Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Bayangan Gerbang Raksasa
Satu bulan berlalu dengan cepat.
Di pagi yang berkabut, sebuah Perahu Roh berukuran sedang meluncur membelah awan. Perahu terbang ini adalah artefak transportasi milik Sekte Awan Hijau, ditenagai oleh Batu Roh kelas menengah.
Di atas geladak, sepuluh Murid Dalam berdiri dengan gagah, jubah mereka berkibar ditiup angin ketinggian. Mereka memandang hamparan benua di bawah dengan tatapan bangga.
Namun, di sudut paling belakang geladak, Ren Zhaofeng duduk bersila dengan tenang.
Dia tidak memandang pemandangan. Dia mendengarkan suara mesin perahu. Vrrr... krek...
"Poros kemudi bagian kiri sedikit longgar," gumamnya pelan. "Suara getarannya tidak simetris."
"Hei, Buta!" seru seorang murid dalam berbadan kekar bernama Huo Lie. Dia adalah pengguna kapak dan orang yang paling vokal menentang kehadiran Zhaofeng. "Jangan bergumam sendiri. Kau membuat kami sial. Ingat posisimu. Saat kita mendarat nanti, kau jalan lima puluh langkah di depan kami. Kalau ada jebakan, pastikan kau yang mati duluan."
Beberapa murid lain tertawa.
Zhaofeng tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Dia tahu, berdebat dengan orang bodoh hanya akan membuang tenaga.
"Diam," suara dingin Ye Qingyu memotong tawa mereka.
Sang Dewi Sekte berdiri di haluan perahu, menatap ke depan. "Kita sudah sampai."
Semua orang menoleh.
Di kejauhan, di tengah hamparan gurun batu yang tandus, sebuah fenomena alam yang mengerikan terlihat.
Langit di atas gurun itu terbelah. Awan-awan berputar membentuk pusaran raksasa berwarna kelabu. Di pusat pusaran itu, sebuah Gerbang Batu Raksasa setinggi seratus meter melayang di udara, tertutup rapat oleh rantai-rantai energi kuno.
Makam Pedang Kuno.
Aura pedang yang tajam memancar dari gerbang itu, begitu kuat hingga tanah di bawahnya retak-retak seolah disayat pisau tak terlihat.
Perahu Roh Sekte Awan Hijau mendarat di sebuah bukit batu, sekitar satu kilometer dari gerbang.
Zhaofeng turun dari perahu. Seketika, telinganya dibombardir oleh suara.
Bukan suara angin atau alam. Tapi suara manusia.
Ribuan manusia.
"Ramai sekali," batin Zhaofeng.
Di lembah gurun itu, ratusan tenda dan bendera dari berbagai sekte telah didirikan. Sekte Awan Hijau bukan satu-satunya yang datang.
"Lihat itu," tunjuk Huo Lie dengan wajah masam. "Bendera Merah Darah. Sekte Pedang Darah juga ada di sini."
Sekte Pedang Darah adalah rival abadi Sekte Awan Hijau. Mereka dikenal kejam dan menggunakan teknik kultivasi sesat yang meminum darah musuh.
Saat rombongan Sekte Awan Hijau berjalan menuju area tunggu, mereka berpapasan dengan rombongan Sekte Pedang Darah.
Pemimpin rombongan merah itu adalah seorang pemuda berwajah pucat dengan bibir merah menyala. Xue Sha, jenius nomor satu Sekte Pedang Darah.
"Oh? Lihat siapa yang datang," Xue Sha menyeringai, memperlihatkan gigi yang dikikir runcing. "Putri Es Ye Qingyu. Aku kira kau tidak akan datang karena takut wajah cantikmu tergores."
Ye Qingyu bahkan tidak meliriknya. "Minggir, Anjing Merah. Kau menghalangi jalan."
"Sombong seperti biasa," Xue Sha tertawa, lalu matanya menyapu anggota tim di belakang Ye Qingyu. Tatapannya berhenti pada Zhaofeng.
"Hah? Apa mataku salah?" Xue Sha menunjuk Zhaofeng dengan kipas besinya. "Sekte Awan Hijau membawa orang buta? Apa kalian sudah kehabisan murid sampai harus merekrut pengemis?"
Gelak tawa meledak dari murid-murid Sekte Pedang Darah.
Wajah Huo Lie dan murid Sekte Awan Hijau lainnya memerah karena malu. Membawa Zhaofeng memang membuat mereka jadi bahan tertawaan.
"Dia bukan pengemis," jawab Ye Qingyu dingin, tangannya sudah memegang gagang pedang. "Dia melihat jalan kematianmu lebih jelas daripada matamu sendiri."
Xue Sha menyipitkan mata. "Mulut besar. Kita lihat saja nanti di dalam. Kuharap daging si buta itu enak."
Kedua kelompok berpisah dengan hawa permusuhan yang kental.
Zhaofeng tetap diam, tapi di dalam benaknya, dia sudah menandai suara detak jantung Xue Sha. Cepat, tidak teratur, dan haus darah. Orang ini berbahaya.
BOOOOM!
Tepat saat matahari berada di puncak kepala, suara gonggongan raksasa terdengar dari langit.
Rantai-rantai energi yang mengikat Gerbang Batu Raksasa itu mulai putus satu per satu. Kring! Kring!
Gerbang itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara gemuruh gesekan batu yang membuat telinga berdenging.
Dari celah gerbang yang terbuka, kegelapan pekat terlihat. Kegelapan yang seolah menyedot cahaya.
"Gerbang terbuka! SERBU!"
Teriakan menggema. Ribuan kultivator dari berbagai sekte dan klan kecil berlarian menyerbu masuk seperti semut yang melihat gula. Mereka tidak sabar ingin mendapatkan harta karun.
"Tunggu," perintah Ye Qingyu pada timnya. "Biarkan sampah-sampah itu masuk duluan dan memicu jebakan awal."
Tim Sekte Awan Hijau menunggu lima menit. Suara teriakan kesakitan dan ledakan mulai terdengar samar dari dalam gerbang.
"Sekarang. Zhaofeng, maju ke depan," perintah Ye Qingyu.
Zhaofeng mengangguk. Dia mencabut Pedang Karat-nya dan berjalan memimpin barisan. Huo Lie dan yang lain mengikuti di belakang dengan jarak aman, senjata terhunus.
Mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan gerbang.
Seketika, cahaya matahari lenyap.
Di dalam makam, suasananya lembap dan berbau besi tua. Dindingnya terbuat dari batu bata kuno yang berlumut.
Zhaofeng berhenti.
"Kenapa berhenti, Buta? Jalan terus!" bentak Huo Lie.
"Diam," desis Zhaofeng.
Dia memiringkan kepalanya.
Di lorong batu selebar lima meter ini, dia mendengar suara klik halus yang berulang setiap tiga detik. Suaranya berasal dari lantai.
"Tiga langkah ke depan," kata Zhaofeng. "Lantai batu ketiga dari kiri. Jangan diinjak."
"Omong kosong," cibir seorang murid bernama Zhang. "Lantainya terlihat sama saja."
Zhang melangkah maju dengan percaya diri, menginjak batu yang ditunjuk Zhaofeng.
KLIK.
Mekanisme terpicu.
Dari dinding kiri dan kanan, lusinan anak panah berkarat melesat keluar dengan kecepatan tinggi.
Wush! Wush! Wush!
"AWAS!" Ye Qingyu bereaksi cepat. Pedang Beku-nya berputar, menciptakan dinding es yang memblokir sebagian anak panah.
Tapi Zhang tidak seberuntung itu. Satu anak panah menembus bahunya, memaku tubuhnya ke lantai.
"ARGH!"
"Mundur!" teriak Ye Qingyu.
Semua orang mundur dengan wajah pucat. Mereka menatap anak panah itu. Ujungnya berwarna ungu—beracun.
Zhaofeng berdiri tenang di tempatnya, tidak terkena satu pun anak panah karena dia sudah berjongkok tepat di titik buta mekanisme itu sebelum panah meluncur.
"Sudah kubilang," kata Zhaofeng datar.
Huo Lie menelan ludah. "B-bagaimana kau tahu?"
"Mekanisme pegas di bawah lantai sudah tua. Suara pernya berkarat," jawab Zhaofeng seolah itu hal yang wajar.
Ye Qingyu berjalan mendekati Zhaofeng, menatapnya dengan apresiasi. "Mulai sekarang, dengarkan setiap kata Zhaofeng. Siapapun yang membantah, akan kutinggal di sini."
Tim itu kembali bergerak. Kali ini, tidak ada yang berani mengejek Zhaofeng. Mereka berjalan mengikutinya seperti anak ayam mengikuti induknya.
Semakin dalam mereka masuk, semakin rumit labirin makam itu.
Zhaofeng memimpin mereka melewati jebakan lantai runtuh, gas beracun (yang dia dengar desisannya), dan sarang kelelawar.
Satu jam perjalanan.
Mereka sampai di sebuah ruangan gua yang sangat luas. Di tengah ruangan, terdapat sebuah jembatan batu sempit yang melintasi jurang tanpa dasar.
Di seberang jembatan, tertancap sebuah pedang besar yang memancarkan cahaya merah.
"Pedang Roh Tingkat Tinggi!" seru Huo Lie, matanya berbinar serakah.
Tapi Zhaofeng menahan mereka dengan merentangkan tangannya.
"Jangan lewat jembatan itu," kata Zhaofeng.
"Kenapa lagi? Tidak ada mekanisme jebakan di sana!" protes murid lain.
"Bukan mekanisme," Zhaofeng menunjuk ke kegelapan di langit-langit gua. "Ada sesuatu yang tidur di atas sana. Suara napasnya... besar."
Ye Qingyu mendongak, menyipitkan matanya. Dia tidak melihat apa-apa. Tapi instingnya mempercayai Zhaofeng.
"Kita ambil jalan memutar lewat tebing samping," putus Ye Qingyu.
Tepat saat mereka hendak berbelok, rombongan lain muncul dari lorong di belakang mereka.
Sekte Pedang Darah.
"Hahaha! Sekte Awan Hijau pengecut!" teriak Xue Sha. "Kalian melihat harta di depan mata tapi malah minggir? Kalau begitu, pedang itu milik kami!"
Xue Sha dan lima murid elitnya berlari menuju jembatan, mengabaikan peringatan.
"Tunggu!" teriak Ye Qingyu, tapi terlambat.
Saat rombongan Sekte Pedang Darah sampai di tengah jembatan...
SCREEEEEECH!
Suara pekikan yang memekakkan telinga terdengar dari langit-langit.
Sesosok bayangan raksasa jatuh. Itu adalah Laba-laba Pedang—monster kuno yang kakinya terbuat dari tulang setajam pedang.
Laba-laba itu mendarat di tengah jembatan, tepat di depan Xue Sha.
SLASH!
Salah satu murid Sekte Pedang Darah yang paling depan terpotong menjadi tiga bagian sebelum dia sempat berkedip.
"Mundur! Mundur!" teriak Xue Sha panik, menebaskan kipas besinya.
Pertempuran pecah di jembatan sempit itu. Darah muncrat ke mana-mana.
Di tebing samping, Zhaofeng dan tim Sekte Awan Hijau menonton dengan ngeri.
"Kalau kita tadi lewat sana..." Huo Lie menggigil, menatap Zhaofeng dengan tatapan yang kini berubah menjadi rasa takut dan hormat.
"Ayo pergi," bisik Zhaofeng. "Suara pertempuran ini akan memancing monster lain."
Mereka menyelinap pergi dalam kegelapan, meninggalkan rival mereka bertarung mati-matian.
Di dalam hati Zhaofeng, Pedang Karat-nya bergetar semakin kencang. Arah getarannya bukan ke pedang merah di jembatan itu.
Arahnya ke bawah. Ke dasar jurang.
"Ada sesuatu di bawah sana," batin Zhaofeng. "Sesuatu yang memanggilku."
💪