NovelToon NovelToon
The Punchline

The Punchline

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cintapertama
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Gengsi di Balik Meja Kerja

Setelah jamuan makan siang yang penuh tawa bersama Sophie dan Julian, Jake tidak membawa Achell kembali ke mansion megah keluarga Edward. Sesuai permintaan Achell yang bersikeras dengan mata berkaca-kaca, Jake mengantarnya ke sebuah apartemen mewah milik keluarga De Alfa di pusat London.

​"Kau yakin tidak mau kembali ke rumah Victor? Barang-barangmu banyak di sana," tanya Jake sambil membantu menurunkan koper kecil Achell di lobi apartemen.

​Achell menggeleng kuat. "Aku ingin beristirahat tanpa harus merasa seperti orang asing di rumah sendiri, Uncle. Tolong, biarkan aku di sini."

​Jake menghela napas, mengacak rambut Achell pelan. "Baiklah. Istirahatlah. Uncle ada urusan sebentar, nanti malam Uncle kirimkan makanan kesukaanmu."

​Begitu Achell masuk ke unitnya, Jake kembali ke mobil. Ekspresi hangatnya berubah menjadi serius. Ia memutar kemudi menuju gedung pencakar langit di distrik finansial—kantor pusat Edward Group.

​Di Kantor Victor.

​Victor Louis Edward sedang berada dalam kondisi emosional yang kacau, meski wajahnya tetap sedingin es. Sejak pagi, ia terus menatap ponselnya. Pesan-pesannya tidak dibalas. Panggilan teleponnya dialihkan.

​Gengsi. Satu kata itu menahan kakinya untuk tidak langsung menyambar kunci mobil dan menyusul Achell ke asrama. Ia adalah Victor Edward; ia tidak seharusnya mengejar seorang gadis remaja seolah-olah dunianya runtuh. Namun, nyatanya, ia tidak bisa fokus pada satu pun dokumen di mejanya.

​Tepat saat Victor berdiri dan meraih jasnya—memutuskan untuk menyerah pada gengsinya dan pergi ke asrama—pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk.

​"Kau mau ke mana dengan wajah sefrustrasi itu, Vic?"

​Victor mematung. "Jake?"

​Kedua pria dewasa itu saling menatap sejenak sebelum akhirnya maju dan berpelukan ala pria, menepuk punggung satu sama lain dengan keras. Sahabat lama yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu karena urusan bisnis luar negeri.

​"Kapan kau mendarat? Kenapa tidak memberi kabar?" tanya Victor, mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar gelisah.

​"Tadi pagi. Langsung ada urusan yang harus diselesaikan," jawab Jake santai. Ia berjalan menuju sofa kulit di ruangan itu dan duduk dengan kaki menyilang. "Kau sendiri? Sepertinya sedang terburu-buru. Mau bertemu klien cantik atau... menjemput 'keponakan' kita?"

​Victor terdiam sejenak. Ia kembali meletakkan jasnya di sandaran kursi. Gengsinya menang lagi. Ia tidak ingin Jake tahu bahwa ia sedang kalut karena Achell mengabaikannya.

​"Hanya urusan kecil. Bisa ditunda," dusta Victor. Ia duduk di kursi kebesarannya. "Jadi, bagaimana proyek dermaga di Dubai? Aku dengar kau sempat terkendala izin lingkungan."

​Jake tersenyum tipis, matanya mengamati kegelisahan yang disembunyikan Victor dengan rapi. Jake sengaja tidak menyebutkan bahwa ia baru saja menjemput Achell. Ia ingin melihat sejauh mana sahabatnya ini akan bertahan dalam kebohongannya sendiri.

​"Semua terkendali. Aku sudah membereskan orang-orang yang menghambat," sahut Jake tenang. "Lalu, bagaimana dengan Edward Group? Aku dengar ekspansimu ke New York sukses besar. Clara, model itu... dia ikut membantumu di sana, kan?"

​Mendengar nama Clara, rahang Victor mengeras. Ia teringat bagaimana wanita itu memicu keributan yang membuat Achell menangis semalam. "Dia hanya kolega untuk promosi brand. Tidak lebih."

​"Oh, kupikir lebih. Kudengar kalian terlihat sangat mesra di beberapa acara," pancing Jake lagi.

​Victor memijat pangkal hidungnya. "Bisakah kita tidak membahas itu? Kita punya banyak hal teknis yang harus dibicarakan mengenai proyek konsorsium bulan depan."

​Mereka pun tenggelam dalam pembicaraan bisnis yang intens. Victor mencoba bersikap profesional, namun setiap kali ponselnya bergetar, matanya langsung melirik dengan cepat, berharap itu adalah pesan dari Achell.

​Jake memperhatikan itu semua. Ia tahu Victor sedang menunggu kabar, dan ia sengaja membiarkan pria tua yang keras kepala itu tersiksa dalam ketidaktahuannya.

​"Kau tahu, Vic," ucap Jake di sela-sela pembicaraan mereka, "terkadang kita terlalu fokus menjaga aset bisnis, sampai kita lupa bahwa aset yang paling berharga justru yang paling mudah pergi jika tidak dijaga dengan hati."

​Victor menatap Jake dengan tajam. "Apa maksudmu?"

​Jake berdiri, mengenakan kembali mantelnya. "Tidak ada. Hanya pemikiran sekilas. Aku harus pergi, ada seseorang yang menungguku untuk makan malam."

​Victor mengantar Jake sampai ke depan pintu. Begitu Jake hilang dari pandangan, Victor langsung menyambar ponselnya. Ia menghubungi supir yang tadi ia utus ke asrama.

​"Halo? Di mana Achell? Kenapa kau belum melapor?" bentak Victor tanpa basa-basi.

​"M-maaf, Tuan Edward. Saat saya sampai di asrama dua jam yang lalu, Nona Gabriella sudah tidak ada. Pihak asrama bilang dia sudah dijemput oleh seorang pria yang mengaku sebagai pamannya."

​Victor tertegun. Ponselnya hampir jatuh dari genggamannya. Pria yang mengaku paman? Jake.

​Victor baru saja menghabiskan satu jam berbincang dengan Jake, dan pria itu sama sekali tidak memberitahunya bahwa Achell bersamanya. Rasa cemburu dan marah meledak di dada Victor. Ia merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri, namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa Achell lebih memilih Jake daripada dirinya.

​"Jake... kau sengaja melakukannya," desis Victor dengan mata yang berkilat marah.

1
shabiru Al
akhirnya ngaku juga achell cinta sama victor
shabiru Al
sama sama keras kepala angkuh dan berego tinggi,,, kapan bisa bersama keburu victornya makin tua 🤭
shabiru Al
eleehhh sanksi saja terus,, dan akan berubah sesuai keadaan.. klo begini kapan selesainya....
shabiru Al
siapa marco,, kenapa begitu detail tahu kisah victor dan achell ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
Hanja
🤍🫶🏻
panjul man09
author memang 👍 diawal ,pemeran victor kami benci, tapi saat ini victor bisa menarik simpatik dan dukungan untuk mendapatkan achell 😄
christian Defit Karamoy
mantap thor👍
panjul man09
sosok victor yg dulu dan yg sekarang sangat kontras
panjul man09
untuk bisa sepenuhnya lepas dari victor ,achell harus menikah dgn orang lain .
panjul man09
untuk laki2 usia 32 bukan tua tapi matang , kenapa di cerita ini victor selalu disebut tua.
Anny
jgn kau hukum Victor begitu keras Gabriel aku merasa kau terlalu kejam dan tidak punya hati untuk seukuran perempuan yg pernah mencintai dan memujanya dahulu
Anny
Menurut aku yaa disini tg paling tersiksa adalah Victor karena kesalahan dia yg tidak terlalu berat dimasa lalu harus menerima hukuman yg berkali kali lipat GK adil bgt bagi dia
panjul man09
di awal cerita disebut usia victor 25 dan memasukkan achel ke asrama selama 3 tahun ,saat achel lulus usia victor 28 ditambah achel kuliah 4 tahun berarti usia victor sudah 32 tahun ,iya kan thor ???
panjul man09
sangat puitis dan/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
alur ceritanya sangat menarik ,terlihat sangat berbeda dari novel2 yg lain , sangat menyentuh hati , ada pelajaran yg bisa diambil , tata bahasanya sangat bagus ,saat membaca novel ini seolah olah kita menonton film barat romance di layar tv .
panjul man09
hanyut terbawa cerita ....lanjut
panjul man09
semoga achell mau membuka hatinya
shabiru Al
semangat up nya ya thor,, ntar senin ta kasih vote.. besok ta kasih bunga sampe abis tuh poin 😄🤭
panjul man09
jangan pernah mengingatnya lagi achell !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!