NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:595
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang

​Lampu kristal di Grand Ballroom hotel berbintang itu berkilauan, memantulkan kemewahan yang palsu. Musik klasik mengalun lembut, namun atmosfer di dalamnya mendadak berubah mencekam. Para tamu undangan—menteri, pengusaha, dan sosialita—mulai saling berbisik. Ponsel mereka terus bergetar memberikan notifikasi buruk: Saham Baskoro Group sedang terjun bebas di pasar internasional.

​Baskoro berdiri di tengah panggung, wajahnya yang biasanya merah karena wibawa kini berubah pucat pasi. Tangannya masih mencengkeram lengan Laila dengan sangat kuat. Pisau kecil yang ia sembunyikan di balik lengan jasnya sedikit menusuk pinggang Laila, membuat wanita itu harus menahan ringisannya di balik senyum yang dipaksakan.

​"Tenang semuanya! Ini hanyalah fluktuasi pasar yang biasa!" teriak Baskoro ke arah mikrofon, suaranya terdengar sedikit parau. "Perusahaan kita tetap kokoh—"

​Tiba-tiba, pintu besar ballroom didobrak terbuka. Suara benturannya bergema, membungkam musik dan percakapan.

​Semua mata tertuju ke arah pintu. Sesosok pria berdiri di sana. Dia tidak mengenakan tuxedo mahal. Dia mengenakan jaket hoodie yang kotor, celana jins yang robek di bagian lutut, dan wajahnya dipenuhi luka lebam serta bekas darah yang mengering. Tubuhnya jauh lebih kurus, namun tatapan matanya tajam seperti belati.

​Itu adalah Agil.

​Konfrontasi di Depan Publik

​Laila terkesiap. "Mas Agil..." bisiknya, air mata mengalir membasahi riasan tebal di wajahnya. Rasa takut yang selama ini menyekapnya seolah terangkat sedikit, digantikan oleh harapan yang menyakitkan.

​Baskoro membeku. Ia tidak menyangka anak yang ia buang ke London dan ia awasi dengan ketat bisa muncul di Jakarta dalam keadaan seperti itu. "Agil? Bagaimana kau bisa..."

​Agil melangkah maju di atas karpet merah. Setiap langkahnya terasa berat namun pasti. Di belakangnya, Gito dan beberapa pria berbadan tegap masuk, menjaga pintu agar tidak ada yang bisa keluar atau masuk.

​"Pesta yang hebat, Papa," suara Agil menggema di ruangan yang sunyi itu. Ia berhenti tepat di depan panggung, menatap langsung ke mata ayahnya. "Sayang sekali, perusahaannya sedang sekarat sementara pemiliknya sibuk merayakan kebohongannya sendiri."

​"Kau gila! Keamanan! Tangkap pria ini! Dia bukan anakku, dia penyusup!" teriak Baskoro dengan panik.

​Namun, tidak ada satu pun petugas keamanan hotel yang bergerak. Gito telah mengurus mereka di luar.

​Agil mengangkat sebuah tablet tinggi-tinggi. "Papa ingin tahu kenapa saham Papa anjlok? Karena Andy di London baru saja merilis data Proyek Icarus ke otoritas jasa keuangan Singapura dan Swiss. Semua pencucian uang, semua suap pejabat, dan semua dokumen palsu yang Papa tanda tangani... semuanya sudah ada di tangan mereka."

​Kegemparan pecah di ballroom. Para kolega bisnis Baskoro mulai menjauh seolah-olah Baskoro adalah wabah penyakit.

​Pertaruhan Nyawa Laila

​Baskoro menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya secara finansial. Namun, egonya sebagai predator tidak membiarkannya kalah begitu saja. Ia menarik Laila ke depan tubuhnya, menjadikan menantunya itu sebagai perisai manusia. Ia mengeluarkan pisau kecil dari lengan jasnya dan menempelkannya tepat di leher Laila.

​"Mundur, Agil! Atau aku akan memastikan istrimu ini mati di depan matamu!" raung Baskoro. Matanya menunjukkan kegilaan seorang pria yang sudah tidak punya beban lagi.

​Laila memejamkan mata, merasakan dinginnya besi di kulit lehernya yang tipis. "Mas... lari..." bisiknya pasrah.

​Agil berhenti melangkah. Wajahnya yang tadi penuh amarah mendadak melunak, berganti dengan kekhawatiran yang mendalam. "Lepaskan dia, Pa. Masalah ini antara aku dan kau. Laila tidak ada hubungannya dengan ini."

​"Dia ada hubungannya dengan segalanya!" teriak Baskoro. "Kau tahu kenapa aku mengambilnya? Karena aku ingin kau tahu bahwa di dunia ini, kau tidak akan pernah bisa memiliki apa pun yang tidak aku izinkan! Aku yang membentukmu, aku yang memberimu segalanya, dan aku berhak mengambil apa pun darimu, termasuk istrimu!"

​Agil menatap Laila, melihat penderitaan di mata istrinya yang kuyu. Ia merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan Laila selama tiga bulan dalam neraka itu.

​"Papa pikir Papa menang karena bisa menyentuh tubuhnya?" Agil tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat sedih. "Papa salah. Laila tidak pernah menjadi milikmu. Setiap detik Papa menyiksanya, dia hanya semakin membencimu. Dan kebencian itu... itulah yang memberiku kekuatan untuk menghancurkanmu."

​Serangan Tak Terduga

​Saat Baskoro terdistraksi oleh kata-kata Agil, Gito bergerak dengan sangat cepat dari arah samping panggung. Gito melemparkan sebuah benda kecil ke arah kaki Baskoro—sebuah bom asap kecil yang ia dapatkan dari peralatan intelijen lamanya.

​PUFF!

​Asap putih tebal memenuhi panggung dalam sekejap.

​"Laila!" teriak Agil sambil menerjang ke dalam asap.

​Suasana menjadi kacau. Suara teriakan tamu undangan bercampur dengan bunyi benda-benda yang jatuh. Di dalam asap, Agil mendengar suara pergulatan. Ia merasakan sebuah tubuh dan segera memeluknya. Itu Laila. Ia berhasil menarik Laila menjauh tepat saat Baskoro mencoba mengayunkan pisaunya secara membabi buta.

​Gito berhasil melumpuhkan Baskoro dengan satu tendangan telak di bagian perut. Baskoro terjatuh, pisaunya terlempar jauh. Saat asap mulai menipis, terlihat Baskoro tersungkur di lantai panggung, terengah-engah, sementara Agil mendekap Laila dengan erat di sudut panggung.

​"Mas... Mas Agil..." Laila menangis meraung di dada suaminya yang kotor dan berbau keringat. Ia tidak peduli dengan keramaian di sekitar mereka. Ia hanya merasa akhirnya ia bisa bernapas kembali.

​Agil mencium puncak kepala Laila. "Maafkan aku, Laila. Maafkan aku sudah meninggalkanmu begitu lama. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."

​Akhir yang Belum Usai

​Keamanan polisi tiba beberapa menit kemudian. Bukan polisi suruhan Baskoro, melainkan satuan khusus yang membawa surat perintah penangkapan atas kasus korupsi dan pencucian uang berskala internasional.

​Baskoro diborgol di depan seluruh rekan bisnisnya. Saat ia digiring melewati Agil dan Laila, ia berhenti sejenak. Wajahnya kini tidak lagi penuh amarah, melainkan kehampaan yang menakutkan.

​"Kau pikir kau sudah menang, Agil?" bisik Baskoro dengan suara rendah. "Kau memang menghancurkan perusahaanku. Tapi ingatlah wajah istrimu setiap malam. Ingatlah setiap jengkal kulitnya yang sudah kusentuh. Kau akan hidup dengan bayang-bayangku di tempat tidurmu selamanya. Aku tidak perlu membunuhmu untuk menghancurkanmu."

​Agil menatap ayahnya dengan dingin. "Papa mungkin menyentuh kulitnya, tapi Papa tidak akan pernah bisa menyentuh jiwanya. Dan jiwanya... adalah tempat yang tidak akan pernah bisa Papa masuki."

​Baskoro dibawa pergi, meninggalkan kehancuran di belakangnya. Namun, saat Agil memandang Laila, ia tahu bahwa luka batin istrinya tidak akan sembuh hanya dengan penangkapan ayahnya. Perjuangan mereka yang sebenarnya baru saja dimulai: perjuangan untuk menyembuhkan sisa-sisa jiwa yang hancur di bawah atap mansion Menteng.

​Di luar hotel, hujan turun dengan deras, seolah-olah mencoba mencuci segala dosa yang terjadi malam itu. Agil membimbing Laila masuk ke mobil Gito, meninggalkan lampu-lampu pesta yang mulai padam satu per satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!