NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 — Suara yang Kembali Tanpa Undangan

Airi terbangun dengan dada yang terasa berat.

Bukan karena mimpi buruk. Tidak ada bayangan jelas yang menempel di kepalanya saat ia membuka mata. Namun ada rasa ganjil yang menetap, seperti bayangan tipis yang tertinggal di sudut ruangan setelah lampu dimatikan. Tidak terlihat, tapi cukup nyata untuk membuatnya sulit bernapas dengan lega.

Ia duduk di tepi tempat tidur lebih lama dari biasanya.

Tangannya menekan kasur di sampingnya, merasakan tekstur kain, merasakan dinginnya pagi yang merambat dari lantai ke telapak kakinya. Ia menarik napas perlahan, lalu menghembuskannya, memastikan dirinya benar-benar terjaga.

Ini pagi.

Ini hari ini.

Aku di sini.

Namun rasa itu tidak pergi.

Di perjalanan menuju kampus, pandangannya berkali-kali teralih ke jalan. Setiap mobil berwarna gelap yang melintas membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat sebelum ia memaksa dirinya tenang kembali.

Berlebihan, Airi, katanya dalam hati.

Kamu cuma capek.

Jam delapan kurang, kafetaria kampus sudah cukup ramai. Suara obrolan bercampur dengan bunyi sendok dan gelas. Cahaya matahari pagi masuk dari jendela besar di sisi timur, membuat ruangan terasa hangat, hampir menenangkan.

Hinami dan Mei sudah duduk di salah satu meja dekat jendela.

“Airi!” Hinami melambaikan tangan.

Airi menghampiri mereka dan duduk di antara keduanya. Begitu tasnya menyentuh lantai, napas panjang keluar dari dadanya tanpa ia sadari.

Mei langsung menoleh. “Kamu kenapa? Mukamu pucat.”

Airi tersenyum kecil. Senyum yang lebih seperti kebiasaan. “Nggak apa-apa. Cuma… rasanya aneh aja dari pagi.”

Hinami menyipitkan mata. “Aneh gimana?”

Airi menunduk, menatap gelas minum di depannya. Jarinya memainkan sedotan pelan, berputar tanpa tujuan.

“Kemarin sore,” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. “Aku lihat mobil keluar dari kampus. Mobilnya… mirip sesuatu yang pernah aku lihat dulu.”

Mei dan Hinami saling pandang.

“Mobil?” Mei mengulang. “Mirip apa?”

Airi mengangkat bahu. “Aku juga nggak yakin. Tapi bentuknya… warnanya… mirip mobil yang dulu sering dipakai sensei waktu SMP.”

Kalimat itu keluar begitu saja, lebih cepat dari yang ia rencanakan.

Hinami langsung menegang. “Sensei yang itu?”

Airi mengangguk kecil.

Mei mencondongkan tubuh sedikit. “Airi, kamu yakin? Model mobil kayak gitu banyak, lho.”

“Iya, aku tahu,” jawab Airi cepat, seolah membela diri. “Makanya aku bilang aku nggak yakin. Tapi pas lihat… dadaku langsung nggak enak.”

Hinami menyandarkan punggung ke kursi. “Kamu akhir-akhir ini memang lagi banyak pikiran. Bisa jadi otak kamu cuma nyambungin sesuatu karena trauma.”

Mei mengangguk. “Trauma suka gitu. Hal kecil bisa kebawa ke mana-mana.”

Airi diam.

Secara logika, ia paham. Ia tahu mereka tidak salah. Ia tahu ini masuk akal.

“Tapi rasanya nyata,” gumamnya. “Bukan cuma di kepala.”

Hinami menatapnya dengan lembut. “Perasaan kamu valid. Tapi jangan langsung loncat ke kesimpulan terburuk dulu, ya.”

Airi mengangguk. “Iya.”

Mereka mengalihkan pembicaraan. Tentang kelas. Tentang tugas yang menumpuk. Tentang dosen yang salah sebut nama mahasiswa.

Airi ikut tertawa. Bahkan beberapa kali melontarkan candaan kecil.

Dari luar, ia terlihat baik-baik saja.

Namun di dalam, rasa itu tetap ada. Tidak membesar, tidak mengecil. Seperti nada rendah yang terus berdengung di latar belakang.

Waktu berlalu lebih cepat dari yang ia sadari.

Bel terakhir berbunyi, menandakan akhir jam pelajaran. Beberapa mahasiswa langsung menghela napas lega.

Airi membereskan bukunya perlahan. Ia menutup tas, lalu berhenti sejenak. Dadanya terasa berat, seperti sejak pagi.

Kenapa rasanya begini terus? pikirnya.

Ia tidak menemukan jawabannya.

Di koridor, Hinami dan Mei berhenti lebih dulu.

“Maaf ya,” kata Hinami. “Aku ada acara mendadak.”

Mei mengangguk. “Aku mau ke kafetaria dulu beli cemilan. Kamu ke studio sendiri nggak apa-apa, kan, Airi?”

Airi tersenyum. “Iya. Nggak apa-apa.”

“Hati-hati,” tambah Mei.

“Besok ketemu lagi,” kata Hinami sebelum pergi.

Airi berdiri sebentar, menatap punggung mereka menjauh. Ada dorongan kecil di dadanya untuk ikut salah satu dari mereka. Untuk tidak sendirian.

Namun langkahnya justru berbelok ke arah lain.

Studio.

Ia memasang headset begitu memasuki koridor yang lebih sepi. Musik tanpa lirik mengalun pelan, mengisi ruang kosong di kepalanya. Nada-nada yang biasanya menenangkan.

Langkahnya pelan. Bunyi sepatunya memantul di lantai, terdengar terlalu jelas.

Saat sampai di depan studio, Airi berhenti.

Lampunya menyala terang.

Terlalu terang.

Biasanya ruangan itu temaram jika tidak ada latihan. Bahkan kalau ada orang di dalam, lampu jarang dinyalakan penuh.

Airi menelan ludah.

Ia melepas satu sisi headset. Musik masih terdengar samar di telinga kirinya. Tangannya menyentuh gagang pintu.

Kenapa terang? pikirnya.

Ia mendorong pintu perlahan.

Cahaya putih langsung menyambutnya.

Di dalam, seseorang berdiri membelakanginya. Postur pria dewasa. Bahu lebar. Rambut rapi.

Airi terdiam.

Ada sesuatu pada siluet itu yang membuat dadanya menegang.

Kenal, bisik sesuatu di dalam dirinya.

Ia menahan napas, mencoba menenangkan diri. Banyak dosen pria di kampus ini. Banyak punggung yang terlihat serupa.

Namun sebelum ia sempat mundur, suara itu terdengar.

“Oh, ada mahasiswa yang masuk, ya?”

Suara itu.

Tubuh Airi membeku.

Musik di headset seakan menjauh. Detak jantungnya terdengar keras di telinga. Tangannya mencengkeram ponsel dan tas sampai jemarinya terasa kaku.

Kakinya tidak mau bergerak. Seolah tertanam di lantai.

Bukan… ini cuma mirip, pikirnya panik.

Namun tubuhnya tahu lebih dulu sebelum pikirannya sempat menyangkal.

Pria itu berbalik.

Dan dunia Airi runtuh perlahan.

“Ah,” katanya sambil tersenyum. “Airi. Lama tidak jumpa.”

Nada itu.

Cara ia menyebut namanya.

“Siswiku yang manis.”

Tubuh Airi tergidik.

“T-Takahashi… sensei,” gumamnya.

Nama itu pahit di lidahnya.

Takahashi Shun.

Ia melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Setiap langkah membuat napas Airi semakin pendek. Ia ingin mundur. Ia ingin lari.

Namun tubuhnya tidak menurut.

“Airi,” katanya lembut. Terlalu lembut. “Kamu kelihatan kaget.”

Ia berdiri terlalu dekat.

Aroma parfumnya menyentuh indera Airi, memicu ingatan yang tidak ia minta.

Tangannya terangkat.

Sentuhan ringan di pipinya membuat tubuh Airi menegang total.

“Masih sama,” gumamnya. “Lembut.”

Air mata Airi jatuh tanpa suara.

“Kamu tahu,” lanjutnya, seolah berbincang biasa. “Aku dulu yang ngajarin kamu nyanyi. Pantas aja kamu bisa sampai sini.”

Ia tertawa kecil.

Airi tidak mendengar kata-katanya dengan jelas lagi. Suara itu bercampur dengan dengung di kepalanya.

Ketika Takahashi menyadari headset di telinga Airi, ia melepasnya.

“Nah,” katanya dekat sekali. “Sekarang kamu bisa dengar aku.”

Airi refleks mendorongnya. “Jangan… jangan sensei ini terlalu dekat.”

Gerakannya lemah. Tubuhnya gemetar.

Takahashi tampak terkejut sesaat, lalu menarik pergelangan tangan Airi lebih ke dalam ruangan. Pintu menutup di belakang mereka dengan bunyi yang terdengar terlalu keras.

Airi panik. Tangannya mencari ponsel.

“Siapa pun yang mau kamu hubungi,” kata Takahashi sambil merebut ponsel itu, “nggak akan membantu.”

Ponsel diletakkan di atas meja, jauh dari jangkauan dan dia mematikan lampu studio musik.

“Sekarang,” katanya pelan, mendekat lagi. “Kita lanjut.”

Airi terpojok. Punggungnya menyentuh dinding. Dunia menyempit.

“Tolong…” suaranya nyaris tidak terdengar.

Namun Takahashi tidak mendengarkan.

Tubuh Airi gemetar hebat. Tangisnya pecah, namun suaranya tertelan oleh ruang yang sunyi.

Dan di saat itu, pikiran Airi mulai menjauh.

Suara menjadi jauh.

Tubuhnya terasa bukan miliknya lagi.

Satu hal yang ia sadari sebelum semuanya kabur hanyalah satu kalimat yang berulang di kepalanya:

Aku tidak boleh diam.

Aku tidak boleh diam lagi.

Namun pintu studio tetap tertutup.

Dan dari luar, tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!