyak tahu bisa memperpendek umurmu."

​"Benarkah? Aku justru berpikir bahwa mereka yang menyembunyikan kebenaranlah yang umurnya paling singkat," balas Lin Xiao dengan nada yang menusuk.

​Tiba-tiba, seorang pemuda bangsawan yang ingin mencari muka di depan Meili berdiri sambil menggebrak meja. "Beraninya kau bicara lancang pada Nona Meili! Kau hanyalah kultivator liar tanpa latar belakang! Berlutut dan minta maaf sekarang juga!"

​Lin Xiao bahkan tidak melirik pemuda itu. Ia hanya menjentikkan jarinya di bawah meja. Sebuah jarum energi hitam yang tak terlihat melesat dan menghantam titik saraf di kaki pemuda itu.

​"AAAARGH!" Pemuda itu tiba-tiba terjatuh dari kursinya, kakinya gemetar hebat seolah-olah tersengat listrik. Ia merangkak di lantai dengan wajah pucat pasi.

​"Apa yang kau lakukan?!" teriak Meili sambil berdiri, amarahnya meledak.

​"Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Mungkin dia terlalu banyak minum hingga kakinya tidak bisa lagi menahan beban kesombongannya," ucap Lin Xiao sambil berdiri dengan tenang.

​Meili memberi isyarat pada para pengawal bayangannya. Dalam sekejap, sepuluh pria berpakaian hitam mengepung meja perjamuan dengan pedang terhunus. Para tamu lainnya berteriak ketakutan dan mundur ke tepian aula.

​"Aku awalnya ingin memberimu jalan keluar yang mudah, Xiao Lan," desis Meili, wajahnya kini dipenuhi kebencian yang murni. "Tapi kau terlalu sombong. Jika kau tidak ingin menyerahkan rahasia energimu, maka aku akan mengambilnya dari mayatmu!"

​"Mayatku?" Lin Xiao tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng kematian. "Meili, kau selalu meremehkan orang lain sejak dulu. Itu adalah kelemahan terbesarmu yang akan membawamu ke liang lahat."

​Lin Xiao menghentakkan kakinya ke lantai kayu paviliun. 'Seni Nirwana: Kelopak Mawar Berdarah!'

​Seketika, dari bawah kaki Lin Xiao, energi hitam meledak dan membentuk ribuan kelopak mawar yang tajam. Kelopak-kelopak itu berputar mengelilinginya, menciptakan badai sabit yang menghancurkan semua meja dan kursi di sekitarnya.

​Para pengawal bayangan itu mencoba menyerang, namun setiap kali pedang mereka menyentuh kelopak mawar hitam tersebut, senjata mereka hancur berkeping-keping. Lin Xiao bergerak seperti tarian di tengah badai. Dalam hitungan detik, sepuluh pengawal elit itu terkapar di lantai dengan luka sayatan yang dalam di seluruh tubuh mereka.

​Lin Xiao melangkah mendekati Meili yang kini gemetar ketakutan di belakang kursinya. Ia mencengkeram rahang Meili dengan tangan kirinya, memaksa wanita itu menatap matanya yang kini berpendar ungu gelap.

​"Ingat rasa takut ini, Meili," bisik Lin Xiao tepat di telinganya. "Racun yang kau berikan tadi tidak berpengaruh padaku. Tapi ketahuilah, mulai malam ini, tidurmu tidak akan pernah nyenyak lagi. Aku akan menghancurkan semua yang kau cintai, helai demi helai, sampai kau sendiri yang memohon padaku untuk membunuhmu."

​Lin Xiao melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Meili tersungkur. Ia berbalik dan berjalan keluar dari paviliun yang kini hancur berantakan itu. Tak satu pun tetua atau bangsawan di sana yang berani menghentikannya. Mereka semua terpaku oleh tekanan aura yang begitu kuno dan mematikan.

​Di luar paviliun, bulan purnama bersinar terang, memantulkan bayangan Lin Xiao di atas air danau. Ia tahu, pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Besok, seluruh kekaisaran akan tahu bahwa ada kekuatan baru yang siap menantang langit.

​Lin Xiao menatap ke arah istana utama di mana Long Tian berada. "Satu jatuh, ribuan lagi akan menyusul."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!