cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA DARI TANAH YG TERLUKA
**Bab 15
Aula utama Universitas Gunung Jati Cirebon siang itu dipenuhi ratusan mahasiswa. Kursi-kursi tersusun rapi, spanduk besar membentang di belakang podium bertuliskan:
“Kuliah Umum: Diplomasi Palestina–Indonesia dalam Krisis Kemanusiaan Global.”
Di barisan depan, para dosen dan jajaran rektorat telah duduk. Hari itu bukan hari biasa. Kampus kedatangan tamu kehormatan—seorang perempuan Palestina yang dikenal luas dalam dunia akademik dan diplomasi kemanusiaan: Dr. Hadijah Al-Karim.
Rektor Universitas Gunung Jati membuka acara dengan suara tenang namun penuh kebanggaan.
“Merupakan kehormatan besar bagi kami menerima Dr. Hadijah, akademisi dan aktivis kemanusiaan dari Palestina, yang hari ini akan berbagi pandangan tentang hubungan strategis Palestina dan Indonesia.”
Tepuk tangan bergemuruh ketika Dr. Hadijah melangkah ke podium.
Ia mengenakan hijab sederhana berwarna krem, wajahnya lembut namun matanya menyimpan kedalaman luka dan keteguhan. Saat ia mulai berbicara, aula mendadak hening.
“Indonesia,” ucapnya pelan namun tegas, “bukan hanya sahabat Palestina. Indonesia adalah saudara.”
Ia menjelaskan panjang lebar tentang sejarah diplomasi Palestina, tentang bagaimana Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang secara konsisten berdiri bersama Palestina sejak awal kemerdekaannya. Ia berbicara tentang blokade, tentang anak-anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang drone, tentang rumah sakit tanpa listrik, dan sekolah yang berubah menjadi puing.
Beberapa mahasiswa menunduk. Beberapa yang lain mengepalkan tangan.
Ketika sesi tanya jawab dibuka, beberapa tangan terangkat. Namun satu suara terdengar jelas dan mantap.
“Saya, Pak.”
Semua mata tertuju pada Sandi, mahasiswa yang duduk di barisan tengah. Ia berdiri, menggenggam mikrofon dengan sedikit gugup namun matanya penuh tekad.
“Nama saya Sandi,” katanya.
“Pertanyaan saya, apa yang secara nyata bisa dilakukan Indonesia—bukan hanya pemerintah, tapi juga kami sebagai mahasiswa—untuk membantu Palestina keluar dari krisis kemanusiaan ini?”
Aula kembali sunyi.
Dr. Hadijah menatap Sandi cukup lama, lalu tersenyum tipis—senyum yang bukan basa-basi.
“Pertanyaanmu,” katanya, “adalah pertanyaan yang lahir dari nurani.”
Ia lalu menjawab dengan panjang lebar.
Tentang diplomasi rakyat ke rakyat. Tentang tekanan moral internasional. Tentang peran akademisi dalam membangun narasi yang adil. Tentang mahasiswa yang bisa menjadi jembatan informasi, advokasi, dan kemanusiaan.
“Kami tidak hanya membutuhkan bantuan logistik,” ujarnya.
“Kami membutuhkan suara. Dan Indonesia memiliki suara yang didengar dunia.”
Saat ia menutup jawabannya, tepuk tangan membahana. Beberapa mahasiswa berdiri. Beberapa mata terlihat basah.
Sandi duduk kembali, dadanya terasa penuh—bukan bangga, tapi terpanggil.
Acara resmi berakhir satu jam kemudian. Mahasiswa mulai meninggalkan aula, namun Sandi tetap berdiri di dekat podium. Ia memberanikan diri mendekat.
“Dokter Hadijah,” sapanya sopan, “terima kasih atas jawabannya. Saya masih punya banyak pertanyaan.”
Dr. Hadijah tersenyum hangat.
“Kita bisa bicara di luar forum formal,” katanya.
Mereka duduk di sudut aula, berbincang lebih intens. Tentang hubungan Indonesia–Palestina yang tak pernah putus. Tentang harapan agar generasi muda Indonesia tidak lelah peduli. Tentang diplomasi yang tidak selalu dilakukan di meja negara, tapi juga di ruang-ruang kecil seperti kampus dan keluarga.
Tak lama kemudian, dua sosok mendekat.
Seorang gadis remaja berseragam SMU kelas 11, wajahnya lembut dan sopan. Di sampingnya, seorang anak perempuan kecil berusia sekitar enam tahun, menggenggam tangan kakaknya.
“Dokter,” kata gadis itu pelan, “saya Laura Islamiyah. Ini adik saya, Anisa Putri.”
Dr. Hadijah langsung berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Anisa.
“Assalamu’alaikum,” katanya lembut.
“Waalaikumsalam,” jawab Anisa polos.
Percakapan kecil pun terjadi. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang dunia yang seharusnya aman bagi anak-anak.
Dr. Hadijah menatap Laura lama.
“Kalian adalah masa depan,” ucapnya pelan.
“Jangan pernah biarkan dunia membuat kalian mati rasa.”
Di sela percakapan itu, ia sempat menyebut suaminya—yang saat ini masih bertugas di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, menangani urusan diplomasi yang tak pernah sederhana.
“Doakan kami,” katanya.
“Karena perjuangan ini panjang. Tapi selama masih ada orang-orang seperti kalian, kami tidak sendirian.”
Sandi menatap mereka bertiga. Entah mengapa, hari itu ia merasa hidupnya baru saja bersentuhan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
Dan ia tahu—ini bukan akhir pertemuan.
Ini adalah awal dari sebuah jalan panjang.
Pagi itu, langit Cirebon tampak cerah. Keraton Kasepuhan berdiri anggun, menyimpan sejarah panjang pertemuan budaya, dakwah, dan perjuangan. Derap langkah wisatawan terdengar pelan di halaman luas yang dipenuhi aroma waktu.
Dr. Hadijah berjalan perlahan, ditemani dua putrinya—Laura, yang kini menginjak usia tujuh belas tahun, dan Anisa, bocah enam tahun yang tak henti menatap sekeliling dengan mata berbinar.
Di depan mereka, Sandi melangkah dengan penuh tanggung jawab. Hari itu ia ditugaskan sebagai tour guide kampus untuk mendampingi tamu kehormatan.
“Keraton Kasepuhan ini dibangun pada abad ke-15,” jelas Sandi.
“Menjadi pusat pemerintahan Sunan Gunung Jati, sekaligus simbol akulturasi Islam, Jawa, Tionghoa, dan Arab.”
Laura mendengarkan dengan antusias. Sesekali ia mendekat, bertanya hal-hal kecil, tertawa ringan, bahkan tak sungkan menarik lengan Sandi saat melihat relief atau lukisan kuno.
“Mas Sandi tahu banyak sekali,” katanya manja.
“Aku jadi betah dengarnya.”
Sandi tersenyum canggung.
Di sisi lain, Amelia—yang juga ditugaskan sebagai tour guide pendamping—hanya bisa menahan diri. Tatapannya berkali-kali mengarah pada Laura yang terlihat terlalu dekat, terlalu akrab.
Ada sesuatu yang mengusik dadanya.
Cemburu.
Dan ia membencinya.
Setelah puas berkeliling Kasepuhan, rombongan melanjutkan perjalanan ke Keraton Kanoman. Di sana, Dr. Hadijah semakin kagum pada sejarah Cirebon sebagai kota pelabuhan yang terbuka namun berakar kuat.
Perut mulai lapar.
Mereka pun singgah di sebuah warung legendaris, menyantap empal gentong, nasi jamblang, dan tahu gejrot. Suasana hangat, penuh tawa—terutama dari Laura yang tampak begitu menikmati hari itu.
Saat hendak membayar, Laura merogoh tas kecilnya.
Wajahnya mendadak pucat.
“Tas aku…”
“Mas Sandi… tas aku nggak ada.”
Belum sempat yang lain bereaksi—
“BRAK!”
Seorang pria berjaket hitam melesat dari samping, tas kecil Laura sudah di tangannya.
“JAMBRET!”
Tanpa pikir panjang, Sandi langsung berlari.
“Sandiii!” teriak Amelia panik.
Namun Sandi sudah jauh. Ia mengejar sang pencopet menyusuri gang-gang sempit, hingga akhirnya masuk ke sebuah area pasar tua yang sepi.
Di sanalah ia berhenti.
Bukan karena pencopet itu sendirian.
Empat orang pria bertato, berwajah keras, berdiri menunggunya. Lambang geng Kala Hitam terpampang jelas di jaket mereka.
“Berani juga lu ngejar sampai sini,” ejek salah satu preman.
Sandi mengatur napas. Tangannya mengepal.
Ia tahu ini berbahaya.
Namun ia tak mundur.
Perkelahian pun pecah.
Pukulan demi pukulan saling beradu. Sandi bertarung dengan naluri dan tekad—menjatuhkan satu, dua orang. Tapi jumlah tak berpihak. Tendangan mengenai rusuknya. Pukulan mendarat di rahang.
Darah terasa asin di mulutnya.
Empat lawan satu.
Namun satu per satu, para preman itu tumbang. Tergeletak babak belur di tanah. Sandi berdiri sempoyongan, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar.
Saat itulah—
pimpinan mereka muncul.
Tubuh besar. Tatapan dingin.
Sandi tahu…
tenaganya sudah habis.
“BERHENTI.”
Suara tegas itu menggetarkan udara.
Dari ujung gang, muncul Sersan Bima, berseragam sipil, ditemani istrinya yang membawa kantong belanja dapur.
“Masalah apa ini?” tanya Bima dingin.
Tanpa banyak bicara, pimpinan Kala Hitam menyerang.
Namun itu kesalahan besar.
Dengan ilmu bela diri militer, Bima menangkis, mengunci, dan menghantam balik dengan presisi mematikan. Dalam hitungan detik, sang pimpinan terkapar—wajahnya lebam, tubuhnya tak berkutik.
Bima mengambil tas kecil itu dan menyerahkannya pada Sandi.
“Masih kuat berdiri?” tanyanya.
Sandi mengangguk lemah.
“Terima kasih, Ser.”
Saat mereka kembali, Laura langsung berlari.
“Mas Sandi!”
Ia memeluk Sandi erat, tanpa peduli sekitar. Air matanya jatuh di bahu Sandi.
“Terima kasih… terima kasih…”
Amelia berdiri tak jauh.
Dadanya terasa sesak.
Cemburu itu kembali—lebih tajam, lebih menyakitkan.
Sandi hanya bisa terdiam, tubuhnya lelah, pikirannya kacau.
Hari itu, sejarah Cirebon bukan satu-satunya yang meninggalkan jejak.
Ada perasaan yang mulai tumbuh.
Ada api cemburu yang mulai membara.
Dan ada bahaya—yang ternyata selalu mengintai di balik langkah sederhana.
Malam turun perlahan di Cirebon.
Di kamar kos yang remang, Amelia duduk memeluk lututnya. Lampu meja menyala redup, bayangannya menari di dinding seperti pikirannya yang tak pernah tenang.
Sejak Desa Ambulu—sejak hari-hari penuh ketegangan dan air mata itu—ia sudah menyimpan satu rasa yang tak pernah berani ia ucapkan.
Cinta.
Cinta pada Sandi.
Ia melihat bagaimana Sandi selalu berdiri di depan saat bahaya datang. Bagaimana lelaki itu lebih memilih diam daripada menyakiti orang lain. Namun Amelia selalu kalah oleh ketakutannya sendiri—takut ditolak, takut merusak persahabatan, takut menjadi beban.
Dan kini…
hadir Laura.
Gadis muda, ceria, polos, dengan tawa yang begitu mudah merebut perhatian. Pelukan Laura sore tadi masih terbayang jelas di mata Amelia.
“Dia memeluk Sandi… tanpa ragu.”
Dadanya terasa perih.
Namun Amelia juga tahu—ia melihat sendiri cara Sandi memandang Laura. Tidak ada hasrat. Tidak ada api.
Hanya perlindungan.
Bagi Sandi, Laura tak lebih dari seorang adik kecil yang harus dijaga.
Kesadaran itu justru membuat Amelia semakin sakit.
Karena rasa cintanya sendiri… masih terkurung dalam diam.
Di sisi lain kota, di sebuah bangunan tua dekat rel pasar, geng Kala Hitam berkumpul.
Empat anggotanya terbaring dengan wajah lebam, tubuh masih terasa nyeri. Pimpinan mereka duduk di kursi kayu, rahangnya membiru, matanya penuh kebencian.
“Dua orang,” desisnya.
“Mahasiswa sok jago… dan temannya itu.”
Sebuah botol dilempar ke dinding.
“Kita dipermalukan di wilayah sendiri!”
Ia menatap anak buahnya satu per satu.
“Kita cari tahu siapa mereka. Alamat. Keluarga. Kebiasaan.”
Suasana menjadi dingin.
“Darah dibayar darah,” ucapnya pelan.
“Kala Hitam tidak pernah lupa.”
Malam semakin larut.
Di Komplek Stadion Bima, sebuah padepokan sederhana masih hidup oleh suara napas dan hentakan kaki. Padepokan Merpati Putih—tempat Sandi mengenal disiplin sejak ia masih SMP.
Sandi berdiri di tengah ruangan, berkeringat, napasnya tersengal.
Di depannya, berdiri sosok tua berwibawa—Master Darmaji.
“Kau menang,” ujar sang guru pelan,
“tapi tubuhmu kalah.”
Sandi menunduk.
“Saya cepat kehabisan tenaga, Guru. Rasanya seperti ada batas yang menahan dari dalam.”
Master Darmaji tersenyum tipis.
“Karena selama ini kau hanya mengandalkan otot,” katanya.
“Padahal kekuatan sejati… lahir dari napas.”
Ia lalu mengajarkan ilmu pernapasan Merpati Putih—tarikan dalam dari pusat perut, pengendalian detak jantung, penyatuan pikiran dan tenaga dalam.
“Napas adalah jembatan,” ucapnya,
“antara tubuh dan jiwa.”
Sandi mengikuti dengan sungguh-sungguh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan aliran hangat mengisi dadanya, menenangkan, menguatkan.
Di sudut padepokan, Laura dan Anisa duduk bersila.
Anisa bertepuk tangan kecil setiap melihat anak-anak Cirebon berlatih pencak silat. Laura tersenyum kagum.
“Mas Sandi hebat,” bisiknya pada Anisa.
Namun Sandi tetap fokus. Baginya, malam itu bukan soal siapa yang melihat—melainkan tentang bertahan hidup di masa depan.
Master Darmaji menatap muridnya dengan tajam.
“Ilmu ini,” katanya pelan,
“akan kau butuhkan. Karena jalanmu… tidak akan ringan.”
Di luar padepokan, angin malam berembus pelan.
Tak ada yang tahu—
bahwa di balik ketenangan latihan,
sebuah dendam sedang menunggu waktu.
Hari-hari Sandi berubah sejak malam di padepokan itu.
Setiap subuh, ia bangun lebih awal. Duduk bersila menghadap jendela kos, mengatur napas seperti yang diajarkan Master Darmaji. Tarik… tahan… lepaskan. Pelan, dalam, teratur.
Bukan lagi sekadar latihan fisik—ini latihan kesadaran.
Ia merasakan perubahan.
Tubuhnya tak lagi mudah lelah. Ototnya tak selalu tegang, tapi siap. Dalam latihan tanding ringan di padepokan, sentuhan tangannya kini terasa berbeda—lebih dalam, lebih menghantam, meski geraknya sederhana.
Master Darmaji memperingatkannya suatu malam.
“Ilmu ini sudah naik tingkat,” katanya serius.
“Jika kau lepas kendali, yang terluka bukan hanya badan lawan… tapi bagian dalamnya.”
Sandi menelan ludah.
Ia mengangguk.
Ia tahu—kekuatan ini sudah berada di titik berbahaya.
Siang itu, mahasiswa Universitas Gunung Jati melakukan observasi lapangan di Pasar Kanoman. Suasana ramai, pedagang berteriak menawarkan dagangan, aroma rempah dan makanan bercampur di udara.
Sandi bertugas mendampingi kelompok bersama Amelia.
Namun ketenangan itu pecah.
Empat pria berjaket hitam muncul dari arah gang. Tatapan mereka tajam, penuh niat buruk. Salah satu dari mereka menabrak meja pedagang hingga sayuran berserakan.
“OI! Mata lu ke mana!” teriak pedagang.
Salah satu pria tertawa kasar.
“Pasar ini wilayah kami.”
Mahasiswa panik. Amelia refleks mundur.
Sandi maju selangkah.
“Pergi. Jangan buat keributan.”
Empat pria itu menoleh bersamaan.
“Lu lagi,” salah satu menyeringai.
“Kali ini nggak ada tentara.”
Kerumunan mulai menjauh. Beberapa pedagang menutup lapak.
Tanpa aba-aba—serangan dimulai.
Namun kali ini berbeda.
Sandi tidak terburu-buru. Napasnya stabil. Geraknya efisien. Ia menangkis satu pukulan, memutar badan, dan hanya dengan satu sentuhan telapak ke dada—lawan terhuyung mundur, jatuh sambil memegangi perut.
Dua orang menyerang bersamaan.
Sandi melangkah masuk ke sela serangan, memukul singkat, tepat, tanpa tenaga berlebih.
Satu jatuh tersungkur.
Satu lagi terlempar ke tumpukan karung beras.
Yang terakhir mencoba kabur—namun terhenti oleh satu tendangan ringan ke paha. Ia roboh menjerit.
Empat lawan satu.
Dan Sandi… masih berdiri tegak.
Napasnya tetap teratur.
Mahasiswa terdiam—tak percaya.
Tiba-tiba terdengar teriakan.
“DIAM SEMUA!”
Pimpinan Kala Hitam muncul dari balik kerumunan. Tangannya mencengkeram Amelia, pisau menempel di lehernya.
“Selangkah lagi,” desisnya pada Sandi,
“cewek ini mati.”
Wajah Amelia pucat. Matanya berkaca-kaca.
“Sandi…” suaranya bergetar.
Waktu seperti berhenti.
Sandi menutup mata sesaat.
Ia menarik napas dalam—seperti yang diajarkan gurunya. Ia membuka mata dengan ketenangan yang menakutkan.
“Lepaskan dia,” ucapnya pelan.
“Ini urusan kita.”
Pimpinan itu tertawa kasar dan mendorong Amelia ke depan—saat itulah Sandi bergerak.
Cepat. Tepat.
Satu langkah masuk, satu sentuhan telapak ke bagian bawah rusuk lawan. Tidak keras. Tidak kasar.
Namun dalam.
Pimpinan Kala Hitam terhuyung, pisau terlepas. Ia jatuh berlutut, wajahnya berubah pucat kehijauan.
Ia mencoba berdiri—lalu muntah.
Tangannya memegangi perut kanan atas, tubuhnya gemetar hebat.
“Bagian dalam…” gumamnya lirih sebelum ambruk.
Orang-orang berteriak. Ambulans dipanggil.
Dokter di rumah sakit kemudian memastikan:
pembengkakan serius pada liver akibat trauma tenaga dalam.
Ia harus dirawat intensif.
Amelia terduduk lemas. Sandi menghampiri, berlutut di depannya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya cemas.
Amelia menatap Sandi lama.
Air matanya jatuh.
“Aku takut kehilangan kamu,” ucapnya jujur, untuk pertama kalinya.
Sandi terdiam.
Di kejauhan, sirene ambulans meraung.
Kala Hitam runtuh hari itu—bukan hanya oleh pukulan,
tapi oleh kendali diri.
Dan Sandi tahu…
jalan di depannya kini semakin berbahaya.