NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Malam semakin dalam. Rumah kayu itu tenggelam dalam bunyi jangkrik dan desir angin yang menyusup lewat celah jendela. Lampu di ruang tengah sudah dimatikan. Hanya satu lampu kecil di dapur yang masih menyala redup.

Nara berbaring miring, tangannya diletakkan di perut. Matanya terbuka, menatap dinding yang sama sekali tidak menarik, tapi pikirannya penuh.

Kata-kata Albi siang tadi masih menggantung di kepalanya.

Bukan soal cinta, ataupun pernikahan, tapi soal tanggung jawab. Dan justru itu yang membuat dadanya terasa sesak.

Selama ini, setiap orang yang datang selalu menuntut sesuatu darinya: penjelasan, pembenaran, perasaan. Tapi Albi tidak. Ia datang membawa pilihan, lalu mundur satu langkah, memberi ruang.

Itu lebih menakutkan dari penolakan.

Nara menghela napas pelan. Tangannya mengusap perutnya, refleks, seperti sedang menenangkan seseorang yang belum bisa ia lihat.

“Kalau dunia bertanya siapa ayahnya…”

Kalimat itu kembali terngiang. Untuk pertama kalinya sejak ia tahu tentang kehamilannya, Nara tidak merasa sendirian menghadapi pertanyaan yang suatu hari pasti datang.

☘️☘️☘️☘️☘️

Di luar kamar, Albi belum tidur. Ia duduk di kursi kayu ruang tengah, menatap berkas-berkas yang tadi ia keluarkan dari laci. Surat hasil pemeriksaan dari kota masih terlipat rapi, diselipkan di antara kertas-kertas lain.

Tangannya berhenti di sana. Ia tidak membukanya lagi. Tidak perlu. Angka dan istilah medis itu sudah ia hafal di luar kepala.

"Waktu." Itu satu-satunya hal yang tidak ia punya cukup banyak.

Albi menyandarkan kepala sebentar, memejamkan mata. Dalam hening, wajah Nara siang tadi muncul di pikirannya pucat, tapi tetap meminta maaf. Selalu meminta maaf, bahkan ketika tubuhnya sendiri menyerah.

“Ndak kabeh wong kuwat nek dhewekan,” gumamnya lirih.

(Tidak semua orang kuat jika sendirian.)

Ia membuka mata, menatap pintu kamar Nara yang tertutup rapat. Ia tidak berniat masuk. Tidak berniat memastikan. Cukup tahu Nara ada, bernapas, dan aman. Itu saja sudah cukup untuk malam ini.

☘️☘️☘️☘️☘️

Beberapa hari berlalu. Nara mulai lebih banyak duduk. Lebih sering diam. Ia menuruti kata Albi untuk tidak banyak bergerak, meski rasa tidak enak karena “hanya menjadi beban” masih sering muncul.

Albi tidak berubah. Ia tetap memasak, tetap menyapu halaman bersama Mbah Narsih, tetap mengantar Nara ke bidan desa tanpa banyak bicara. Tapi ada satu hal yang Nara sadari perlahan.

"Ra, ayo makan," kata Albi sambil membawa nampan yang berisi piring dan air minum serta vitamin.

Nara canggung merasa tidak enak. "Bi, jangan seperti ini lah, kalau kayak gini jatuhnya aku manja dan selalu merepotkan," ungkap Nara akhirnya.

"Enggak gak merepotkan sama sekali, ingat ya, calon anakku harus sehat, jadinya ibunya juga harus sehat, gak boleh mikir macam-macam, cukup duduk menikmati hidup," ujar Albi.

"Tuh kan kamu selalu begitu, aku gak mau nanti anakku manja," sahut Nara.

"Gak apa-apa, kan manjanya sama aku, dia harus bahagia denganku," ucap Albi terdengar seperti penegasan.

Nara terharu, lagi-lagi ucapan Albi membuatnya meneteskan air mata.

Albi memberanikan diri menghapus air matanya, seolah tidak mau bulir bening itu membasahi pipi Nara, lali menatapnya lebih lama dari biasanya. Bukan tatapan seorang pria pada perempuan. Melainkan tatapan seseorang yang sedang menghitung waktu.

'Selama ada aku, aku gak akan biarkan hidup kalian merasa sendiri lagi,' ucapnya tentu di dalam hati.

Dan entah kenapa, setiap kali tatapan itu datang, jantung Nara berdegup lebih cepat bukan karena harap, tapi karena takut. Takut jika suatu hari, kehadiran itu hilang.

"Bi, temani aku," kata Nara pelan. "Temani anak kita, ini anakmu, dan kamu bapaknya, jadi apapun ceritanya, kamu harus ada temani dia terus, karena aku ingin dia dapat peran seorang ayah," pinta Nara, entah kenapa ucapan itu lolos begitu saja dari mulutnya.

Albi tertegun, ucapan Nara seolah menjadi firasat yang selama ini ia takutkan, namun sebisa mungkin ia mencoba tenang, dan mengusir jauh-jauh ketakutannya itu.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore itu, saat matahari condong ke barat, Nara duduk di beranda. Albi sedang memperbaiki pagar bambu yang sedikit miring.

“Kamu capek?” tanya Nara tiba-tiba.

Albi berhenti bekerja, menoleh. “Nggak.”

“Kamu bohong,” sahut Nara pelan.

Albi tersenyum tipis. “Capek sedikit nggak apa-apa.”

Nara menunduk. Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi entah kenapa, hatinya mencubit.

“Bi…”

“Iya?”

“Kalau suatu hari…” Nara menggantungkan kalimatnya. “Kalau suatu hari kamu berubah pikiran…”

Albi berdiri tegak, menatapnya penuh. Tidak terkejut. Seolah sudah menunggu pertanyaan itu datang.

“Aku nggak gampang berubah pikiran,” jawabnya tenang. “Kalau aku sudah memutuskan berdiri, aku berdiri.”

Nara mengangguk. Tapi rasa takut itu tidak hilang. Justru semakin nyata. Karena ia sadar, ia mulai peduli. Dan mencintai secara pelan selalu lebih berbahaya karena saat kehilangan datang, ia datang tanpa peringatan.

"Aku hanya takut itu saja sih," ucapnya kembali lebih pelan.

Albi menghentikan sejenak aktifitasnya. "Aku tidak akan berubah, bukannya tadi siang kamu bilang, aku ayahnya, dan saat kamu percayakan itu, tanggung jawab sudah ku kunci di dasar hati, gak mungkin aku berubah Ra," sahut Albi.

"Tapi dia ....," ucap Nara takut.

"Ia dia bukan darahku, tapi aku hadir di dalam hidupnya, dan keputusan itu sudah mutlak," ujar Albi pelan tapi tegas.

Nara terpaku, dadanya masih naik turun, namun hatinya sedikit tenang dengan pernyataan yang bukan sekedar ucapan, Albi bertindak, dan itu nyata.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara itu jauh dari sisi desa yang asri, seorang pria merasakan kelabakan sendiri, setelah memutuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan yang baru saja ia rajut.

Biasanya, makanan setiap pagi sudah terhidang, tapi dengan dinginnya ia tidak mau menyentuh, setiap hari selalu ditanya, dan dengan soknya ia bilang terlalu berlebihan, dan membuatnya tidak nyaman.

Namun entah kenapa setelah beberapa bulan kepergian mantan istrinya ia merasa rindu, dengan suara yang selalu mencemaskan dirinya dan juga mengkhawatirkannya itu.

"Nara," gumamnya pelan. "Apa saat ini ia sudah terbebas dari manusia egois dan munafik seperti aku ini," ujarnya dengan nada yang kecut.

Ardan kembali dengan tumpukan dokumennya setelah perpisahannya dengan Nara, pria itu tambah menutup diri, hari-harinya terlalu sibuk untuk kerja dan kerja, bahkan ia sadari benihnya tengah tertanam pada rahim sang mantan yang tak pernah ia ingini kehadirannya.

"Maafkan aku, yang belum terlalu dewasa menghadapi rumah tangga kita, mungkin ini akan lebih baik, kita berpisah, biar saja, aku menahan rasa sakit ini sendirian," ujarnya bukan terdengar seperti nada penyesalan.

Bersambung ....

Pagi kakak ... Semoga suka ya

1
Astrid valleria.s.
makasih thor 🙏🌹🌹🌹
Ummee
menyesal selalu datang di belakang ya Ardan...
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!