NovelToon NovelToon
Balas Dendam Pengantin Pengganti

Balas Dendam Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Penyesalan Suami / Putri asli/palsu / Balas dendam pengganti / Chicklit
Popularitas:53k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.

Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.

“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”

Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.

Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Malam ulang tahun itu, Arga datang bersama Yura.

Gaun hitam berpotongan rendah membalut tubuh Yura, elegan tanpa berlebihan. Jas Arga senada, hitam dengan garis perak tipis di kerah. Mereka tampak serasi di mata publik, meski jarak di antara mereka dingin dan kaku.

Begitu mobil berhenti, Arga turun lebih dulu. Yura menyusul beberapa detik kemudian.

Di dalam gedung megah keluarga Wijaya, pesta telah dimulai. Lampu kristal menggantung seperti bintang palsu. Musik orkestra mengalun lembut, namun atmosfernya sarat kepalsuan.

Di tengah ruangan, Putri berdiri mengenakan gaun merah darah. Senyum di bibirnya manis, tapi matanya tajam menatap Yura tanpa menyembunyikan kebencian.

Di sisi lain kota, jauh dari hiruk-pikuk pesta, Sky duduk berhadapan dengan Shasmita di sebuah ruangan privat. Dokumen-dokumen penting terbentang di meja. Lampu temaram membuat suasana terasa intim sekaligus serius.

"Coba katakan kalau kakak menyukai Yura kali ini," seru Shasmita.

“Kali ini aku jujur,” ucap Sky sambil menutup map terakhir.

“Aku menyukai Yura. Sejak pertama kali bertemu.”

Shasmita terdiam.

“Dia terlihat lemah di depan semua orang,” lanjut Sky, suaranya tenang namun yakin. “Tapi itu hanya peran. Yura adalah wanita yang kuat. Lartika dikenal dunia sebagai sosok dingin, tegas, pemberani dan Yura adalah orang di balik nama itu.”

Shasmita menarik napas panjang.

“Orang-orang tidak tahu,” Sky menatap lurus ke depan, “dan Arga tidak pantas memenjarakannya dengan kontrak kotor itu.”

Lalu ia menoleh ke arah Shasmita.

“Buat Arga melepaskan Yura sebelum kontraknya selesai.”

Shasmita menyipitkan mata, lalu tersenyum pelan senyum seorang wanita yang terbiasa memainkan strategi.

“Aku sudah menyiapkan rencananya.”

Sky mengangkat alis.

“Aku akan menarik simpati Arga,” lanjut Shasmita. “Aku akan mendesaknya … agar dia segera mengumumkan pertunangan kami ke publik.”

Sky langsung memahami maksudnya.

“Jika pertunangan diumumkan,” ucap Sky pelan, “Arga tidak akan punya alasan mempertahankan Yura.”

“Benar.”

Shasmita menatap ke luar jendela.

“Dia akan memutus kontrak itu sendiri.”

Sementara itu di tempat pesta.

Hans berdiri di podium, mengangkat gelas. Sorot matanya menyapu ruangan, lalu berhenti sejenak pada Yura. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya perasaan yang tak ingin ia akui.

“Malam ini,” ucap Hans lantang, “bukan sekadar ulang tahun. Ini adalah hari yang bermakna bagi keluarga Wijaya.”

Putri tersenyum puas, sedangkan Yura berdiri di samping Arga, matanya tenang, pikirannya dingin. Ia tidak tahu bahwa malam ini bukan hanya pesta ulang tahun

Setelah acara potong kue usai, pesta berlanjut dengan jamuan besar.

Meja-meja panjang dipenuhi hidangan mahal makanan yang dibuat bukan untuk mengenyangkan, melainkan untuk pamer kekuasaan. Tawa para tamu bersahut-sahutan, gelas kristal beradu, dan aroma alkohol memenuhi udara.

Yura tidak bergabung.

Seperti biasa, ia berdiri di sisi tembok, agak tersembunyi di balik pilar marmer, menjaga jarak dari kerumunan. Tangannya terlipat di depan tubuh, punggungnya tegak, wajahnya datar.

Di tengah ruangan, Arga berdiri bersama Hans dan beberapa rekan bisnis. Mereka tertawa kecil, menyesap minuman, seolah tak pernah ada kericuhan di pesta sebelumnya.

“Ngomong-ngomong soal proyek besar,” salah satu pria membuka pembicaraan, “akhir-akhir ini nama Lartika terus muncul.”

Hans tersenyum tipis.

“Pemegang saham tertinggi sekarang ada di tangan Lartika,” lanjut pria itu.

“Bahkan proyek Pradipta yang gagal … diambil mentah-mentah oleh mereka.”

Arga mengeratkan rahangnya.

“Pradipta benar-benar kalah bersaing kali ini,” tambah yang lain tanpa rasa bersalah.

Hans mengangguk pelan. “Lartika bergerak cepat dan senyap. Mereka tahu kapan harus masuk dan kapan harus menghabisi.”

“Kalau kita bisa menarik Lartika untuk kerja sama,” sela pria lain penuh ambisi, “perusahaan luar negeri akan dengan mudah mengikuti.”

Hans menggeleng ringan.

“Lartika bukan orang sembarangan. Mereka tidak akan mudah menerima kontrak kerja sama.”

Ia menambahkan, nada suaranya datar namun tegas,

“Wijaya sudah pernah mencoba. Ditolak mentah-mentah.”

“Apa?”

“Wijaya saja ditolak?”

Beberapa wajah tampak terkejut.

“Sungguh orang yang misterius,” gumam seseorang.

“Tidak pernah muncul, selalu mengirim perwakilan, tapi selalu menang.”

Di tengah tawa kecil dan bisikan kagum itu, Arga terdiam.

Pikirannya berputar cepat.

Lartika, dia harus bekerja sama dengan perusahaan itu. Tidak ada pilihan lain jika ia ingin menstabilkan kembali Pradipta, terutama sebelum ia dan Shasmita mengumumkan pertunangan ke publik.

Yura berdiri sendirian di sana, punggungnya bersandar ringan pada dinding, wajahnya setenang permukaan danau sebelum badai. Tidak ada ekspresi sedih. Tidak ada keluhan, hanya ketenangan yang aneh dan entah kenapa, itu membuat dada Arga terasa sesak.

'Seharusnya mudah,' pikirnya.

'Hanya kontrak'

Namun, sejak ia membuat perjanjian itu, Arga merasakan sesuatu yang mengganggu.

Di tengah riuh acara, Putri dengan keputusannya sendiri, melangkah ke tengah ruangan dan mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

“Untuk malam ini,” katanya lantang, senyum terukir manis di wajahnya, “aku ingin semua tamu menikmati pesta minum. Anggap saja … perayaan kebebasan.”

Sorak-sorai kecil terdengar, musik sedikit dikeraskan. Putri hendak ikut menenggak minumannya, namun langkahnya terhenti ketika sepasang sosok muncul dari arah tangga utama.

Tuan Wijaya Pramuda dan Nyonya Larasatri Wijaya.

Keduanya turun bergandengan tangan dan sangat anggun, berwibawa. Suasana mendadak mereda. Para tamu memberi jalan. Putri membeku sejenak sebelum berlari kecil menghampiri mereka.

“Selamat ulang tahun,” ucap Nyonya Larasatri lembut sembari memeluk Putri erat.

“Ibu dan Ayah pulang khusus untuk ini.”

Pelukan itu lama, terlalu lama untuk sekadar formalitas. Semua orang tahu, hari ini bukan hanya ulang tahun Putri, tetapi hari kelahiran anak kandung Wijaya yang telah lama tiada.

Dari sudut ruangan, Yura memperhatikan. Tatapannya jatuh pada wajah Nyonya Larasatri, wajah seorang ibu yang menahan rindu selama bertahun-tahun. Ada kelelahan di sana. Ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Dan entah bagaimana, pandangan itu bertemu, Nyonya Larasatri tertegun. Jantung Nyonya Larasatri berdegup keras. Ia refleks menggenggam lengan suaminya.

“Kita istirahat dulu,” ujar Tuan Wijaya pelan, menyadari perubahan ekspresi istrinya. “Perjalanan dari Jepang cukup melelahkan.”

Nyonya Larasatri mengangguk. Namun, sebelum berbalik, ia kembali melirik ke arah Yura sekilas saja dan lalu tersenyum kecil. Senyum yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat dada Yura terasa aneh.

Begitu kedua orang tua Hans pergi, suasana kembali mencair. Putri berbalik, senyumnya kembali terpasang kali ini lebih cerah.

“Oke,” katanya sambil mengangkat gelas. “Kita lanjut.”

Ia melangkah mendekati Yura.

“Gelas pertama,” ucap Putri lantang agar semua mendengar, “untuk permintaan maafku pada Yura. Atas semua sikapku yang … kurang menyenangkan.”

Tanpa menunggu jawaban, Putri meneguk minumannya hingga habis. Tepuk tangan pun terdengar.

Yura tetap diam, Putri lalu bertepuk tangan dua kali.

“Ayo, kita pindah ke ruangan sebelah di sana lebih santai.”

Ruangan itu lebih kecil. Lampu lebih redup, musik lebih berat. Beberapa teman SMA Putri pria dan wanita sudah ada di sana, tertawa keras, gelas-gelas penuh di tangan mereka.

Arga menoleh pada Yura.

“Ikut,” katanya singkat.

“Sebagai bentuk menghargai tuan rumah.”

Yura menghela napas pelan dan menurut. Begitu mereka masuk, Putri kembali mendekat, kali ini dengan gelas baru di tangannya.

“Minum,” katanya pada Yura, nada suaranya ringan namun memaksa.

Yura menggeleng. “Aku tidak minum.”

Putri memiringkan kepala. “Belum memaafkanku?”

“Aku belum,” jawab Yura jujur, senyum Putri menegang.

Beberapa teman Putri langsung menyela.

“Ah, masa segitu aja dibawa serius?”

“Cuma minum kok.”

“Sedikit aja, demi Putri.”

Gelas itu didorong lebih dekat ke tangan Yura.

Yura menatap cairan bening di dalamnya. Dadanya terasa sempit. Nalurinya menjerit untuk menolak. Ia tahu ini bukan sekadar minum, ini tekanan, ini jebakan.

Yura mengepalkan jarinya perlahan. Jika ia menolak, Arga akan menjadikannya alasan. Jika ia minum ia tak tahu apa yang akan terjadi.

Di ruangan itu, tawa kembali pecah.

1
Asyatun 1
lanjut
merry
cept tes hans,, klo cocok depak putri palsu itu umuknn siapa adikmu mky putri Arga gk brni ngusik yura lgg,, untuk Arga mngkin bulan nyesel tau yura ank konglomerat bangsawan dan org yg dh Nolongin dia 😄😄😄 putri gk bs berkutik klo seluruh ngeri tau yura adalh adik mu hans
Gadis misterius
Pertama yg harus disingkirkan dan ditengalamkan putri hans arga urusan blekangan krn putri membully yura dr zaman dia sekolah
Hanifah 76
apa kabar ka baru up lagi?sehat selalu
Arieee
semoga test dna positif Yura si putri yang hilang🤧🤧🤧🤧
Allea
semoga yura ga cepat2 memaafkan si hans
ken darsihk
Nggak sabar menunggu tnggl 10 , dan hasil tes DNA Yura & keluarga Wijaya
iqha_24
semoga positif, Yura Adik Hans
Eva Karmita
bukan kebahagiaan yang akan kamu dapatkan Arga tapi sebuah kehancuran, kebenaran yang sesungguhnya 🔥💪🥰
Oma Gavin
seharusnya kalau test DNA ini bener putri wajib didepak dari keluarga wijaya secara dia anak panti songong banget ngga cocok jadi keluarga wijaya
Naufal hanifah
ceritanya bagus
Aidil Kenzie Zie
peringatan untuk menjauhi Hans paling yang dimaksud Sky
merry
klo niat baik gpp klo niat buruk siap de demo ibu ibu kmu sky😄😄😄
Aisyah Alfatih: belum bisa double ini 😁 padahal pengen tak double terus biar tamat ... mungkin besok ya ...
total 1 replies
Ma Em
Alhamdulillah akhirnya Yura bebas dari jerat Arga , semoga Yura selalu bahagia setelah lepas dari Arga pasti Arga akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Yura .
Eva Karmita
lanjut... pengen tau bagaimana Arga Tampa Yura disisinya, apa hidupnya akan bahagia atau sebaliknya jungkir balik ngk karuan .
Yulia Dhanty
menarik
ken darsihk
Setelah ini Arga akan menyesal parah , setelah dia tau siapa yng menolong dia sebenar nya
Dan setelah ini lo juga akan tau Arga siapa Shasmita 😂😂😂
Hanifah 76
bagus ceritanya ka semangat
Gadis misterius
Yura akan menghindari sky krn yura tau adeknya arga ada rasa ke sky...jngn kuatir ksu sky yura tdak akan menggangu hubungan hans dan adekmu yura itu anti laki2 sebelum blas dendamnya terblaskan
Sunaryati
Dengan membuang Yura berarti kau menyia- nyiakan perempuan yang pernah berjasa padamu, apalgi 4,5 tahun kau siksa fisik dan mentalnya dengan menyandra, setelah kau tahu, tapi keadaan kamu telah hancur. Kau tidak mendapatkan Yura atau tunangan kamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!