"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Gengsi di Balik Meja Kerja
Setelah jamuan makan siang yang penuh tawa bersama Sophie dan Julian, Jake tidak membawa Achell kembali ke mansion megah keluarga Edward. Sesuai permintaan Achell yang bersikeras dengan mata berkaca-kaca, Jake mengantarnya ke sebuah apartemen mewah milik keluarga De Alfa di pusat London.
"Kau yakin tidak mau kembali ke rumah Victor? Barang-barangmu banyak di sana," tanya Jake sambil membantu menurunkan koper kecil Achell di lobi apartemen.
Achell menggeleng kuat. "Aku ingin beristirahat tanpa harus merasa seperti orang asing di rumah sendiri, Uncle. Tolong, biarkan aku di sini."
Jake menghela napas, mengacak rambut Achell pelan. "Baiklah. Istirahatlah. Uncle ada urusan sebentar, nanti malam Uncle kirimkan makanan kesukaanmu."
Begitu Achell masuk ke unitnya, Jake kembali ke mobil. Ekspresi hangatnya berubah menjadi serius. Ia memutar kemudi menuju gedung pencakar langit di distrik finansial—kantor pusat Edward Group.
Di Kantor Victor.
Victor Louis Edward sedang berada dalam kondisi emosional yang kacau, meski wajahnya tetap sedingin es. Sejak pagi, ia terus menatap ponselnya. Pesan-pesannya tidak dibalas. Panggilan teleponnya dialihkan.
Gengsi. Satu kata itu menahan kakinya untuk tidak langsung menyambar kunci mobil dan menyusul Achell ke asrama. Ia adalah Victor Edward; ia tidak seharusnya mengejar seorang gadis remaja seolah-olah dunianya runtuh. Namun, nyatanya, ia tidak bisa fokus pada satu pun dokumen di mejanya.
Tepat saat Victor berdiri dan meraih jasnya—memutuskan untuk menyerah pada gengsinya dan pergi ke asrama—pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk.
"Kau mau ke mana dengan wajah sefrustrasi itu, Vic?"
Victor mematung. "Jake?"
Kedua pria dewasa itu saling menatap sejenak sebelum akhirnya maju dan berpelukan ala pria, menepuk punggung satu sama lain dengan keras. Sahabat lama yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu karena urusan bisnis luar negeri.
"Kapan kau mendarat? Kenapa tidak memberi kabar?" tanya Victor, mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar gelisah.
"Tadi pagi. Langsung ada urusan yang harus diselesaikan," jawab Jake santai. Ia berjalan menuju sofa kulit di ruangan itu dan duduk dengan kaki menyilang. "Kau sendiri? Sepertinya sedang terburu-buru. Mau bertemu klien cantik atau... menjemput 'keponakan' kita?"
Victor terdiam sejenak. Ia kembali meletakkan jasnya di sandaran kursi. Gengsinya menang lagi. Ia tidak ingin Jake tahu bahwa ia sedang kalut karena Achell mengabaikannya.
"Hanya urusan kecil. Bisa ditunda," dusta Victor. Ia duduk di kursi kebesarannya. "Jadi, bagaimana proyek dermaga di Dubai? Aku dengar kau sempat terkendala izin lingkungan."
Jake tersenyum tipis, matanya mengamati kegelisahan yang disembunyikan Victor dengan rapi. Jake sengaja tidak menyebutkan bahwa ia baru saja menjemput Achell. Ia ingin melihat sejauh mana sahabatnya ini akan bertahan dalam kebohongannya sendiri.
"Semua terkendali. Aku sudah membereskan orang-orang yang menghambat," sahut Jake tenang. "Lalu, bagaimana dengan Edward Group? Aku dengar ekspansimu ke New York sukses besar. Clara, model itu... dia ikut membantumu di sana, kan?"
Mendengar nama Clara, rahang Victor mengeras. Ia teringat bagaimana wanita itu memicu keributan yang membuat Achell menangis semalam. "Dia hanya kolega untuk promosi brand. Tidak lebih."
"Oh, kupikir lebih. Kudengar kalian terlihat sangat mesra di beberapa acara," pancing Jake lagi.
Victor memijat pangkal hidungnya. "Bisakah kita tidak membahas itu? Kita punya banyak hal teknis yang harus dibicarakan mengenai proyek konsorsium bulan depan."
Mereka pun tenggelam dalam pembicaraan bisnis yang intens. Victor mencoba bersikap profesional, namun setiap kali ponselnya bergetar, matanya langsung melirik dengan cepat, berharap itu adalah pesan dari Achell.
Jake memperhatikan itu semua. Ia tahu Victor sedang menunggu kabar, dan ia sengaja membiarkan pria tua yang keras kepala itu tersiksa dalam ketidaktahuannya.
"Kau tahu, Vic," ucap Jake di sela-sela pembicaraan mereka, "terkadang kita terlalu fokus menjaga aset bisnis, sampai kita lupa bahwa aset yang paling berharga justru yang paling mudah pergi jika tidak dijaga dengan hati."
Victor menatap Jake dengan tajam. "Apa maksudmu?"
Jake berdiri, mengenakan kembali mantelnya. "Tidak ada. Hanya pemikiran sekilas. Aku harus pergi, ada seseorang yang menungguku untuk makan malam."
Victor mengantar Jake sampai ke depan pintu. Begitu Jake hilang dari pandangan, Victor langsung menyambar ponselnya. Ia menghubungi supir yang tadi ia utus ke asrama.
"Halo? Di mana Achell? Kenapa kau belum melapor?" bentak Victor tanpa basa-basi.
"M-maaf, Tuan Edward. Saat saya sampai di asrama dua jam yang lalu, Nona Gabriella sudah tidak ada. Pihak asrama bilang dia sudah dijemput oleh seorang pria yang mengaku sebagai pamannya."
Victor tertegun. Ponselnya hampir jatuh dari genggamannya. Pria yang mengaku paman? Jake.
Victor baru saja menghabiskan satu jam berbincang dengan Jake, dan pria itu sama sekali tidak memberitahunya bahwa Achell bersamanya. Rasa cemburu dan marah meledak di dada Victor. Ia merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri, namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa Achell lebih memilih Jake daripada dirinya.
"Jake... kau sengaja melakukannya," desis Victor dengan mata yang berkilat marah.